
Selesai makan malam, kami lalu bersantai sejenak di balkon apartemen Erlan. Dari tempat kami bersantai, kami bisa melihat hamparan pemandangan pusat kota B dengan beragam kerlap-kerlip lampu nya yang menawan hati.
Aku meneguk coffee latte yang telah Erlan pesan untuk ku. Sementara ia sendiri menyesap black coffee kesukaannya itu. Berdua, kami menyesapi sayup angin malam dalam keheningan yang menentramkan.
Beberapa saat berlalu, Erlan kemudian menceritakan kisah nya.
"Dulu, umur ku sekitar 23 tahun. Aku baru lulus dari pendidikan doktoral ku di Cambridge."
"Kamu kuliah S2 di luar negeri?!" Aku terkejut dengan pernyataan Erlan tadi.
"Iya. Baru banget pulang dari luar negeri. Tahu-tahu.."
Lagi-lagi ucapan Erlan ku potong.
"Gak nyangka. Ternyata biar penampilan mu menipu gitu, kamu udah jadi doktor toh. Memang nya kamu ngambil jurusan apa, Yang?" Tanya ku kembali.
"Jurusan manajemen bisnis. Jurusan yang dipilihkan oleh Papa buat ku. Jadi, aku kan baru banget pulang dari luar negeri ya. Tapi.."
"Waahh.. keren! Kalau aku cuma tamatan SMA doang, Yang. Kamu mestilah malu ya punya istri seperti ku.." ku ungkapkan kekhawatiran ku dengan jujur.
Erlan yang tadinya terlihat kesal karena ucapannya ku potong berkali-kali, akhirnya hanya bisa menghela napas. Dan kemudian menghibur ku.
"Aku gak malu kok, Yang. Kalau aku mementingkan strata pendidikan dalam kriteria istri, maka kamu gak akan pernah masuk dalam kandidat yang kupilih jadi pacar ku lah, La.." hibur Erlan kemudian.
"Memang nya kriteria kamu kayak gimana sih?" Tanya ku penasaran.
"Yah.. gak muluk-muluk amat sih. Sebenarnya aku cuma berharap punya pasangan yang bisa bikin aku jadi deg deg ser gak karuan," seloroh Erlan sambil menaik turunkan kedua alis nya.
"Dasar gombal!" Ku tepuk paha Erlan kemudian, menanggapi ucapannya yang asal itu.
"Ehh.. serius ini, Yang. Buktinya, kita menikah kan sekarang? Aku gak nanya asal usul kamu atau status pendidikan terakhir kamu. Tapi aku langsung berani bilang ke kamu kalau aku suka kamu. Dan aku sungguh jujur dengan perasaan ku ini, Yang. I do love you!" Ucap Erlan dengan suara yang cukup lantang.
Tanpa sadar aku tersenyum. Rasanya hati ku senang mendengar pernyataan cinta yang sering diungkapkan oleh suami ku itu.
"Gombalan mu itu, Yang.. udah keseringan aku dengar. Kamu gak takut kalau aku akan merasa bosan mendengar mu bilang cinta, cinta, cinta?" Aku iseng-iseng menggoda Erlan.
Erlan pun menjawil pelan pucuk hidung ku. Lalu ia menarik bahu ku hingga rebah ke dada nya. Dici umi nya pucuk kepala ku dengan penuh sayang, hingga meninggalkan jejak-jejak rasa haru biru yang menyetrum ke seluruh bagian dalam diri ku.
Aku merasa berharga. Aku merasa begitu di cintai.
"Aku pernah dapat nasihat dari almarhum Opa, Yang. Kalau aku harus sering-sering mengatakan cinta pada orang yang kita sayang dan cintai," ujar Erlan.
"Kenapa?"
"Karena kita gak pernah tahu, kapan masa hidup kita akan habis di dunia ini. Jadi selagi kita masih diberikan kesempatan hidup, maka kita harus hidup sejujur dan seterbuka mungkin dengan mereka-mereka yang kita sayangi. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari, karena diri yang merasa tak cukup menyampaikan cinta. Karena waktu hidup yang telah habis di dunia.."
"Iihh.. kok ngebahas soal kematian sih, Yang? Ganti topik ah!" Aku mengajukan protes.
__ADS_1
Sayang nya Erlan tak menggubris keinginan ku. Ia kembali melanjutkan kalimat sok bijak nya itu.
"Karena nya, aku selalu bilang ke kamu tentang perasaan ku. Karena aku ingin kamu tahu, Yang. Betapa aku sangat-sangat-sangat-sangat-sangaaaaattt sayang dan cinta sama kamu. Dengan cinta yang kumiliki ini, aku juga berharap kamu bisa hidup berkecukupan dengan cinta yang aku punya."
"Gak cukup lah! Mana bisa kenyang perut ku cuma dengan makan cinta mu. Kalau ngegombal tuh yang rasional dikit dong, Yang!" Sergah ku setengah bercanda.
Erlan yang kesal, langsung mengacak-acak rambut ku yang tergerai sebahu.
"Iiishhhkk! Suka heran deh. Kenapa juga ya aku bisa jatuh cinta sama cewek.."
"Apa?! Cewek apa hayo?" Ku potong ucapan Erlan kembali, sambil memelototi nya.
Erlan tak melanjutkan kalimat nya. Ia malah menangkup wajah ku dalam kedua telapak tangan nya. Kemudian memberi ku kecu pan singkat di bibir dengan penuh tekanan.
"Aku suka mulut pedas mu ini deh, Yang. Tapi aku lebih suka lagi kalau kamu lebih bisa mengontrol emosi mu yang suka meledak gak karuan. Katanya mau jadi istri yang shalehaa..?" Goda Erlan mengingatkan.
'astaghfirullaahal 'azhiim! Tuh kan lupa lagi sama nasihat nya Nunik.iishhkk.. ini mulut emang deh ya!' dumel ku sendiri di dalam hati.
Aku merengut dan menunduk. Namun Erlan kembali menghadiahi ku ke cupan di kening.
"Maaf ya kalau ucapan ku menyinggung kamu, Yang. Maksud ku itu baik kok.." ucap Erlan dengan suara yang lebih lembut.
Setelah beberapa lama terdiam, aku akhirnya kembali menyahut.
"Maaf juga ya. Aku masih sering lepas kontrol emosi. Rejeki nya kamu, Yang, dapat istri macam aku begini," ucap ku sedikit pesimis.
Aku baru saja tak bisa menahan diri dari mencubit pinggang nya Erlan. Memang menyebalkan benar suami ku ini. Sering sekali ia berbuat jahil menggoda ku.
"Yah.. tapi benar deh, Yang. Aku tuh suka banget sama kamu yang ceria lho. Mungkin keceriaan dan segala yang ada di kamu itulah yang udah berhasil menarik hati ku hingga akhirnya aku bisa jatuh cinta ke kamu. All about you make me falling in love with you (semua tentang mu membuat ku jatuh cinta kepadamu).." gombal Erlan kembali, kemudian.
Deg. Deg.
Ba dump. Ba dump.
Ku tengadahkan wajah ku ke atas. Menatap lurus ke dalam mata nya Erlan, suami ku.
Ku selami kedalaman mata Erlan yang begitu cetek sehingga aku bisa dengan begitu mudah nya melihat cinta yang ditujukannya untuk ku.
Ba dump. Ba dump.
Secara perlahan, jarak di antara kami pun terkikis hingga tiada lagi jarak yang tersisa. Dan, kedua mulut kami pun akhirnya kembali bertemu, dengan kedua mata yang sudah saling terikat sedari lama.
Ada rasa yang mengetuk hati,
Rasa cinta yang kembali datang menyapa diri,
Cinta pertama ku yang kandas oleh prahara,
__ADS_1
Kini tergantikan oleh cinta dari seorang pria yang sederhana.
Bahasa mulut tak lagi perlu tuk diucap,
Cukup pandangan mata saja, dan hati kami pun telah terikat.
Kedua mata terpejam dan terbuka,
Merasai rasa yang membuat diri jadi hidup nan bergelora.
Kedua tangan saling berkait,
Sibuk mengenal dan memahami satu sama lain.
Aku mencintainya , sedalam telaga yang tak kutahu kedalamannya.
Dan Aku merasakan cinta nya, semudah menghirup jalinan udara yang ada.
...
Tiba-tiba saja, Erlan menarik diri nya dari ku. Napas kami pun saling berkejaran. Karena kami baru saja melakukan pemanasan.
Aku menatap bingung pada suami ku itu. Sebuah perasaan hampa melubangi satu sisi hati ku. Aku tak ingin Erlan menjauh. Aku tak ingin Erlan melepaskan dirinya dari ku.
"Maaf, Yang. Hh.hh.. aku hampir aja lupa kalau kamu kan masih haid," ucap Erlan sambil mengacak-acak rambut nya sendiri.
Usai mendengar perkataan nya itu, dengan jujurnya aku malah berkata.
"Tapi aku kan sudah bersih sedari pagi tadi.."
"..."
"..."
"HAH?!! KENAPA KAMU BARU BILANG SEKARANG??" Erlan meneriakkan pertanyaan itu kepada ku. Membuat ku terlonjak kaget dan akhirnya tersadar dengan apa yang telah ku katakan pada nya.
'Sialan! Padahal kan aku mau kasih kejutan ke dia nanti malam..' aku mengomeli diriku sendiri di dalam hati.
Kemudian, tanpa mendengar jawaban ku lagi, Erlan langsung saja membopong ku hingga berdiri.
"Ehhh?!! Mau ngapain kamu, Yang?!" Aku bertanya sambil terkejut dengan perlakuan suami ku itu.
"Mau making love sama kamu lah, Yang! Udah berapa lama kan ketunda-tunda!" Seru Erlan dengan berapi-api.
Dan Erlan pun membawa ku masuk kamar, dalam gendongan nya. Menuju kamar tidurnya, tempat kami akan melangsungkan momen sakral nya kami berdua. Akhirnya..
***
__ADS_1