
Mengingat kenangan saat makan pisang goreng bersama Erlan, aku jadi ingin meringis sekaligus tertawa bersamaan. Rasa-rasanya kejadian itu sudah lama terjadi saja. Dan aku juga mulai merindukan sosok pemuda nan baik itu kini.
"Hh.. besok lusa, aku jadi datang gak ya ke acara ultah nya Mama Ilmaya?" Gumam ku sendirian.
Ya. Besok lusa memang pesta ulang tahun Mama Ilmaya akan dilangsungkan.
Sepulangnya dari hunting hadiah ke mall saat itu, aku langsung dilanda kebingungan untuk menghadiri acara ultah nya Mama Ilmaya atau tidak.
Jika aku tetap datang, itu berarti mau tak mau aku akan bertemu dengan Erlan. Sementara aku masih bingung mau bersikap bagaimana jika kami bertemu kembali nanti.
Tapi jika aku tak datang, aku akan merasa tak enak hati pada Mama Ilmaya. Karena kemarin Mama Ilmaya menelepon ku secara pribadi untuk mengundang ku ke acara pesta nya.
Menurutnya, pesta nanti hanya akan dihadiri oleh orang-orang terdekatnya saja. Dan dia sangat mengharapkan kehadiran ku di pestanya nanti.
"Hhh.. gini nih kalau punya mantan yang juga kenal sama orang lain yang juga akrab sama kita. Serba salah deh karena masih harus sering ketemu!" Dumel ku kembali seorang diri.
***
Dua hari kemudian..
Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana pesta ulang tahun nya Mama Ilmaya akan dilangsungkan di rumah nya.
Rencananya, acara pesta akan dimulai setelah maghrib. Entah untuk alasan apa acaranya dilangsungkan di malam hari.
Tapi aku bersyukur. Karena dengan begitu, gelapnya malam akan membuat daya penglihatan ku berkurang. Sehingga mungkin aku tak akan terlalu bisa menangkap lihat sosok nya Erlan.
Sedari pagi, seperti biasa aku kembali sibuk dengan tugas menggosok baju yang menumpuk di keranjang. Aku baru selesai menggosok sekitar jam setengah sebelas siang.
Usai menggosok, aku pun lanjut makan dan shalat zuhur. Setelahnya, aku sempat tidur siang sebentar. Hanya sekitar lima belas menit saja!
Kenapa bisa sebentar itu? Karena saat aku baru nyenyak tertidur, aku mendengar suara gedoran di depan pintu rumah ku.
Aku terbangun dengan pikiran yang masih berkabut oleh rasa bingung.
"Siapa juga sih yang datang bertamu siang-siang begini? Gak tahu waktu banget!" Dumel ku sambil melirik jam yang tergantung di atas dinding.
Saat itu waktu menunjukkan pukul satu siang lewat sepuluh menit.
Dengan gusar, aku pun bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu depan.
Saat ini aku berada di rumah seorang diri. Karena Mama sedang kuli mencuci di perumahan sana.
Begitu kubuka pintu, aku langsung berhadapan dengan sosok yang sangat kukenal.
"Arline?"
"Hay? Lama banget sih buka pintu nya? Lagi bertapa ya, Non?" Sapa Arline dengan raut kesal.
Tanpa permisi, wanita yang tubuhnya lebih mungil dari ku itu langsung saja nyelonong masuk ke dalam rumah. Ia lalu duduk selonjoran di atas sofa yang ada di ruang depan.
__ADS_1
Sebuah botol spray kemudian diambil nya dari saku samping tas ransel di punggung nya. Lalu ia menyemprotkan beberapa kali ke arah wajah nya.
"Haaahh.. segar. Gila! Di luar panas banget tahu, La. Aku hampir-hampir dehidrasi nungguin kamu sedari tadi. Es teh ada gak? Haus nih?"
Aku yang masih kebingungan dengan kemunculan tiba-tiba nya Arline ini, hanya terdiam saja sedari tadi di muka pintu.
Baru saat Arline selesai bicara saja lah akhirnya aku tersadar dari lamunan ku.
Kemudian aku mengambil air gelas mineral yang ada di pojok ruangan, lalu meletakkannya di hadapan Arline. Baru setelahnya aku ikut duduk di samping Arline.
"Kok kamu ke sini, Line?" Tanya ku langsung to the point.
"Jemput kamu. Mama minta aku untuk jemput kamu, jadi kamu gak ada alasan mangkir dari pesta ultah nya. Eh, ini masa cuma ada air putih doang? Es teh nya mana?"
Kuambil kembali air mineral kemasan gelas yang tadi ku suguhkan untuk Arline dan hendak meletakkannya kembali ke pojok ruangan saat Arline tiba-tiba merebutnya dari tangan ku.
"Duileee.. sensi banget sih, Non. Kan aku cuma nanya doang. Kalau es teh nya gak ada juga kan gak apa-apa."
"Huh.. sekarang baru jam satu, acara pesta nya bukannya malam nanti ya?" Tanya ku bingung.
"Iya. Nanti malam. Tapi memang nya kita gak butuh waktu untuk persiapan diri? Lagi pula, kamu hutang penjelasan ke aku, La!"
"Hutang penjelasan apa sih?"
"Itu loh. Apa yang kamu lakukan sampai buat Kak Erlan uring-uringan terus selama hampir satu minggu ini?" Tanya Arline menuntut.
Deg. Deg.
'Sepertinya Erlan belum mengatakan tentang hubungan kami yang putus kepada Arline..' terka ku dalam hati.
"Hh.. kita putus. Udah sih, cuma itu aj--"
"Hah?!"
Arline seketika itu juga menegakkan posisi duduk nya.
"Kalian putus? Serius kamu, La?"
"Iya. Putus. P-u-t-u-s. Putus."
"... Kok bisa sih? Kamu udah gak tahan ya sama sifat kakak ku itu, La? Duh.. tolong di sabar-sabarin dong, La. Padahal aku udah ngarep banget lho kamu jadi ipar ku.. pokoknya aku pendukung nomor dua nya kamu deh jadian sama Kakak ku!" Ungkap Arline dengan serius.
"Kedua? Terus yang pertama nya siapa?" Aku penasaran.
"Ya, Mama lah! Mama akan selalu jadi pendukung nomor satu nya hubungan kamu dan Erlan."
Deg. Deg.
Tiba-tiba saja aku merasa dejavu. Seingat ku, dulu pun Erlan pernah memberikan jawaban yang serupa dengan jawaban Arline tadi.
__ADS_1
Flash back.
"Ijinkan aku mencintai mu dari dekat, La.. ijinkan aku menunjukkan pada mu kalau kita bisa menciptakan bahagia bersama-sama. Aku janji, aku akan menjaga kamu melebihi aku menjaga diri ku sendiri. Kamu akan jadi wanita nomor dua dalam hidup ku yang singkat ini, La ." Janji Erlan dengan serius.
Aku mengernyitkan dahi kala mendengar kalimat terakhir Erlan tadi.
"Yang ke dua? Terus, siapa yang pertama, Lan?" Tanya ku mulai bernada cemburu.
Erlan tersenyum dan mengecup singkat kening ku.
"Mama ku La. Walau bagaimana pun juga, Mama akan selalu jadi wanita nomor satu dalam hidup ku. Jadi, ku harap kamu mau menerima proposal cinta ku ini.. gimana La?"
Aku menghening memandangi Erlan dalam diam. Dan, untuk waktu yang tak terlalu lama juga tak tak terlalu sebentar, aku pun akhirnya memberikan jawaban ku kepada Erlan.
"Ya.. aku akan mencobanya, Lan.."
Flash back selesai.
"La? La!"
Aku terkejut dari lamunan singkat ku oleh tepukan Arline pada bahu ku.
"Ya!? Kenapa, Lin?"
"Heran. Kamu tuh senang banget sih melamun. Kita jadi berangkat yuk sekarang! Aku udah atur janji di butik sama salon langganan ku buat kita dress up. Jadi, berangkat sekarang yuk!" Ajak Arline kemudian.
"Ehh? Sekarang juga?"
"Ya iya lah, Non. Dari tadi aku capek ngomong, masa iya kamu gak ngerti juga sih, La. Kita berangkat ke butik, terus ke salon, baru deh ke rumah ku," tutur Arline kembali menjelaskan.
"Oke. Oke. Sebentar, aku ganti baju dulu deh ya!"
"Gak usah.. gak usah ganti baju segala lah!"
"Ishk.. tunggu aja bentar ya!"
Dan aku pun langsung menuju kamar ku untuk mengambil handuk, lalu keluar dan menuju kamar mandi.
Saat baru keluar dari kamar, ku dengar teriakan Arline yang terdengar kesal.
"Ya ampun, La.. pake mandi segala. Nanti di spa kan kita mandi juga!"
Aku setengah berbalik dan membalas teriakan Arline tadi.
"Tapi aku kan belum mandi dari pagi.." teriakku, lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya ampun!! Jorok banget sih!" Teriak Arline menembus pintu.
***
__ADS_1