
Setelah perjumpaan singkat dengan Jessika. Kami pun berpisah dari nya. Aku dan Jessika sempat bertukar nomor telepon. Dan kami pun berpamitan usai Jessika menjanjikan untuk menelepon ku nanti untuk kostum bride's maid nya.
"Kamu beneran mau jadiin Jessika Bride's maid mu, Yang?" Tanya Erlan kemudian, setelah Jessika lama berlalu.
"Iya. Memang nya kenapa? Kamu keberatan kalau dia jadi bride's maid ku ya, Lan? Kamu takut CLBK sama Jessika ya?" Aku menuding Erlan.
(cLBK \= Cinta Lama Bersemi Kembali)
"Apaan sih, Yang. Kamu tuh suka suudzon, deh," elak Erlan.
"Ya terus kenapa coba kamu keberatan kalau Jessika jadi bride's maid ku? Kamu takut tertukar dan salah pilih pengantin pas acara nanti ya? Kamu lupa kalau pengantin mu itu aku dan malah terpukau lihat Jessika yang cantik dalam gaun bride's maid nya iya, hah?!" Aku masih menuding Erlan.
"Wah. Mulai deh," gumam Erlan dengan suara pelan.
Tapi aku berhasil menangkap ucapan nya itu. Jadi langsung saja aku menyerobot ucapan calon suami ku itu.
"Mulai.. mulai.. mulai apa coba? Mulai nyesal ya karena pilih aku jadi istri kamu?" Aku masih menyerocos kesal. Terutama bila kuingat momen saat Erlan memberikan perhatiannya kepada Jessika terkait nenek nya tadi.
Ahh.. mungkin ini lah yang namanya cemburu. Sungguh perasaan yang tak enak sekali!
Erlan mengabaikan ku. Ia hanya menarik tangan ku dalam genggaman nya. Meninggalkan gerai fast food di belakang langkah kami.
Aku berusaha melepaskan tangan ku dari Erlan. Namun genggaman pemuda itu ternyata begitu kuat.
Aku pun lalu langsung saja mogok jalan. Namun Erlan tak hilang akal.
Dengan suara pelan, ia malah mengancam.
"Kamu mau kita lanjut jalan, atau aku gendong kamu sekarang juga!"
"?!! Kamu gak bakal berani!" Ku picingkan mata ku ke arah Erlan.
"Mau bukti?" Tanya balik Erlan. Yang langsung dibuktikannya dengan meraih bahu dan bagian belakang lutut ku dengan kedua tangan nya. Dan dalam sekejap, aku pun sudah berada dalam gendongan Erlan ala bridal style.
"Erlan!" Aku menghardik dengan suara yang cukup kencang.
__ADS_1
Hal ini membuat semua orang di sekitar kami langsung beralih menatap kami.
Merasa malu, aku langsung menyembunyikan wajah ku ke dada bidang nya Erlan. Kemudian baru lah aku mengancam nya sambil berbisik, "lepasin aku! Gila kamu, Lan! Gak malu, apa kamu?!"
Erlan kemudian melanjutkan langkah nya kembali. Baru kemudian ia balas berbisik.
"Kayaknya kamu deh yang mulai gila, Yang. Tingkat sensi dan marah-marah mu itu lho, mulai meningkat tajam soal nya. Apa perlu kita konsuling ke psikiater?"
Kesal dengan candaan Erlan itu, aku langsung mencubit saja bagian tubuh Erlan yang bisa ku raih dalam posisi ku yang terbatas saat ini. Dan Erlan pun mengaduh kesakitan.
"Turunin aku sekarang juga, Lan. Malu tahu!"
"Kalau malu, ya udah kamu pura-pura pingsan aja. Kan beres tuh!" Seloroh Erlan dengan asal.
"Erlaann.. aku serius nih. Turunin aku sekarang juga atau aku bakal teriak dan minta tolong!" Aku kini mengangkat wajah ku hingga mata ku bertatapan langsung dengan mata nya Erlan.
Kulihat kedua manik mata cokelat nya Erlan mengandung jenaka yang sungguh menyentil ego ku.
"Kamu lucu deh, Yang. Kita kan mau nikah sebentar lagi. Masa kamu mau nyerahin calon suami mu ini biar diamuk masaa sih?" Ucap Erlan dengan wajah yang penuh senyum.
"Memang aku nyebelin nya di mana sih, Yang? Cerita dong. Aku kok gak tahu ya?" Imbuh Erlan, masih dengan tetap berjalan menggendong ku.
"Ya itu tadi. Kamu sok sok ngasih perhatian ke Jessika. Apa itu namanya gak nyebelin, hah??" Tuding ku dengan spontan.
"Ooh.. jadi soal itu toh. Ya wajar juga sih, Yang, kalau aku peduli. Lagipula aku kan peduli nya ke Nenek Gayo, nenek Jessika yang lagi sakit. Bagaimana pun juga waktu aku kecil dulu, Nenek Gayo jadi sosok nenek ku juga kan. Jadi wajar kalau aku ikut cemas dengar kabar nya yang lagi sakit. Aku kan jadi keingetan sama almarhumah Oma, Yang.." tutur Erlan dengan raut sedih.
Melihat perubahan ekspresi di wajah Erlan, aku langsung saja terdiam. Dan setelah dipikir-pikir lagi, mungkin memang aku yang terlalu berlebihan cemburu terhadap pemuda itu.
Baru juga aku hendak meminta maaf kepada Erlan, tapi lalu, aku kembali dibuat kesal oleh selorohan pemuda itu berikut nya.
"Hah. Hah. Hah. Kamu lumayan berat juga ya, Yang. Aku ngos ngos san nih!" Ujar Erlan dengan tiba-tiba.
Kembali, sebuah cubitan kulayangkan di lengan Erlan. Dan tak lama kemudian ia pun langsung berteriak sakit.
"Aww! Yang! jangan main cubit-cubitan terus ah! Mending kamu coba diet lagi, deh. Biar aku bisa kuat ngangkat kamu lama-lama," imbuh Erlan.
__ADS_1
"Diet! Diet! Kamu mau aku seramping sapu lidi apa, Lan?"
"Hush! Kalau ngomong tuh ya dipikir-pikir dulu kan bisa, Yang. Maksud ku tuh bukan begitu. Lagian aku cuma bercanda kok. Aku sebenarnya lebih senang kalau kamu tambah berisi. Jadi kalau pun aku gak kuat ngangkat kamu, minimal aku punya teman tidur yang lumayan lebih empuk!"
"...?!! Dasar me syum!"
Aku baru hendak melayangkan cubitan lagi ke lengan Erlan, saat Erlan menurunkan tubuh ku dengan sangat tiba-tiba. Hingga aku hampir saja oleng jatuh jika saja ia tak menangkap lengan ku segera.
Begitu kedua kaki ku tegak berpijak, aku langsung saja mengomeli calon suami ku itu.
"Erlan! Hampir aja aku terjatuh tadi! Kamu sengaja banget sih!" Aku kembali mengomel.
Tapi lalu aku melihat pandangan Erlan tak terarah kepada ku. Terlebih saat ku tangkap raut khawatir di wajah nya Erlan. Dan ia memandang jauh ke belakang ku.
Aku pun langsung menolehkan wajah, ke arah Erlan memandang kini. Dan seketika itu pula, aku langsung ingin bersembunyi di belakang Erlan saat itu juga.
Meski nalar ku langsung memberi ku peringatan, kalau pilihan bersembunyi di belakang tubuh Erlan juga bukan lah keputusan yang bijak.
Aku berusaha bersikap se normal mungkin, lalu menyapa seseorang di depan kami dengan sapaan yang normal.
"Err.. kok kamu di sini, Nun?" Tanya ku kepada Nunik yang berada sekitar lima meter jauh nya dari tempat ku berdiri saat ini.
Nunik memandang ku dengan tatapan menuduh. Membuat ku bergelut dalam rasa bersalah yang tak ku mengerti sebab nya dari mana.
Sementara itu, di samping Nunik, Mas Aryo menatap Erlan dengan pandangan menusuk. Hingga Erlan pun langsung terdiam seraya menundukkan kepala nya. Aku hampir-hampir ingin menertawakan potret Erlan yang saat ini seperti anak kecil yang ketahuan mencuri mangga oleh ayah nya. Hihihi..
Kemudian ku dengar suara deheman Nunik. Dan aku kembali melihat ke arah sang bumil yang kini sudah berdiri tepat di depan ku. Kedua tangan Nunik, disilangkan nya di depan da da. Sebuah pose yang berhasil membuat ku merasa seperti anak yang akan diceramahi habis-habisan oleh sang ibu nya.
"Sepertinya, kita perlu bicara empat mata lagi, La, Lan," ucap Nunik dengan tiba-tiba.
Dan aku pun langsung kesulitan menelan ludah ku.
'alamak.. apa Nunik mau ngebahas soal aku yang digendong Erlan tadi ya?' aku sibuk menduga-duga di dalam hati.
***
__ADS_1