Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Papa (POV Laila)


__ADS_3

Pada akhirnya, usulan menikah siri itu terlaksana juga. Tapi tidak malam ini. Melainkan pada keesokan pagi nya, di rumah Bu Hajah Mariyah, ibu nya Nunik.


Kenapa kami memilih rumah beliau, karena beliau sendiri yang menawarkan rumah nya sebagai tempat dilangsungkan akad. Tujuannya demi kenyamanan berlangsung nya acara. Rumah kontrakan ku memang terbilang sempit untuk prosesi sakral yang menjadi tempat bertemunya dua keluarga kami nanti nya.


Kami juga meminta tolong Bapak Kiyai Imron, pengasuh ponpes di dekat kompleks tempat tinggal ku berada untuk bertindak sebagai penghulu pernikahan ku dan Erlan. Dengan hanya keluarga inti Erlan dan aku saja yang menjadi saksi pernikahan kami.


Dan segala nya berlangsung dengan begitu mendadak. Dengan riasan sederhana yang dipesan secara mendadak pula. Juga katering yang meski mendadak, telah dipesan oleh Mama Ilmaya dari hotel Bintang Lima.


Tahu-tahu, sekitar jam sepuluh pagi nya, ijab kabul pun akhirnya siap terucap oleh mulut Erlan dan wali hakim.


Sebenarnya, sebelum memutuskan untuk memakai jasa wali hakim, aku telah berusaha terlebih dulu mencari keberadaan Papa kandung ku. Ini adalah salah satu nasihat Nunik kepada ku dulu sekali.


Flashback on.


"Bagaimana pun juga, kamu masih memiliki ayah kandung yang masih hidup, il. Jadi dia masih memiliki hak untuk menentukan keberlangsungan pernikahan mu. Seburuk apapun sikap nya dulu terhadap kamu dan Buk De Mutia, itu tak memupuskan hak nya sebagai seorang ayah. Jadi, saran ku, berusaha lah untuk mencari Ayah kandung mu terlebih dulu. Jika memang kamu tak bisa menemukannya, barulah boleh menggunakan wali hakim sebagai pengganti. Itu pun diniatkan dengan tujuan menghindari dosa," tutur Nunik panjang lebar.


"Tapi dulu aku punya teman yang nikah pakai wali hakim, padahal bapak nya ada dan hadir juga di acara nikah nya, Nun," aku mencoba memberikan contoh masalah pernikahan teman ku.


"Boleh pakai wali hakim, dengan persetujuan dari bapak kandung.. atau untuk kasus lain seperti misal nya teman kamu itu perempuan, anak hasil, maaf, di luar nikah. Jadi ketika dia menikah, maka bapak nya gak punya hak untuk menikahkan nya dengan orang lain. Pun jua dengan nasab nya juga di turutkan pada sang ibu, bukan pada bapak nya."


"Maksud nya, Nun?"


"Maksudnya, ketika menyebutkan nama perempuan itu, dia binti nya ke nama sang ibu. Bukan binti ke nama bapak nya," tutur Nunik menjelaskan.


"Oo.. gitu.. jadi, aku harus usahain untuk cari Papa ku dulu nih ya?" Aku kembali menyimpulkan perbincangan kami sore itu.


"Iya. Harus."


"Hh.."

__ADS_1


Flashckback off.


Selama hampir satu bulan kemarin, selain sibuk mempersiapkan persiapan menikah, aku juga sibuk mencari keberadaan Papa. Aku memulainya dari menelusuri jejak terakhir Papa berada, yakni di ladang tambak ikan milik kami dulu.


Sayang nya, aku tak berhasil menemukan keberadaan nya. Walau aku sudah mencari nya ke semua kolega Papa yang Mama ketahui.


Papa seolah menghilang ditelan bumi, sejak perpisahan kami dulu bertahun-tahun yang lalu itu. Aku sendiri juga telah lupa bagaimana rupa Papa. Sehingga saat mencari nya, aku hanya berbekal selembar foto lama saat Papa dan Mama menikah di masa muda nya.


Pada akhirnya, aku memakai jasa wali hakim untuk prosesi ijab kabul pernikahan ku dan Erlan di pagi ini.


Tapi, sebuah kejadian mengejutkan terjadi di saat prosesi ijab kabul ku akan dimulai. Tiba-tiba saja Mama yang sedari tadi duduk diam mendampingi ku, berteriak kaget dengan suara yang cukup kencang.


"Papa?!!" Teriak Mama seraya berdiri tiba-tiba.


Seketika itu pula perhatian semua orang mengikuti arah tatapan Mama.


Aku pun mengikuti arah pandang Mama ke pintu masuk rumah. Di mana di sana telah berdiri Darman, anak kecil yang bekerja di rumah keluarga Erlan bersama ayah nya, penjaga kebun yang ku lupa nama nya siapa.


Kemudian Mama melepaskan tangan nya yang sedari tadi merengkuh bahu ku, untuk kemudian berjalan menuju pintu.


Dan aku kembali melihat ke arah pintu, pada dua sosok yang tampak bergeming di tempat nya sana. Ku amati Darman, bocah lelaki yang pernah mengatakan dirinya sebagai pengagum nomor satu ku. Nampak jelas kebingungan membayang di wajah anak kecil itu. Ia mungkin merasa bingung karena kini semua perhatian tertuju ke arah mereka.


Selanjutnya, pandangan ku berpindah pada ayah nya Darman.


Selama aku bekerja di rumah Erlan, hingga aku berhenti namun masih sering berkunjung ke sana, aku hampir tak pernah berinteraksi dengan penjaga kebun dan pekarangan di rumah keluarga nya Erlan itu.


Entah karena penampilannya yang sangar dengan janggut dan kumis yang lebat, serta pembawaannya yang pendiam, yang membuat ku jadi menjaga jarak dengan penjaga kebun itu.


"Mang Ulum?" Suara Mama Ilmaya menyadarkan lamunan ku.

__ADS_1


'ah. Ya. Benar. Nama ayah nya Darman itu adalah Mang Ulum!' gumam ku bermonolog.


Pandangan ku kembali ke Mang Ulum, yang, entah kenapa menatap ke arah Mama yang kini berjalan mendekatinya dengan pandangan berkaca-kaca.


Kemudian, Tatapan Mang Ulum beralih kepada ku. Dan, hati ku pun langsung berdegup kencang. Karena aku mendapati tatapan berbeda dari yang biasanya ia berikan kepada ku.


Entah kenapa benak ku serasa mengenali tatapan itu. Dulu.. sekali.


'Apa dia..?!! Pa..Papa?!' aku tersentak kaget dan langsung saja meremas kuat kain songket yang kukenakan.


Ba dump. Ba dump.


'Benarkah dia adalah Papa?! Papa yang selama sebulan ini ku cari-cari namun tak juga ku temui?!' benak ku kusut oleh dugaan-dugaan ku sendiri.


Ku amati baik-baik penampilan lelaki yang masih juga bergeming di depan pintu itu. Saat ini ia terlibat perbincangan dengan Mama. Mereka bicara dengan suara yang sangat pelan sehingga aku tak bisa mendengar isi percakapan keduanya.


Kulihat Mama menangis memeluk tubuh nya sendiri masih dengan tetap berdiri.


Kemudian Mang Ulum meraih bahu Mama untuk kemudian menariknya ke dalam pelukan milik nya.


Aku tersentak. Kian merasa yakin atas kebenaran dugaan ku tadi.


Bahwasanya lelaki berpenampilan sederhana itu memang adalah Papa ku yang dulu seingat ku gagah. Meski kulihat ia tak segagah dan setampan seperti dalam foto masa muda nya yang kusimpan di dalam album.


Aku bahkan tak bisa menemukan kesamaan dua sosok itu, karena perbedaan yang benar-benar kontras di antara keduanya.


Belasan tahun yang memisahkan kami, telah merubah pula penampilan Papa yang begitu kubenci, namun sekaligus juga diam-diam ku rindukan.


Dan akhirnya, tanpa kuminta dan kuinginkan, dua bulir kristal bening pun menganak sungai di kedua pipi ku kini.

__ADS_1


***


__ADS_2