Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Berburu Laila (POV Kiyano)


__ADS_3

"Perbaiki laporan kalian dan jangan muncul lagi di depan saya sampai kalian membuat laporan yang memuaskan!"


Aku melempar binder file ke arah staf divisi Pemasaran. Setelah mengambil kembali laporan nya, staf itu bergegas pergi dengan ekspresi takut yang terpampang nyata.


Begitu pintu tertutup, aku menggebrak meja dengan tangan ku sendiri.


"Argh! Sial!"


Ku sandarkan tubuh dan kepala ku ke sofa putar yang ku duduki.


Ku akui, akhir-akhir ini dunia ku kian terasa kacau saja. Di mulai dari sidang perceraian ku dengan Bella yang tak kunjung beres. Karena Bella yang selalu mangkir dan tiba-tiba saja mengirimkan ku pesan singkat kalau ia menolak perceraian ini.


Tapi Kamis depan hasil putusan akhir akan keluar. Dan bisa dipastikan kalau pengadilan akan mengabulkan permohonan ku untuk menceraikan Bella. Setelah perceraian ku dengan Bella beres, aku bermaksud untuk melamar Laila.


Aku mulai tak bisa melepaskan diri dari pesona wanita berparas manis itu. Perlahan, wajah Laila menggantikan segala pikiran ku tentang Bella dan perceraian kami.


Aku juga mulai kesulitan untuk menahan diri agar tak menerkam Laila saat kami sedang berduaan entah itu di dalam mobil atau pun di ruangan kantor.


Aku tak ingin merusak kepercayaan Laila kepada ku. Aku sudah berjanji untuk tak menyentuh nya sampai ia mengijinkan ku. Dan Laila berkali-kali menegaskan diri bahwa ia hanya mengijinkan suami nya kelak yang boleh menyentuh nya.


Bukan kah kalau begitu, aku harus menjadi suami nya terlebih dahulu?


Maka persetan dengan pengalaman buruk ku terkait pernikahan. Entah didorong oleh sebab nafsu atau memang aku yang sudah mencintai Laila terlalu dalam, sehingga aku begitu ingin segera meresmikan hubungan kami berdua ke jenjang yang lebih serius lagi.


Minggu kemarin, aku bahkan sudah menyampaikan maksud ku itu pada Ibu dan juga Mita. Dan mereka mendukung setiap keputusan ku. Sementara itu, Mita mengingatkan ku untuk tetap menjaga jarak dengan Laila. Karena bagaimana pun juga perceraian ku dengan Bella belum lah beres.


Aku masih menyandang status suami Bella di mata hukum negara. Jadi menurut Mita, aku harus menjaga kehormatan Laila dengan menjaga jarak dengan nya untuk sementara waktu.


Namun, belum juga aku berusaha menjaga jarak, justru Laila sendiri yang terlebih dulu menjaga jarak dari ku. Ia bahkan sepertinya sengaja menghindar dan jadi sulit untuk ku temukan di mana pun juga.


Aku yang biasa menunggu nya untuk berangkat pagi bersama, selama dua hari kemarin harus datang terlambat ke kantor karena ternyata Laila telah berangkat terlebih dulu.


Aku yang mendatangi base camp para OB untuk menjemputnya pulang, pada akhirnya harus menelan kekecewaan kembali, karena nyatanya Laila telah pulang mendahului ku.


Ku cari Laila di kantin, ia tak ada. Ku titipkan titah pada siapa pun agar Laila datang ke ruang kerja ku, Laila tak jua datang.


Jangan tanya soal puluhan pesan dan panggilan ku pada nomor telepon nya, Karena Laila juga tak membalas atau mengangkat nya.


Aku dicecar oleh rasa bingung dan putus asa. Benak ku pun mau tak mau jadi bertanya-tanya pada apa yang sebenarnya terjadi pada Laila.


Pada akhirnya ku putuskan untuk melakukan perburuan. Dan target nya adalah Laila. Akan ku pastikan kalau Rabu esok aku akan menangkap dan menyeret Laila ke ruangan ku. Ia jelas-jelas berhutang penjelasan kepada ku.


Selain itu, aku juga bermaksud untuk memberikan penjelasan pada Laila perihal status perceraian ku dengan Bella yang sebenar nya.


Mengikuti saran Mita, adikku yang selalu berpikiran lebih dewasa dari teman-teman di bangku SMA nya, aku harus terbuka pada Laila tentang segala hal. Karena dengan keterbukaan itu lah hubungan ku dan Laila bisa dimulai atas dasar kepercayaan yang penuh.


Aku berharap pernikahan ku dengan Laila nanti akan menjadi pernikahan ku yang terakhir. Karena aku merasa tak mampu untuk mencintai wanita lain lagi sebesar rasa cinta ku pada Laila. Pesona nya sudah merajai benak dan pikiran ku seperti sekarang ini.


***


Keesokan paginya, aku mencari Laila ke base camp nya. Aku sengaja menitipkan pesan pada kepala tim OB di sana yang bernama Idham. Agar mengatakan kepada ku diam-diam jika Laila telah datang.


Namun, hingga lewat jam sembilan, aku tak juga menerima pesan dari Idham. Sehingga aku pun langsung menelpon nya.


"Bagaimana, apa Laila sudah datang?" Tanya ku to the point.

__ADS_1


"Sepertinya Laila tak masuk kerja, Pak. Dia belum juga datang. Nomor nya pun tak bisa dihubungi. Tak biasanya Laila terlambat atau tak hadir tanpa meninggalkan pesan terlebih dahulu," tutur Idham panjang lebar.


"Oh. Baiklah. Kabari saya segera jika kamu sudah mendapat kabar dari nya!"


Dan aku langsung menutup panggilan telepon itu.


Aku menghela napas cukup dalam. Merasa bingung dan tak berdaya dengan hilangnya Laila yang tiba-tiba ini.


Entah kenapa aku merasakan kecemasan yang tak jelas. Aku khawatir pada kabar Laila saat ini.


"Ah.. kenapa jantung gue deg degan gini ya? Apa terjadi sesuatu sama Laila?" Gumam ku pada angin tak kasat mata di hadapan.


***


Hingga pertengahan siang, aku dilanda kecemasan yang tak berujung. Pikiran ku tak bisa fokus dan selalu saja terbayang pada wajah Laila.


Entah kenapa tiba-tiba saja rasa takut mendera ku. Dan kekhawatiran pada Laila terus membesar di setiap waktu yang ku lewati tanpa kehadiran nya.


Pada akhirnya ku putuskan untuk ijin pulang lebih cepat dan meluncur langsung ke rumah Laila. Pikir ku ia pastilah ada di rumah nya siang ini.


Tapi, ketika langkah ku sudah ada di depan pintu rumah Laila, aku disambut oleh rumah kosong tanpa ada penghuni nya.


Cukup lama aku menunggu di depan rumah Laila dan mengetuk pintu nya. Namun aku tak juga bertemu dengan Laila ataupun Mama Mutia.


Sekitar setengah jam usai menunggu di teras, seorang tetangga Laila muncul dan memberiku kabar buruk perihal Laila.


Katanya, Laila menjadi korban penjambretan. Dan kini berada di rumah sakit karena mengalami perdarahan hebat akibat luka tusukan yang diterima nya.


Deg. Deg.


***


Sesampainya aku di sana, aku bertemu dengan Mama Mutia yang sedang berdebat dengan seorang dokter.


"Ambil ginjal saya saja, Dok. Tak apa-apa saya hidup dengan satu ginjal juga. Asalkan putri saya selamat. Saya mohon, Dok!" Mama Mutia mengiba-iba.


"Maafkan kami, Bu. Prosedur rumah sakit tak membolehkan ibu untuk mendonorkan ginjal. Karena setelah dicek, ternyata ginjal ibu pun hanya satu yang berfungsi normal. Jadi kami tak bisa mengambil risiko untuk mendonorkan ginjal ibu kepada pasien Laila."


Mendengar percakapan keduanya, sontak saja kegelisahan ku kian memuncak.


"Laila membutuhkan donor ginjal?" aku bertanya entah pada siapa.


Mama Mutia dan dokter lelaki itu seketika menoleh pada ku.


"Nak Kiyano.."


"Tante, katakan pada Kiyan. Apa benar Laila membutuhkan donor ginjal?" tanya ku mengulang.


Mama Mutia sempat ragu untuk menceritakan kondisi Laila kepada ku.


Namun saat melihat kekhawatiran ku atas kondisi Laila, akhir nya Mama Mutia pun bercerita juga.


"Ya, Nak Kiyano. Laila mengalami luka tusukan yang cukup dalam sehingga melukai ginjal nya terlalu parah. Sementara ginjal satu nya juga kurang berfungsi optimal, sehingga Laila membutuhkan donor ginjal secepat nya."


"Kalau begitu, pakai ginjal Kiyano saja, Tante!" ucap ku tanpa ragu.

__ADS_1


Sesaat suasana menghening. Mama Mutia menatap lekat sekaligus haru padaku.


"Pakai ginjal Kiyano saja Tante. Kebetulan Kiyano juga baru check up tiga bulan yang lalu. dan syukurlah kedua ginjal Kiyano sehat semuanya. Jadi tak apa-apa kalau satu ginjal ini Kiyano berikan untuk Laila," ucap ku kembali tanpa sedetik pun merasa ragu.


"Tapi, Nak Kiyano.."


Buru-buru aku memotong ucapan Mama Mutia yang terlihat enggan menerima bantuan ku.


"Jangan pikirkan apapun juga Tante. Yang terpenting saat ini adalah Laila segera dioperasi agar kesempatan sembuh nya juga semakin besar. Benar begitu bukan, Dokter?" tanya ku kepada dokter pria di samping Mama Mutia.


"Benar sekali. Semakin cepat pasien Laila dioperasi, maka kesempatan pulih nya juga akan semakin besar. Maaf, Tuan siapa nya pasien ya?" tanya sang dokter.


"Saya.. pacar nya. Tolong segera proses pendonoran ginjal saya ini untuk pacar saya, ya, Dok. Tolong selamatkan Laila!" aku memohon pada dokter muda di hadapan ku itu.


"Jangan khawatir, Tuan. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Kalau begitu, silahkan ke meja administrasi terlebih dulu untuk mengisi formulir yang diperlukan," pamit sang dokter sebelum pergi ke dalam ruangan bedah.


Saat aku hendak menuju meja admin, Mama Mutia menahan lengan ku.


"Nak Kiyano.. apa bantuan mu tidak terlalu berlebihan untuk Laila, Nak. Entah bagaimana Tante bisa membayar kebaikan mu ini."


Aku lalu meraih jemari Mama Mutia dan mere mas nya lembut. Kemudian aku pun berkata, "Tante, Kiyano mohon untuk merahasiakan dari Laila tentang Kiyano yang mendonorkan ginjal ini ya. Kiyano tak mau Laila merasa berhutang budi pada Kiyano. Kiyano ikhlas memberikan apapun yang Laila butuhkan. Bahkan jika Laila membutuhkan jantung pun, Kiyano akan dengan rela memberikan nya. Mohon restui hubungan Kiyano dan Laila saja, itu sudah cukup bagi Kiyano, Tante.."


Dan secara perlahan, tubuh ringkih wanita di depan ku itu akhirnya bergetar juga. Getaran nya sungguh mengguncang kalbu. Karena kemudian Mama Mutia terisak pelan sambil mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali.


"Terima kasih, Nak.. terima kasih.." suara Mama Mutia pun akhirnya pecah. Memecah nuansa kesedihan yang begitu pekat menyelimuti kami kini.


***


Setelah melalui serangkaian pengecekan darah dan kecocokan ginjal, syukurlah operasi pencangkokan ginjal itu bisa dilakukan sekitar jam tujuh malam nya.


Saat berada di ruang operasi, aku berada di bawah pengaruh bius total. Hingga baru sekitar tiga jam kemudian akhirnya aku tersadar dan ternyata operasinya telah selesai.


Menurut dokter yang menangani Laila, syukurlah operasi berjalan lancar. Semua kondisi alat vital Laila juga berangsur membaik. Meski begitu, Laila masih harus berada di rumah sakit selama kurang lebih satu minggu ke depan untuk diobservasi.


Selama dua hari ke depannya, aku ikut dirawat di rumah sakit bersama Laila. Syukurlah setelah dua hari masa observasi, aku dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang ke rumah. Aku hanya diminta untuk mengurangi aktivitas berat agar proses pemulihan ku semakin cepat.


Laila sendiri terbangun dari tidur koma nya pada hari ke tiga. Menurut cerita Mama Mutia, syukurlah kondisi Laila juga berangsur membaik.


Aku telah mengajukan cuti satu bulan untuk Laila tanpa diketahui olehnya. Aku sendiri belum menjenguk kekasih ku itu karena aku tak ingin Laila melihat kondisi ku pasca operasi. Jika ia melihat ku, pastilah ia bisa menebak siapa orang yang sudah mendonorkan ginjal untuk nya.


Mama Mutia hampir setiap pagi dan sore selalu datang menjengukku. Dari nya aku selalu mengetahui kabar tentang Laila.


Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, aku pun memutuskan untuk langsung pulang ke flat ku. Karena aku tak ingin Laila melihat kondisi wajah ku yang masih tampak pucat.


Baru pada hari ke lima Laila dirawat saja akhirnya aku kembali datang ke rumah sakit untuk menjenguknya.


Namun, apa yang menyambut ku saat kami bertemu kembali nyatanya adalah sikap yang sama sekali tak pernah ku duga akan ku terima.


Karena Laila bersikap diam sepanjang waktu terhadap ku. Dan ia malah meminta ku untuk tak lagi mengunjunginya ke rumah sakit.


Pada mulanya aku menolak permintaan nya itu. Namun, setelah mempertimbangkan kondisi Laila yang sempat menurun akibat perdebatan ku dengan nya yang cukup sering terjadi, pada akhirnya ku putuskan untuk pergi dari rumah sakit dan tak lagi mengunjungi Laila.


Rasanya berat sekali kaki ini untuk menjauh dari cinta ku. Tapi aku akan memberikan Laila ku waktu. Sampai ia tuntas memulihkan kesehatannya dan bisa memberi ku jawaban atas sikap dingin nya terhadap ku selama beberapa hari terakhir ini.


***

__ADS_1


__ADS_2