
"Jadi, Lo gak mau gue anter pulang nih?" Tanya si Keong kembali.
"Pingin sih. Tapi aku mau beli kado dulu ke mall. Kamu mau anterin aku ke mall juga?" Ku pandangi wajah si Keong yang rupawan.
Dipikir-pikir, aku sungguh beruntung sekali karena bisa disukai oleh lelaki lelaki yang berwajah tampan. Dulu Stefan, Arga, terus Erlan..
Nyut. Mengingat Erlan, rasa nya aku merasakan cubitan kecil lagi dalam hati ku. Aneh benar. Apa aku sebenarnya sakit jantung ya? Rasanya akhir-akhir ini aku sering merasakan sesak dan nyeri di dada?
"Lailaa!"
"Adaw! Apaan sih?! Sakit tahu!" Aku mengomel pada si Keong. Karena ia sudah menjawil pipi ku cukup kencang.
Kemudian, ku elus-elus pipi ku tersayang dengan perlahan. Lalu ku pelototi si Keong yang malah terlihat cengengesan.
'Ku cabut pernyataan ku tadi. Si Keong ini gak tampan! Gak ada tampang ganteng nya, sama sekali!' gusar ku dalam hati.
"Habis nya, dari tadi gue tanya, Lo malah ngelamun aja! Jadi, Lo mau ke mall mana? Yok, gue anterin!"
"Wahh! Makasih!!" Ucap ku girang.
Tanpa sadar, aku langsung mengecup pipi si Keong yang sedang fokus menyetir. Aku dan si Keong pun sama-sama terkejut.
Rasa malu kemudian menyergap ku. Sehingga aku pun langsung mengalihkan pandangan ke luar jendela. Sementara aku menyadari sebuah senyuman lebar, telah terpampang di wajah si Keong.
"Lain kali, kalau mau nge sun, langsung ke bibir aja ya, La.." goda Si Keong menyebalkan.
"Auk ah! Dasar mesum! Udah. Fokus nyetir aja deh! Jangan tengok-tengok ke sini! Aku gak mau jadi perkedel karena kelalaian mu menyetir mobil!" Omel ku tak jelas.
"Siap Tuan Putri! Jadi, kita ke mall mana nih?" Tanya si Keong kembali.
"Ke mall Anggrek aja. Itu paling dekat soal nya."
Dan kemudian, Civic yang membawa ku dan Keong pun akhirnya melaju menuju mall Anggrek.
Sesampainya di mall, aku langsung menuju satu-satu nya tempat yang memiliki benda yang akan disukai oleh Nunik.
Ya. Tujuan ku ke mall ini adalah untuk membeli kado pernikahan Nunik. Pekan depan sahabat terbaik ku itu akan melangsungkan akad sekaligus resepsi pernikahannya dengan Mas Aryo.
"Buku? Siapa yang ulang tahun?" Tanya si Keong ketika aku mengajak nya memasuki sebuah toko buku besar di mall.
"Siapa bilang ini kado ulang tahun! Sahabat ku mau married pekan depan!" Papar ku menjelaskan.
"Nikah? Tapi kok malah ngasih kado buku sih? Waktu dulu gue nikah.."
Tiba-tiba si Keong menjeda kalimat nya. Tapi tak lama. Karena kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya.
"Anyway, setahu gue biasanya kado nikah tuh peralatan rumah tangga. Kayak handuk, coffee maker, dan lain-lain. Ada juga sih yang ngasih lingerie..atau mainan itu.."
Sementara mata ku sibuk membaca judul-judul buku yang ku lewati, mulut ku tanpa sadar menyahut ucapan si Keong.
"Mainan itu apa? Gak jelas banget sih!"
"Yaa itu. Toysex. Macam borgol, mmm--"
Aku spontan langsung berbalik dan menutup mulut mesum si Keong. Heran benar dengan cowok satu ini. Apa dia tak punya rasa malu apa! Tengok saja kini. Ada beberapa wanita muda di dekat kami yang mungkin ikut mendengar ucapan si Keong. Dan wanita itu kini menatap ku dengan pandangan yang.. 'Aaarggg! Dasar Keong dodol!'
Buru-buru aku menarik tangan si Keong untuk menjauh. Malu benar rasanya aku pada Mbak-Mbak yang tadi. Dipikirnya mungkin aku punya kelainan seksual apa, sampai-sampai tahu dengan *** toy yang disebutkan oleh si Keong tadi.
"Kenapa sih, La? Tiba-tiba marah gak jelas!" Tanya Keong dengan wajah sedikit merengut.
__ADS_1
"Kamu tuh kalau ngomong dipikir-pikir dulu apa!"
Krik..krik..krik..
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Dan entah kenapa aku merasa malu dengan ucapan ku sendiri. Bukankah selama ini, aku lah yang paling tak bisa menjaga omongan ku sendiri?
Saat aku kembali menatap wajah si Keong, ia seperti sedang menahan senyum.
'Cih! Sial benar! Tahu gitu gak usah ku ajak saja si Keong ke dalam sini! Tiap kali bareng dia, selalu aja ada momen gak enak nya!' dumel ku dalam hati.
Aku langsung saja membalikkan badan dan tak mengatakan apapun lagi.
Rasanya sungguhan malu. Jika nanti aku malah menjilat ludah ku sendiri. Aku sibuk menasihati si Keong untuk menjaga omongan, sementara aku sendiri tak bisa menjaga omongan. Bull **** benar bukan, aku nanti nya?
"La.. tunggu gue dong!" Ku dengar panggilan si Keong yang mengejar ku. Namun aku tak menghiraukan panggilannya itu.
Aku pun kembali fokus membaca judul buku-buku yang kami lewati. Tujuan ku adalah sebuah buku tentang pernikahan.
Sekitar setengah jam kemudian, aku berhasil membeli sebuah buku berjudul "Kado Pernikahan". Ku harap Nunik akan menyukai buku yang ku hadiahkan pada nya itu.
"Sekarang, kita makan dulu yuk! Perut gue udah laper nih" Ajak si Keong.
"Hayok!"
Kami lalu bertandang ke sebuah gerai makan ayam goreng cepat saji yang telah melegenda. Dan kami pun berada di sana sekitar setengah jam lama nya.
"Cerita in tentang diri Lo!" Titah si Keong tiba-tiba, usai aku menghabiskan nasi bagian ku.
"Buat apa?" Tanya ku bingung.
"Buat gue lah! Gue pingin tahu semua tentang Lo. Kesukaan Lo, yang Lo gak suka, ukuran baju dan bra juga boleh. Buat bahan referensi kalau gue mau ngasih kado ulang tahun ke Lo nanti," tutur si Keong dengan asal.
Ku lempari si Keong dengan remahan crispy nya ayam.
"Lho? Mesum gimana sih? Soal bra? Apa salah nya coba ngasih hadiah bra? Gue sering kok, lihat cewek dapat hadiah bra atau lingeri dari temen nya. Dan yang pasti itu juga disukai suami nya!" Tutur si Keong sambil cengengesan.
Aku merutuk sebal. Sial benar aku karena bisa menyukai cowok mesum di depan ku ini. Tapi beberapa waktu kemudian, aku pun menceritakan tentang diri ku pada si Keong.
"Aku tuh anak satu-satu nya. Aku tinggal sama Mama. Sementara Papa ku udah pergi gak tahu ke mana sama selingkuhan nya. Aku tamatan SMA. Belum pernah pacaran. Suka banget sama kecap, tapi gak terlalu suka sama yang manis-manis kayak kue. Mie mercon Bang Kumis tuh yang paling aku suka. Merah dan ungu, warna favorit ku,"
"Aku juga suka hiking dan nge trip ke puncak gunung. Aku paling anti lihat drakor dan sinetron. Kayak gak ada kerjaan aja, nangisin cerita yang paling cuma sebatas karangan orang doang. Aku suka kopi moka. Aroma nya wangi,"
"Aku sebenarnya suka kucing. Tapi karena aku punya alergi sama bulu, jadi aku anti banget main atau pegang kucing secara langsung."
"Lo punya alergi?" Tanya si Keong memotong ucapan ku.
"Ya. Udah keturunan sih. Kata Mama, Papa juga alergi sama hewan-hewan ber bulu."
"Sebenernya, kucing tuh bukan berbulu sih, La.." ucap si Keong lagi, memotong ucapan ku.
"Huh?" Aku menatap tak mengerti pada si Keong.
"Iya. Bulu itu kan macam bulu yang dipunyain sama ayam, bebek, atau jenis unggas lainnya. Sementara kayak kita, atau hewan macam kucing tuh bukan bulu nama nya. Melainkan rambut."
"Memang iya?" Tanya ku sangsi.
"Iya!"
"Lha itu kenapa rambut di ketek dinamain bulu ketek? Atau bulu hidung? Juga bulu mata? Kenapa gak rambut ketek, rambut hidung, atau rambut mata?" Tanya ku beruntun.
__ADS_1
"...hhmm.. cerdas juga Lo ya! Gue baru ngeuh."
"Lagian, apa pentingnya sih sebuah panggilan?" Sahut ku asal.
Dan si Keong sempat diam sejenak. Sebelum akhirnya tiba-tiba bertanya.
"Gue jadi inget, kenapa sih Lo ngasih gelar gue dengan panggilan 'Keong'?" Tanya si Keong tiba-tiba.
Seketika itu juga, aku langsung menyesali mulut ku yang sok kepintaran ini. Sehingga bisa menjerumuskan ku pada pertanyaan yang baru saja ditanyakan oleh si keong.
'Mulut kamu tuh, Laa!! Sekarang mau jawab apa coba?'
"Mm..karena aku gak suka aja!"
"Maksud nya?"
"Aku paling benci sama keong!" Aku mengaku jujur.
"Kok bisa?"
"Soalnya aku punya pengalaman buruk sama keong."
"Coba ceritain!"
Aku memelototi si Keong.
'Dia bersikap macam bos saja menyuruh ku ini itu. hu uh!'
"Aku pernah gak sengaja menelan keong kecil sewaktu aku berenang di sungai dulu banget. Kejadian nya waktu aku masih SD."
"Nelen doang? Pasti langsung kamu lepeh kan?" Terka si Keong sok tahu.
"Iya sih.." ucap ku terjeda.
"Tapi aku lepeh in, sesudah aku gak sengaja gigit itu keong sampe cangkang nya pecah," ucap ku melanjutkan.
krik. krik.
Dan si Keong langsung menertawakan kesialan yang menimpa ku dulu sekali itu.
"Hahahahaha! Sial benar Lo, La! Pasti lah bau nya kecium banget!" Ucap si Keong di antara derai tawa nya.
"Iya sial banget. Dan aku mesti juga ketemu keong lagi. Kali ini keong besar. Keong nya tuh ngeselin banget! Dan bau juga! Itu kesan ke dua ku pas ketemu kamu!" Umpat ku jujur.
"Ye! Lo tuh yang bau. Kentut sembarangan!"
"Itu gak sengaja! Syuutt.. jangan berisik napa!" Omel ku ke si Keong, kala pelanggan yang duduk di meja sebelah kami memandang ku dengan wajah menahan senyum.
Aku lalu agak merunduk ke depan. Dan si Keong pun mengikuti ku. Kami berdua lalu melanjutkan percakapan dengan suara yang lebih pelan.
"Waktu itu kamu pake parfum yang bau nya nyengat banget! Aku gak suka bau nya."
"Karena itu Lo ngasih gue gelar Keong? Karena bau gue gak Lo suka doang?!" Tanya si Keong menyimpulkan.
Aku mengangguk. "Yap. Dan karena aku ngerasa eneg aja tiap kali ketemu kamu!" Aku menambahkan.
Si Keong langsung merengut. Tapi tak lama. Karena kemudian ia kembali berkata.
"Tapi sekarang udah gak eneg kan? Bukti nya Lo ketagihan waktu dicium sama keong besar ini?" Ucap Si Keong sambil menaik turunkan kedua alis nya.
__ADS_1
"Dasar mesum!" Umpat ku langsung, sambil menegakkan kembali posisi duduk ku. Menjauh dari wajah menyebalkan nya si Keong udik itu!
***