Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Diceramahi Mama (POV Laila)


__ADS_3

"Kamu ngapain ke sini?! Kok tahu rumah ku sih?!"


Aku cukup terkejut dengan kedatangan si Keong ke rumah ku cukup pagi. Aku juga tertegun saat melihat penampilannya sekarang.


Si Keong terlihat sangat tampan ala opa opa dalam drama Korea di televisi. Ia mengenakan baju santai berupa kaos army yang membungkus badannya cukup ketat. Sehingga aku bisa melihat postur badan nya yang terlihat cukup atletis.


Glek.


'Alamak. Mimpi apa ya semalam? Pagi-pagi gini udah dapat serangan fajar. Itu dada body goals banget sih kayak nya? Jadi pingin lihat deh kalau kaos nya dibuka. Gimana ya penampakannya,,?' aku menghayal terlalu jauh.


Begitu tersadar dengan hayalan ngeres ku, aku langsung menegur diri ku sendiri. Salah kan diriku yang memang senang melihat tubuh-tubuh atletis. Bagi ku ketampanan seseorang ku nilai tak berarti dibanding dia yang mempunyai tubuh atletis.


Meminjam istilah Nunik, Manbra pun jika tubuh nya atletis mestilah terlihat kece di mata ku dibanding Stefan yang rupawan namun bertubuh ceking tak terurus. Hihihi.


"Lha dia malah bengong! La! Laila!"


"Ya? Huh? Kenapa?"


Aku tersadar kalau aku kembali main ke dunia hayalan. Ku tengok lagi penampilan si Keong. Selain kaos army yang dikenakan nya, si Keong juga memakai celana sport dan sepatu kets.


"Kamu habis olahraga ya?" Aku menebak.


"Iya. Tadi habis nge-gym terus mampir ke sini."


Aku lalu duduk di kursi yang lain di samping si Keong.


"Udah mandi belum nih?" Aku berpura-pura menutup hidung.


"Udah lah! Wangi gini masa iya belum mandi!" Si Keong menyahut galak.


"Ah! Ada kok orang yang gak mandi, tapi main semprot parfum sana sini. Jadi dikira udah mandi deh! Jangan-jangan kamu juga gitu tuh!"


Aku tersenyum. Rasanya aku senang dengan kebiasaan baru ku, saling mengejek dengan si Keong. Tapi senyuman ku tak bertahan lama. Kala ku dengar ejekan si Keong berikut nya.


"Itu sih Lo kali! Lihat tuh penampilan lo di kaca. Muka kucel berminyak, rambut awut-awutan macam induk singa, dan..."


Aku menangkap pandangan si Keong yang melihat ke arah bawah tubuh ku. Dan aku oun mengikuti arah pandang nya itu.


'Ya ampun! Aku lupa belum ganti baju! Tadi buru-buru sih!' benak ku panik kala menyadari kalau aku masih memakai baju piyama kini. Piyama dengan celana pendek berwarna ungu pastel bergambar minion.


Terbongkar sudah kalau aku memang belum mandi pagi ini.


Merasa malu tapi berusaha menjaga gengsi, aku mencoba bersikap seolah aku tak mengerti dengan sindiran si Keong tadi.

__ADS_1


"Apaan sih? Muka ku kucel ya karena aku habis ngegosok baju sedari pagi. Wajar lah kalau muka dan rambut ku jadi keriting gini. Ngegosok baju kan lumayan bikin gerah tahu!" Ku ajukan pembelaan diri.


"Iya. Dan Lo juga belum mandi kan?" Cecar si Keong mengejar.


'Sialan! Ni si Keong nyebelin banget sih. Apa perlu nya coba, nanya-nanya aku udah mandi apa belum?!'


"Memang nya, kalau aku belum mandi, kamu mau ngajakin mandi bareng gitu, hah?!" Aku mendumel ceplas ceplos.


"Laila!"


Aku melonjak kaget. Ternyata Mama sudah berdiri di dekat ku dengan membawa sebuah baki berisi dua gelas minuman berwarna kuning. Dan sepertinya, Mama mendengar ucapan ku barusan.


'Alamak! Alamat kena ceramah nih sehabis ini!' aku mengeluh tanpa suara.


"Kamu masuk dulu sana. Rapihin dulu penampilan kamu! Malu dong ketemu teman masih acak-acakan gitu," Mama menegur ku.


Aku menunduk diam. Dan menurut kata Mama.


"Ya, Ma!"


Mata ku melirik tajam ke arah si Keong yang kini menampilkan dirinya sebagai sosok yang alim di depan Mama.


'Cih. Caper...' umpat ku dalam hati.


Tanpa berkata apa-apa pada si Keong, aku pun langsung masuk kembali ke dalam rumah.


Sekitar dua puluh menit kemudian, pintu kamar ku kembali digedor oleh Mama.


"Laila! Kamu ngapain sih? Itu Kiyano nya kasihan kan lama nungguin. Cepetan keluar!"


Saat ini aku sedang mengelap rambut ku yang masih basah. Aku memang keramas, karena sudah tiga hari lamanya aku tak keramas. Gerah..


"Iya, Ma. Bentar napa. Mama kenapa sih? Kok gitu banget sama Laila. Biasanya kalau Nunik yang main, Mama gak panik gini. Tapi kenapa pas Kiyano yang datang, Mama jadi sering ngomelin Laila sih?!" Aku mengeluh manja sambil melilitkan handuk ke rambut ku yang masih basah.


"Nunik kan udah biasa main ke sini, La. Sementara itu Kiyano baru sekali ini Mama lihat. Kasihan juga kan kalau dia nungguin kelamaan. Memuliakan tamu juga jadi kewajiban kita sebagai pemilik rumah lho, La.."


'Tuh, kan. Belum apa-apa, Mama udah mulai deh ceramah nya..'


Aku mengangguk-angguk dalam diam. Aku memang jarang membantah ucapan Mama. Karena aku paling takut jika Mama marah. Bagi ku setiap ucapannya adalah keramat. Dan senyuman Mama adalah berkah bagi hidup ku.


"Memuliakan tamu juga bisa dilakukan dengan cara berpenampilan rapih dan sopan. Ini kamu pake baju apaan coba, La? Pendek banget celana kamu. Ganti lagi sana! Malu sama Kiyano, La. Dia itu sepertinya lelaki sopan. Kamu jangan jadi tomboy gini dong, sayang.." Mama lanjut memberikan nasihat.


Aku memandangi celana boxer sepanjang lutut, serta kaos T Shirt longgar yang ku kenakan. Menurut ku penampilan ku cukup sopan. Tapi ya sudah lah. Ikut saja lah kata Mama.

__ADS_1


Dengan hati misah misuh, aku pun kembali masuk ke kamar ku untuk berganti baju.


Pada akhirnya aku menemui si Keong dengan penampilan baru. Sebuah celana jins silet se mata kaki serta kaos T Shirt longgar menjadi pilihan ku.


Si Keong terlihat diam memandangi penampilan ku yang baru. Sedikit jengah dengan pandangan nya yang terlalu intens, aku langsung menegurnya.


"Biasa aja, bisa kan ngelihat nya. Kayak gak pernah ketemu aja!" Oceh ku tak jelas.


"Hmm.. Lo kelihatan segar banget. Habis mandi ya?"


"Memang nya kamu gak bisa tahu jawabannya sendiri? Buat apa coba aku lilitin handuk di kepala ku ini?" Omel ku lagi.


"Gue terpukau ngelihatin muka Lo yang segar, La. Jadi gak mikir jauh soal handuk di kepala Lo itu."


"Dih! Ngegombal! Jadi, kamu ngapain ke sini? Kok bisa tahu sih rumah ku?" Tanya ku tak mau berbasa-basi lagi.


"Gue punya mulut, ya bisa dipakai lah buat bertanya. Rumah lo kan dekat banget dari gang. Jadi gampang nemuin nya," sahut si Keong kemudian.


Lalu, si Keong mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya. Dan ternyata itu adalah dompet merah ku.


"Dompet ku!" Aku memekik heran.


"Iya. Semalam kayaknya gak sengaja jatuh dan ketinggalan di mobil. Gue baru lihat tadi pagi pas mau berangkat nge gym. Jadi, gue pikir, sekalian aja lah gue mampir."


"Ooh.. makasih ya, Kiy! Aku juga gak sadar kalau dompet ku jatuh. Untung jatuh nya di mobil kamu ya! Berarti ini dompet masih rejekinya aku!" Ucap ku riang sambil membuka dompet ku.


"Periksa aja. Gue gak ngambil duit Lo kok!" Ucap si Keong secara frontal.


Aku menyengir malu saat mendengar ucapan si Keong itu. Aku memang spontan ingin memeriksa isi dompet ku. Gamang antara memeriksanya atau tidak, pada akhirnya aku memeriksanya juga.


"Masih utuh kan duit Lo?" Cibir si Keong.


Aku menyengir malu.


"Maaf ya Kiy. Aku takut kalau kamu khilaf dan lagi kepepet perlu duit. Terus malah ngembat isi dompet ku. Kan lumayan ini duit, walau gak seberapa juga.." Aku memberikan alasan, sekaligus mengejek si Keong juga.


"Memang nya berapa sih isi dompet Lo? Paling banter juga cuma ada selembar duit merah kan?" Terka si Keong dengan sangat tepat.


Saat aku tak buru-buru menyahut, si Keong kembali lanjut bicara.


"Masih banyakan isi dompet gue lah.."


"Assalamu'alaikum!"

__ADS_1


Sebuah suara salam terdengar dari depan teras. Spontan saja aku dan si keong pun menoleh.


***


__ADS_2