
Hari demi hari terus berlalu. Sementara hubungan ku dan Kiyano kian dekat setiap waktu nya.
Kami masih sering melontar canda dan ejekan. Namun kami juga semakin mengenal satu sama lain. Aku mulai membuka diri ku untuk lelaki yang kian hari, kian mengunci hati ku hanya untuk nya saja.
Di awal hubungan ku dan Kiyano, sebenarnya aku merasa pesimis dengan kelangsungan hubungan kami ini. Selain pandangan ku tentang pria yang kuanggap semuanya playboy dan penghianat (seperti Papa), aku juga memiliki ketakutan ku sendiri atas pernikahan.
Tapi, semua kekhawatiran ku itu perlahan menghilang di setiap interaksi ku dengan Kiyano. Aku menyadari, bahwa perasaan cinta ku padanya mulai menguat dan terus bertumbuh.
Layaknya sebatang pohon yang bermulai dari tunas yang kecil. Perasaan cinta yang kurasakan terhadap Kiyano kini terus bertumbuh dan menancapkan akar nya yang kuat dalam hati ku.
Ada waktu nya aku merasa sebal dan kesal pada Kiyano. Namun kemudian Kiyano selalu bisa membuat ku memaafkan nya.
Ada waktunya aku merasa tak mengerti dengan kegalauan yang mendera Kiyano. Karena tiba-tiba saja pada waktu tertentu Kiyano akan jadi pendiam dan tak banyak bicara. Saat itu, entah kenapa feeling ku mengatakan kalau masalah yang masih ditutupi oleh Kiyano dari ku ini amat terkait dengan mantan istrinya.
Aku bisa menerka seperti itu dari percakapan kami suatu pagi. Saat itu, masa ujian cinta kami sudah berlangsung selama satu bulan lebih. Itu berarti sudah dua bulan lebih sejak aku mengenal nya.
Saat itu, aku tak sengaja menyebut mantan istrinya dalam candaan kami. Namun reaksi Kiyano berikutnya membuat ku tertegun.
"Aku jadi penasaran. Mantan istri kamu tuh orang nya seperti apa sih, Kiy? Memang nya dia gak capek apa menghadapi suami cengengesan kayak kamu gini!" Aku mengejek Kiyano.
Dan Kiyano yang mulanya masih tersenyum lebar usai tertawa bahak bersama ku, seketika menjadi diam kaku.
Dengan senyum yang tiba-tiba menipis, Kiyano pun menjawab rasa penasaran ku pada istrinya itu.
"Bella itu gadis manis yang feminim, ramah dan hangat. Dia suka banget sama yang manis-manis dan paling anti makan yang pedas-pedas. Bella juga wanita yang sabar. Mungkin itu adalah sifat yang jadi tuntutan profesinya yang memang adalah seorang perawat."
"Siapa pun akan mengatakan kalau Bella membuat mereka nyaman untuk membuka hati. Karena Bella selalu tersenyum ramah pada siapa pun."
Aku tertegun menatap Kiyano.
Saat ia bercerita tentang Bella, aku bisa menangkap nada memuja dalam suara Kiyano. Dan entah kenapa, aku merasakan cemburu pada sosok mantan istrinya Kiyano itu.
"Tapi bagaimana pun juga, sekarang Gue punya Lo. Dan Bella adalah masa lalu gue. Jadi, La, Lo gak usah mikirin tentang Bella lagi ya. Gue sayang Lo. Udah. Cukup itu aja yang Lo yakinkan dalam hati, ya, La!" Ucap Kiyano tiba-tiba.
Aku mengangguk kaku. Meski mulut ku mengiyakan nasihat Kiyano tadi, entah kenapa di sudut terujung dalam hati ku, api cemburu pun mulai berkobar. Dan api cemburu itu kutujukan pada sosok wanita yang tak pernah ku temui itu.
'Hhh.. aku hanya berharap, semoga Kiyano benar-benar sudah melupakan mantan istrinya yang bernama Bella itu,' harap ku tak bersuara.
***
Di suatu hari libur, aku bermain ke flat nya Kiyano. Ternyata Kiyano memang benar tinggal di salah satu flat yang ada di gedung apartemen tak jauh dari kontrakan ku berada.
Hari itu aku sengaja bangun pagi-pagi dan menyiapkan bekal untuk ku bawa ke flat nya Kiyano.
Ketika memasuki gedung apartemen, aku yang sedang menelepon Kiyano, malah tak sengaja menabrak seorang ibu-ibu yang membawa barang cukup banyak.
Aku bergegas meminta maaf dan membantu ibu pemarah itu memunguti barang-barang nya. Ketika aku sibuk memunguti barang bawaan si ibu, tiba-tiba saja seorang wanita cantik bertubuh kurus tinggi ikut membantu ku memunguti barang.
__ADS_1
Aku mengucapkan terima kasih ku juga pada wanita baik itu. Setelah si ibu berlalu pergi, aku pun berkenalan dengan wanita itu.
"Inda.. panggil aku Inda.." sapa nya memperkenalkan diri.
"Ooh.. nama ku Laila. Mau panggil Lail boleh.. il juga boleh.. ila juga boleh," aku memperkenalkan diri.
"Laila?"
"Iya. Artinya malam kalau dalam bahasa Arab. Inda tinggal di apartemen ini?" Aku bertanya kepada Inda.
"O.. enggak. Aku cuma mau mampir ke rumah.. orang terdekat ku," jawab Inda ambigu.
Aku menyengir. Dan lanjut bicara.
"Aha! Laila tebak, Inda mestilah mau ke rumah pacar Inda ya?"
Inda menjawab pertanyaan ku dengan senyuman tipis.
"Bukan pacar. Tapi.."
Tinininit.. suara dering ponsel ku mengusik pembicaraanku dan Inda.
"Sebentar ya, Nda.."
Ternyata yang menelpon ku adalah Kiyano.
"Lo udah di mana La? Jadi ke sini gak?" Suara Kiyano terdengar kesal di seberang telepon.
"Perut gue udah keroncongan sedari tadi, Laila ku Sayang.. Lo bilang mau bawa sarapan buat gue. Maka nya gue bela-belain gak makan dulu biar bisa ngabisin makanan buatan Lo.."
"Idiihh.. kalau lapar mah ya makan duluan juga gak apa-apa, Kiyano ku Sayang.. siapa juga coba yang melarang kamu makan. Sebentar lagi sampe kok ini. Udah dulu ya!"
Dan klik. Telepon pun terputus.
Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai tempat flat Kiyano berada. Dan aku pun berpamitan pada Inda. Namun ternyata Inda juga hendak turun di lantai yang sama dengan ku. Jadi lah akhirnya kami keluar dari lift bersama-sama.
"Kamu tinggal di sini, Laila?" Tanya Inda tiba-tiba.
"Oh.. enggak. Cowok aku yang tinggal di sini. Nih aku udah janjiin masakin makanan buat dia. Jadi aku mampir deh ke rumah nya."
"Kalian udah lama pacaran?"
"Hmm.. belum lama sih. Paling baru satu bulanan ini."
"..."
"Teman dekat mu tinggal nya di flat nomor berapa, Nda?" Tanya ku sambil lalu.
__ADS_1
"Sebentar. Hmm.. seperti nya aku harus balik pulang. Soalnya ada barang yang ketinggalan. Kita pisah di sini ya, La. Senang.. senang berkenalan dengan mu," ucap Inda dengan terburu-buru.
Memandangi kepergian wanita cantik itu, aku menggelengkan kepala ku berkali-kali.
'Cantik dan baik. Tapi kayaknya orang nya pendiam banget,' komentar ku tanpa suara.
Tak lama kemudian, aku pun sampai di depan pintu flat nya Kiyano. Aku main di rumahnya hingga waktu makan siang. Kebetulan sekali kami berdua penggemar game ML. Jadi sepanjang pagi hingga siang hari itu, aku bertanding berdua bersama Kiyano.
Dan, bisa ditebak siapa yang menang?
Yap. Aku lah yang menang.
"Curang Lo, La!" Kiyano mendumel sambil melempari ku dengan pop corn.
"Curang gimana sih? Aku tuh mainnya fair kok!"
"Fair apaan! Setiap kali gue mau nembak, Lo selalu aja bikin perhatian gue teralihkan. Ngapain coba Lo tiba-tiba ubah posisi duduk Lo. Gue kan jadi nya gagal fokus!" Kiyano masih mendumel.
"Apa an sih, Kiy. Kamu gak jelas banget! Gimana hubungan nya, aku merubah posisi duduk sampe bisa bikin perhatian mu teralih? Gak usah cari alasan deh. Kalau kalah ya kalah aja!" Aku meledek Kiyano.
"Ya bisa lah! Kamu tadi nya duduk sila, terus tahu-tahu kamu setengah berdiri dan bersorak gak jelas tiap kali mau nembak. Sampe dua anak mu itu ikutan goyang naik turun. Kan mata ku jadi gagal fokus, La!"
Selama beberapa waktu aku kesulitan mencerna ucapan Kiyano. Sampai ketika aku mengerti apa yang dimaksudnya dengan kedua anakku, baru lah aku bicara. Itu pun setelah aku menjawil kuping kiri nya cukup kuat.
"Aww! Aw! Aw! Sakit La! Kenapa sih jawil kuping gue melulu!" Komplain Kiyano.
"Habis nya, pikiran mu tuh ngeres melulu. Ya kenapa juga kamu ngelihatin Tata dan Tita ku. Dosa tahu!" Aku mengomel cukup sengit.
"Tata Tita? Buahahahaha!! Lo kasih nama itu lo pake nama Tata Tita, La? Kenapa gak sekalian Tete dan.. aduh! Sakit Laila!"
Kiyano kembali mengaduh saat aku menjawil kuping nya yang lain.
"Maka nya, stop bahas yang ngeres-ngeres. Lagian ngapain juga kamu malah ngelihatin ke Tata dan Tita ku. Kalau main ya fokus aja lihat ponsel mu lah, Kiy!"
"Mana bisa Laila ku Sayang.. Lo kan berdiri dekat banget di depan gue. Ya pasti lah mata gue tertarik tuk ngelirik lah! Lagian, ngapain juga Lo pake kaos ngetat gitu, coba. Mengundang mata lelaki yang jelalatan aja!"
"Termasuk kamu juga yang jelalatan kan, Kiy?! Baju ku yang lain belum pada digosok. Jadi aku pake kaos ini nih. Eh, ngomong-ngomong soal ngegosok, aku pulang dulu ya. Mau ngegosokin baju nih. Besok kan mesti kerja lagi," buru-buru aku berpamitan pada Kiyano.
"Yaudah, bentar gue antar ya!"
"Gak. Gak usah. Rumah ku kan deket banget Kiy. Jalan kaki paling dua puluh menitan doang."
"Itu sih lama Neng Laila ku Sayang.. sebentar. Tungguin gue. Gue ganti baju dulu. Nanti gue anterin Lo pake motor. Gue baru beli motor nih."
"Wahh.. senang nya.. terus motor buat aku mana, Kiy? Kamu ingat kan sama janji kamu tuk beliin aku motor?" Aku menggoda Kiyano.
"Haishh.. otak Lo tuh ingetan banget sih kalau soal nagih. Kayak nya Lo deh yang paling cocok jadi tukang kredit, La, dibandingkan gue!" Seloroh Kiyano membalas godaan ku.
__ADS_1
"Haih.. gak banget lah!" Sergah ku sambil merengut.
***