Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Di Meja Kue (POV Laila)


__ADS_3

Keesokan hari nya, aku kembali masuk kerja. Dan, selama satu minggu itu ku lalui hari-hari ku seperti biasa.


Kini, aku sudah mulai membiasakan diri untuk memanggil si Keong dengan nama aslinya, Kiyano. Ngeri benar jika Nunik harus menerima pengaduan dari Kiyano kalau sampai aku masih memanggil nya si Keong.


Hubungan ku dengan Kiyano berangsur kian dekat. Aku juga mulai menyadari beberapa sifat Kiyano yang jarang ditampakkannya di depan orang lain. Seperti sifat manja yang ditunjukkannya dalam perbincangan kami di suatu sore hari Rabu itu.


"Kita ke pantai yuk, La, hari Minggu nanti?" Ajak Kiyano pada waktu sore hari nya.


"Dih.. kamu lupa ya? Aku kan mau dampingin sahabat ku di acara pernikahannya hari Minggu nanti. Itu loh Nunik. Ingat kan?" Aku mengingatkan Kiyano.


"Oh. Iya ya. Hmm.. berarti hari Minggu nanti gue gak bisa ketemu Lo, dong!" Si Keong mengeluh.


"Lha memang nya kenapa? Cuma sehari doang gak ketemu. Kan hari Senin nya masuk kerja lagi," aku mencoba menghibur sambil mengelap permukaan meja di ruangan Kiyano.


Kiyano tampak memperhatikan ku yang sedang membersihkan ruangan nya. Ia bersandar pada kursi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sebuah helaan napas yang cukup dalam dihembuskannya dengan suara cukup keras.


"Hhh... Gue bete tiap hari libur datang. Gue gak ada teman atau saudara di sini. Jadi sering nya gue ngeram aja di rumah. Kalau udah ngeram begitu, rasa-rasanya gue ngerasa gak produktif banget."


"Idihh.. kalau aku sih senang banget tiap hari libur datang. Soal nya aku bisa leha-leha di rumah. Atau bantuin Mama nyiapin jualan nya. Jarang banget kan aku bisa quality time sama Mama. Secara Mama juga berangkat pagi, pulang sore kayak aku. Kadang-kadang Mama malah pulang lebih malam dibandingkan ku," cerita ku pada Kiyano.


"Terus gue gimana dong, La? Masa iya gue ngeram lagi di kamar? Udah kayak anak perawan aja dah!"


"Diih.. terserah kamu lah! Mau bertelur sekalian di kamar juga boleh. Tapi yang jelas kamu udah gak bisa pura-pura jadi perawan ya, Kiy. Soal nya kamu tuh kan udah jadi Duren Panjang!" Seloroh ku sambil menyengir.


"Duren panjang? Duren mah bulat atau lonjong, La.. mana ada duren panjang!"


"Ada lah!"


"Gak ada! Memangnya penggaris, iya panjang. Atau si Jhon. Iya panjang."


"Jhon? Panjang? Siapa itu Jhon?" Aku balik bertanya, sambil menatap Kiyano dengan pandangan bingung.


"Err.. well.. gue salah ucap. Sorry."


Ku lihat si Keong tampak malu dan mengalihkan tatapan nya. Melihat gelagat nya itu aku akhirnya paham dengan siapa itu Jhon yang dimaksud oleh nya.


"Sialan kamu, Kiy! Masih juga sore, isi kepala mu udah ngeres aja!" Aku melempar kain lap ku ke wajah Kiyano. Namun Kiyano berhasil menghindar dan menangkap kain lap itu.


Kiyano balas menyengir malu. Kemudian kembali mempertanyakan perihal duren panjang.


"Eh, jadi emang ada ya duren panjang?" Tanya Kiyano sambil menyerahkan lap kembali kepada ku.


Mendengar pertanyaaannya itu, aku langsung menyahut, "ada lah!" Sambil melipir jauh menuju pintu.


"La, mau ke mana? Sini dulu lah temenin gue!"


"Gak mau! Ini masih jam kerja, Kiy. Aku masih punya kerjaan lain. Udah sana fokus kerja!"


"Haishh.. Lo belum jelasin tentang duren panjang itu La. Maksud nya gue duren panjang tuh apa, sih, La?" Cecar Kiyano masih penasaran.


Begitu aku sudah memegang handel pintu, aku pun berbalik sebentar menghadap Kiyano. Selanjutnya ku berikan ia jawaban yang diinginkannya itu.


"Kamu itu duren panjang, Kiy! Duda keren, mapan dan lajang!" Ucap ku terburu-buru sebelum melesat keluar ruangan kerja Kiyano.


Entah bagaimana tanggapan Kiyano terhadap panggilan baru ku pada nya itu. Hihihi.

__ADS_1


***


Kini, hubungan ku dengan Kiyano juga sudah menjadi bahan konsumsi teman-teman di kantor. Orang-orang kini jadi lebih bersikap respek kepada ku. Entah karena sebab rasa segan, atau pun niatan ingin menjilat. Yang jelas aku tak lagi memusingkan omongan orang-orang, kini.


Benar kata Kiyano. Jika kita mengikuti apa kata orang, maka kesusahan hati akan terasa tiada habis nya. Alhasil, aku pun memfokuskan diri pada apa yang ku jalani sehari-hari nya. Sekaligus menikmatinya dengan perasaan bersyukur.


Selain itu, secara perlahan-lahan aku juga mulai terlupa dengan perasaan sesak yang mendera ku di setiap kali aku mengingat nama Erlan. Entah lah. Aku merasa seperti tak pernah mengenal seseorang yang bernama Erlan. Karena mantan rekan kerja ku itu bak tiba-tiba menghilang ditelan bumi saja.


Pernah suatu kali aku mencoba menghubungi nomor Erlan. Namun begitu ku dengar suara operator wanita lah yang menjawab panggilan ku, aku pun tak pernah lagi menghubungi Erlan. Karena nomor nya tak lagi aktif, kini. Entah dia yang mengganti nomor, atau ia memblokir nomor ku. Yang jelas, aku tak mau ambil pusing lagi.


Biar saja kuanggap Erlan sebagai teman yang berlalu begitu saja dalam hidup ku. Meski tetap, ada sebagian dalam diri ku yang menyesali sikap tak terpujinya itu.


Hhh...


***


Dan akhirnya, tiba juga hari Minggu.


Sedari pagi sekitar jam setengah enam, aku sudah berada di rumah Nunik. Aku sibuk membantu Nunik ini itu sambil melihatnya dirias oleh tim MUA (Make Up Artis).


Sekitar jam enam lewat nya, usai sarapan pagi di sana, aku juga ikut dirias sebagai bridesmaid nya Nunik. Kebaya pink salem yang telah diberikan oleh Nunik pada pekan lalu itu akhirnya ku pakai juga. Meski aku merasa tak nyaman dengan pakaian kebaya ini, aku menyabarkan diri. Toh aku memakai nya hanya untuk sehari ini saja.


Aku melihat Nunik. Sahabat ku itu terlihat sangat cantik usai riasannya selesai. Ia terlihat berbeda sekali dengan penampilannya yang biasa.


Biasanya sahabat ku itu memang jarang memolesi wajah nya dengan make up. Jadi sekali nya dihias, aku hampir pangling dibuat nya.


"Ya ampun, Nun! Kamu asli cantik banget. Ya kan Mbak ya?" Aku bertanya pada salah satu tim MUA yang tadi telah merias ku.


"Iya. Kulit nya Mbak Nun memang sehat banget. Pasti jarang kena alat kosmetik ya sehari-hari nya?" Terka si Mbak.


"Iya, Mbak! Nunik ini asli perawan kampung sini. Paling biasa nya dia cuma pakai pelembab bibir aja. Bedak sih jarang banget!" Jawab ku berapi-api.


"Nun pakai lipstik sama bedak kok, il, setiap kali ngajar ke kampus," Nunik membela diri.


"Iya. Tapi kan aku gak pernah lihat. Dan coba ku tebak! Mestilah kamu langsung hapus itu lipstik mu sekeluarnya kamu dari kampus kan? Apa tuh istilah mu soal gak boleh berlebihan menghias diri, Nun?" Aku sibuk mengingat-ingat.


"Tabarruj?" Nunik membantu ku mengingat istilah Arab untuk berlebihan dalam berhias itu.


"Nah! Iya itu tuh! Padahal kan, jaman sekarang tuh kayaknya kalau gak pake lipstik sama bedak, berasa kayak bukan cewek gitu. Ya, kan Mbak, Ya?" Tanya ku lagi pada si Mbak.


Si Mbak nya tersenyum dan tak menyahut ucapan ku.


"Hihihi.. lha terus Nunik apaan dong kalau bukan cewek? Ah, Lail ada-ada aja deh! Lagian, sepatutnya wanita itu berhias kan cuma untuk suaminya aja. Kalau niatnya buat mejeng atau narik perhatian cowok di luar sana, itu sih salah, il.."


"Aduduh, Nun.. please deh. Bisa gak kamu gak ceramah sehariii aja. Ini bisa-bisa make up ku luntur lho karena kepanasan dengerin ceramahannya kamu!"


Nunik tersenyum manis, tak merasa marah atas ucapan ku. Sementara Mbak-Mbak MuA yang kini merapihkan jilbab Nunik pun ikut tersenyum juga.


"Lail.. Lail.. Nunik gak bermaksud menggurui lho ya, walau pun profesi Nun memang adalah seorang guru. Tapi karena Nun peduli sama Lail, makanya Nun sering banget celoteh soal agama. Lail gak marah kan sama Nun?" Tanya Nunik dengan ekspresi meminta maaf.


Aku bergegas meraih jemari Nunik yang kini telah dihiasi oleh hena berwarna putih.


'Ah.. indah nian hiasan tangan ini. Kapan ya aku bisa dihias cantik kayak Nun gini..?' pikiran ku sempat menghayal jauh.


"Lail? il? Iih.. malah ngelamun, lagi!"

__ADS_1


"Aduduh!" Aku tersadar dari lamunan ku kala Nunik mencubit punggung tangan ku.


"Jadi, Lail maafin Nunik kan karena Nun sering celotehin Lail soal agama?" Tanya ulang Nunik kepada ku.


Aku kembali meremas pergelangan tangan Nunik dan memberinya senyuman hangat.


"Ya ampun, Nun. Kok tiba-tiba minta maaf sih. Kamu gak salah kok. Aku tahu kalau kamu itu memang peduli. Jadi aku sama sekali gak marah kok dengerin ceramahannya kamu. Makasih banget malah, karena kamu sering ingetin aku. Hamba yang penuh dosa ini.."


Aku bergaya sedikit lebay. Kedua tangan ku sengaja ku genggam dan ku topang kan di bawah dagu. Bak seorang wanita yang tiba-tiba insaf dan menyesali semua dosanya.


Seketika, ruangan berhias pun jadi pecah oleh tawa Nunik serta ke tiga Mbak MUA yang ada di sana.


"Eh, udah ah. Kebanyakan ngobrol, perut udah lapar lagi aja," ucap ku tiba-tiba.


"Lha kan tadi Lail baru aja sarapan kan?" Tanya Nunik keheranan.


"Iya. Kan cuma sarapan aja. Tapi dessert nya belum nih, Nun. Aku mau ke belakang bentar ya. Nengokin, udah ada kue belum di meja hidangan.


Dan aku pun bangkit berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Meninggalkan Nunik dengan Mbak-Mbak MUA di dalam ruangan sana.


Aku lalu keluar menuju halaman rumah Nunik yang sudah dihiasi dengan tenda bertemakan warna pink.


"Mau ke mana, La?"


Aku menoleh dan menyapa Bunda nya Nunik.


"Eh, Bunda. Mau cari cemilan, Bun. Buat Nunik sama Mbak-Mbak MUA.." kilah ku mengkambing hitamkan Nunik. Hihihi..


"Oh.. belum ada kue ya di kamar? Ya sudah. Ambil yang banyak sekalian ya. Takut nya pada lapar. Tolong ya La!" Ucap Bu Hajah, sebelum akhirnya berlalu pergi.


"Iya, Bunda.."


Saat ini, waktu menunjukkan jam sembilan. Masih ada sekitar satu jam lagi sebelum prosesi akad nikah digelar.


Beberapa tamu sudah ada yang berdatangan. Biasanya yang datang pada jam segini adalah orang-orang terdekat mempelai pengantin yang ingin ikut menyaksikan prosesi akad nikah.


Aku tak menghiraukan keramaian di sekitar ku. Dan langsung saja menuju meja hidangan yang ada di dekat pintu masuk.


"Dira, bagi kue nya dong buat Nunik sama Mbak MUA di dalam kamar?" Aku meminta pada Dira, tetangga ku yang kini bertugas menjaga meja yang menghidangkan kue-kue basah tradisional.


"Kenapa gak ambil yang ada di dalam aja, Mbak?"


"Males ah. Ketemu nya sama ibu-ibu. Pasti lah nanti kena bombardir pertanyaan, 'kapan kamu nyusul nikah La?' dan bla bla bla.. buat kesehatan mental, mending hindari emak-emak dulu untuk seharian ini ya, Dir!" Aku menyarankan dengan ekspresi serius.


"Oh.. gitu ya, Mbak?"


"Iya. Aku udah pengalaman banget soal ini, Dir. Percaya deh!" Aku kembali meyakinkan Dira.


"Gue percaya kok. Lo emang udah pengalaman banget. Apalagi soal nyomotin kue di meja prasmanan. Hebat, cekatan, dan dapat banyak!"


Aku terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang yang berada cukup dekat di belakang ku itu.


"Kamu?!"


***

__ADS_1


__ADS_2