
Aku pulang kerja menjelang waktu maghrib. Pengalaman hari pertama ku ini membuat seluruh tubuh ku serasa rontok. Karena hampir seharian aku keliling naik turun dari lantai satu ke lantai yang lain.
Selain tugas membersihkan dan merapihkan, aku juga membantu mengantarkan surat dan file dari satu karyawan di lantai satu ke karyawan di lantai lainnya. Aku juga belajar cara memfotokopi dari Erlan, ketika ada karyawan yang meminta tolong untuk memperbanyak lembaran file yang akan digunakan untuk presentasi meeting.
Meski letih, aku merasa cukup senang bekerja di tempat baru ini. Karena aku memiliki teman-teman yang baik, sabar dan perhatian.
Tengok saja Nindi yang berkali-kali membantu ku mengatasi beberapa masalah yang ku hadapi hari ini. Juga Erlan yang membantuku tentang foto kopi file. Serta Mas Idam yang membelikan ku makan siang, di kala aku tak sempat untuk membelinya sendiri.
Beberapa teman ku lainnya juga baik karena selalu menyapa ku atau menolong ku membawa barang-barang yang terlihat berat. Terkecuali Gina, rekan office girl ku yang sungguhan jutek, aku senang dengan semua teman-teman baru ku itu.
Aku pulang hampir paling terakhir. Saat aku berpamitan, hanya ada Mas Idham dan Azhar saja di ruang OB.
Lima belas menit menjelang maghrib, aku baru keluar dari area gedung kantor tempatku bekerja. Sementara aku harus berjalan terlebih dulu sepanjang 500 meter sebelum akhirnya sampai di jalan besar, tempat ku menaiki angkot menuju pulang.
Ketika melewati jalan antara gedung kantor dan jalan besar, suasana tampak sangat lengang. Memang di area ini hanya ada gedung-gedung tinggi tempat gudang dan beberapa perkantoran kecil. Dan kebanyakan karyawan yang pulang pun menaiki motor.
Sedihnya aku tak memiliki motor, karena nya aku harus berjalan sendirian di penghujung sore ini.
Badan ku rasanya sudah sangat letih. Aku membayangkan berendam di air hangat sepulang ku di rumah nanti. Sebuah hayalan yang hanya akan jadi hayalan semata. Lantaran aku hampir tak pernah memanjakan diri mandi dengan air hangat.
Memasak air hangat untuk mandi sungguh amat jarang dilakukan oleh aku dan Mama. Karena itu akan membuat pemakaian gas memasak jadi lebih boros. Padahal aku dan Mama harus berhemat dalam memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-hari.
Maklum saja, upah Mama sebagai buruh cuci besarnya tidaklah terlalu besar. Hanya cukup untuk membayar uang sewa dan biaya makan kami sehari-hari saja.
Karena nya aku lah yang paling bisa menabung ketika aku masih bekerja. Meski ketika bekerja sebagai pelayan di toko, gaji ku tidak terlalu besar, sedikit-sedikit aku bisa menabung emas digital.
Emas digital adalah investasi emas yang bisa ku beli secara mencicil melalui aplikasi di ponsel ku. Aku biasanya menyisihkan seratus ribu atau semampu ku setiap bulannya untuk berinvestasi emas digital. Tak tanggung-tanggung. Diam-diam emas digital ku sudah mencapai tiga puluhan gram kini, terhitung sejak awal aku bekerja sekitar enam tahun yang lalu.
Aku mendapatkan saran dari teh Mira, untuk berinvestasi emas digital ini seperti yang juga dilakukannya. Karena dengan begitu aku bisa menabung emas di tempat yang aman karena kode penyimpanan emas ini menggunakan alamat email yang password nya sering ku ganti secara berkala.
Hanya sesekali saja jika aku benar-benar kepepet membutuhkan uang saja barulah emas nya ku jual sesuai dengan uang yang ku butuhkan. Itu pun baru kulakukan sekali saja ketika aku membutuhkan uang untuk berobat Mama yang sakit tifus beberapa bulan lalu.
Kembali ke saat ini. Aku masih menyusuri jalanan lengang menuju jalan besar yang hanya berjarak kira-kira sekitar tiga ratus meter lagi.
Sebenarnya ada niatan dalam hati untuk membeli motor agar aku tak lagi repot naik ojek atau pun angkot. Tapi ingin ku, aku membeli motor yang baru. Aku tak ingin membeli motor seken. Khawatir nya malah nanti motor nya lebih sering rusak daripada bisa kupakai.
Boros lagi kan biaya perawatan motor nya.
Sayang nya, entah kenapa aku merasa enggan untuk memakai uang tabungan ku yang menurutku belum seberapa itu. Sayang.. Ingin nya sih menunggu tabungan ku di atas 50 gram dulu baru aku membeli motor cash.
__ADS_1
"Tin! Tin!"
Suara klakson motor membuat ku terlonjak kaget. Begitu ku toleh kan wajah ku ke samping, ternyata ada Kak Erlan yang menghentikan laju motor nya secara tiba-tiba di dekat ku. Aku langsung menepi dan berhenti.
"Balik nya jalan kaki, La?" Sapa Erlan.
Ku amati penampilan Erlan yang hampir tak bisa ku kenali dalam balutan jaket kulit hitam, helm racing dan motor gede yang ia kendarai. Aku tak bisa mengaitkan sosok keren di hadapan ku itu dengan rekan kerja ku Erlan, sang OB.
Hanya suara nya saja yang membuat ku bisa mengenali kalau ia adalah Erlan, yang tadi siang mengajari ku menggunakan mesin foto kopi hingga aku mahir.
"Yee! Ditanya malah bengong! Kamu balik nya jalan kaki? Memang nya rumah mu dekat sini?" Tanya Erlan kembali.
Ku berikan Erlan cengiran kuda khas dari ku sebelum akhirnya ku balas pertanyaan nya tadi.
"Rumah ku di Blambangan, Lan! Aku pangling ngelihat penampilan kamu. Gak sadar kalau cowok kece yang naik moge tuh kamu," puji ku ceplas ceplos.
Erlan tampak diam sejenak, sebelum akhirnya kembali menyahut.
"Lumayan jauh itu kalau jalan kaki!" Erlan mengabaikan pujian ku tadi. Dan aku tak mempermasalahkannya. Beberapa orang memang tak nyaman dengan pujian.
"Ya gak jalan kaki sampai rumah lah, Lan! Bisa gempor kaki aku! Paling entar di jalan besar aku naik angkot. Kalau naik angkot kan paling sepuluh menit doang,"
"Kamu gak punya motor ya? Atau motor mu rusak?" tanya Erlan lagi.
"Motor ku masih di dealer. Kenapa memangnya? Mau anterin aku pulang?" Tanya ku dengan berani.
"Enggak ah. Rumah ku belok kanan soal nya. Paling aku antar aja sampe jalan besar aja gak apa-apa ya? Capek benar hari ini aku! Ayo naik!" Kilah Erlan menyanggah ucapan ku.
"Wah.. makasih Lan. Segitu juga lumayan. Tiap hari aja ngajak aku ya! Jadi aku gak cape jalan kaki. Lumayan lho ini betis ku kalau jalan kaki ke depan setiap hari. Bisa-bisa melar kayak kaki gajah!" Seru ku sambil menaiki motor Erlan.
"Kamu tuh ya. Gak ada malu-malu nya minta diantar tiap hari. Urat malu kamu sebenarnya masih ada gak sih? Tadi pagi juga! Tega banget deh kamu La ngasih ampas kentut kamu ke aku. Salah ku apa coba?" Seloroh Erlan berkelakar.
Motor Erlan adalah motor moge. Karena nya posisi duduk Erlan memang agak menunduk. Dan mau tak mau, aku pun jadi ikutan menunduk karena aku harus berpegangan pada pinggang Erlan untuk keselamatan ku sendiri.
Sebenarnya aku tak nyaman dengan posisi ku menaiki motor gede ini. Tapi apalah daya, rejeki ku mungkin memang menaiki motor ini. Aji mumpung dapat tumpangan gratis. Lumayan lah, buat mengurangi risiko kemelaran betis.
"Hahaha.. maaf Lan. Aku kelepasan. Lagian kamu nya juga sih ngundang-ngundang. Bilang penasaran pula pingin tahu bau kentut ku. Kan perut ku langsung kembung dan muntab seketika," aku membela diri.
"Sial! Kamu tuh cewek bukan sih La? Jaim dikit napa. Masa iya sembarangan kentut di mana-mana. Pantas aja kamu jomblo. Mana ada cowok yang mau sama cewek tukang kentut macam kamu!" Ledek Erlan dengan nada santai.
__ADS_1
Ku cubit pinggang Erlan dengan cukup kencang. Membuat ia sedikit oleng mengendarai motor nya.
"Laila! Jangan main cubit-cubitan ah! Geli!" Tegur Erlan sambil menoleh sekali ke belakang, ke arah ku.
"Maka nya jangan ngeledekin aku, Lan! Udah jelas aku cewek nan manis gini. Masa iya kamu masih perlu nanya lagi aku cewek apa bukan. Mata mu minus seratus ya? Atau kelilipan duit ceban, hah?!" Omel ku dengan nada santai pula.
"Ngeledek pula tentang kejombloan ku. Tahu dari mana kamu kalau aku jomblo? Aku punya kok stok cowok di lemari ku!" Ucap ku kembali membela diri.
"Buset.. ngapain kamu nyetokin cowok dalam lemari? Gak ada kerjaan banget sih! Tapi kamu memang jomblo kan?.." Sahut Erlan kembali menggoda.
Aku diam sejenak. Antara ingin diam dan mengakui kalau stok cowok di lemari yang ku maksud adalah beragam sweater ukuran cowok yang memang sengaja ku koleksi. Karena aku senang dengan sweater berukuran besar.
Setelah kupikirkan baik-baik, rasanya tak ada faedah nya bila aku mengaku jujur perihal kondisi kejombloan dan status para cowok di lemari ku itu. Karena nya aku pun mengalihkan perhatian.
"Eh, udah sampe nih. Aku turun sini deh Lan. Gak usah anter sampe rumah!" Seloroh ku asal.
Erlan terkekeh pelan mendengar ucapan ku tadi.
"Siapa juga yang mau anterin sampe rumah, Non. Ke ge eran banget sih!"
Erlan pun menghentikan laju motor nya. Dan aku bergegas turun.
Sesaat, Erlan tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun ia seperti kesulitan untuk mengatakannya.
"Kenapa, Lan? Mau minta cipika cipiki? Jangan dulu ya. Belum halal soal nya. Kata Mama ku, gak boleh dua cowok cewek yang bukan muhrim saling pegang dan sentuh-sentuhan," seloroh ku lagi.
Erlan kembali tersenyum dan malah mengacak-acak rambut ku. Ia lalu menghidupkan mesin motor nya kembali. Dan menyapa ku untuk terakhir kali nya sebelum ia berlalu pergi.
"Siapa juga yang minta cipika-cipiki. Lha wong aku tuh mau minta upah ojek sama kamu. Tapi ngelihat muka kamu yang sarat akan kemelaratan itu, aku jadi gak tega. Udah ya, aku duluan!" Pamit Erlan sebelum menjauh dengan motor gede nya.
"Sialan kamu, Lan!" Umpat ku sambil tersenyum-senyum.
Dan aku pun menunggu angkot yang akan mengantarkan ku pulang di pinggir jalan yang lumayan ramai itu seorang diri. Sampai kemudian perhatian ku tertuju pada sebuah mobil civic hitam yang melaju cepat melewati ku.
Yang membuatku sebal, mobil civic itu melewati genangan air yang berada tepat di depan ku. Alhasil aku pun kecipratan genangan air itu.
"Mobil sialan! Gak punya etika! Jalan main ngebut-ngebutan aja!" Umpat ku sambil meneriaki kepergian mobil civic yang sudah melaju jauh itu.
Aku menunduk memandangi kemeja putih ku yang kini telah kotor bernodakan lumpur dan air kotor.
__ADS_1
"Haahh.. alamat nyuci berkali-kali ini mah!" Gumam ku seorang diri.
***