Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Mengidam dan Rencana Perjodohan (POV Erlan)


__ADS_3

Semenjak kami mengetahui kehamilan Laila, keluarga besar ku dan juga Mama Papa, dan Darman (adik sambung nya Laila) menyambut kabar ini dengan gembira.


Semua orang kini menjadi lebih memperhatikan istri ku yang manis itu. Dan segala perkataan yang keluar dari mulut Laila, seolah menjadi titah yang akan dipenuhi oleh siapa pun yang mendengar nya.


Seperti saat usia kandungan Laila memasuki usia tiga bulan misal nya. Saat itu Laila masih mengalami tri semester awal kehamilan nya. Jadi mual dan muntah-muntah masih cukup dirasakannya setiap pagi hari.


Suatu ketika kami sedang menginap di rumah Mama Ilmaya. Dan Laila yang sedang melihat ikan peliharaan Papa Gilberth di halaman belakang pun tiba-tiba saja berkata kalau ia jadi ingin makan ikan bakar.


Ucapannya itu sepertinya terdengar oleh Buk De Ayu, koki di rumah Mama. Dan langsung saja. Siang hari nya, Buk De Ayu menyiapkan menu ikan gurame bakar khusus untuk istri ku itu.


Pernah juga suatu ketika Laila berceletuk ingin makan buah jamblang.


"Apa itu buah jamblang?" Tanya ku kepada Laila.


"Itu loh.. buah yang bentuknnya kayak anggur tapi ukurannya lebih besar, Yang. Rasanya asem manis gitu. Warna nya juga ungu gelap, Yang.. beliin ya..?" Pinta Laila dengan manja kepada ku.


Aku yang kebingungan dengan wujud dari buah jamblang itu pun akhir nya berguru pada Mbah gugel. Baru lah akhirnya aku mengetahui wujud dari buah alien itu. Tanpa pusing-pusing, aku pun langsung mencari nya di Sopi, sebuah aplikasi belanja yang cukup terkenal.


Sayang nya, hampir semua toko on line yang ku kunjungi ternyata telah sold out produk jamblang nya. Saat ku tanyakan pada penjual nya, katanya sedang tak musim buah jamblang saat ini.


Duh. Susah benar jadinya aku. Kemudian aku mencoba membujuk Lailaku untuk menggantinya dengan buah yang lain. Meski pun aku menerima muka merengut nya Laila, istri ku itu mau juga mengganti ngidam buah jamblang nya dengan buah yang lain. Buah matoa. Buah yang dari mana nama belakang Laila di dapat nya. Laila Matoa.


Hh.. Dan aku pun kembali mengulangi kegiatan pencarian buah yang diidamkan oleh istri ku itu. Tapi aku tak lagi berguru pada Mbah Gugel. Melainkan langsung mencarinya di lapak Sopi. Dan syukurlah, meski aku harus membayar ratusan ribu untuk ukuran sekilo nya, aku berhasil juga mendapatkan buah matoa itu untuk Laila.

__ADS_1


Buah matoa adalah tanaman buah khas Papua. Namun penyebarannya juga sampai ke pulau Sulawesi dan juga Maluku. Buah ini tumbuh menyebar di dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl.


Pohon matoa tumbuh subur di tanah yang kondisinya kering dengan lapisan tanah yang tebal. Dan iklim yang mendukung pertumbuhannya adalah kondisi dengan curah hujan yang cukup tinggi (>1200 mm/tahun).


Begitu pesanan buah matoa itu sampai keesokan hari nya (aku sengaja memesan pembelian hari itu juga saat Laila meminta nya), aku ikut mencicipi buah matoa itu. Dan rasanya ternyata cukup manis.


Daging buah nya kenyal seperti buah rambutan. Dan aku cukup kebingungan juga saa melihat Laila menghabiskan setengah kilogram buah matoa itu dalam sekali waktu. Padahal aku tahu benar kalau istri ku itu tak menyukai manis-manis.


Tapi memang, semenjak kehamilan nya, Laila mulai menyukai makanan yang manis-manis. Aku menduga itu adalah bawaan mengidam nya. Ku harap sih, yang menyukai manis itu adalah calon anak perempuan kami. Tapi entah kenapa firasat ku mengatakan kalau ngidam nya Laila pada makanan manis itu disebabkan oleh janin berjenis kelamin lelaki.


Mama Ilmaya juga mengatakan kalau ia menduga calon cucu nya yang sedang dikandung Laila seperti nya adalah anak laki-laki. Entah satu atau dua.


Doa ku begitu kuat, agar setidaknya salah satu janin yang sedang dikandung oleh Laila berjenis kelamin perempuan. Aamiin..


Hari demi hari terus berlalu. Kebersamaan ku dengan Laila semakin ku syukuri di setiap waktu nya. Rasa syukur ku pun kian bertambah, saat Laila meminta ijin pada ku untuk mengenakan hijab, aka kerudung. Dan aku jelas langsung mendukung keinginan Laila itu.


Saat itu Laila tak lagi muntah-muntah seperti bulan-bulan sebelum nya. Jadi ia sering meminta ijin untuk mengunjungi calon besan kami, alias Nunik.


Memang sungguh istri ku itu. Nampak nya ia berniat betul untuk menikahkan calon putra kami kelak dengan bayi perempuannya Nunik dan Kak Aryo. Aku sih hanya mengiyakan saja perkataan Nunik itu.


Tak apa-apa lah jika yang ingin dijodohkan oleh Laila adalah calon putra kami. Namun jika ia ingin menjodohkan calon putri kami juga, eits! Tunggu dulu! Masih sangat lama buat ku untuk mengijinkan putri ku disentuh oleh anak lelaki mana pun juga!


"Kok kamu gitu sih, Yang? Itu namanya diskriminasi tahu! Kenapa kita boleh jodohin anak lelaki kita, tapi anak perempuan kita gak boleh dijodohin? Gak adil itu namanya!" Laila memprotes ku.

__ADS_1


Dengan sabar, aku pun memberikan penjelasan ku.


"Karena anak perempuan itu permata, Yang. Jadi kita harus selektif dalam memilih calon untuk anak kita nanti. Mending nanti aja deh nunggu dia sudah besar. Kalau ada cowok yang berani melamar dia kan kita bisa lihat-lihat dan nilai dulu orang nya kayak apa. Jangan jodoh-jodohan dari bayi lah. Sama aja kayak beli kucing dalam karung dong! Masih gak jelas itu anak lelaki bakal tumbuh besar jadi lelaki yang baik atau enggak. Iya kan, Yang?" Tutur ku menjelaskan.


"Ya kita pilih yang bibit orang tuanya baik lah, Yang! Kayak Nunik! Nunik kan baik! Mas Aryo juga baik!" Laila bersikukuh.


"Iya mereka memang orang-orang yang baik. Tapi Laila sayang, gak semua buah akan jatuh dekat dari pohon nya. Maksud nya, kan ada juga ya buah yang jatuh menggelinding, terus kecemplung ke sungai, terus malah nemplok di comberan. Hii.. kan bau tuh, Yang?" Seloroh ku bermetafora.


"Kamu tuh ribet banget sih! Ngomongin anak orang kok dianalogiin kayak buah gitu!" Dumel Laila ku.


"Maksud ku tuh, Yang..gak semua anak bisa berhasil dididik oleh orang tua yang baik sampai jadi anak yang baik juga. Kan banyak ceritanya, anak kiyai nyolong lah.. anak guru merampok lah.. pokoknya gitu, Yang. Jadi buat calon anak perempuan kita nanti nya, jangan main jodoh-jodohan lah ya, Yang.." pinta ku pada Laila.


"Tapi kenapa kamu gak larang aku untuk jodohin anak laki-laki kita juga, Yang?" Tanya Laila penasaran.


"Ya terserah sih itu mah. Kalau anak lelaki itu kan punya tugas menjadi imam. Jadi kalau dia punya istri, ya dia punya kewajiban lah untuk mendidik istri nya itu jadi seorang yang baik. Jadi mau gak mau dia juga bakal mikir sendiri Yang untuk cari istri yang baik. Memang nya menurut mu ada lelaki yang mau cari istri yang gak bener, Yang? Enggak lah!"


"Begitu ya?"


"Iya, Yang. Sebreng sek breng sek nya cowok, pastilah dia bakal berharap punya istri yang soleha juga. Kecuali kalau dia udah kepanah asmara macam aku, Yang. Jadi walau pun aku dapat istri seperti kamu.. maksud ku, se manis dan sebaik kamu, aku sih tetap bakal pilih kamu dan gak akan tergoda sama cewek-cewek lain, Yang.."


Kalimat terakhir ku tadi sengaja kuucapkan dengan terburu-buru. Karena aku menerima pelototan dari Laila yang menangkap citra negatif dari kalimat ku tadi. Beruntung nya, Laila tak memperpanjang masalah. Dan ia hanya ber ho oh saja usai mendengar penjelasan ku itu.


"Oohh.. gitu ya. Benar juga sih kata mu itu, Yang. Yaudah. Kalau gitu, aku cuma akan jodohin anak lelaki kita aja deh ya sama Baby Nan," ucap Laila.

__ADS_1


Baby Nan adalah nama panggilan untuk bayi perempuannya Nunik dan Mas Aryo. Itu kependekan dari Nania Mirah.


***


__ADS_2