Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Cerita Erlan (POV Laila)


__ADS_3

Pada akhirnya, perdebatan tentang boleh tidaknya aku menaiki si Merry di sisa masa kerja ku ini, selalu berakhir dengan drama aku yang terbujuk oleh upaya Erlan dalam mengalihkan perhatian.


Entah ia akan mengajak ku mampir ke warung sate maranggi yang sangat sukses menggoda minat makan ku, sehingga aku terlupa dengan amarah ku pada nya.


Atau juga ia menghadiahi ku tiga mangkok bakso. Dimana satu mangkok aku makan di tempat, sementara dua bungkus lainnya ku bawa pulang untuk ku bagi dengan Mama Mutia.


Inti nya, Erlan selalu berhasil meredakan amarah ku yang macam mercon ini dengan segala macam trik dan usaha nya.


***


Suatu hari, aku bekerja shift malam. Saat itu sudah waktu nya aku untuk pulang. Erlan seperti biasa, telah datang menjemput ku untuk pulang.


Padahal esok pun ia masih harus bekerja pagi-pagi. Tapi ia selalu membelakan waktu agar bisa datang menjemput ku setiap hari.


Sebenarnya aku merasa kasihan kepada Erlan setiap kali aku pulang bekerja shift malam. Karena nya aku jarang mengomel di saat aku pulang bekerja di masa-masa ini.


"Kamu baru bangun banget ya, Lan?" Tanya ku saat melihat wajah Erlan yang tampak kusut. Bahkan kulihat ia masih mengenakan piyama tidur nya. Padahal biasanya ia selalu berganti baju terlebih dahulu.


"Kelihatan banget ya, Yang?" Tanya Erlan sambil lalu.


"Iya. Itu iler di muka mu masih ada," ucap ku jujur sambil memberinya senyuman kecil.


Erlan tampak cuek dan tak mengusap muka nya. Dia masih fokus menyetir dengan raut wajah yang serius.


Aku merasa ada sesuatu yang dipikirkan oleh Erlan saat ini. Karena tak biasanya ia tak banyak bicara begini.


"Kamu kenapa, Lan?" Tanya ku khawatir.


Sekilas, aku menangkap pandangan menimbang-nimbang di wajah Erlan. Hingga akhirnya dua menit kemudian ia akhirnya berkata juga.


"Tadi siang kepala manager, maksud ku Kiyano nemuin aku, Yang," ungkap Erlan dengan jujur.


Seketika itu pula aku merasa tubuh ku kaku dan lagi membeku.


"Dia.. mau apa dia bertemu kamu, Lan?" Tanya ku sambil menahan jerih yang mulai kembali menggempur batin dan rasa ku.


Aku berusaha keras untuk menampilkan ekspresi datar saat aku bicara. Karena aku tak ingin menunjukkan kepada Erlan, betapa hanya dengan mendengar nama Kiyano saja telah menggerakkan hati ku hingga ke tepi jurang yang basah.


Hati ku kembali basah oleh rasa resah dan gelisah. Namun aku berusaha keras untuk menampilkan diri ku yang biasa di depan Erlan.


Sementara itu, Erlan menatap ku lekat-lekat sekilas waktu. Aku pun memberi nya sebuah senyuman kecil.


Erlan lalu menghela napas cukup dalam dan kembali fokus menyetir. Tatapan nya kembali ke jalan raya di depan nya.

__ADS_1


"Dia cuma bilang, titip kamu aja sih. Katanya aku harus bahagiain kamu selama nya. Karena kalau enggak, dia bakal bikin aku gak bisa bangun lagi selama nya."


Erlan menatap ku lagi sekilas. "Sok cool banget gak sih dia?" Imbuh Erlan kemudian.


"Dia bilang begitu?" Ku dengar suara ku bertanya di kejauhan. Sementara benakku mulai nyalang entah ke mana.


"Iya. Awal nya aku juga kaget waktu dia tiba-tiba datang ke kantor ku. Ku pikir dia mau bikin gara-gara lagi. Jadi aku udah mau panggil satpam aja sebenarnya tadi," Erlan terkekeh kecil.


Sementara aku berusaha keras untuk tetap menampilkan diri ku yang biasanya di depan Erlan. Kuingatkan berkali-kali diri ku sendiri bahwa kini Erlan adalah calon suami ku. Dia lah calon imam ku kelak. Karena nya aku harus berusaha menjaga hati nya juga dari rasa cemburu dan khawatir yang tak sepatutnya ada.


"Apalagi tiba-tiba aja dia mukul aku, Yang."


Aku tersentak kaget. Dan langsung menatap khawatir ke wajah nya Erlan. Kuamati setiap inci wajah nya, dan aku tak mendapati walau segores luka saja di sana.


"Tapi muka mu gak ada luka?" Tanya ku bingung.


Erlan lalu menyengir lebar dan melanjutkan perkataan nya tadi.


"Ya jelas lah. Aku kan langsung sigap menghindar. Yang ada malah dia yang gak bisa ngerem dan terjatuh membentur ujung meja ku. Aku jelas-jelas melihat ujung bibir nya mengeluarkan darah," tutur Erlan menjelaskan.


Aku hampir saja kelepasan menunjukkan rasa khawatir ku terhadap nasib nya Kiyano. Tapi syukurlah aku semakin pandai menahan diri.


Dengan ekspresi normal, aku hanya berkomentar.


"Menurut kamu gitu, Yang? Hmm.. tapi aneh nya tadi tuh aku malah kasihan lho, Yang. Jadi ku bantu dia deh untuk kembali berdiri. Terus dia bilang makasih," ucap Erlan lagi.


"Ooh.. terus?"


"Ya terus kita ngobrol singkat tentang kamu. Dari obrolannya itu dia ceritain semua yang dia tahu tentang kamu, Yang. Seolah-olah aku gak kenal kamu aja!" Dumel Erlan.


Aku tak menyahut. Dan hanya mencoba menetralkan debur jantung ku yang sempat tak biasa sedari ku dengar nama Kiyano tadi.


"Karena kesal, aku spontan aja bilang ke dia untuk mengurus urusannya sendiri!"


"Kamu bilang begitu, Lan?" Tanya ku tak percaya.


"Iya! Aku juga kaget sendiri, La. Tapi terus dia malah tersenyum dan bilang gini, 'hah. Kalau gitu, gue titip Laila ya ke Lo. Please banget, jangan bikin dia nangis. Kalau sampai gue denger lo nyakitin Laila, awas aja! Siap-siap deh Lo gak bakal bisa bangun lagi!' gitu, Yang," ucap Erlan menirukan suara Kiyano.


Kembali aku merasakan jerih itu menggempur benak dan rasa ku. Hampir saja aku tak bisa menahan tangis yang hendak kembali tumpah. Namun aku berhasil memberikan alibi terlebih dulu kepada Erlan.


Ku katakan saja kepadanya seperti ini, "Jangan ditanggapi, Lan. Namanya cowok kalau ngerasa kalah kan gitu tuh. Suka marah-marah gak jelas!" Ucap ku dengan susra yang tertahan.


Erlan sepertinya tak menyadari kondisi hati ku yang mulai basah. Karena pada detik berikut nya ia malah mengajakku bercanda.

__ADS_1


"Kalah? Maksud kamu, aku jadi menang gitu, Yang? Memang nya apa yang ku menangkan?" Tanya Erlan dengan pandangan pura-pura bodoh.


Aku memberikan senyuman percaya diri ku kepada Erlan. Sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya itu.


"Ya aku lah!"


Aku lalu pura-pura memejamkan kedua mata, demi bisa menutupi jerih yang hampir tumpah melalui mata.


'Tenangkan dirimu, La.. dia itu masa lalu.. Erlan lah masa depan kamu..' ku rapal mantra itu berkali-kali.


"Memang nya kamu sebuah tropi apa, Yang?" Tanya Erlan kemudian. Aku menangkap nada tawa dalam suara calon suami ku itu.


Mata ku masih terpejam saat aku menyahut singkat. "Ya.. boleh lah kamu menganggapnya begitu. Hoaahhmmm!"


Pas sekali, aku menguap kemudian. Sehingga Erlan tak lagi mengajakku berbincang. Dan membiarkan ku memejamkan mata untuk waktu yang cukup lama.


Dalam posisi mata yang terpejam, aku mencoba menetralkan lagi perasaan ku yang sempat oleng hanya karena sebuah nama pria saja.


Erlan mungkin mengira aku mengantuk dan kelelahan. Dan aku membiarkannya mengira ku seperti itu hingga mobil nya sampai juga di depan gang yang menuju rumah ku.


"La.. Laila sayang.. bangun. Kita sudah sampai, Yang."


Erlan membangunkan ku dari tidur singkat ku. Aku pun sempat terkejut karena aku yang tadi nya hanya berpura-pura tidur, malah akhirnya benar tertidur secara tak sengaja.


Mungkin memang karena sebab lelah hati dan badan, jadi aku begitu mudah untuk tertidur seperti tadi.


Dengan gerak pelan, aku pun keluar dari mobil nya Erlan. Erlan sendiri menemani ku berjalan hingga kami sampai di depan kontrakan ku.


"Makasih ya, Lan, udah anterin aku pulang," ucap ku berpamitan.


"Iya. Udah sana kamu tidur, Yang. Udah jam setengah sebelas ini. Cuci muka, cuci kaki, terus langsung tidur ya. Jumpa besok, Yang.." sapa Erlan sebelum akhirnya berbalik pergi.


"Kamu juga ya, Lan.. mm.. have a sweet dream, Yaang.."


Dan aku terburu-buru masuk ke dalam rumah. Sebelum Erlan sempat tersadar kalau aku baru saja memanggilnya dengan panggilan 'Yang' sesaat tadi.


Begitu berada di dalam rumah, aku tak lagi menahan ekspresi sedih menguasai wajah ku lagi.


Dalam heningnya malam, ku titipkan kalimat permintaan maaf ku kepada Erlan melalui bisikan angin.


"Maafin aku ya, Lan. Aku akan berusaha untuk mencintai kamu, pelan-pelan."


***

__ADS_1


__ADS_2