Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Berpisah (POV Laila)


__ADS_3

Dan, jadilah akhirnya malam itu aku kembali menangis habis-habisan.


Aku juga bertekad untuk mengemasi semua barang-barang pemberian Kiyano kepada ku. Ku bungkus semuanya dalam sebuah kotak kardus kecil dan ku tangisi setiap benda itu dengan penyesalan yang menyesakkan hati.


Hanya sebuah boneka bantal saja, satu-satunya barang pemberian Kiyano yang masih kupeluk sepanjang malam itu. Sementara semua barang yang lain sudah terkemas asal, untuk ku kembalikan ke si pemberi nya pada keesokan hari.


Esok adalah hari Minggu. Hari libur untuk hampir semua pekerja. Aku telah mengirimkan pesan singkat pada Kiyano. Ku ajak ia untuk bertemu kembali esok pagi di danau Mutiara, tempat pertama kalinya kami bertemu.


Akan ku selesaikan hubungan kami sampai tuntas. Aku tak mau berletih-letih lagi dalam mencintai seseorang yang sudah jelas-jelas menebar dusta.


Cukup sekali ini saja aku dikalahkan oleh cinta. Akan ku pastikan kalau aku tak akan lagi kalah pada cinta yang kebanyakan ku temukan begitu palsu.


Semua lelaki adalah penghianat. Papa penghianat. Erlan penghianat. Dan kini Kiyano pun juga adalah seorang penghianat. Penghianat yang benar-benar ulung!


***


Dan akhirnya, kembali lah kita ke awal bab dari cerita ini.


Kutunggu Kiyano cukup lama di depan danau Mutiara yang terlihat begitu tenang. Ketenangan yang menyimpan bahaya nya tersendiri, tanpa siapa pun menyadari nya.


Sama seperti ku saat ini. Aku menunggu Kiyano dalam diam. Dengan sebuah kotak berisi semua barang pemberian dari lelaki itu. Akan ku kembalikan semua barang ini pada nya. Karena aku tak mau berhutang. Aku tak mau menyimpan sesuatu yang bukan jadi milikku.


Seharusnya semua benda dan perhatian Kiyano padaku selama ini, ditujukannya untuk Bella. Tidak untuk wanita lain. Termasuk juga tidak untuk ku yang bukan lah siapa-siapa.


Aku tak ingin menjadi seperti rumput liar yang tumbuh mengganggu di pekarangan rumah tangga milik orang lain. Biar saja aku menjadi seperti sebatang pohon kokoh yang berdiri di atas tanah lapang milikku sendiri. Biar pun tanah nya sempit juga tak apa. Yang penting aku tak merugikan orang lain.


Menit demi menit pun berlalu, hingga Kiyano akhirnya muncul jua.Menit berikutnya aku langsung saja memutuskan hubungan kami. Namun Kiyano tak terima. Ia malah terus mengejar ku yang beranjak pergi usai ku putuskan hubungan yang tak sepatutnya terjalin ini.


"Laila! Tunggu gue! Please kasih kesempatan gue tuk ngomong, La!" Suara Kiyano terdengar masih mengejar ku yang sudah mantap meninggalkan area danau Mutiara kini.


"Gak perlu! Aku udah tahu tentang kamu dan Bella. Semuanya sudah berakhir di antara kita, Kiy!" Teriak ku masih dengan tetap setengah berlari.


"Biar gue jelasin semuanya dulu, La!" Kiyano masih tetap mengotot untuk mengejar ku.


Hingga pada suatu kesempatan, tangan ku akhirnya bisa di tangkap oleh Kiyano. Lalu sedetik kemudian, pinggang dan tubuh ku pun terkunci dalam rengkuhan erat pemuda itu.

__ADS_1


"Laila! Dengerin gue ngomong dulu! Oke, iya, gue akuin kalau gue salah udah rahasia in status pernikahan gue dan Bella dari Lo! Tapi semuanya akan berakhir hari Kamis nanti, La! Sidang putusan akhir bakal.."


Aku memotong ucapan Kiyano.


"TERLAMBAT! semuanya udah terlambat, Kiy! Aku udah terlanjur dicap sebagai pelakor di antara hubungan mu dan Bella. Dan Mama bahkan sudah mengetahui nya! Mama marah sekali padaku Kiy! Mama kecewa!" Ucap ku penuh tekanan di setiap kata yang ku ucapkan.


Ya. Semalam Mama memergoki ku menangis. Pada akhirnya mau tak mau aku pun menceritakan soal hubungan di antara aku, Kiyano, dan Bella.


"Mama kecewa banget, Kiy. Sama kamu dan juga aku. Bagaimana bisa aku berhubungan sama lelaki yang masih punya status sebagai suami wanita lain? Walau itu hanya secara hukum negara saja. Mama sendiri yang meminta ku untuk memberikan semua barang-barang ini ke kamu, Kiy," aku menjelaskan sambil terisak-isak.


"Bahkan.." lanjut ku lagi.


"Bahkan jika saja aku bisa melakukannya, aku juga akan memberikan ginjal ini kembali ke kamu, Kiy," ucap ku dengan nada tertekan.


Teringat kembali kejadian semalam tadi, saat Mama tak sengaja memergokiku menangis. Saat itulah Mama akhirnya mendengar cerita ku tentang Kiyano dan Bella. Mama juga akhirnya tahu tentang rumor yang mulai beredar di kantor, yang menyatakan diriku sebagai seorang pelakor.


Yang membuat ku terkejut adalah saat Mama akhirnya menceritakan bahwa Kiyano adalah orang yang sudah menjadi pendonor ginjal saat kemarin aku terluka parah akibat tusukan pisau oleh penjambret.


Mendengar fakta ini, aku terhenyak lemas. Makin terkikis saja rasa percaya diri ku kini saat aku mengetahui kalau ternyata aku juga berhutang ginjal pada Kiyano. Bagaimana lah aku bisa mengembalikan ginjal ini kepadanya? Apa perlu ku belah perut ku dan mengembalikan ginjal nya utuh pada pemuda itu? Jelas itu tak mungkin bisa kulakukan.


Maka jalan terakhir yang bisa kulakukan untuk menebus hutang ku pada Kiyano adalah dengan mundur teratur dari hubungan ini.


"Aku mohon, Kiy.. tolong lepasin aku. Biarkan aku pergi dari hubungan ini. Aku lelah. Aku gak mau terus dicap sebagai pelakor. Perebut kamu dari Bella, istri mu.." ucap ku kembali dalam nada lirih. Namun Kiyano kembali memotong ucapan ku.


"Siapa yang sudah menuduh Lo sebagai pelakor, La?! Bilang ke gue!" Amuk Kiyano masih dengan tetap mengurung ku dalam pelukannya.


"Percuma Kiy! Percuma kamu jelasin juga. Semua orang kantor udah ngecap aku sebagai pelakor. Dan aku ngerasa gak nyaman, Kiy!"


"Semua orang di kantor?! Tapi bagaimana bisa mereka tahu?!" Tanya Kiyano lagi kepada ku.


Menjawab pertanyaan itu, sebuah nama langsung saja muncul di benakku. Nindi..


Ya. Nindi adalah satu-satu nya orang yang ku curigai sebagai penebar rumor pelakor itu. Karena hanya kepada Nindi lah aku bercerita tentang hubungan ku dengan Kiyano dan Bella.


Terlebih juga Gina, rekan OB ku lainnya yang selama ini bersikap cuek pada ku, kemarin sore sempat memberitahu ku perihal Nindi yang mengatakan pada orang-orang bahwa aku adalah pelakor dalam hubungan Kiyano dan Bella.

__ADS_1


Pada mulanya aku tak percaya pada ucapan Gina. Karenanya semalam tadi aku juga menelpon Nindi untuk bertanya langsung kepadanya. Apakah benar dia yang sudah menyebarkan rumor pelakor di kantor?


Awalnya kupikir Nindi akan menolak tuduhan ini. Namun saat pertanyaan ku tak kunjung mendapatkan sanggahan dari Nindi, tahu lah aku kalau tuduhan itu ternyata benar adanya.


Terlebih saat Nindi mengakui perbuatannya itu kepadaku dengan nada dingin yang tak pernah ku dengar keluar dari mulutnya.


"Siapa yang sudah menyebarkan berita bohong itu, La?! Bilang ke gue!" Suara keras Kiyano kembali membawa ku ke masa kini.


Mulut ku terasa berat untuk mengatakan pada lelaki di depan ku itu tentang Nindi dan aksi penghianatan nya terhadap ku. Aku sendiri masih syok atas pengakuan Nindi semalam.


Karena ternyata Nindi menyebarkan semua berita itu atas dasar rasa iri nya terhadap ku. Ia iri atas semua hal baik yang terjadi dalam hidup ku.


Entah itu menjadi orang terdekat Kiyano, memiliki banyak teman di kantor dalam waktu yang singkat, dan yang paling membuat ku terkejut adalah kenyataan kalau Nindi sebenarnya menyukai Erlan. Tapi Erlan malah menyukai ku juga.


Karenanya Nindi mulai memupuk rasa iri dan benci kepada ku. Padahal aku sudah menganggapnya sebagai teman terdekat ku di kantor. Padahal ku pikir kami bisa menjadi bestie hingga akhir. Namun ternyata..


"Jangan diam aja, La.." suara Kiyano terdengar begitu dekat di telinga ku.


Aku akhirnya tersadar dari lamunan ku tentang Nindi tadi. Saat tersadar, wajah Kiyano sudah terpampang begitu dekat nya di depan wajah ku. Dan, hampir-hampir ia akan kembali mencium ku, tapi aku buru-buru menengok ke arah lain. Sehingga Kiyano hanya mencium sisi samping wajah ku saja.


"Lepasin aku, Kiy! Jangan buat aku semakin benci ke kamu dengan sikap memaksa mu ini!" Aku mengancam Kiyano.


Dan syukurlah. Ancaman ku agaknya berhasil. Karena sedetik kemudian, Kiyano melepaskan ku begitu saja.


Aku pun langsung melangkah mundur dengan pandangan yang masih terkunci pada sosok lelaki di depan ku itu.


"Jangan kejar aku lagi, Kiy. Biarkan aku hidup tenang. Aku gak mau terus dianggap jadi pelakor. Jadi.. kita berpisah di sini saja!" Ucap ku dengan suara lirih, sebelum akhirnya kembali berbalik dan melangkah pergi.


Di belakang ku, Kiyano tak lagi mengejar. Aku pun kian mempercepat langkah ku menjauh.


Menjauh dari Kiyano. Menjauh dari cinta ku yang baru bertumbuh namun harus ku tebas dengan begitu kejam nya.


Juga menjauh dari semua perih dan penghianatan yang ku terima dari orang-orang yang begitu ku percaya.


Entah itu Kiyano, pun jua Nindi..

__ADS_1


Ku putuskan untuk pergi dan mengalah. Dan semuanya itu kulakukan demi diri ku sendiri. Serta demi Kiyano dan juga Bella.


***


__ADS_2