Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Pesta Pernikahan (POV Erlan)


__ADS_3

Dan akhirnya, pesta pernikahan ku dan Laila tiba juga. Sedari pagi aku harus berpisah dengan Laila ku Sayang. Karena ia harus di dandani oleh tim Make up Artist agar tampil secantik mungkin. Begitu kata Arline kepadaku.


Dih. Menurut ku Laila ku sudah sangat cantik tanpa polesan apapun. Aku saja tak pernah bosan untuk memandangi wajah nya lama-lama. Terutama bila ia sedang tertidur.


Aku selalu takjub setiap kali melihat wajah istri ku yang sedang tertidur. Karena pada wajah manis nya itu, ku temukan ketenangan dan kedamaian yang membuat ku kecanduan untuk menatap nya lama-lama.


Ya iya lah tenang. Kan memang dia sedang tidur ya? Hahaha. Ku rasa aku mulai gila kini. Gila karena cinta. Gila karena terlalu bahagia. Aku berharap kebahagiaan kami akan senantiasa abadi hingga maut memisahkan kami nanti nya. aamiin..


Oh ya! Ada satu kebiasaan unik Laila yang paling menarik buat ku manakala ia sedang tertidur. Kebiasaan itu adalah mengigau. Ya. Laila seringkali mengigau saat ia tertidur.


Sering kali aku bahkan terbangun karena menerima cubitan dari Laila yang sedang mengigau. Memang sungguh istri ku ini. Bahkan dalam mimpi nya pun ia begitu senang mencubiti ku. Tak apa-apa lah. Aku justru sangat bahagia dicubiti oleh nya. Karena itu arti nya, aku ada dalam pikiran nya siang dan malam, bukan?


Juga, pernah sesekali Laila ku mengigau seru. Maksud ku seru adalah saat tiba-tiba saja aku terbangun tengah malam dan mendapati kalau istri ku itu tahu-tahu telah duduk menung gangi ku.


Dengan mata yang tertutup, Laila tidur di atas tubuh ku. Lebih tepat nya adalah ia menduduki junior ku yang menegang oleh sentuhan nya itu. Karena itulah sebabnya aku sering mengajak istri ku es krim an di pertengahan malam buta. Sebab dia sendiri yang sudah mengundang ku untuk melakukan nya, bukan?


Aneh nya saat keesokan pagi nya ia mengomel karena aku yang terlalu sering mengajak nya es krim an (ma king love) setiap malam. Lalu ku ceritakan kebiasaannya yang suka mengigau itu, dan Laila malah tak percaya.


Laila malah menuduh ku pintar membuat alasan. Yang kuiyakan saja lah, daripada ribut nanti nya.


Nah. Salah satu pelajaran penting yang kudapat dari pernikahan kami yang masih singkat ini adalah, mengaku salah saja lah saat istri sedang emosional. Meski aku sendiri kadang tak tahu apa yang telah membuat Laila kesal kepada ku.


Tapi memang benar. Begitu aku meminta maaf dan mengaku salah, amarah Laila langsung saja mereda. Ia seperti anak kecil yang mudah lupa dengan perselisihan kami sebelum nya, hanya karena sebuah ucapan maaf yang keluar dari mulut ku saja.


Memang aneh benar istri ku itu. Atau.. Apa memang semua wanita seperti itu ya? Hmm..


Kembali ke saat ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aku mulai gelisah menunggu Laila ku yang tak kunjung selesai didandani. Rasa-rasanya aku tak rela bila terlalu lama tak melihat Laila ku Sayang. Seolah waktu kami hanya tersisa sedikit saja, jadi aku ingin terus bersama dengan istri ku itu.

__ADS_1


Jika bisa, aku malah ingin mengajak Laila juga pergi bersama ku ke kantor. Karena aku ingin selalu melihat wajah manis nya itu sepanjang waktu.


Gila benar bukan aku kini? Tak apa-apa. Nama nya juga cinta. Gila cinta padanya untuk selama nya pun aku tak akan menyesal walau sekejap saja.


Berkali-kali aku mengetuk pintu kamar tempat Laila ku sedang dirias. Namun saat pintu itu terbuka sedikit dan yang kulihat justru wajah menyebalkannya Arline, adik ku itu selalu saja mengusir ku untuk pergi menjauh.


Menurut Arline, aku tak boleh melihat istri ku itu hingga riasannya selesai. Agar aku ter wow saat melihat nya nanti.


Dih. Merepotkan sekali. Tanpa dirias pun aku selalu ter wow dengan tingkah nya Laila. Jadi buat apa adik ku itu sibuk menghalang-halangi ku dari menemui Laila? Memang dasar dia hanya ingin membuat ku kesal saja. Kerjaan Arline kan memang sedari dulu selalu begitu. Selalu saja mengesalkan ku. Huuh!


Baru pada jam sembilan lewat saja akhirnya aku bisa melihat Laila kembali. Dan.. wow.. ternyata ucapan Arline ada benarnya juga. Aku berhasil ter wow saat melihat wajah Laila ku dirias dengan sangat sangat sangat cantik.


Ah,, aku jadi ingin membungkus Laila ku dan membawa nya masuk kembali ke dalam kamar kami saja jadi nya. Rasa nya tak rela jika ada lelaki lain yang sampai terpesona saat melihat Laila ku sayang saat ini.


Maka dengan spontan, aku pun mengomentari penampilan istri ku itu dengan kalimat ini.


"Bisa dibuat lebih menyeramkan gak, make up nya kamu, Yang. Biar orang-orang gak berani lihatin kamu lama-lama.."


Walau aku sedikit menyesal juga karena Laila tak mengikuti saran ku itu. Padahal kan maksud ku baik. Agar tak ada laki-laki yang menatap nya lama-lama nanti. Hh.. Sayangnya, Laila tak mengerti maksud ku itu.


"Dasar aneh! Di mana-mana, cewek tuh dibuat tampil paling cantik lah, Kak, di pesta pernikahannya. Kakak malah pingin make up yang seram? Memang nya kalian mau jadi hantu di rumah hantu apa?!" Kecam Arline kepada ku.


Ku tarik saja rambut poni tailed nya Arline. Sebagai ungkapan kekesalan ku pada nya karena telah menghalang-halangi ku sedari pagi untuk menemui Laila


"Iih.Erlan! Jahil banget sih! Yayang.. Kak Erlan tuh, ngeselin! Rajuk Arline pada seseorang di belakang ku.


Sebelum kutengokkan kepala, aku sudah tahu dengan siapa aku akan berhadapan nantinya bila mendengar panggilan Arline kepadanya.


Yayang. Itu berarti adik ipar ku sang kolonel.

__ADS_1


Hhh.. sungguh beruntung Arline. Karena berhasil memiliki suami seorang polisi. Dan sepertinya ia memang sengaja mencari pasangan seorang polisi. Karena Arline tahu tentang ketakutan ku pada sosok polisi.


Well, sebenarnya sudah sejak usia ku dewasa, aku tak lagi merasa ketakutan sih terhadap polisi. Karena aku tak mau terus-menerus dikerjai oleh Arline.


Adik ku itu sering kali mengejutkan ku dengan menyalakan audio suara sirine polisi. Aku yang dulu sering ketakutan hanya mendengar sirine polisi itu, langsung akan berlari kalang kabut sambil menangis. Dan setelahnya Arline akan menertawaiku habis-habisan.


Kenapa aku bisa setakut itu pada polisi? Hh.. cerita tidak ya..


Oke. Kuceritakan saja lah secara singjat ya.


Jadi, sewaktu aku berumur enam atau tujuh tahun, aku pernah ditegur oleh seorang polisi kenalannya Opa karena memain-mainkan air minuman di suatu acara pesta di rumah.


Saat itu aku yang masih polos (dan sedikit aktif) iseng mencelup-celupkan beberapa cemilan ke dalam gelas-gelaa yang berisi minuman berwarna merah.


Saat itulah kenalannya Opa itu menegur ku dengan suara keras. Apalagi wajah nya juga cukup sangar dengan kumis yang sangat tebal menghiasi wajah gelap nya itu. Makin takutlah aku jadi nya.


Sejak saat itu akhirnya aku memiliki ketakutan terhadap polisi. Apalagi beberapa pembantu di rumah ku selalu mengatakan kalau polisi itu menyeramkan. "Nanti ditangkap polisi lho!" Begitu lah ancaman yang kudapat setiap kali aku berlaku jahil.


Dan Arline sering mengerjai ku karena ketakutan ku itu. Namun itu hanya cerita masa lalu ku. Kalau sekarang sih, aku tak lagi takut pada sosok polisi. Jika mendengar suara sirine mobil aku juga sudah bersijap biasa.


Aku hanya sedikit segan saja bila berhadapan dnegan polisi. Ya. Hanya segan saja.


Seperti terhadap adik ipar ku yang pendiam ini pun, aku merasakan keseganan yang sedikit membuat ku merasa tak nyaman. Apalagi Kolonek Amir juga memiliki wajah yang hampir selalu serius sepanjang waktu.


Hanya saat bicara dengan Arline saja kunilai adik ipar ku itu ekspresi wajah nya berubah jadi lebih lembut. Begitu kubkira kuasa cinta yang telah menjeratnya pula.


Sayang sekali Kolonel Amir harus terjerat cinta pada adikku yang paling menyebalkan sedunia. Sudah nasib nya mungkin ya?


Kalau aku sih jelas sangat beruntung karena bisa memperistri Laila. Wanita ku yang paling sempurna dan baik sedunia.

__ADS_1


I really love her so much. ❤️❤️


***


__ADS_2