
Sekitar setengah jam kemudian, aku terbangun dari pingsan ku yang ke dua. Saat itu, Nunik juga telah datang. Menyaksikan aku yang menangis sejadi-jadi nya.
"Nun! Erlan, Nun!" Aku mengiba. Menjeritkan luka yang setiap detik nya ku rasakan semakin menganga.
Erlan ku.. matahari ku.. cinta ku..
'Kenapa kecelakaan itu harus terjadi?! Kenapa Erlan yang harus mengalaminya?!'
Beragam pertanyaan ku jeritkan dalam hati pun jua dengan lisan ku. Aku tak peduli dengan mata ku yang mulai terasa sembab, atau wajah ku yang telah basah, bersimbah air mata.
Aku hanya ingin Erlan ku saja. Aku ingin dia kembali kepada ku saja. Bila ia tak bisa kembali, biarlah aku ikut saja dengan nya. Aku..
"Lail.. istighfar, il.. istighfar.. Erlan sudah dijemput oleh Allah. Gak ada yang bisa merubah keputusan itu karena itu adalah takdir-Nya. Semua kejadian ini sudah digariskan oleh Allah, il.. kita harus bisa menerima nya.." Nunik menasihati ku.
"Tapi kenapa harus Erlan, Nun?! Kenapa enggak aku.."
"LAILA! Jangan ngomong begitu! Dosa, il! Setiap kita yang hidup di dunia ini pasti sudah membawa jalan takdir nya masing-masing. Rejeki, maut dan jodoh adalah hal yang hanya Allah saja lah yag mengetahui nya. Terhadap ketiga hal itu tak ada yang bisa kita lakukan selain menerima nya,"
"Pasti ada tujuan untuk setiap peristiwa yang terjadi. Selalu ada hikmah terbaik di setiap kesempatan yang ada. Lail masih hidup karena Allah masih ingin menguji Lail di dunia ini. Ingat juga sama kedua dede utun di perut mu, il.. masih ada mereka yang membutuhkan Lail! Dan kami semua juga sayang kepada mu.. jadi Lail gak sendirian. Kami juga ikut bersedih bersama mu, il.."
"Menangis lah jika itu bisa membuat Lail merasa lebih baik. Tapi jangan sampai meraung-raung dan meratapi kesedihan terlalu lama. Karena ketidakrelaaan Lail pada kematian nya Erlan ini bisa memberikan imbas tak baik juga bagi Erlan di alam nya yang baru."
"Menangis lah, il.. menangis lah sampai Lail lupa pada rasanya luka. Tapi jangan berlama-lama. Karena Lail juga harus bisa bangkit setelahnya. Masih ada kehidupan yang harus kamu jalani, il. Masih ada dua kehidupan baru dalam perut mu itu, yang harus Lail perjuang kan."
"Lail gak mau, kan, kalau terjadi hal buruk juga sama dua dede utun?"
Seketika aku menggeleng cepat berkali-kali dalam pelukan Nunik.
"Kalau gitu, Lail harus bisa cepat bangkit! Jangan meratap! Belajar lah untuk bisa ikhlas menerima kematian Erlan. Lail tahu kan tujuan akhir yang sedang dituju oleh suami mu itu, il?"
Dan aku pun teringat pada perbincangan ku dengan Nunik beberapa pekan silam. Saat itu Nunik baru saja tersadar dari koma.
Flashback on..
"Nun berada di taman yang sangat indah, il. Di mana ada banyak jenis bunga dengan warna-warni nya yang begitu cemerlang dan seperti bercahaya. Seperti efek luminous. Meski begitu, melihat hamparan bunga-bunga itu tak membuat mata Nun sakit.." Nunik mengawali kisah mimpi nya saat ia masih dalam masa koma.
"Nun justru senang berlama-lama ada di taman itu. Karena udara di sana pun terasa berbeda dari tempat mana pun yang pernah Nun kunjungi. Di sana pun hari tampak seperti masih pagi. Senantiasa pagi.. Walau gak ada matahari yang terlihat di langit bagian mana pun juga.."
__ADS_1
"Nun juga mencium aroma wangi yang menyejukkan hati. Bagaimana ya Nun harus mendeskripsikannya.. seperti.. aromanya seperti sesuatu yang sangat harum dan membuat Nun jadi sangat-sangat bahagia.."
"Lalu Nun melihat ada sebuah gerbang yang sangat megah dan lagi indah. Berbondong-bondong orang memasuki tempat itu, entah satu persatu, berdua, atau pun berkelompok. Nun pun ikut pergi ke sana. Hati Nun menarik Nun untuk pergi ke sana.."
"Sayang nya saat Nun sudah berdiri di depan nya, langkah Nun terhalang oleh seorang pria yang berjaga di depan gerbang itu. Pria itu melarang Nun untuk memasuki tempat di dalam gerbang megah itu.."
"Nun lalu mengintip, melewati gerbang. Dan Nun terpukau oleh banyaknya bangunan megah dan juga indah yang seperti terbuat dari kristal-kristal yang berwarna-warni.. Nun ingin ikut masuk seperti yang lain. Namun Nun tak diijinkan masuk.."
"Lalu.. tak lama setelahnya, Nun mendengar suara orang lain yang sangat-sangat Lail kenal baik."
"Suara siapa, Nun?" Tanya ku yang begitu larut dalam kisah nya Nunik.
Entah kenapa, aku dilanda kebimbangan antara ingin mengetahui atau pun bersikap acuh terhadap sosok yang ditemui Nunik dalam mimpi koma nya itu.
"Erlan.." jawab Nunik dengan lugas.
"Nun bertemu dengan Erlan di tempat ajaib itu, il.. Nun juga gak bisa jelasin kenapa Erlan bisa ada dalam mimpi Nun itu. Tapi Nun takut untuk mengatakan kejadian selanjutnya ini ke Lail.." ucap Nunik dengan ragu-ragu.
"Bilang aja, Nun. Toh itu cuma sekedar mimpi, kan?" Ucap ku asal.
Setelah beberapa lama, Nunik pun melanjutkan kembali kisah nya.
"Erlan juga berusaha untuk masuk melewati gerbang indah itu, il.. namun sama seperti Nun, Erlan juga tak diperbolehkan untuk melewati gerbang megah itu. Tapi.."
"Tapi..?" Aku bertanya, manakala Nunik terlalu lama menjeda kalimat nya.
"Tapi ada kalimat penjaga gerbang itu kepada Erlan yang membuat Nun tak nyaman saat mendengarnya..."
"..apa kalimat nya, Nun?" Tanya ku dengan jantung yang berdebur begitu kencang nya.
Nunik menatap ku dengan pandangan gelisah. Aku hampir mengira kalau ia tak akan melanjutkan ucapan nya lagi. Padahal aku juga setengah berharap agar Nunik tak melanjutkan kisah nya lagi. Namun..
"Kata penjaga itu kepada Erlan.. 'kamu tunggu lah beberapa saat lagi. Waktu bagi mu akan segera tiba,' begitu kata penjaga itu, il.."
Selama beberapa saat, suasana menghening dalam ruangan inap nya Nunik itu. Mulut ku seolah lupa pada caranya untuk berbicara. Atau aku yang terlupa dalam merangkai kata-kata. Sehingga aku hanya bisa menatap Nunik dalam diam.
Kami saling berpandangan dalam diam selama beberapa waktu. Sampai tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Dan aku dibuat terkejut, saat mendapati Erlan ku yang telah berdiri nyata di muka pintu.
__ADS_1
Erlan ku yang nyata ada di dunia. Bukan lagi maya seperti yang ada dalam mimpinya Nunik.
Flash back off.
Kembali ke saat ini. Saat Nunik mengingatkan ku untuk tetap tegar dan menerima kematian Erlan.
Nunik menangkup wajah ku dengan kedua tangan nya. Ditatap nya kedua mata ku lekat-lekat oleh dua manik gemintang milik nya.
Aku masih terisak pelan. Mata ku pun masih mengalirkan rinai air mata nya. Sesak itu masih menghimpit dada ku dengan kuat nya.
"Kamu tahu kan, il, ke mana Erlan sedang menuju saat ini?" Kalimat Nunik itu meresap ke dalam benak ku.
Sementara aku berusaha mencari jawaban dari pertanyaannya itu, Nunik masih terus lanjut berkata-kata.
"Dia sedang menjemput takdir-Nya, il! Dia sudah menghadap kepada-Nya! Dan kamu jangan bilang mau ikut menyusul dia! Karena waktu Lail untuk bertemu Allah pun pasti akan datang nanti nya."
"Waktu Nun juga akan datang sesuai takdir Nun sendiri. Begitu juga dengan waktu perjumpaan Mama Mutia, Papa Ulum, dan juga yang lainnya. Kita semua memiliki takdir yang akan kita jemput di waktunya masing-masing. Jadi, bersabarlah.."
"Jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kita, il.. karena memang dua hal itulah yang telah dijanjikan oleh Allah swt sebagai penolong terbaik atas setiap kesulitan dalam hidup ini. Kita juga harus pandai-pandai mensyukuri segala nikmat Allah. Termasuk juga nikmat hidup!"
"Bersyukurlah karena kita masih bisa hidup di dunia ini, il. Karena itu berarti kita masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Sementara untuk Erlan, jangan lah larut dalam rasa sedih karena kehilangan nya, il. Entah Erlan yang mungkin sudah menyempurnakan keimanan nya kepada Allah, jadi Allah menjemputnya lebih dulu daripada kita. Wallahu a'lam.."
"Yang jelas, Erlan sudah menjemput takdir yang telah digariskan bagi nya. Dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah Erlan menjemput takdirnya itu, il.."
Aku merenungkan kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh Nunik. Hingga akhirnya secara perlahan, aku bisa mengerti juga dengan maksud Nunik atas kalimat nya tadi.
Dan memang, tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk Erlan ku lagi saat ini. Selain... mengikhlaskan nya pergi. Meski pun, aku tak tahu, sampai berapa lama luka karena kehilangan nya ini akan pulih. Entah setahun.. atau puluhan tahun..
Tapi kemudian rasa sakit di hati ku ini tertepis oleh dua kedutan yang ku rasakan dalam perut ku saat ini. Dede utun 1 dan dua.. masih ada mereka berdua yang harus ku perjuangkan. Jadi benar lah kata Mama dan juga Nunik.
Kalau aku harus segera bangkit dari kesedihan ku.
Mencoba bersikap setegar mungkin, aku pun akhirnya kembali bertanya kepada Mama yang sedari tadi menangis dalam diam di sisi tempat ku berbaring.
"Jadi, sekarang Erlan di mana, Ma?"
***
__ADS_1