Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Dilarang Menaiki Merry (POV Laila)


__ADS_3

Rencana nya, pernikahan ku dan Erlan akan digelar dua bulan mendatang. Waktu yang teramat cepat menurut ku, namun terasa lama bagi Erlan.


Menghadapi hari itu, aku mulai dilanda syndrome menjelang pernikahan. Aku semakin marah-marah tak jelas, cemas berlebih, dan juga mengemil cemilan yang tak kenal batas.


Menurut Arline, itu adalah hal yang wajar dialami oleh setiap calon pengantin. Karena dulu ia pun seperti itu. Kata nya perlahan Syndrome itu akan menghilang dengan sendiri nya, begitu acara pernikahan sudah selesai.


Mendnegar penuturan Arline itu aku langsung merasa kesal dan tak sabar. Tak sabar jika aku harus menunggu selama kurang dari dua bulan lagi untuk bisa kembali menjadi diri ku yang normal.


Syukurlah Erlan seorang yang penyabar. Sehingga ia tak terpancing oleh sikap-sikap ku yang kelewat absurd. Aku menduga jika ia mungkin sudah menerima wejangan-wejangan tertentu dari Arline.


Karena aku sering kali tak sengaja mendengar kedua saudara kembar itu membincangkan sesuatu dan menyebut nama ku. Namun saat aku bertanya, apa yang sedang mereka bincangkan, kedua nya selalu saja berkilah dan mengalihkan perhatian.


Kalau menurut Nunik, di masa menjelang pernikahan seseorang, pasti akan selalu ada setan yang berusaha untuk menggoda nya, sehingga entah rencana pernikahan itu akan batal dilangsungkan, atau mungkin dua keluarga jadi sibuk bertikaian.


Duh. Na'udzubillah deh ya. Aku pun mengikuti saran Nunik untuk sering-sering beristighfar setiap kali aku merasa kesal dan mengomeli Erlan. Khawatir jika amarah ku itu adalah hasil dari tipu daya syaitan.


Seperti saat ini. Aku lagi-lagi dibuat kesal oleh Erlan yang kembali terlambat menjemput ku pulang.


Padahal Erlan sudah menjelaskan kalau ada kecelakaan di jalan yang dilewatinya tadi. Sehingga menimbulkan kemacetan yang cukup panjang. Tapi tetap saja aku tak bisa menahan diri dari berdiam diri sepanjang perjalanan pulang kami.


Akhir-akhir ini, jika kesal, aku cenderung lebih memilih untuk diam dari pada marah-marah mengomel tak karuan.


Sebelum sampai ke depan gang yang menuju rumah ku, Erlan terlebih dulu menghentikan mobil nya di jalan yang sepi orang. Ia lalu menghadap kepadaku dan mengucapkan kalimat maaf nya yang ke sekian kali nya kepada ku.


"Laila, Sayang.. jangan marah diam lama-lama dong. Dari pada kamu diam begini, aku mah lebih memilih kamu ngomel-ngomelin aku, Yang. Seenggak nya aku jadi tahu kamu marah karena apa. Dan aku juga enak ngajak ngobrol kamu nya," bujuk Erlan kepada ku.


Aku masih menyilangkan tangan di depan dada. Dengan pandangan mata ke samping, melihat keluar jendela mobil di bagian sisi ku berada.

__ADS_1


Aku masih terdiam. Mengacuhkan Erlan.


"Kalau kamu diam gini, aku kan jadi bingung kamu mau nya apa, Yang. Sayang banget aku gak punya kekuatan pembaca pikiran. Kalau aku punya, pastilah aku gak akan sepusing ini ya?" Seloroh Erlan asal bicara.


"Hmphh! Ngomong apa sih kamu, Lan?" Aku tak bisa menahan diri dari menertawakan kekonyolan ucapan Erlan barusan.


Saat melihat ku yang sudah bisa tersenyum lagi, Erlan pun terlihat menghela napas lega.


"Hhh.. syukurlah kamu akhirnya bicara juga, Yang. Ku pikir aku perlu waktu seharian penuh untuk membuka lakban di mulut kamu itu tuh!" Imbuh Erlan kembali.


Mendengar kalimatnya itu, aku langsung memasang kembali ekspresi kesal. Dan kemudian lanjut mengomeli Erlan panjang kali lebar.


"Maka nya, kubilang juga apa! Udah, jangan jemput-jemput aku lagi deh, Lan. Toh aku kerja cuma sampai kita menikah aja. Setelah nikah kah aku udah setuju dengan permintaan mu itu untuk stay at home as your sweet wife (tinggal di rumah sebagai istrimu yang manis). Jadi biarin lah aku naik si Merry ku selama sisa masa kerja ku ini!" Ungkap ku jujur pada akhirnya.


Memang, topik tentang aku berhenti bekerja ini telah kami bahas bersama di beberapa kesempatan yang lalu. Dan aku pun mengalah untuk mengikuti kemauannya Erlan dan keluarga nya. Agar aku tak usah lagi bekerja dan fokus menjadi istri yang manis bagi Erlan di rumah.


Walau pun hingga kini aku masih membayangkan apa yang akan kulakukan begitu aku tak lagi bekerja nanti. Apa kah aku akan kembali sibuk bermain game cacing, seperti saat aku pengangguran dulu? haha!


Tapi Erlan menyanggah dugaan ke dua ku itu. Karena ia sudah menyiapkan dua orang asisten rumah tangga yang akan membantu ku mengerjakan semua kerjaan domestik di rumah. Ya mencuci, dan membersihkan rumah.


Intinya, menurut Erlan, aku hanya perlu memantau kerja mereka saja. Dan menyambut kepulangan Erlan dengan penampilan yang manis dan wangi. Begitu persis nya kata Erlan.


Saat mendengar sanggahannya Erlan itu, aku langsung saja menyahut, "aku kan sudah manis, Lan. Apalagi wangi. Enggak mandi pun aku tetap selalu wangi kok!" Ucap ku dengan bangga. Yang langsung ditertawakan oleh Erlan seketika.


"Hahaha.. ketahuan banget sih kamu, Yang. Pasti sering banget ya kamu gak mandi dan semprot semprotin perfume biar senantiasa wangi!" Erlan meledek. Dan langsung ku jawil kembali lengan nya itu.


Meski begitu, di antara semua dugaan ku tentang kegiatan ku setelah menikah nanti, ada satu dugaan yang membuat ku bergidik ngeri. Itu adalah rencana Mama Ilmaya yang akan memasukkan ku ke dalam grup arisan ibu-ibu yang diikutinya selama ini.

__ADS_1


Duh! Alamak. Semoga saja sangkaan ku itu salah. Aku tak bisa membayangkan jika aku harus duduk diam mendengarkan para ibu-ibu bergosip ria membincangkan aib banyak orang lain di saat mereka melakukan kegiatan berjudul "arisan kompleks" itu.


'Dih! Masih lebih baik aku dimasukkan ke kursus menyanyi deh! Walau aku sudah tahu dengan kegagalan yang pasti akan ku terima di akhir kursus ku nanti nya. Karena aku sudah terlahir sebagai si tone deaf. Buta nada.'


Kembali ke saat ini, di saat aku masih merajuk karena Erlan yang datang terlambat menjemput ku. Kami masih membahas soal keinginan ku untuk berangkat dan pulang kerja sendiri dengan menaiki si Merry.


"Kamu tuh kalau naik motor kayak orang kesetanan aja, Yang. Bikin aku was was!" Ungkap Erlan dengan jujur.


"Kesetanan gimana sih? Lha wong aku bawa nya pelan-pelan!" Aku menyanggah pernyataan Erlan barusan.


"100 km/jam itu cepat, La! Siapapun juga bakal bilang kalau kecepatan segitu tuh namanya ngebut!" Omel Erlan dengan nada sedikit meninggi.


Aku tertegun sejenak saat menghadapi Erlan yang marah. Karena selama kami bersama, Erlan hampir tak pernah marah. Hanya dua kali saja ia pernah marah kepada ku. Yaitu soal si Merry, dan juga saat dulu aku memutus kan hubungan kami secara sepihak.


Karenanya, menghadapi Erlan yang marah seperti sekarang ini, membuat ku merasakan gentar juga.


Aku pun mencoba bernegosiasi dengan nada suara yang lebih lembut.


"Biasanya aku cuma sampai 80km/jam aja kok, Lan naik motor nya."


"Tapi waktu itu! Waktu aku ikut membonceng di belakang mu, La. Kamu bahkan nembus sampai kecepatan 110 km/jam lho!" Erlan mengingatkan ku pada satu perjalanan kami menuju puncak dulu.


"Tapi kan waktu itu jalanan nya lurus dan lagi sepi. Jadi ya kupikir ngebut sedikit kan gak apa-apa, Lan.." aku kembali mengutarakan pembelaan.


"Tetap saja itu berbahaya, La. Aku gak suka kamu dalam bahaya. Poko nya, aku akan terus jemput kamu ke manapun kamu mau mau pergi. Cuma aku satu-satu nya ojek kamu yang setia dan akan menjaga kamu dari semua bahaya, La!"


"Dih! sok roman!" Aku mendengus kesal saat menyadari kalau perbincangan ini tak akan membawa kemenangan bagi ku.

__ADS_1


Akhirnya ku putuskan untuk kembali memandang keluar jendela. Biar saja Erlan mengetahui kalau aku kesal pada nya. Dia memang sungguh tak punya perasaan!


***


__ADS_2