
"Mark! Tunggu Mama!" Ku panggil putra pertama ku yang telah lebih dulu melangkah keluar dari dalam mobil.
"Ayo cepat, Ma! Nila pasti udah gak sabar lihat sekolah nya!" Ujar Mark dengan pelafalan yang telah sempurna.
Ku lihat Nila, yang digandeng oleh Mark di samping nya. Putri ke dua ku itu tampak tersenyum senang menatap gedung TK yang sesaat lagi akan menjadi tempat nya menimba ilmu.
Mark Ishtar dan Lanila Ishtar, adalah kedua dede utun yang telah kulahirkan susah payah sekitar enam tahun lalu, tanpa didampingi oleh Erlan ku.
Untuk sesaat, sesuatu dalam hati ku serasa dicubit. Ini adalah hal yang biasa terjadi setiap kali aku mengingat sosok Erlan.
Enam tahun sudah berlalu. Sementara sedikit bagian dalam hati ku serasa tertinggal di masa lalu. Ikut terpendam bersama Erlan di pekuburan belakang rumah Mama Ilmaya. Bersama jasad Erlan, yang kemungkinan kini telah berubah menjadi kerangka.
Tapi bagaimana pun juga itu adalah masa lalu. Aku telah melalui banyak hal selama enam tahun ini. Dan banyak hal yang terjadi, telah merubah beberapa hal dalam diri ku.
Aku bukan lagi si Laila yang ceria dan senang bercanda. Aku bukan lagi si Laila yang bermanja-manja.
Kepergian Erlan nyatanya telah menyadarkan ku pada satu fakta tentang kehidupan ini. Bahwasanya setiap diri kita, pada akhirnya akan terkubur seorang diri.
Aku pun akhirnya berhasil menempa diri ku hingga menjadi lebih mandiri. Aku memiliki usaha sendiri kini. Sebuah butik yang kurilis dengan bantuan seorang kawan lama ku Stephen.
Usaha ini baru kurintis sejak empat tahun lalu. Saat Mark dan juga Nila genap dua tahun. Sebelum-sebelum nya aku bertahan hidup dari profit yang didapat dari saham Erlan di perusahaan.
Saat Erlan tiada, Arline memutuskan untuk mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan oleh almarhum. Kebetulan ia juga memiliki basic bisnis juga selain gelar dokter forensik yang jadi pilihan hati nya.
Meski begitu, Arline tetap menyisihkan setiap persen pembagian hasil yang menjadi hak Erlan setiap bulannya ke rekening ku. Jumlah nya terbilang banyak, bila dibanding dengan pengeluaran hemat yang diatur oleh Mama Mutia selagi masa pemulihan psikis ku.
Saat Mark dan Nila berusia 2 tahun itu lah aku bertemu dengan Stephen, kenalan lama ku di supermarket dulu. Ia mengajak ku bekerja sama membuka butik. Dengan ia sebagai CEO nya. Sementara aku sebagai investor nya.
Berbekal kepercayaan dan nekat ingin mulai mandiri, akhirnya aku mengikuti ajakan Stephen. Dan akhirnya lahir lah butik La Luna. Butik hasil kerja sama kami berdua.
__ADS_1
Dalam dua tahun pertama berdiri nya butik, kami masih harus membenahi banyak hal. Entah itu bagian pengelolaan, dan hal terkait lainnya.
Baru pada tahun ketiga lah butik La Luna akhirnya mampu berjejer di antara 15 butik terkenal di Indonesia. Dan kini, aku bisa menghidupi keluarga kecil ku hanya dari profit butik La Luna ku saja. Sementara uang devide yang selalu dikirimkan oleh Arline selalu ku tabung dan bagi dua ke rekening Mark dan juga Nila.
Kembali ke saat ini. Hari pertama bagi Nila ku bersekolah. Mark dan Nila sebenarnya hanya beda lima menit saja saat keduanya terlahir secara cessar 6 tahun lalu.
Aku ingat, saat baru dilahirkan, Nila memiliki masalah dengan jantung nya, sehingga ia harus di inkubasi terlebih dulu selama beberapa hari. Sementara Mark terlahir sebagai bayi yang sangat sehat.
Mark terlahir dengan Bb 3,0 kg. Sementara Nila hanya mencapai 2,2 kg saat ia terlahir.
Kondisi ini menurut Dr. Ira memang biasa terjadi dalam kelahiran bayi kembar beda jenis kelamin. Umumnya bayi laki-laki cenderung lebih sehat dibanding bayi perempuan. Entah oleh alasan apa.
Yang jelas, selama awal masa hidup Nila di dunia ini, ia banyak sekali membutuhkan perhatian lebih dari alat-alat kesehatan. Bahkan hingga usianya menjejak lima tahun.
Ketika aku memasukkan Mark ke sekolah TK, Nila masih harus sering check up ke rumah sakit karena ada masalah dengan Jantung nya lagi.
Mark adalah anak lelaki pendiam namun sangat aktif. Ia selalu terlihat mengotak-atik sesuatu. Entah itu bongkar pasang mainan lego, balok, atau juga membantu paman nya, Darman merakit sepeda motor.
Hampir setiap kompetisi yang diikuti oleh Darman selalu berhasil membuatnya menyabet juara, entah juara satu atau pun juara dua.
Dan sepertinya, Mark pun ingin mengikuti jejak paman muda nya itu.
Sementara Mark tumbuh sehat dan aktif, Nila memiliki nasib yang berbeda.
Di saat Mark sekolah TK pada usia lima tahun, Nila harus sabar home schooling di rumah. Ia pun memiliki tingkat intelegensia yang tak secerdas Mark. Meski begitu, ada satu hal yang paling menawan dalam diri putri kecil ku. Yaitu kemampuannya untuk membuat semua yang mengenal nya langsung jatuh hati kepadanya. Hanya dengan senyuman nya yang sangat manis.
Nila tumbuh menjadi anak perempuan yang ceria dan juga ceriwis, meski tubuh nya sering sakit-sakitan. Seringkali celotehan Nila membuat kami yang mendengar nya tergelak dalam tawa canda.
Nila pula yang menjadi pemersatu dalam keluarga besar kami jika terjadi suatu perselisihan. Dan yang paling membuat ku amat menyayangi putri ku ini adalah, ketabahan Nila di saat penyakit nya kembali kambuh.
__ADS_1
"Mama, ayo! Nila lihat ada selunculan di sana!" Ucap Nila dengan pelafalan yang masih cadel.
"Iya! Sebentar, Sayang!" Ucap ku sambil menutup pintu mobil.
Ku benahi sedikit bagian atas kerudung ku yang terasa miring. Kemudian aku mendekati Mark dan Nila yang sedang berdiri di dekat sebuah seluncuran.
"Nila boleh naik, Ma?" Pinta Nila dengan mata penuh harap.
Ku amati mainan seluncuran yang tinggi nya tak lebih dari ku itu. Dan kurasa, Nila akan cukup aman bermain di sana. Namun..
"Nila masuk dulu ke kelas yuk? Nanti Bu Guru nya nyariin Nila, gimana coba?"
"Bu gulu? Oh ya! Nila belum salim sama bu gulu ya, Ma?"
Nila menatap ku ceria. Wajah nya adalah kopian 80 persen dari wajah ku semasa kecil. Namun untuk kepribadiannya, aku lebih sering melihat sosok Erlan dalam sikap dan kepribadian Nila.
"Nila masuk kelas sekarang ya. Kakak juga mau pergi ke sekolah sekarang," ujar Mark di samping Nila.
Kini Nila menghadap ke kakak nya.
"Ka Mak makasih yaa udah antelin Nila. Ka Mak juga hati hati di jalan," ucap Nila.
"Iya. Ma, Mark ke sekolah ya," ujar Mark meminta ijin.
Mark sekolah satu tingkat lebih atas dari Nila. Ia kini kelas 1 SD di gedung yang letak nya ada di samping TK nya Nila.
"Iya. Hati-hati ya, Nak.."
Ku lepas Mark yang kini melangkah sendirian menuju gedung SD di samping. Meski pun begitu, untuk beberapa saat sudut mata ku masih memperhatikan Mark yang mulai menjauh.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, aku pun mengantarkan Nila menuju kelas pertama nya hari ini.
***