
"Kenapa malah berdiri di depan pintu?"
"Aaargh!!" Aku spontan berteriak, saat mendengar sapaan Jessika.
Tahu-tahu sosok barbie doll nya sudah berdiri di muka pintu dan menatap ku dan Arline keheranan.
Di samping ku, Arline langsung menahan tawa. Sementara Jessika juga tersenyum saat menyadari aku yang barusan terkejut dibuatnya.
Jessika lalu menghampiri kami dan menggamit lengan ku dan juga lengan Arline dengan masing-masing tangan nya. Jadi kini aku berada di sebelah kanan Jessika. Sementara Arline di sebelah kirinya.
Bertiga, kami pun masuk ke dalam rumah yang langsung menuju hall besar, tempat dilangsungkannya acara pesta.
Di langkah pertama ku masuk, aku langsung dihadapkan pada keramaian orang-orang dalam balutan gaun indah nan warna-warni.
Begitu mata ku selesai meng scan seisi ruangan, aku langsung bisa bernapas lega. Syukurlah aku tak mendapati sosok Erlan di mana pun.
'Mungkin dia terlalu sibuk, jadi tak sempat datang ke acara ini?' terka ku penuh harap.
Aku sangat berharap agar aku tak perlu bertemu dengan Erlan di acara malam ini. Rasanya akan sangat canggung bagi kami untuk bertemu kembali, setelah perpisahan yang tak mengenakkan di pertemuan kami yang terakhir kali.
Entah lah. Aku juga merasa heran. Padahal sebelum-sebelum nya aku merasa biasa saja saat aku harus bertemu lagi dengan para lelaki yang ku tolak cinta nya. Jadi kenapa kepada Erlan aku merasa tak enak hati ya?
Apa karena kami berdua sempat berpacaran?
"Aku menunggu kalian cukup lama di depan pintu. Jadi tadi aku sudah lebih dulu memberikan kado ku pada Tante Ilmaya," ucap Jessika di samping ku.
Sekilas aku menatap wajah ex tunangan nya Erlan itu. Dan ku sadari kalau ekspresi wanita di samping ku ini tampak normal-normal saja saat setengah menyeret ku dan Arline dalam rangkulan tangan nya.
Seolah-olah kami adalah bestie nya sedari lama saja. Oke, Arline mungkin memang teman masa kecil nya. Tapi aku kan baru saja dikenal nya beberapa menit yang lalu. Jadi kenapa dia juga bisa langsung akrab menyikapi ku?
Tak sengaja aku menangkap pandangan Arline kepada ku. Dan kemudian ku dapati jawaban dari keheranan ku tadi melalui gerakan mulut tanpa suara nya Arline.
'Dia memang begitu,' jelas mulut nya Arline tanpa suara.
"Ayo ku antarkan kalian. Tadi ku lihat Tante ada di sekitar sana. Nah! Itu dia!" Ucap Jessika kembali seolah aku dan Arline tak bisa menemui Mama Ilmaya sendiri.
__ADS_1
"Nak, akhirnya kamu sampai juga. Mama sempat khawatir kalau-kalau kamu tak akan datang, La.." ucap Mama Ilmaya saat menyapa ku dengan pelukan singkat cipika-cipiki nya.
"Err.."
Aku menyengir kuda. Merasa malu karena terkaan Mama Ilmaya memang hampir akan terjadi jika saja Arline tak menjemput ku siang tadi.
"Pasti datang lah, Ma! Kan Arline tadi siang udah jemput Non Putri tercinta kita ini," seloroh Arline mengandung humor.
Langsung saja ku pelototi kembaran nya Erlan itu. Yang dibalas Arline dengan cengiran kemenangan. Rasa-rasanya ia begitu senang bisa menjadikan ku target candaan gelap nya itu.
"Kenapa Laila gak akan datang, Tante? Kan dia pacar nya Erlan. Sudah pasti lah dia harus datang di acara sepenting ini!" Tambah Jessika tak tahu kondisi.
Selama sesaat suasana menjadi hening. Aku dilanda kembali oleh rasa canggung kala mendengar tebakan orang lain atas identitas ku sebagai pacar nya Erlan. Padahal kan kami sudah putus dan tak lagi berhubungan sejak satu minggu yang lalu.
Tapi, dengan kondisi ku saat ini, rasanya tak etis juga jika harus mengoreksi pernyataan Jessika tadi. Karena nya aku pun memutuskan untuk diam dan tak menanggapi.
Kembali ku tangkap pandangan Arline yang seolah mengatakan, 'kenapa tak menyanggah ucapan Jessika?'
Tak ku gubris pandangan heran Arline itu. Sementara aku fokus memperhatikan Mama Ilmaya.
"Oh.. ya. Tentu saja ucapan mu itu ada benar nya, Jess sayang.."
"Tante tak menyangka kalau kamu ternyata sudah mengenal Laila, Jess?" Tanya Mama Ilmaya neran. Mungkin ia keheranan saat melihat rangkulan tangan Jessika pada tangan kiri ku.
"Iya, Tante. Kita sempat berkenalan tadi di luar," sahut Jessika sambil tersenyum ramah.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa tak nyaman dengan sikap akrab nya Jessika. Sehingga sedikit demi sedikit, aku pun mencoba melepaskan tangan ku kemudian menjaga jarak sedikit dari nya.
Dalih ku adalah untuk mendekati meja tempat makanan dan minuman dihidangkan, yang berada tak jauh dari posisi ku berdiri kini.
"Kamu haus, Nak? Makan dan minumlah sepuas hati. Mama sudah menyiapkan semua masakan kesukaan mu malam ini! Ada gado-gado juga loh, La!" Seru Mama Ira tak menanggapi ucapan Jessika.
"Iya.. Mama."
Lagi-lagi aku sedikit canggung untuk menyapa Mama Ilmaya dengan panggilan akrab nya kami.
__ADS_1
'Benar-benar deh. Pacaran dengan orang yang berhubungan dekat dengan orang lain yang juga akrab dengan ku tuh sungguh merepotkan?' dumel ku dalam hati.
Dan, sepanjang acara pesta berlangsung, aku memutuskan untuk jadi tim penghabis makanan. Meski usaha ku itu harus berkali-kali terganggu dengan kemunculan Jessika yang beberapa kali membawa kenalan teman wanita nya yang lain untuk menemui ku.
Merasa bagai badut yang menarik, aku dibuat kesal dengan ulah Jessika yang begitu sering memperkenal kan ku sebagai 'pacar nya Erlan' dengan teman-teman wanita nya itu.
Lama-lama aku jadi kesal dibuatnya. Aku dibuat heran. Kenapa Jessika tak bisa membiarkan ku menikmati gado-gado dan hidangan lainnya dalam diam sih?
Di dekat ku, Arlline tertawa geli. Syukurlah ada Arline yang beberapa kali menyelamatkan ku dari situasi canggung saat Jessika mengajak kawan-kawan nya menemui ku.
Terkadang Arline langsung mengajak ku berpindah tempat sebelum Jessika sampai di tempat kami berada. Terkadang juga bahkan Arline mengajak ku bersembunyi di belakang kerumunan laki-laki yang sedang mengobrol.
Aksi Arline yang terakhir tadi hampir saja membuat ku berada di situasi yang tak mengenakkan. Karena beberapa dari pemuda yang sedang berkerumun itu lalu tertarik dan mengajakku berkenalan.
Aku pun bersiap-siap memasang muka garang. Yang langsung di cekiki ki oleh Arline tanpa perasaan. Selanjut nya Arline menyeretku pergi menjauhi para pemuda genit itu.
"Udah ah. Capek main petak umpet terus sama Jessika, Lin. Lagi pula dia gak buas kok. Kenapa juga kita harus lari-larian menghindar darinya sih?" Omel ku pada Arline di bagian tepi ruangan pesta yang tak terlalu banyak orang.
"Memang nya kamu gak risih apa, La? Dikenalin ke banyak orang sama Jessika sebagai 'pacar nya' Erlan?" Tanya balik Arline dengan pandangan menggoda.
"Ya risih sih. Tapi kan tinggal bilang kalau kami udah putus. Masalah jadi selesai kan?"
"Siapa yang putus dari siapa La?"
"Aaagghh!" Lagi-lagi aku menjerit kaget saat Jessika muncul tiba-tiba di belakang ku.
Arline spontan menertawakan ku. Sementara Jessika memberi ku senyuman hangat.
Tapi aku tak merasa ikut hangat oleh pandangan nya Jessika kepada ku. Karena ku dapati ia yang lagi-lagi membawa beberapa teman wanita yang berbeda di belakang nya.
Aku langsung membuat dugaan atas nasib ku yang akan kembali menjadi badut yang akan dipertunjukkan oleh Jessika pada teman-teman nya itu.
"Kamu tadi bilang soal putus. Siapa yang putus dari siapa, La?" Tanya Jessika mengulang.
Untuk sesaat, aku dibuat bingung. Antara harus menyatakan hubungan ku yang sebenarnya dengan Erlan atau tidak. Namun kemudian pandangan ku terjerat oleh dua manik mata yang menatap ku tajam dari seberang ruangan.
__ADS_1
Dan aku pun cukup lama terjerat dalam pandangan dua mata yang begitu ku rindukan itu.
***