
Tak sampai satu jam, aku sudah sampai di rumah sakit tempat Nunik melahirkan. Namun, baru juga aku sampai di ruang bersalin, aku langsung dihinggapi rasa panik saat melihat bu Hajah Mariyah yang tampak sedang menangis. Sementara suaminya duduk di samping nya.
Dengan gugup, aku langsung saja mendatangi dua sosok di depan ku itu.
"Assalamu'alaikum Bunda.. Ayah.. Nunik di mana? Bayi nya sehat kan?" Tanya ku beruntun.
Bu Hajah yang melihat kedatangan ku seketika itu juga langsung menghambur memelukku. Sebuah isak yang tertahan masih keluar dari mulut wanita paruh baya ini.
Ayah Nunik lah yang akhirnya menjawab pertanyaan ku tadi. Dengan wajah yang terlihat letih, Om Haris pun berkata.
"Bayi Nunik ada di ruang perawatan bayi, La. Ia terlahir sehat, alhamdulillah.."
"Lalu.. kenapa Bunda.." aku tak sanggup meneruskan kalimat ku. Khawatir aku mengucapkan kata-kata yang salah.
"Tadi nya operasi dinyatakan berjalan lancar. Bayi dan ibu nya dinyatakan sehat oleh dokter. Namun, tak sampai setengah jam kemudian Nunik tertidur. Tapi setelah satu jam berlalu Nunik tak juga bangun. Hingga sekarang sudah hampir dua jam berlalu. Nunik masih juga tak bangun-bangun Nak. Menurut dokter, Nunik dinyatakan koma mendadak," papar Om Harits menerangkan.
"Astaghfirullah..!! Nunik..!" Seketika itu pula beban besar menghantam hati dan benakku. Menyadari kalau saat ini sahabat ku sedang terbaring koma di dalam sana, aku merasa tak memiliki daya untuk melakukan apa-apa.
Om Haris lalu menuntun istrinya ke dalam pelukannya. Sementara sepasang tangan milik Erlan pun kemudian menarik ku ke dalam pelukannya.
Dalam diam, kutumpahkan sesaknya rasa di benakku ini ke dada nya Erlan. Dengan selaksa doa yang kulantunkan pada Allah Yang Maha Rahman.. memohon dengan begitu sangat, agar sahabat terbaikku itu diberikan-Nya kesembuhan. Aamiin.
Sekitar satu jam setelah nya, Erlan mengajakku pulang. Meski sebenarnya aku ingin menunggui Nunik hingga sahabat ku itu tersadar, aku teringat kalau aku masih harus bekerja keesokan pagi nya.
Dalam situasi seperti ini aku jadi ingin berhenti kerja saja rasanya. Aku ingin menunggui Nunik hingga ia tersadar kembali.
Sebelum pulang, aku menyempatkan diri terlebih dulu menengok bayi perempuannya Nunik. Dan di sanalah aku mendapati Mas Aryo yang terduduk lesu dengan posisi kepala yang telungkup.
Saat ku sapa, Mas Aryo masih sempat memberi ku senyuman tipis. Aku tak bisa membayangkan rupa rasa hati suaminya Nunik itu saat ini. Mestilah ia yang paling merasa risau atas apa yang terjadi pada istrinya itu.
__ADS_1
"Ss..sabar ya, Mas!" Aku mencoba menyampaikan kata-kata penguat. Meski aku pun tak yakin kalau aku akan bisa kuat jika berada dalam posisi lelaki itu saat ini.
Nunik.. sahabat ku yang terbaik..
...
Sepuluh menit kuamati wajah bayi nya Nunik melalui kaca luar ruangan bayi. Aku tk bisa menyentuh bayi Nunik saat itu, dikarenakan sang bayi yang harus disterilisasi terlebih dulu selama beberapa jam lagi.
Akhirnya aku pun berpamitan pada Mas Aryo. Dan kuikuti arahan tangan Erlan yang menuntun ku menuju pulang.
***
Hari Minggu nya, pagi-pagi sekali aku mengajak Erlan untuk kembali menjenguk Nunik. Sudah tiga hari berlalu, namun Nunik belum juga menunjukkan tanda-tanda kalau ia akan segera terbangun.
Dari Bu Hajah Mariyah aku mengetahui kabar terkini dari Nunik. Menurut dokter, sebenarnya Nunik memiliki tanda-tanda vitalitas yang baik. Karenanya dokter pun cukup bingung dengan penyebab koma yang dialami oleh sahabat ku itu.
Menurut Erlan, bisa jadi ini disebabkan oleh cairan infus yang terus diterima oleh Nunik selama ia terbaring koma. Entah lah, aku tak ingin memusingkannya. Aku hanya berharap Nunik bisa segera terbangun dari koma nya. Nunik ku sayang..
"Nun.. belum juga ada seminggu. Tapi aku udah kangen banget dengar ceramah nya kamu. Cepat bangun ya, Nun! Aku janji deh bakal dengerin semua nasihat mu setelah ini. Kalau kamu nyuruh aku pakai baju kurung macam yang kamu pakai juga aku bakal pakai deh. Yang penting kamu bangun dulu ya Nun.." gumam ku pelan, di sisi pembaringan nya Nunik.
Setelah menjenguk Nunik, aku dan Erlan pergi ke butik untuk acara fitting baju pengantin. Acara pesta pernikahan kami akan digelar kurang lebih dua minggu lagi. Semua persiapan hampir semuanya sudah rampung.
Setelah kegiatan fitting terakhir gaun pengantin ini, aku hanya tinggal menunggu hari H nya saja di rumah. Namun hari yang seharusnya kunantikan dengan rasa bahagia itu kini harus kulalui dengan perasaan khawatir terhadap kondisi Nunik yang tak kunjung bangun jua.
"Aku takut, Yang.. bagaimana jika Nunik tak lagi.." ucapan ku tersendat oleh beban yang menghimpit hati ku dengan begitu tiba-tiba.
"Jangan berprasangka yang tak baik, Yang. Karena apa yang kita sangkakan bisa jadi dianggap sebagai doa yang malah akan dikabulkan. Bukan nya ada ya dalam ayat al qur an nya. Hmm.. tapi aku lupa, Yang, bunyi nya kayak gimana," seloroh Erlan sambil menggaruk kepala nya asal.
"Huu.. dikira udah jadi ustad beneran. Tahunya ternyata masih ustadz KW an.." ejek ku kepada Erlan.
__ADS_1
"Nanti deh, aku tanya Nun.." kembali, kata-kata ku tersendat di tenggorokan.
Aku hampir saja terlupa dengan apa yang sedang menimpa sahabat ku itu. Biasanya memang kepada Nunik lah aku menanyakan tentang ilmu agama. Tapi dengan situasi yang terjadi sekarang ini..
"Hhh.." ku hela napas ku dalam-dalam.
"Berbaik sangka lah, Yang. Semua yang terjadi tentulah sudah direncanakan oleh Yang Maha Perencana. Jadi kita jangan terlalu bersedih atau senang dalam menghadapi apa yang disiapkan-Nya untuk kita. Terima saja.. belajarlah untuk ikhlas menerima semua rencana-Nya.."
Erlan merengkuh ku ke dalam pelukannya. Mencoba memberikan ku kata-kata penguatan. Namun justru aku malah jadi ingin menangis dibuat nya.
Setetes air mata pun menitik turun, membasahi pipi. Dan aku mencoba mencari keikhlasan untuk apa yang sedang dihadapi oleh Nunik saat ini.
'Ku titipkan Nunik kepada Mu, Ya Allah.. Jika Engkau berkenan, mohon kembalikan ia kepada ku lagi.. begitu kasihan bayi nya yang baru terlahir.. sungguh ku mohon belas kasih-Mu, Ya Allah..' doa hening ku pun melangit ke angkasa tanpa suara.
...
Saat ini kami berada di dalam mobil. Hari masih cukup terang, sekeluarnya kami dari tempat butik. Aku yang sedang mengusut air mata ku dalam diam, tiba-tiba saja dibuat heran dengan ajakan Erlan kemudian.
"Kita ke pasar malam, Yuk, Yang! Udah dua hari ini ada pasar malam di daerah Bundaran. Tempat nya ramai banget. Waktu ku lihat, ada jajanan yang juga enak-enak kelihatan nya," tutur Erlan.
"Pasar malam?" Tanya ku memastikan agar tak salah dengar.
"Iya, Yang. Tapi mungkin nanti kita bakal banyak jalan. Soalnya tempat parkir mobil nya tuh agak jauh dari pasar malam. Gimana, Yang?" Tanya Erlan.
"Boleh. Udah lama juga aku gak nengok pasar malam," ucap ku setuju.
"Oke deh. Let's go lah! Woo hoo!!" Erlan berseru riang seperti anak kecil. Membuat ku mau tak mau jadi menertawakan tingkah bocah nya itu.
***
__ADS_1