
Hari demi hari terus berlalu. Tak terasa sudah tiga bulan sudah aku bekerja di rumah Mama Ilmaya. Aku merasa senang dengan pekerjaan ku yang sekarang. Karena aku tak lagi mendapat pandangan sinis seperti yang ku dapat dari tempat bekerja ku sebelum nya.
Di sini, tugas ku pun terbilang sangat mudah. Hanya menjadi teman bercerita untuk Oma Ruth.
Bicara tentang Oma Ruth. Syukurlah kondisi nya sudah jauh lebih baik kini. Wajah Oma tak lagi pucat dan kusut. Dan seulas senyum hampir selalu menghiasi wajah Oma. Oma bahkan juga sudah cukup sering bicara. Walau masih hanya dua atau tiga kata saja.
Tapi semua itu adalah kemajuan yang patut disyukuri. Aku pun merasa senang dengan perkembangan kondisi Oma Ruth ini.
Selama tiga bulan bekerja di sini, meski aku lebih sering duduk menemani Oma Ruth, sedikit banyaknya aku juga menambah teman baru dengan beberapa orang di sini. Seperti kepala pelayan Kiman, yang meski terlihat sangar dengan kumis baplang nya, ternyata adalah seorang yang peka dan perhatian dalam diam nya.
Juga Buk De Yanti, yang tampak seperti seorang ibu bagi ku di rumah ini. Sering kali Buk De memberi kan ku cemilan kering untuk ku sendiri saat aku hendak mengambil buah dan cemilan untuk Oma Ruth. Padahal aku tak pernah meminta padanya.
Ada juga Darman, bocah lelaki umur sebelas tahun yang membantu ayah nya merawat tanaman dan menjaga kebersihan halaman di rumah ini.
Darman adalah bocah lelaki yang cerdas dan penuh semangat. Dan dia juga adalah pengagum terang-terangan ku. Hihihi..
Hanya karena aku pernah membantunya mengerjakan PR sekolah yang terlalu sulit untuk otaknya yang cerdas, dia langsung saja mengagumi ku. Bahkan, dengan polosnya ia ingin menikah dengan ku saat dia dewasa nanti.
Aku menertawakan celotehan bocah itu. Heran sekali dengan anak-anak jaman sekarang. Daya imajinasinya sungguh luar biasa.
Hanya tiga orang itu saja yang berhasil ku anggap sebagai teman baru ku di rumah ini. Aku masih trauma dengan kejadian Nindi. Sehingga aku selalu menjaga jarak dengan para pelayan yang seumuran dengan ku.
Terlebih pada pelayan perempuan. Pikiran ku selalu saja mengirimiku sinyal was-was. Khawatir jika aku terlalu dekat dengan para pelayan itu, aku akan kembali merasakan penghianatan seperti yang pernah diberikan oleh Nindi kepada ku.
Tak terasa minggu depan Oma Ruth akan merayakan hari jadinya yang ke delapan puluh empat tahun. Seluruh penghuni rumah sedang mempersiapkan ini itu untuk acara pesta yang akan dilangsungkan meriah hari Sabtu nanti.
Rencana nya, semua saudara jauh, sahabat, serta kolega bisnis keluarga akan diundang ke acara pesta ini. Dan kemungkinan aku juga harus menginap untuk menjadi pendamping nya Oma di malam pesta nanti.
Yah.. malam mingguan bersama Oma. Tak apa-apa lah.
***
Di hari berlangsung nya pesta, Oma memakai gaun yang bagian atasannya mirip seperti cheongsam (pakaian tradisonal China) berwarna hijau zamrud. Hanya saja agar Oma lebih nyaman memakainya, bagian bawah gaun itu sengaja dibentuk seperti gaun A-line yang melebar ke bawah. Tidak seperti cheongsam yang umumnya ketat dari atas hingga ke bawah.
__ADS_1
Aku iri dengan Oma. Karena aku sendiri harus memakai cheongsam yang sebenarnya. Sebagai pendamping Oma, aku mengenakan cheongsam berwarna kuning butter dengan corak burung yang disulam dengan benang berwarna merah keemasan.
Yang paling membuat ku tak nyaman adalah gaun cheongsam ini membungkus rapat tubuh ku yang cukup gemuk dengan lemak yang bergelambir di sana sini. Aku merasa seperti kue leupeut saja. Makanan khas Sunda yang terbuat dari beras ketan dan dibungkus rapat dengan daun kelapa.
Terutama di bagian dada. Aku merasa dada ku sedikit sesak karena ukuran cheongsam ini benar-benar sangat pas dengan tubuh ku yang sintal. Syukurlah bahan kainnya premium, jadi aku tak merasa kegerahan.
"Oma, happy birthday! May god blessing you with love, love, and love!" Arline masuk ke dalam kamar Oma Ruth dengan gaun cheongsam berwarna biru muda. Ia tampil sangat mempesona dengan penampilan rambut nya yang disanggul cantik di atas kepala dengan hiasan rambut berbentuk burung pipit.
"Wah.. Laila! Penampilan mu superb sekali!" Puji Arline saat melihat ku.
Aku mendengus kasar. "Hah! Jangan menggodaku, Lin. Jelas-jelas penampilan ku macam leupeut gini! Kamu gak lihat apa lemak ku eksis di mana-mana!" Aku mengeluh di samping kursi roda Oma.
Saat ini, hubungan ku dengan Arline tak lagi kaku. Aku sudah terbiasa bertukar candaan halus ataupun kasar dengan Arline. Bisa dibilang, dia ini calon bestie ku juga. Tapi aku tak mau terlalu berharap dengan hubungan persahabatan di antara kami. Karena bagaimana pun juga dia masih majikan ku juga di rumah ini.
"Ah! Masa sih? Tapi kamu seksi banget kok menurut ku! Bisa-bisa kamu bikin ngiler kakak ku nanti kalau dia udah lihat penampilan mu ini! Terutama lemak di kedua Tata dan Tita mu itu tuh! Full milk!" Celoteh Arline tanpa disensor.
Aku menepis telunjuk Arline yang tadi sempat hendak menowel aset kembar ku. Memang deh, satu majikan ku ini agak vul gar juga sikap dan omongan nya. Mungkin karena pekerjaannya sebagai salah satu staf di lab forensik kepolisian, jadi dia terbiasa towel sana-sini.
Aku bergidik ngeri, saat sekilas saja aku terbayang dengan profesi Arline yang harus membiasakannya memeriksa mayat-mayat korban kecelakaan atau pembunuhan. Hii..
"Sialan kamu, La! Kamu sama menyebalkannya dengan Kakak ku! Kalian memang pasangan yang cocok!" Umpat Arline padaku.
Aku menganggap angin lalu ucapan Arline. Toh dia sudah terlalu sering membahas kakak nya yang tak pernah ku temui itu.
Ku dengar dari Buk De Yanti, Tuan Muda di rumah ini, sekaligus juga putra sulung Mama Ilmaya dan Tuan Gilberth adalah seorang yang gila kerja. Selama aku bekerja di sini, aku bahkan tak pernah bertemu dengan nya.
Memang, menurut Buk De Yanti, Tuan Muda tinggal di apartemen nya sendiri yang letaknya tak jauh dari rumah ini. Jadi Tuan Muda jarang menginap di rumah ini.
Aku tak terlalu memerhatikan soal Tuan Muda yang sering dibicarakan itu. Aku justru ingin menghindar saja jika nanti aku bertemu dengan nya.
Obrolan Arline dan Mama Ilmaya yang seringkali seperti ingin menjodoh-jodohi ku dengan lelaki itu, membuat ku was-was duluan untuk bertemu dengan nya.
Sebenarnya aku juga heran, kenapa tak ada satu pun foto putra sulung mama Ilmaya itu di rumah ini. Tapi menurut Pak Kiman, Tuan Muda pernah kabur dari rumah dan bertengkar hebat dengan Tuan Gilberth. Jadi semua foto-foto nya sempat dibakar semuanya oleh Tuan Gilberth.
__ADS_1
Baru sekitar setengah tahun yang lalu saja Tuan Muda kembali pulang, saat Tuan Gilberth terkena serangan stroke. Namun Tuan Muda tetap memilih untuk tinggal sendiri di apartemen nya.
"Hey, La! Kamu gak pernah penasaran apa sama kakak ku?" Tanya Arline tiba-tiba saat kami berjalan menuju luar rumah.
Acara pesta sengaja dilangsungkan di luar rumah dengan tema gardening party. Halaman rumah yang memang cukup luas itu telah dihiasi dengan beragam hiasan bunga dan lampu-lampu yang tak terbilang banyak nya.
"Enggak! Gak minat sama sekali. Aku mau single untuk beberapa tahun lagi!" Sahut ku dengan nada acuh.
"Iih.. umur kamu tuh udah hampir 26 tahun kan, La? Gak takut jadi perawan tua kah kalau nunggu beberapa tahun lagi?" Cerocos Arline tanpa disaring.
"Yey! Kamu sendiri masih single kan, Lin. Kenapa juga ngomporin aku biar cepat kawin? Kamu dulu cepetan nikah. Baru deh aku.."
"Eh, jadi kamu nungguin aku, La? Awas loh ya, beneran! Kuingat omongan mu ini loh La! Minggu depan kan aku mau tunangan, jadi.."
Aku terkejut.
"Kamu tunangan?" Tanya ku memastikan.
"Iya. Semalam, Bos ku nembak aku. Jadi nanti kalau aku udah tunangan, kamu mau ya tunangan juga?!" Seru Arline menagih janji ku.
"Wahh selamat ya, Lin! Aku ikutan senang!" Aku langsung saja menghambur memeluk Arline.
Setelahnya, ku lanjut kan kembali langkah ku mendorong kursi roda Oma menuju luar rumah.
"Laila, kamu mau kan tunangan sehabis aku?!" Arline masih juga menagih janji.
Merasa terpojok, aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepala saja.
"Iya..iya.."
Tapi, begitu langkah kami hampir menjejak keluar rumah, dengan berbisik aku bicara ke telinga Arline.
"Tunangan sama diri ku sendiri ya, Lin! Hihihi!!"
__ADS_1
Aku pun kabur dari Arline yang mengamuk kesal.
***