Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Pagi Pertama (POV Erlan)


__ADS_3

Aku terbangun sedari jam tiga pagi. Dan aku kesulitan untuk tidur kembali.


Kemarin adalah hari paling bersejarah sepanjang hidup ku. Karena akhirnya aku bisa menikahi wanita yang sangat kucintai di dunia ini, Laila ku.


Aku merasa seperti sedang bermimpi. Terutama di saat awal-awal Laila menerima usulan Nunik untuk menikah siri terlebih dulu dengan ku. Aku yang mendengar Laila akhirnya setuju, sungguh tak mampu menggambarkan betapa mengembangnya hati ku dengan perasaan bahagia.


Ingin rasanya aku menggendong Laila dan berputar-putar bersama nya. Seperti yang dilakukan para pemain film di serial india yang sedang kasmaran itu. Tapi aku menahan diri. Karena masih ada Nunik dan Kak Aryo di depan kami saat itu.


Dan, setelah Nunik dan Kak Aryo berlalu pergi, aku hampir dibuat gila oleh Laila karena ia sempat kembali ragu untuk menikah siri dengan ku. Karena nya aku pun mengutarakan berbagai alasan yang entah masuk akal atau tidak. Agar Laila tetap menerima usulan dari Nunik itu.


Setelah aku mendapatkan jawaban positif dari Cinta ku, aku langsung saja memberi kabar pada Mama, Papa dan juga Arline. Mereka semua ikut bergembira kala mendengar berita baik ini.


Maka diputuskan kalau kami akan menikah siri besok pagi. Itu adalah waktu tercepat yang bisa kami persiapkan untuk acara ijab kabul ku dengan Laila.


Ah.. Laila.. Laila.. betapa aku sungguh mencintai nya.


Sepanjang malam sebelum acara akad, aku hampir-hampir tak bisa tertidur di apartemen ku. Ku pandangi potret Laila yang kusimpan menjadi wallpaper di layar ponsel milikku. Sebuah potret Laila yang sedang marah dan seperti hendak menerkam ke arah layar ponsel.


Ahh.. aku rela saja deh diterkam oleh Laila ku Sayang. Bucin benar rasanya hati ini pada pemilik wajah manis nan ayu itu.


***


Keesokan pagi nya, sempat terjadi sebuah insiden yang mengejutkan. Insiden yang dimaksud adalah kemunculan Papa kandung nya Laila, yang ternyata adalah Mang Ulum, penjaga pekarangan di rumah Papa dan Mama.


Kami semua yang hadir di sana sungguh terkejut dengan perkembangan peristiwa ini. Meski begitu, aku bersyukur karena prosesi akad nikah masih bisa tetap dilanjutkan.


Hingga akhirnya, dalam sekali ucap, aku berhasil menjadikan Laila sebagai istri ku secara agama. Dan aku pun telah sah menjadi suami nya.


Bukan kah ini begitu membahagiakan?


Sayang nya, malam pertama ku dan Laila tak sesuai dnegan harapan ku. Karena sepanjang malam itu aku sibuk menenangkan Laila yang tak henti-henti nya menangis.


Laila menangisi masa lalu nya bersama Papa kandung nya. Dan aku ikut bersedih atas kemalangan yang telah dilalui oleh istri ku di masa lalu nya dulu.

__ADS_1


Istri ku.. kalian dengar itu? Ku panggil Laila dengan nama panggilan istri ku kini.


Ahh.. betapa ini sungguh menggembirakan! Bolehkah aku berlompat-lompatan sekarang juga?


Tidak? Ya. Tentu saja aku tak mungkin berlompat-lompatan bahagia saat ini. Karena Laila ku Sayang masih begitu sedih akibat kemunculan kembali Papa kandung nya yang telah lama menghilang.


Entah bagaimana nanti hubungan Laila dan Papa nya, tapi ku harap, istri ku kelak bisa melupakan dendam nya kepada Sang Papa.


Aku berharap Laila bisa hidup bahagia tanpa ada dendam di hati. Aku ingin Laila ku sayang selalu bisa tersenyum secerah mentari pagi. Tanpa ada lagi risau dan penyesalan atas masa lalu yang pernah ia hadapi.


Semoga Allah mengabulkan permintaan ku ini. Aamiin.


Dan kini, aku dibuat terkejut saat menghadapi Laila ku menangis kembali dengan begitu tiba-tiba. Padahal sesaat sebelum nya aku begitu yakin kalau aku akhirnya akan bisa menikmati malam pertama yang romantis dengan Laila ku.


Jadi, aku sungguh dibuat bingung saat Laila tiba-tiba saja menangis dan memelukku.


Ku kira Laila mungkin belum siap untuk menerima status pernikahan kami saat ini. Sehingga dengan berat hati ku katakan pada nya kalau aku akan memberinya waktu untuk sendiri.


Tapi Laila menahan ku. Dia memeluk leher ku dengan sangat erat sampai-sampai aku dibuat tak nyaman jadi nya. Meski bukan di bagian leher lah ketidak nyamanan itu kurasakan. Melainkan di bagian anggota tubuh ku yang bawah, yang baru saja tak sengaja tertekan oleh sikap duduk Laila yang sempat bergeser.


Akhirnya selama beberapa menit berikutnya, aku membiarkan Laila menangis sepuas nya di bahu dan dada ku. Hingga junior ku perlahan akhirnya menyerah kalah dan kembali tertidur. Bersamaan juga dengan Laila yang tertidur kembali di pelukan ku.


Sementara mata ku kesulitan untuk kembali terpejam. Karena aku masih menikmati sensasi memeluk tubuh hangat nya wanita untuk pertama kali nya dalam hidup ku.


Ku hela napas dengan perlahan. Mencoba berdamai dengan hasrat bira hi yang tadi sempat tersulut dan menggelora. Namun kini harus ku padamkan untuk sementara waktu.


Ku pandangi tembok kosong bercat putih lusuh di kamar nya Laila. Dan aku pun mencoba menghibur diri ku sendiri dengan hayalan indah kebersamaan ku dengan Laila nanti nya.


"Sabar ya, Lan.. sabar.. orang sabar, disayang Laila.." gumam ku dengan suara yang sangat pelan.


***


Aku terbangun tiba-tiba oleh kecupan yang bersarang di dahi ku. Dengan spontan, ku peluk tubuh Laila yang masih juga ku pangku. Namun..

__ADS_1


'Tunggu dulu! Badan Laila kok empuk banget ya? Gak padat dan hangat kayak semalam?' benak ku berpikir.


Seketika itu juga, kubuka kedua mata. Dan aku dikecewakan oleh sosok bantal guling yang entah sejak kapan telah menggantikan tubuh nya Laila dalam pelukan ku.


Aku mengangkat pandangan ku ke atas. Dan aku kembali dibuat jatuh cinta pada senyum manis milik Laila yang kini berdiri di sisi kasur tempat ku berbaring.


Aku merasa terpikat saat melihat butiran air yang menetes dari rambut Laila yang basah. Butiran air itu jatuh dan mengenai kaki ku yang terjulur di dekat nya.


"Sayang.. bangun yuk. Udah siang banget lho. Kamu belum shalat subuh," ku dengar Cinta ku bersenandung merdu.


Ah.. tidak. laila ku tak pandai bernyanyi. Suara nya selalu saja false setiap kali kuminta ia untuk bernyanyi.


Tapi lalu kenapa aku merasakan harmoni dalam setiap apa yang diucapkan oleh Laila sesaat tadi ya? Apa aku berada di nirwana saat ini? Dengan Laila ku yang menjadi bidadari nya?


"Hey! Bangun!"


Aku tersentak kaget sekaligus mengaduh kesakitan. Manakala ku rasakan bulu kaki ku tercerabut paksa.


"Aww!!! Sakit, Yang!" Aku mengaduh sakit. Merasa kesal déngan keisengan istri ku yang tak jua menghilang usai berhasil ku persunting, kini.


Tega benar Laila, dengan mencabut bulu kaki ku dengan begitu tiba-tiba.


"Ihihi.. maaf ya, Sayang.. habisnya tangan ku gatal banget sih. Rambut kaki mu tuh ikal keriting gitu.. padahal rambut kamu kan lurus cepak ya, Lan?" Tutur Laila sambil cengengesan.


Ah.. benar-benar memang Cinta ku ini. Aku sebenarnya hendak memarahi nya. Namun melihat senyuman di wajah manis nya itu, aku jadi mendadak kupa pada kekesalan yang ku rasakan.


"Hh.. iya ku maafin deh. Tapi jangan main cabut-cabutan lagi ya, Yang. Dari pada cabut-cabutan, aku lebih ikhlas deh kalau kamu main cubit-cubitan. Apalagi main senggol-senggolan.. yuk ah, aku mau!" Ucap ku sambil memandang lekat pada dua gundukan kembar nya Laila yang masih terlihat bentuk nya di balik T shirt ketat yang ia kenakan.


"Hushh! Dasar cowok! Masih pagi pikiran udah nge res aja! Bangun, terus shalat subuh, sana! Udah mau jam enam lho!" Imbuh Laila sambil berlalu pergi keluar kamar.


"Ehh?? Kamu niat ngebangunin aku untuk shalat subuh atau shalat dhuha sih, Yang??" Aku pun mengajukan protes.


Sementara Laila menanggapinya dengan kekehan pelan. "Tauk ah!"

__ADS_1


***


__ADS_2