
Tiga pekan lagi, Arline akan melangsungkan resepsi pernikahannya dengan Kolonel Amir. Sejak seminggu ini, saudari kembar ku itu selalu saja menggoda ku dengan acara pernikahannya. Ia juga mengomentari hubungan ku dan Laila yang menurut nya stagnant tak berkembang.
Memang begundal jahil benar, adik kembar ku itu. Padahal tanpa dikompori olehnya pun, aku sudah berencana untuk meminang Laila dalam waktu dekat ini.
Kebetulan pekan depan Mama berulang tahun. Sehingga aku beralasan pada Laila untuk mengajaknya pergi ke mall dan membeli hadiah ulang tahun untuk Mama. Padahal sebenarnya, aku sudah menyiapkan kejutan spesial untuk Laila.
Jadi, rencana nya, sore nanti aku akan mengajak Laila pergi ke mall. Lalu setelahnya aku akan mengajaknya makan di sebuah restoran bintang lima. Di restoran itu lah kejutan spesial ku untuk Laila sudah ku persiapkan. Di mana aku akan melamar Laila untuk menjadi istri ku.
Sebenarnya jauh di dalam hati ku, masih tersimpan keraguan untuk melamar Laila. Aku khawatir ajakan menikah ini terlalu cepat untuk ku sampaikan. Mengingat perasaan Laila pada Kiyano masih menjadi momok dalam hubungan kami.
Tapi aku berusaha menepis rasa pesimis itu. Karena aku juga yakin kalau Laila mulai memiliki perasaan cinta kepada ku. Aku bisa merasakannya dalam setiap sikap nya kala kami sedang bersama.
***
Akhirnya, sekitar jam dua siang aku pun bertandang ke rumah Laila. Aku sempat terkejut karena aku mendapati Mama Mutia, yakni mama nya Laila ternyata sedang berada di rumah. Padahal biasanya ia masih bekerja hingga jam lima sore.
Alhasil, aku pun memutuskan untuk berbincang-bincang terlebih dahulu dengan Mama Mutia. Aku berharap aku bisa menambah poin plus plus di mata Mama nya Laila itu. Sehingga ketika besok atau nanti malam Laila menceritakan tentang lamaran ku, Mama Mutia akan langsung merestui hubungan kami.
Sepanjang sore itu, aku terus berceloteh perihal banyak hal. Sementara Mama Mutia sesekali berkomentar dan bertanya terkait sesuatu hal. Yang membuat ku sedikit heran adalah Laila agak lebih pendiam sepanjang sore itu.
Aku bahkan mendapati Laila yang sering melamun saat tiba-tiba aku bertanya padanya.
Kupikir, Laila mungkin sedang M. Alias sedang haid.
Lalu, sekitar jam empat nya, aku dan Laila pun pamit ijin pada Mama Mutia untuk pergi ke mall.
***
"Kamu kenapa, Sayang? Lagi gak enak badan kah?" Tanya ku pada Laila yang terlihat diam saja sepanjang perjalanan kami menuju mall.
"Huh? Enggak. Gak apa-apa kok. Maaf ya. Aku agak capek karena tadi habis gosokin baju banyak banget," papar Ella menerangkan.
__ADS_1
"Ooh.. kirain kamu sakit. Kalau sakit ya gak apa-apa juga sih kalau kita gak jadi ke mall."
Padahal dalam hati ku jelas berharap yang sebalik nya. Aku berharap Laila masih ingin melanjutkan rencana kami hari ini,sehingga aku pun bisa sukses memberikan kejutan lamaran untuk nya malam nanti.
'Sayang banget kan kalau Laila nya tiba-tiba ngajakin pulang..' benak ku bermonolog dalam diam.
Laila menatap ku sekilas dan menghadiahi ku sebuah senyuman kecil.
Deg. Deg.
Deg. deg.
Ah.. jantung ku rasanya seperti mau oecah saja setiap kali aku menerima senyuman nya Laila. Entah apa yang sudah diperbuat oleh wanita itu sehingga membuat ku bucin se bucin bucinnya pada wanita berparas manis itu.
"AWAS, Lan!"
Aku tersentak kaget dan kembali fokus memperhatikan jalanan, saat ku dengar peringatan mengejutkan dari Laila tadi.
"Itu.. tadi kamu hampir aja nabrak kucing. Untung aja gak kena."
"Ooh.. maaf-maaf. Aku agak oleng sedikit karena lihatin kamu sih, La. Kamu cantik banget hari ini!" Ku puji Laila dengan tulus.
Aku sudah menduga kalau Laila akan mengomentari negatif, atas pujian ku padanya itu. Namun setelah beberapa lama waktu berlalu, Laila ternyata malah tetap diam dan melamun kembali.
Ku kernyitkan dahi, mencoba mengira-ngira penyebab Laila jadi sering gagal fokus sepanjang ku temui ia siang tadi. Akhirnya, aku pun bertanya lagi pada Laila.
"Kamu kenapa sih, La? Beneran, Sayang. Kalau kamu merasa gak Ok, kita bisa cancel kok hunting hadiah nya."
Dan Laila pun tersadar saat aku menjawil pipi nya dengan pelan.
"Mm.. enggak Lan. Gak usah. Kita jadi aja ke mall nya. Lagian, mau kapan lagi beli hadiah nya kalau gak hari ini? Kan acara ultah nya Mama Ilmaya tuh minggu depan. Lagipula aku juga mau sekalian beli hadiah untuk Arline, kok.."
__ADS_1
"Ok. Siap Tuan Putri. Kita meluncur ke mall deh ya!"
Dan perjalanan menuju mall pun kami lanjutkan. Hingga akhirnya kami tiba juga di mall terbesar di kota B itu sekitar jam lima sore nya.kami sibuk ber-hunting hadiah hingga lewat maghrib.
Setelah beristirahat sejenak di musholla yang ada di mall, aku pun mengajak Laila untuk makan di restoran yang telah ku persiapkan acara lamaran ku di sana.
"Kita makan dulu yuk, La. Sebelum pulang. Perut ku udah lapar banget nih.." aku memohon pada Laila.
"Iya. Tapi habis makan, kita langsung pulang ya, Lan?" Pinta Laila dengan lesu.
Aku sedikit khawatir kalau momen lamaran ku malam nanti terjadi pada waktu yang tidak tepat. Karena ku amati Laila terlalu pendiam sepanjang sore tadi.
"Oke lah, Putri Laila. Sesuai perintah mu deh.."
Aku mengumpankan tawa pada Laila. Namun tawa kecil ku tak bersambut seperti yang ku harap-harapkan. Karena Laila hanya memberiku senyuman kecil saja.
Namun lagi-lagi ku tepis jauh rasa pesimis ku itu. Aku pun banyak berdoa agar acara lamaran ku di restoran nanti akan berakhir sukses.
***
Jadi, sebenarnya acara lamaran ku ini terbilang simple sih.
Rencananya, aku akan menyelipkan sebuah cincin dalam minuman nya Laila nanti. Lalu setelah Laila menemukan cincin itu, baru lah aku akan menyampaikan lamaran ku padanya. Simple sekali bukan?
Begitu sampai di restoran, aku mengajak Laila duduk di kursi yang sudah ku pesan sebelum nya. Aku meminta meja yang letaknya berada di pojokan dekat dengan jendela. Sehingga kami biaa menyaksikan pemandangan kota B yang gemerlap nan indah mempesona.
Begitu selesai makan, aku menanti-nantikan momen saat Laila menemukan cincin dalam orange juice yang sedang diminumnya. Aku bahkan dengan sengaja ikut meminum jus jeruk nya Laila itu, karena kulihat Laila hanya sedikit saja meminum jus nya. Sehingga gelas nya masih separoh terisi jus jeruk.
Tapi, sebelum Laila menemukan kejutan cincin ku dalam gelas nya, terlebih dulu aku malah dikejutkan oleh pernyataan Laila yang sangat tiba-tiba.
Laila tiba-tiba saja berkata, "Lan, kupikir sebaiknya kita putus saja!"
__ADS_1
***