
Sejak acara pemakaman, aku merasa dunia ku terasa kosong.
Terbiasa tidur berdua dengan Erlan, dengan dia yang selalu mengusap-usap punggung dan pinggang ku di setiap malam nya. Kini aku harus menahan pilu ku seorang diri. Membuat ku hampir terjaga hingga larut malam sekali.
Aku lebih sering duduk di depan teras rumah ku. Memandang ke kejauhan dengan tatapan kosong. Berharap aku bisa kembali melihat sosok Erlan yang biasanya selalu pulang tepat waktu jam 5 sore.
Aku tak menangis. Setidak nya tidak di hadapan orang-orang. Namun tangis ku pecah kala aku harus melalui malam-malam panjang ku yang sepi dari obrolan bersama Erlan. Aku merasa sangat kesepian.
Tanpa sadar, aku mulai jarang berkata-kata. Mulut ku kini jarang mengeluarkan suara. Senyuman ku ditarik pergi oleh takdir. Manakala Erlan ku kembali menghadap kepada-Nya.
Meski aku selalu mengatakan pada diri ku sendiri untuk mengikhlaskan kepergian nya, namun tetap saja. Kesedihan itu masih menyekap ku dengan begitu kuat nya.
Seolah daya hidup ku telah ikut dibawa pergi oleh suami ku itu ke alam baka. Aku pun bersikap layaknya raga bernyawa yang tak lagi memiliki jiwa.
"Nak, makan lah lagi. Kasihan anak-anak dalam perut mu itu, Nak. Kamu jadi lebih kurus sekarang," tegur Mama Mutia di suatu hari.
Aku memandang pergelangan tangan ku sendiri. Dan baru menyadari kalau ucapan Mama memang ada benarnya.
Tangan ku yang sempat gempal berisi sebulan yang lalu, kini kembali mengurus seperti saat usia kandungan ku masih muda.
"Lail eneg, Ma.. " jawab ku singkat.
"Mau Mama belikan buah jeruk, Nak? Buat hilangin eneg nya.." Mama menawarkan opsi.
Aku menggeleng. Tanpa tersenyum. "Enggak usah, Ma.."
"Atau kamu mau cemilan apa, Nak? Kentang goreng? Chicken? Es krim? Bilang ke Mama Sayang.. nanti Mama belikan."
Lagi-lagi aku menggeleng.
"Gak usah, Ma.."
Sesaat kemudian, aku dibuat tertegun manakala Mama yang tiba-tiba saja memelukku. Dan kemudian ku dengar isak tangis nya di dekat telinga ku.
"Jangan begini dong, Sayang.. kamu harus semangat untuk tetap hidup! Demi anak-anak dalam perut kamu, La."
Untuk sesaat, aku tak bisa berkata apa-apa untuk menjawab pernyataan Mama tadi. Pandangan ku masih nanar menatap ke kejauhan. Nampak terlihat langit yang mulai kemerahan di ufuk Barat sana. Pertanda senja yang mulai menyambangi langit.
__ADS_1
"Erlan juga pasti akan sedih bila melihat kamu terus-terusan seperti ini, Nak," ucap Mama tiba-tiba.
Mendengar nama suami ku itu disebut, seketika itu pula kedua mata ku mengembun. Aku berusaha menahan bendungan di mata ku agar tak jebol.
Setelah aku berhasil menahan diri untuk tidak menangis, aku pun akhirnya membalas ucapan Mama.
"Tapi Erlan udah pergi, Ma.. Jadi Laila gak bisa lihat dia lagi.." ucap ku dalam bisikan yang menyakitkan hati.
"Huu..."
Dan Mama pun terus menangis sambil memelukku erat. Sementara aku masih terus memandang ke langit kosong di atas sana.
Kekosongan yang juga ku rasakan mulai membuat lubang menganga dalam hati ku ini.
Aku benar-benar merasa dunia ku kosong tak berisi.
***
Hari terus berganti. Tanpa sadar, satu bulan sudah sejak terakhir kali nya aku melihat matahari ku, Erlan.
Ku tinggalkan cinta ku terbungkus dalam selimut dingin kain kafan. Entah bagaimana kini rupa Erlan ku. Yang pasti, wajah senyum nya saja lah yang selalu menghantui malam-malam panjang ku.
Secara perlahan, kerinduan ku kepada Erlan mulai memakan daya hidup ku. Bagai lampu yang kehilangan daya listrik nya, ku lalui hari-hari ku dengan hati yang selalu muram lagi durja.
Semua ini terus berlangsung hingga Allah menegur ku dalam suatu kejadian. Saat aku hampir saja kehilangan dede utun 1 dan juga 2.
Ya. Aku hampir saja keguguran.
...
Beberapa hari sebelum nya aku mulai kembali muntah-muntah hebat. Ku pikir aku mungkin sekedar masuk angin saja karena nafsu makan ku yang memang sedang memburuk akhir-akhir ini.
Namun, ketika suatu sore Papa mengantarkan ku mengecek ke Klinik Dokter Ira. Dokter Ira memberikan diagnosis yang membuat dunia ku serasa jungkir balik saat itu juga.
Menurut Dr. Ira, janin ku mengalami mal nutrisi. Sehingga jika tak segera ditindaklanjuti maka besar kemungkinan aku akan kehilangan mereka berdua.
Saat ku dengar pernyataan Dr. Ira itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Pandangan ku terfokus pada dua fetus yang bisa kulihat pada layar USG di hadapan ku.
__ADS_1
Saat melihat kedua dede utun itu lah akhirnya aku tersadarkan. Aku benar-benar merasa ditampar oleh Allah saat itu juga.
Karena kelalaianku lah aku telah menyiksa kedua anak dalam kandungan ku.
Karena kesedihan ku yang berlarut-larut itu lah, aku telah mengabaikan kedua anak kami (aku dan Erlan).
Ya.. bagaimana pun juga aku tak bisa membiarkan dua anak ku itu ikut pergi juga bersama Papa nya.
Aku tak ingin ditinggalkan juga oleh keduanya.
Seketika itu pula aku tersedu-sedu menangis.
'Maafkan, Mama, Nak.. maafkan, Mama.. Mama sudah lupa kalau Kalian juga masih ada menemani Mama di dunia ini. Bertahan lah, Nak. Kita bertahan bersama-sama.. jangan pergi mengikuti Papa juga. Mama sungguh sangat mencintai kalian..!' jerit hati ku dalam isak tangis yang tak terdengar suaranya.
Pada akhirnya, aku mengikuti saran Dr. ira untuk dirawat di rumah sakit. Melalui penanganan yang tepat, syukurlah kedua janin ku bisa diselamatkan. Meskipun aku harus bed rest di rumah sakit hingga masa kelahiran kedua anak ku nanti.
Tapi aku tak lagi menyanggah perintah Dr. Ira. Aku juga memaksa diri ku untuk makan sebanyak yang ku bisa. Aku berusaha untuk kembali membagi senyuman ku untuk orang-orang di sekitar ku.
Yang jelas, aku mencoba merajut kembali kebahagiaan dalam hidup ku.
Aku tak pernah ditinggal sendirian di rumah sakit. Biasanya Mama selalu menemani ku menginap. Atau terkadang juga Papa, Darman, Arline dan juga Mama Ilmaya.
Semua orang menyemangati ku untuk kembali melanjutkan hidup ku. Agar aku kembali menciptakan kebahagiaan ku sendiri.
Mereka juga terus mengingatkan ku kalau aku tak akan pernah menjalani kehidupan ini seorang diri. Karena semua orang akan berjalan bersama ku dalam meniti jalan hidup ku ini.
Aku dibuat terharu, tersadarkan, dan akhirnya menyesal dengan sikap abai ku pada mereka yang sayang kepada ku. Kumohon maaf pada mereka semua yang telah kubuat bersedih selagi masa berkabung ku karena kehilangan Erlan.
Terlebih juga kepada Nunik. Dia yang disibukkan oleh Baby Nan nya yang baru berumur 3 bulan, sering kali menyambangi ku ke rumah sakit.
Aku mengingat jelas satu perkataan Nunik kepada ku dalam satu kunjungan nya.
"Kematian itu juga salah satu proses ujian, il. Ujian bagi dia yang meninggal, maupun juga bagi mereka yang ditinggalkan. Akankah kita bisa memaknai kematian sebagai perjumpaan yang tertunda, ataukah tidak. Karena pada dasarnya kematian adalah pertemuan kembali yang tertunda, il,"
"Bukankah kelak, kita akan kembali dipertemukan-Nya di alam yang lain? Jadi, bersabar lah hingga tiba masa nya bagi kita berakhir di dunia. Bertahan lah untuk tetap menjalani semua proses dalam kehidupan ini. Dan bersiap-siaplah untuk pertemuan yang pasti akan kita alami nanti," tutur Nunik menasihati ku dulu.
***
__ADS_1