
Hari ini, aku harus kembali bekerja pada sore hari nya. Hari Senin kemarin aku telah mengajukan cuti mendadak dengan alasan keperluan keluarga. Namun hari ini aku tak lagi bisa mengajukan cuti dengan alasan yang sama.
Pagi tadi, aku terbangun dengan perasaan malu yang ku tujukan terhadap Erlan. Beruntung saat aku terbangun, Erlan masih pulas tertidur. Jadi aku bisa mengendap-endap bangun dan membersihkan diri.
Saat aku melewati cermin yang tergantung di ruang tamu, aku langsung berteriak histeris. Alasannya adalah karena aku melihat penampilan ku yang sungguh-sungguh mengerikan.
Rambut ku berkibar berantakan ke segala sisi. Kedua mata ku terlihat sembab bekas menangis hampir semalaman tadi. Dan yang paling mengerikan adalah bekas lipstik dan maskara yang luntur berantakan di sekitar area mulut dan kedua mata ku.
Aku hampir mengira pantulan ku di cermin sebagai hantu wanita yang menyedihkan tadi nya.
"Bagaimana bisa Erlan tak berkomentar apa-apa tadi pagi? Apa kedua mata nya minus seratus?" Gusar ku terhadap suami ku itu.
Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum Erkan atau pun Mama melihat penampilan ku yang sungguh menyeramkan ini.
***
Sesuai kesepakatan bersama, Erlan akan ikut tinggal bersama ku di kontrakan Mama selama satu bulan ke depan nya.
Karena itu lah pagi ini aku mulai memiliki tugas baru untuk hari ini dan seterusnya. Dan itu adalah membantu mempersiapkan baju Erlan dan sarapan untuk nya.
Ketika Erlan sedang mandi, aku berinisiatif untuk menyiapkan pakaian ganti nya untuk berangkat ke kantor. Namun, aku mengalami kendala saat membuka koper nya Erlan.
Aku mencoba berbagai cara yang kutahu untuk membuka koper metalik milik Erlan itu. Namun usaha ku tak jua membuahkan hasil.
Di saat aku sedang mengamati lekak-lekuk kunci koper nya itu, aku dikejutkan oleh Erlan yang tiba-tiba saja muncul dari belakang ku.
Hanya selembar handuk saja yang Erlan kenakan untuk menutupi anggota tubuh bagian bawah nya. Saat ia mengurung tubuh ku untuk meraih koper nya.
Aku pun dilanda gugup. Meski pun dalam hati aku mendumel kesal pada keberanian Erlan yang bersikap biasa dalam kondisi nya yang minim busana.
Erlan lalu menunjukkan krpadaku cara membuka koper nya yang ternyata menggunakan kode enam digit. Dan enam digit itu adalah tanggal ulang tahun nya sendiri. 120206.
"Jadi, itu tuh tanggal ulang tahun ku ya, Yang. Kutunggu kado nya lho dua bulan lagi," ujar Erlan menggoda ku.
__ADS_1
Merasa gerah dengan posisi kami yang berdempetan, aku pun menyikut perut nya dengan pelan.
"Misi. Misi.. aku mau ambilin nasi goreng deh buat kamu. Awas!" Sergah ku sambil berusaha menutupi rasa malu.
Aku pun buru-buru keluar kamar. Berusaha menghindar dari aroma maskulin yang sesaat tadi memenuhi ruang indera dan benak ku.
***
Sore nanti kamu berangkat seperti biasa kan, Yang?" Tanya Erlan kepada ku.
Erlan baru saja menghabiskan nasi goreng buatan ku yang pertama kali untuk nya. Kulihat ia makan dengan begitu lahap. Sampai-sampai aku mengira kalau ia tak makan semalam tadi usai acara resepsi. Tapi jelas saja Erlan sudah makan. Karena aku makan bersama nya semalam tadi.
"Iya. Jam tiga. Aku berangkat sendiri atau.."
"Tunggu aku, ya, Yang. Aku usahakan untuk datang jemput kamu tepat waktu," imbuh Erlan kemudian.
"Oke.."
"Kalau gitu, aku berangkat dulu ya, Yang.." ujar Erlan seraya berdiri bangun.
"Antar suami mu sampai teras dong, La.." tegur Mama yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Ke dua tangan nya berlumur tepung. Karena ia sedang mempersiapkan gorengan untuk dijual nanti
"Huh? Oh! Oke. Ayo.. ayo, Lan!" Aku buru-buru berdiri dan berjalan terlebih dulu di depan Erlan.
Belum juga tiga langkah aku berjalan, saat kurasakan Erlan yang menarik tangan ku. Kemudian, ia mengajakku berjalan bersisian dengannya, dengan tempo langkah yang tak lambat juga tak cepat.
Aku memandang Erlan sambil mengikuti langkah nya keluar rumah.
"Kenapa lihatin aku sampai sebegitunya, Yang? Terpesona sama ketampanan ku ya?" Seloroh Erlan dengan senyum penuh percaya diri.
Aku melengos dan tak lagi memandang wajah Erlan. Namun aku masih tetap melangkah bersama-sama dengan nya.
Begitu sampai di teras, Erlan berhenti melangkah. Begitu pun juga dengan ku. Dengan takzim, kucium punggung tangan suami ku itu. Dan kemudian Erlan balas mencium pucuk kening ku.
__ADS_1
Saat menerima kecupan di dahi dari Erlan, seluruh bulu kuduk ku serasa merinding berdiri. Dan jantung ku pun kembali berdegup tak terkendali.
Tahulah aku dengan nama untuk perasaan ini. Bahwasanya perasaan ku kepada Erlan mulai bertumbuh dan terus bertumbuh di setiap waktu nya. Hingga aku hampir bisa meyakini kalau separuh hati ku telah dipenuhi oleh rasa cinta ku kepadanya.
"Lain kali, aku mau kita selalu bergandengan tangan setiap kali kita berjalan kemana pun ya, Yang. Aku mau menikmati setiap detik waktu kebersamaan kita dengan semaksimal mungkin," ucap Erlan kemudian.
Untuk sesaat, hati ku diliputi oleh perasan haru kala mendengar ucapan Erlan itu. Baru beberapa saat kemudian saja lah aku bisa membalas ucapan nya.
"Gayamu.. sok romantis banget sih, Lan.. eh.. Yang.."
Aku memberikan cengiran lebar ku kepada Erlan atas tersalip nya panggilan Sayang yang hampir saja terlupa.
Erlan memberiku senyuman nya yang paling memukau. Hingga aku sempat terpesona selama beberapa waktu.
Kemudian, senyuman miliknya itu perlahan berubah jadi cengiran yang lebar. Dan aku langsung mengerjapkan mata ku berkali-kali. Aku tersadar, kalau Erlan mungkin telah menangkap basah aku yang terpukau oleh pesona nya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung saja berbalik dan hendak kembali masuk ke dalam rumah. Menjauh dari biang kerok penyebab muncul nya rasa malu yang mengukung ku.
Tapi lagi-lagi Erlan menahan lengan ku. Dan dalam gerakan cepat, ia langsung menahan pinggang ku untuk selanjutnya ia tarik hingga merapat kepada nya.
Jengah oleh sikap Erlan yang intim ini, aku tak berani memandang wajah nya Erlan. Kuarahkan saja pandangan ku ke arah yang lain.
"Makasih ya, Yang.. kamu sudah mau memberikan aku kesempatan untuk masuk ke dalam hati kamu. Aku janji, aku akan memberikan yang terbaik yang bisa kuberikan ke kamu, Yang.. Jadi, tolong bersabar ya menghadapi suami mu yang terkadang bo doh dan ceroboh ini?" Ucap Erlan kepada ku.
Aku tak mampu menyahut dengan kalimat panjang. Sehingga pada akhirnya aku hanya menganggukkan kepala ku sekali, dan kemudian memberi Erlan sebuah pelukan lagi.
Kukirimkan jawaban atas pernyataan Erlan tadi melalui sentuhan fisik di antara kami saat ini. Dan aku yakin, Erlan pasti akan mengerti dengan apa yang ingin kukatakan kepada nya.
Tak beberapa lama kemudian..
"Adeudeuhhh.. panganten anyar teh meuni hot pisan. (Ya ampun. Penganten baru sungguhan hot). Eceu jadi na hoyong dipeluk ogeh (Teteh jadinya ingin dipeluk juga).."
Suara Ceu Edah mengejutkan aku dan Erlan. Seketika itu pula kami saling melepaskan diri. Dan saat aku menyapa Ceu Edah yang menyebalkan ini, Erlan buru-buru berpamitan kepada ku. Ia menci um kening ku sekali lagi dan kemudian berlalu pergi menaiki mogenya yang sudah terparkir di depan rumah.
__ADS_1
Entah apa yang diucapkan oleh Ceu Edah, aku tak menggubris nya. Perhatian ku terfokus pada Erlan. Sosok pria yang secara perlahan mulai merambah ke sepenjuru isi hati ku.
***