
Alhamdulillah acara lamaran ku dengan Erlan berjalan lancar. Kami menggunakan WO (wedding organizer) langganan nya Mama Ilmaya untuk acara lamaran nanti. Tim WO yang juga telah menyuksesi acara pernikahan nya Arline, kemarin.
Saat ini Arline sedang honeymoon ke Selandia baru. Katanya, kembarannya Erlan itu ingin melihat langsung keindahan cacing cahaya Waitomo yang melegenda.
Saat mendengar harapannya Arline itu untuk pertama kali nya, aku langsung bergidik ngeri. Bagaimana bisa, melihat cacing bisa memberikan daya tarik untuk menikmati honey moon?
Memang dasar, dokter forensik Arline itu sungguh lah aneh!
Tapi kemudian aku ber gugling di website untuk mencari tahu destinasi wisata yang ingin dikunjungi oleh Arline itu. Ku ketik saja di situs pencarian kata kunci "cacing cahaya Selandia Baru".
Dan keluar lah gambar-gambar cantik orang yang sedang menaiki perahu melewati gua yang di bagian atasnya dipenuhi oleh cahaya biru.
Ku duga, pastilah cahaya biru itu yang dimaksud sebagai cacing cahaya waitomo nya.
Oke. Secara potret nya sepertinya destinasi wisata itu memang terlihat sangat menarik. Namun aku langsung merasa ngeri saat membayangkan bilamana aku yang pergi ke sana menaiki perahu dan melewati gua itu.
Kemudian ada cacing yang tak sengaja terjatuh ke kepala, pundak atau langsung ke dalam mulut ku yang menganga takjub saat melihat nya.
Atau lebih seram nya lagi, semua cacing yang ada di bagian langit-langit gua itu serempak terjatuh menimpa ku dan semua orang yang ada di atas perahu. Jadi seperti hujan cacing gitu, deh. Hii... Itu pasti lah sungguhan ngeri sekali..
(Asli. Mel merinding banget pas ngetik bagian ini!🙀🙀)
Arline meminta maaf karena ia tak bisa menghadiri acara lamaran ku. Karena ia sudah mengajukan cuti terbatas selama dua minggu. Terhitung sejak satu minggu sebelum acara pernikahannya berlangsung.
Jadi Arline kini masih memiliki waktu seminggu lagi untuk ber honeymoon ria. Dan itu membuat nya tak bisa mengikuti acara lamaran Erlan dan aku.
Kepada Arline kukatakan kalau aku tak marah karena ia tak bisa menghadiri acara kami. Tapi aku jelas menagih pajak ganti rugi sepulang nya ia dari ber honey moon nanti. Hihihi..
Acara lamaran berlangsung di sebuah ballroom hotel bintang lima. Ini diputuskan karena tak mungkin juga kan bila melangsungkannya di rumah ku yang luas lokasi nya cukup terbatas?
Dalam rombongan ku, aku mengundang keluarga Bu Hajah Mariyah (Bunda nya Nunik), Nunik dan Aryo, beberapa sahabat dekat Mama, serta beberapa tetangga terdekat kami seperti Ceu Edah dan keluarga cemara nya.
Sebenarnya aku tak berniat untuk mengundang Ceu Edah ke acara lamaran ku di hotel. Karena aku sudah bisa membayangkan kehebohan yang akan dibuat oleh ibu dua anak itu.
Belum lagi gosip yang akan ditebarkannya seusai acara nanti. Iishhk..
Sayang nya, ketidak beruntungan menimpa ku kala Ceu Edah yang kelewat kepo tak sengaja mendengar ucapan Mama Ilmaya yang suatu sore berkunjung ke rumah ku untuk menunjukkan barang-barang seserahan.
Ceu Edah yang mengetahui kalau aku akan dilamar pun langsung heboh dan kelewat girang. Sehingga Mama Ilmaya yang tak mengenal kepribadian nya akhirnya tergerak untuk menawarkan undangan itu kepada nya.
Mungkin dipikir Mama Ilmaya aku cukup dekat dengan Ceu Edah ya. Padahal sih.. hhh..
Dan, benar saja. Saat acara lamaran berlangsung, Ceu Edah sungguh membuat acara lamaran yang seharusnya sakral, malah menjadi ambyar.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Di saat para tamu lainnya duduk diam mendengarkan narasi pembawa acara tentang kisah pertemuan ku dan Erlan, Ceu Edah malah sibuk memasukkan makanan ke dalam kantong kresek yang dibawanya dari rumah.
Beberapa tamu yang melihat aksi nya itu pun berkasak-kusuk cukup bising. Hingga beberapa nyinyiran pun sampai juga ke telinga ku.
Yang paling membuat ku geram adalah pernyataan seperti berikut, 'Kasihan banget sih, Tuan Muda keluarga terpandang dapat calon menantu yang latar belakang nya miskin. Lihat saja itu saudara nya di sana. Sibuk mengantongi makanan ke kantong hitam. Dih!'
Erlan berusaha menyabarkan aku di saat aku hampir-hampir ingin melabrak mulut busuk orang yang menyinyiri ku tadi.
Memang nya apa yang salah dengan kemiskinan ku? Yang penting aku tidak mengemis-ngemis atau meminta-minta? Lagi pula aku pun masih bekerja dan bisa menghasilkan uang dari hasil keringat ku sendiri.
Tak seperti mereka yang bisa jadi hanya bisa mengangkat tangan pada kedua orang tua nya yang kaya raya.
'Dasar elit sampah!' aku pun menyumpah di dalam hati.
Syukurlah di pertengahan acara, suami nya Ceu Edah mengajak istri nya itu pulang bersama kedua anak nya. Mungkin suami Ceu Edah pun juga tak kuat menahan malu atas sikap istri nya yang kelewatan itu.
Begitu Ceu Edah dan keluarga cemara nya pulang, acara lamaran ku dan Erlan berlangsung ramai lancar dan tanpa lagi kejadian yang bisa disesalkan.
Aku hanya sempat dibuat terkejut dengan pertunjukan piano yang dibawakan oleh Erlan di penghujung acara.
Pada mulanya, tiba-tiba saja lampu di ball room menjadi padam. Namun ternyata pemadaman ini telah direncanakan oleh Erlan. Karena detik berikut nya, kulihat muncul cahaya yang menyoroti bagian tengah panggung acara.
Di panggung itu lah aku mendapati Erlan yang duduk tenang di depan sebuah piano hitam yang cukup besar.
Bersama denting piano nya Erlan, terdengar juga suara seorang wanita yang menyanyikan lirik sebuah lagu. Itu adalah lagu yang berbahasa Jepang, menurut ku.
Di bagian atas panggung, muncul pula proyeksi gambar warna-warni yang juga menampilkan judul, lirik dan terjemahan lagu yang sedang dinyanyikan oleh wanita itu.
Lagu nya berjudul "Itsumo Nando Demo" by Kimura Yumi.
Begini lah lirik nya,
"Yondeiru mune no dokoka oku de (Lirih, sebuah suara memanggil-manggil di lubuk hatiku yang terdalam).
Itsumo kokoro odoru yume o mitai (Izinkan ku memimpikan mimpi-mimpi yang menghidupkan hatiku).
Kanashimi wa kazoe kirenai keredo (Ketika bulir-bulir tangis kesedihan menitik, tiada terhitung).
Sono mukou de kitto anata ni aeru (Kutahu, di ujung semua pilu, ku pasti menemukan seberkas cahaya indah).
Kurikaesu ayamachi no sonotabi hito wa (Setiap saat kita terjatuh, lantas sepasang mata kita beradu pandang dengan langit biru di atas sana).
Tada aoi sora no aosa o shiru (Kita pun bergegas menggapai birunya; bangkit seperti sediakala).
__ADS_1
Hateshinaku michi wa tsuzuite mieru keredo (Meski jalan itu seakan tiada akhir dan begitu sunyi, bahkan tak terjaring batas pandang mataku).
Kono ryoute wa hikari o idakeru (Namun, tangan-tangan ini ‘kan sanggup meraih cahaya itu).
Sayonara no toki no shizukana mune (Kala perpisahan menjelang, tak kupungkiri jantungku seolah berhenti berdetak).
Zero ni naru karada ga mimi o sumaseru (Tubuhku pun menuju hampa, sedangkan telingaku mulai mendengar apa yang sesungguhnya nyata).
Ikiteiru fushigi shindeiku fushigi (Kehidupan itu misteri, kematian pun misteri).
Hana mo kaze mo machi mo minna onaji (Angin, kota, bunga-semua menarikan keindahan yang sama).
Lalalalalalalala...
Hohohoholalalalalu
Yondeiru mune no dokoka oku de (Sayup, suara itu masih saja memanggil-manggil di kejauhan relung hatiku).
Itsumo nando demo yume o egakou (Tetaplah melukis mimpi-mimpimu, jangan pernah melepaskan mereka).
Kanashimi no kazu o iitsukusu yori (Mengapa mesti bercerita tentang luka nestapa atau maha duka dalam hidupmu?).
Onaji kuchibiru de sotto utaou (Bukankah menyanyikan sebuah lagu lembut nan indah itu jauh lebih baik?).
Tojiteiku omoide no sono naka ni itsumo (Bisikan suara itu, sungguh tak’kan pernah terlupakan).
Wasuretakunai sasayaki o kiku (Di setiap memori yang tersembunyi, ia selalu ada tuk menuntun langkahmu)
Konagonani kudakareta kagami no ue ni mo (Bahkan ketika sebentuk cermin remuk berkeping-keping, bertebaran di lantai).
Atarashii keshiki ga utsusareru (Hidup baru kan terpancar, menerangi sekitar).
Hajimari no asa no shizukana mado (Cahaya baru pun menyeruak, menyelinap ke celah jendela di heningnya pagi yang masih gelap).
Zero ni naru karada mitasarete yuke (Lalu, biarkan raga hampaku bangkit dan bagai terlahir kembali).
Umi no kanata ni wa mou sagasanai (Kini, tak perlu ku mencarinya di luar sana, apalagi hingga melampaui lautan).
Kagayaku mono wa itsumo koko ni (Sebab, apa yang kucari,sesuatu yang bercahaya ternyata berdiam di dalam diriku sendiri).
Watashi no naka ni mitsukerareta kara (Ya, seberkas cahaya itu kutemukan sudah, ia selalu bersamaku, mengiringi setiap langkahku)"
(Lagu ini adalah soundtrack dari anime jadul yang lumayan terkenal tahun 90 an dulu. Judul anime nya "Spirited Away". Musik dari lagu ini jadi salah satu yang lumayan nge bantu Mel healing di setiap kesempatan yang memusingkan. Silahkan ditengok di yutup. Barangkali ada yang butuh healing time?🥰..)
__ADS_1
***