
Suatu minggu, aku mengajak Laila berlibur ke puncak. Saat itu kandungan Laila semakin terlihat besar di saat usia nya menginjak enam bulan.
Sebenarnya Laila sudah sejak lama meminta ku untuk berlibur ke puncak. Sayang nya karena kesibukan di kantor selama beberapa pekan terakhir, aku baru bisa mengajukan libur selama tiga hari untuk bisa berlibur dengan istri ku.
Mulanya aku juga mengajak Mama Mutia, Papa Ulum dan juga Darman untuk ikut ke puncak bersama kami. Sayang nya Mama menolak nya karena Papa yang tiba-tiba saja sakit pinggang usai menanam varians bunga jenis baru di halaman belakang rumah.
Sementara Darman menolak ajakan ku dengan alasan ia yang sedang menghadapi ujian sekolah seminggu ke depan nya. Maka jadilah akhirnya aku ke puncak berdua saja dengan Laila.
"Waahhh.. segar banget deh, Yang! Jadi kangen hiking deh. Nanti kalau dede utun 1 dan 2 udah lahir, terus kondisi ku udah fit, kita hiking bareng yuk, Yang!" Ajak Laila.
"Hiking ke mana, Yang?"
"Ada lah. Aku punya lokasi hiking yang bagus banget. Pokoknya kamu gak bakal nyesal deh kalau kita udah sampai di puncak gunung nanti nya. Karena kita bakal bisa lihat pemandangan yang indah banget!" Tutur Laila bercerita.
"Yahh.. gimana nanti aja ya, Yang. Kalau aku bisa libur, ya kita hiking. Oke?" Jawab ku asal.
"Kok gitu sih? Kamu kan bos nya. Masa iya gak bisa meliburkan diri sih?!" Protes Laila tak percaya.
"Kan lihat kondisi kantor juga, Yang. Takutnya pas lagi ada banyak proyek yang belum beres, kan aku harus beresin dulu ya proyek nya. Baru deh bisa liburan. Jadi bos juga punya tanggung jawab nya sendiri lho, Yang. Kita gak bisa asal meliburkan diri gitu. Itu namanya gak bertanggung jawab," tutur ku menjelaskan.
Ku amati wajah Laila ku yang kini sudah tertutupi dengan hijab sewarna dengan tanah. Cokelat gelap. Wajah Laila yang memang manis jadi terlihat tambah manis saja.
Di awal ia memakai kerudung, Laila biasnya hanya memakai bergo instan yang siap pakai. Tapi semakin hari ia mulai memvariasikan kerudung yang dipakainya dengan kerudung kotak atau kerudung panjang (pashmina).
Terkadang Laila membelitkan nya ke sekitar leher, terkadang ia juga menguraikannya seperti sekarang ini.
Menurut Laila, yang ia dengar juga dari Nunik, kerudung itu seharusnya dipakai hingga bisa menutupi bagian dada. Karena nya, kini Laila mulai mengikuti gaya berkerudung nya Nunik. Dengan sedikit variasi juntaian ke sebelah kanan atau pun kiri.
Aku sih suka-suka saja dengan penampilan Laila yang bagaimana pun. Karena menurut ku, Laila sudah sangat menawan dengan hanya mengenakan kerudung saja. Dan aku juga bersyukur dengan keputusan Laila untuk mengenakan kerudung.
Karena itu berarti Laila turut mengurangi dosa ku atas setiap juntaian rambut yang telah ditutupinya dengan hijab itu. Bukankah kata Kak Aryo, bila seorang muslimah tak menutup aurat dari lelaki yang bukan mahrom nya (termasuk juga rambut), maka dosa itu pun akan ditanggung juga oleh suaminya. Karena suaminya itu tak berhasil mendidik sang istri untuk mengikuti aturan agama dalam menutup aurat.
__ADS_1
"Makasih ya, Yang.. kamu udah mau pakai kerudung.. kamu jadi tambah cantik lho, jadinya.." ucap ku memuji Laila.
"Iih.. udah ah. Jangan diulang-ulang terus. Kamu keseringan muji aku lho, Yang.." sahut Laila dengan sikap malu-malu.
Di puncak, kami menikmati liburan kami dengan semaksimal mungkin. Tentunya aku pun cukup selektif dengan kegiatan yang kami lakukan di puncak. Mengingat kandungan Laila yang terlihat sudah sangat besar saat ini. Padahal kandungannya baru juga enam bulan.
Menurut dokter kandungan yang kami kunjungi, HPL Laila atas kehamilan kembar nya itu akan lebih cepat bila dibandingkan kehamilan anak tunggal. Dan setelah ku konsultasikan ke Mbah Gugel pun memang seperti itu.
HPL nya Laila menurut dokter sekitar dua bulan lebih lagi. Jadi aku harus menjaga agar Laila menghindari aktivitas yang bisa mengundang kontraksi nya jadi lebih cepat. Termasuk juga aktivitas ranjang.
Mungkin boleh sesekali, tapi menurut dokter Ira, akan lebih baik jika aku berpuasa dulu hingga kelahiran putra dan putri kami nanti. Hingga usia para janin cukup hingga mereka siap untuk terlahir ke dunia ini.
Karena jika sampai terjadi kelahiran prematur, maka risiko penyakit terhadap bayi pun akan semakin besar nanti nya. Karena itu lah aku pun memilih untuk mengikuti opsi dokter yang paling tak ku sukai. Yakni mempuasa kan junior ku dari menjenguk anak-anak ku secara langsung sampai mereka terlahir nanti nya.
"Hhh.." aku mendesah letih.
"Kamu kenapa, Yang?" Tanya Laila.
"Cuma kangen Yang sama anak-anak. Pingin jenguk mereka deh.." ungkap ku dengan jujur.
Dan pipi ku langsung ditepuk pelan oleh Laila.
"Dasar! Kirain kenapa. Ternyata lagi mikir me syum toh!" Elak Laila.
"Me sum apa an sih, Yang? Kan tadi ku bilang kalau aku tuh kangen pingin nengokin anak-anak. Terakhir kali nengokin kan pas mereka masih seukuran buah jeruk. Sekarang mungkin udah pada besar ya mereka.." imbuh ku lagi.
"Tauk ah! Ganti topik! Ganti topik!" Elak Laila, berusaha mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Yahh.. kok gitu sih, Yang? Kamu gak ngebolehin aku nengokin anak-anak nih?" Aku merajuk.
"Bu..bukan gitu, Yang.. iih.. jangan di sini ah ngomong nya! Malu tahu! Takut kedengeran sama penjaga villa gimana coba?" Bisik Laila ke dekat telinga ku.
__ADS_1
"Malu kenapa sih? Kan normal kalau seorang ayah nengokin anak-anak nya. Aku juga kangen lho, Yang sama anak-anak kita ini," ucap ku lagi sambil mengelus pelan perut Laila.
"Iihh! Dibilangin jangan di sini! Ayo kita ke kamar aja deh!" Ajak Laila sambil beranjak bangun.
Dan kuping ku pun langsung menegak. Berikut juga junior di bagian bawah tubuh ku.
"Jadi, boleh jengukin nih, Yang?" Tanya ku bersemangat.
"Iya.. syuut.. udah jangan ngomong lagi. Ayo cepetan ke kamar!" Ajak Laila yang menarik tangan ku untuk kembali ke kamar inap kami.
Dan, kami pun beromantis ria di penghujung sore itu akhirnya..
***
Keesokan paginya, kami pulang dengan mengendarai mobil yang sama seperti saat keberangkatan kami ke puncak. Dengan aku pula yang mengendarai mobil nya.
Sebelum sampai ke rumah, kami sempat mampir dulu ke sebuah minimarket. Karena Laila yang sudah kebelet BAB saat itu.
Aku pun menunggu Laila di dalam mobil. Dengan kondisi kaca samping yang terbuka, aku melihat istri ku itu tergesa-gesa memasuki bangunan minimarket.
Sambil menunggu, entah kenapa mata ku malah merasa mengantuk sekali. Mungkin karena semalam tadi aku bergadang mengusap-usap pinggang Laila yang mulai sering terasa pegal.
Laila biasanya baru bisa tertidur pulas usai ku usap pinggang dan punggung nya dalam waktu yang cukup lama. Aku tak mengeluhkan hal itu. Karena bagaimana pun juga, Laila merasakan pegal itu juga karena sedang mengandung buah cinta kami berdua, bukan?
Jadi, aku pun menikmati masa-masa ku menjadi suami siaga bagi Laila ku.
"Hoahm..." Aku kembali menguap untuk ke sekian kali nya.
Hingga akhirnya, aku pun mengalah juga pada rasa kantuk yang akhirnya menguasai ku.
Dan, dunia ku pun langsung menggelap setelah nya.
__ADS_1
***