
"Jadi, sampe sekarang Inda masih belum baikan sama suami Inda?" Tanya ku perhatian.
Saat ini aku dan Inda sedang berada di gerai es krim yang ada di mall. Kami tak sengaja kembali bertemu saat aku sedang melangkah menuju toko buku. Ini adalah pertemuan kami yang ke sekian kalinya.
Tadi nya aku sudah janjian dengan Kiyano untuk cuci mata di mall. Tapi, saat kami baru juga tiba di mall, Kiyano mendapat telepon dari Ibu nya. Ternyata Ibu dan adik satu-satunya kini sudah ada di depan apartemen tempat tinggal nya untuk berkunjung.
Kunjungan ini sungguh mendadak sehingga membuat acara cuci mata kami pun jadi harus tertunda.
Kiyano menawarkan untuk mengantarkan ku kembali pulang. Namun aku menolaknya. Aku masih akan tetap melanjutkan acara cuci mata ku di mall tanpa dirinya.
Tapi sebelum pergi meninggalkan ku, Kiyano dengan sikap obsesif nya itu memberiku peringatan.
Flash back setengah jam yang lalu..
"Awas! Cuci mata nya jangan melibatkan cowok-cowok ya, La. Pokoknya kalau ada cowok yang mau pedekate in Lo, mending Lo ngaku kudisan aja deh biar itu cowok pergi!" Ucap Kiyano memperingatkan.
"Sialan, kamu, Kiy! Malah nyumpahin aku kudisan. Kenapa gak kamu aja yang ngaku ke orang-orang kalau kamu panuan. Itu panu nya ada di semua muka, tangan, kaki dan badan!" Aku balas meledek.
"Yeh! Ini sih bukan panuan, Laila ku Sayang.. kulit gue memang udah putih sedari lahir. Kalau kulit Lo sih.."
"Hayo! Jangan bahas warna kulit lagi deh! Perlu aku bilang berapa kali sih Kiy ke kamu, kalau warna kulit ku tuh eksotis nan indah. Cocok untuk wajah ku yang manis nan mempesona ini," ucap ku dengan begitu narsis nya.
Kiyano menjawil pelan hidung ku.
"Pokoknya, gue titipin hati gue ke Lo ya La. Please, jangan bikin hati gue terluka dengan lirikan mata Lo ke lelaki lainnya.." rayu Kiyano menggombal.
"Kalau abang-abang ganteng penjaga kasir yang aku lihatin gimana? Masa iya pas aku mau bayar aku ngelihatin tangan nya aja. Atau malah dada nya aja. Nanti aku bisa dikira menyimpan rasa lagi sama si dia.." aku balas mengoceh kan gombalan.
"La..i..la! Awas aja kalau Lo sampe cuci mata sama cowok lain! Atau, udah. Mending Lo ikut gue aja deh sekarang. Sekalian kenalan sama ibu dan Mita. Malah, maunya gue, udah kita lamaran aja sekarang. Atau nikah siri dulu sekalian."
Mendengar ocehan Kiyano yang terdengar mengerikan itu sontak saja membuat bulu kuduk ku berdiri.
Aku merasa tak sanggup jika harus dihadapkan pada pertemuan dengan keluarga nya Kiyano. Setidaknya, untuk saat ini aku merasa belum siap.
"Oke. Oke. Sorry. Aku tadi cuma bercanda, Kiyano ku Sayang.. bercanda aja.. aku janji, aku cuma mau melipir ke toko buku aja untuk baca komik gratisan nanti. Jadi kamu gak usah khawatir tuk nitipin hati kamu ke aku ya, Sayang.."
Sambil berucap membujuk Kiyano, aku juga menciumi punggung tangan kekasih ku itu berulang kali. Dan bujukan ku itu pun berhasil.
Akhirnya Kiyano pergi juga meninggalkan ku untuk cuci mata di mall. Sementara dia kembali pulang ke flat nya untuk menjamu ibu dan adik semata wayangnya, Mita.
Flash back selesai.
Kembali ke saat ini, di depan gerai es krim.
Inda memakan es krim nya dengan perlahan. Sebelum ia menjawab pertanyaan ku.
"Hh.. iya. Inda bingung banget nih, La. Inda masih sayang banget sama suami Inda. Tapi kayaknya dia udah mau pisah banget dari Inda," tutur Inda dengan suara lirih.
Aku menatap iba pada wanita cantik di samping ku itu.
"Memang nya alasan suami Inda ngajak pisah tuh kenapa?"
"Itu.. ada kesalahpahaman di antara kami. Dia jadi marah banget sama Inda. Dan.. sepertinya ada wanita lain yang lagi dia suka saat ini."
__ADS_1
"Berarti suami kamu selingkuh dong?!" Tanya ku berapi-api.
Aku merasa geram sekali. Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan perpisahan Papa dan Mama bertahun-tahun yang lalu. Dan itu disebabkan oleh adanya pelakor di antara hubungan mereka. Karenanya aku selalu geram jika sudah mendengar cerita tentang perselingkuhan.
"Sebenarnya dia sudah menjatuhkan talak pada Inda. Tapi hingga sekarang persidangan kami belum selesai, karena Inda yang selalu mangkir dari persidangan."
"Kenapa kamu masih mempertahankan rumah tangga mu sama cowok yang udah selingkuh, Nda? Itu nyapein hati sendiri, namanya!" Tegur ku berapi-api.
Inda sudah menghabiskan es krim di tangan nya. Dan lalu ia menolehkan wajah nya kepada ku.
Saat ditatap serius oleh Inda, entah kenapa hati ku merasakan desiran halus yang membuat ku tak nyaman.
"Karena Inda masih sayang banget sama Mas Kiyan, La. Walau awalnya Nda mau nyerah tentang pernikahan kami, tapi lalu Inda merasa gak akan sanggup jika harus berpisah dari Mas Kiyan. Dia teramat berharga bagi hidup Nda.."
"Mas Kiyan?" Aku membeo kan nama yang disebut oleh Inda dalam curhatan nya barusan.
"Iya. Mas Kiyano itu mantan suami Inda, La. Tapi kami masih sah secara hukum negara."
JEDARRR!!
Bagai tersambar kilat rasanya, aku langsung diam terpaku kala mendengar nama suami Inda.
Mencoba mencari harapan yang bisa menafikan prasangka ku terkait identitas suami Inda, aku pun kembali melontar tanya.
"Ss..siapa nama panjang.. su..suami kamu, Nda?" Tanya ku dengan tangan yang mulai mendingin.
"Kiyano Artalevi. Dia kerja di cabang perusahaan tekstil terbesar milik Ayah tiri Nda di kota ini."
JEDARRRR!!
'Tunggu dulu! bukankah nama mantan istrinya Kiyano itu Bella?'
"Na..nama panjang Inda memang nya siapa?" tanya ku kembali.
Kemudian, Inda menatap ku dengan pandangan lurus yang menembus hingga ke relung jiwa ku.
Inda seolah tahu mengapa aku menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu.
Inda seolah tahu, hubungan apa yang terjalin antara aku dan seseorang yang bernama Kiyano.
Inda seolah tahu, namun ia bersikap seolah-olah ia tak tahu.
Dan, jawaban yang keluar dari mulut Inda berikut nya langsung saja meluluhlantakkan harapan terakhir yang tersisa di hati ku.
"Nama panjang ku adalah Bellinda Hikma. Aku biasa dipanggil Inda, Hikma atau juga Bella.."
JEDARR!! DARR!! DARR!! DARR..!!
Petir ke tiga menyambar dunia ku dengan begitu dahsyat nya.
Sudah.. pupus sudah harapan ku menafikan fakta bahwa wanita di depan ku ini ternyata adalah mantan istri nya Kiyano.
Dan, jika apa yang disampaikan oleh Inda atau pun Bella benar adanya, maka itu berarti aku lah wanita yang tadi sempat ku sebut sebagai perusak dalam hubungan antara Inda dan Kiyano.
__ADS_1
Aku lah pelakor itu!
'Ya Allah!!'
Kemudian, tanpa ku sadari, aku langsung bangkit berdiri. Di saat kupikir tubuh ku telah hilang rasa, dengan terbata-bata aku pamit undur diri kepada Inda.
Aku tak sempat mendengar balasan nya.
Aku tak sempat merasakan sakit saat kaki ku terbentur tempat sampah.
Aku tak sempat mendengar suara apa pun di sekitar ku.
Karena bagi ku dunia terasa pengang saat ini jua.
'Cinta..
Cinta..
Kemana cinta membawa ku pergi..?
Telah kutitipkan rasa pada jiwa yang kupercaya
Namun nyatanya dia malah melukai..
...
Sakit..
Sakit..
Mengapa cinta ini membasuh ku dengan rasa sakit?
Kurasakan dunia ku goyah..
Dan aku pun hilang arah..
Ke mana lagi harus ku bawa langkah..?
...
Benci..
Benci..
Haruskah ku lebur cinta ku menjadi benci..?
Ku kira cinta selalu berakhir indah..
Ku kira kasih tak akan menabur perih..
Tapi pada kenyataannya cinta ku lah sumber dari segala rasa perih ini..
Tuhan, pegang jiwa ku..
__ADS_1
Jangan kau biarkan ku tersesat dan hilang arah tanpa-Mu'.
***