
"Tunjukkan diri mu sekarang juga, penyusup! Aku tahu, kamu masih ada di ruangan ini. Kamu juga sepertinya yang sudah memadamkan listrik, bukan?" Ucap Azki kembali dalam gelap nya ruangan.
Aku masih terdiam. Menunggu aksi berikutnya dari bantuan yang telah datang. Mungkin Laila juga sedang menunggu di luar sana. Memikirkan wajah manis wanita itu, seketika hati ku jadi menghangat.
Aku tak menyangka kalau aku akan kembali bertemu dengan Laila lagi. Setelah perpisahan kami bertahun-tahun yang lalu, ku pikir aku tak akan pernah bertemu dengan Laila lagi.
Saat itu, aku telah menyerahkan Laila pada Erlan. Dan aku yakin, Erlan pasti akan memastikan kebahagiaan Laila ku. Ah.. tidak. Dia bukan lagi milikku. Laila kini telah menjadi milik Erlan.
Hati ku lagi-lagi merasa tercubit saat menyadari satu fakta ini. Meskipun aku telah menyerah atas perasaan ku terhadap Laila, bahkan aku juga melanjutkan hidup ku kembali bersama Bella. Namun aku tetap tak bisa menghapus perasaan ini dengan begitu saja.
Bahkan hingga saat ini, hati ku masih saja berdebur kencang setiap kali mata kami bertemu.
Aku masih mencintai Laila, meskipun bentuk cinta ku tak lagi seperti dulu kala..
Banyak hal telah terjadi selama tujuh tahun kami berpisah.
Flash back
Enam tahun yang lalu, aku dan Bella akhirnya kembali rujuk. Rujuk yang sebenar-benarnya rujuk.
Ku putuskan untuk memaafkan kesalahan Bella. Dan melanjutkan kembali hubungan kami sebagai suami istri.
Aku menyertai Bella di masa-masa ia terbaring sakit. Hingga saat dokter menyatakan ada perkembangan baik yang ditunjukkan oleh Bella, aku pun ikut berbahagia bersama nya.
Kami lalu mengunjungi sebuah panti asuhan. Dan Bella menyatakan keinginan nya untuk mengasuh seorang bayi perempuan yang baru berumur lima bulan.
Menurut Bella, bayi itu amat mirip dengan ku. Itulah alasan nya ingin mengadopsi bayi perempuan itu.
Ku ikuti keinginan Bella. Bahkan saat Bella memberinya nama Lala pun aku juga mengiyakan nya. Tadi nya aku menyarankan nama Kyla. Singkatan dari nama kami berdua, Kiyano dan Bella. Namun Bella bersikukuh untuk memberinya nama Lala. Entah untuk alasan apa.
Usai mengadopsi Lala, kesehatan Bella berangsur pulih. Meski pun kami masih harus sering menjalani kemo terapi dan transfusi beberapa kali.
Seiyanya Bella jadi lebih bersemangat menjalani hari nya dengan adanya tangis dan celotehan Lala di rumah kami. Aku pun mulai bisa menganggap Lala seperti putri ku sendiri.
Sampai satu tahun kemudian, kebahagiaan itu seolah terhenti. Manakala kondisi kesehatan Bella tiba-tiba saja menurun drastis. Ia kembali berbaring di atas pembaringan sepanjang hari.
Dan aku semakin diliputi kecemasan manakala Bella mulai lebih sering tertidur dibandingkan terbangun.
__ADS_1
Kondisi nya itu terus memburuk setiap hari nya. Hingga akhirnya Bella menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit pada suatu pagi.
Aku ingat jelas pesan terakhir Bella kepada ku pada malam sebelum nya.
"Adek minta maaf ya Mas. Untuk semua kesalahan Adek. Mohon Mas meridhoi Dede sebagai istri Mas. Adek titip Lala ya, Mas. Tolong rawat dia seperti putri kita sendiri. Adek berharap dia bisa jadi anak shalihah saat ia besar nanti.." begitu kalimat Bella kepada ku.
Aku juga masih mengingat jelas, bagaimana saat itu aku hanya bisa mengiyakan saja permintaan terakhir Bella itu. Aku tak tahu bahwa itu adalah kalimat perpisahan Bella sebelum ia menutup usia nya keesokan pagi nya.
Flashback selesai.
"Masih mau bersembunyi ya.." lamunan ku buyar saat ku dengar suara Azki kembali di kegelapan yang pekat ini.
Ku lihat sekitar ku saat ini. Dan aku tersadar kalau saat ini aku berada di rumah tempat Azki menyembunyikan kedua anak nya Laila.
Ku layangkan pandangan ku ke arah jendela. Dan batinku langsung gegap gempita begitu ku lihat pada moncong pistol yang terarah kepada Azki.
Belum lama aku merasa gembira melihat senjata di balik jendela, saat tiba-tiba saja suara desing peluru memecahkan keheningan di malam ini.
Dashing!
"Arrgh!" Ku dengar Azki menjerit kesakitan. Dan ku dengar juga suara sesuatu terjatuh. Dengan gerakan kilat aku mengintip ke arah Azki berada, dan aku bersorak saat ku sadari kalau ia tak lagi menguasai pistol di tangan nya.
Pandangan kami sempat terkunci untuk sesaat. Sebelum akhirnya pandangan kami kembali tertuju pada pistol yang kini tergeletak tak jauh dari tempat ku berada saat ini.
Aku dan Azki langsung melompat untuk mengambil pistol. Dan aku berhasil menjadi orang yang memegang pistol itu.
Tapi lalu Azki menyergap tubuh ku dan berusaha merebut pistol milik nya kembali. Kami berdua bergulat cukup sengit. Satu tangan ku yang memegang pistol ditahan oleh Azki. Sementara satu tangan ku yang bebas berusaha melepaskan diri dari cekikan tangan Azki. Posisi Azki saat itu ada di atas. Ia menimpa tubuh ku.
Saat aku mulai merasa sesak karena tak bisa bernapas, tangan ku yang tadi nya berusaha untuk melepaskan cekikan Azki, lalu memukul perut pemuda itu dengan sekuat tenaga.
Bugh. Bugh. Bugh.
Ku pukul Azki berkali-kali, hingga cekikan nya di leher ku itu terlepas.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku langsung saja menendang Azki hingga ia pun akhirnya tersungkur jatuh ke belakang.
Aku bergegas berdiri dan menodongkan pistol milik pemuda itu ke si empunya pistol.
__ADS_1
"Diam! Atau aku tak akan segan untuk menembak mu!" Aku mengancam Azki.
Azki menatap ku benci sambil memegangi perut nya yang habis ku tinju berkali-kali.
"Ternyata kau, rupa nya! Kupikir tadi kau adalah Darman. Adik nya Laila," ucap Azki sambil terengah-engah.
Aku pun terengah-engah kecapekan usai bergulat dengan Azki sesaat tadi.
Belum sempat aku menyahut ucapan Azki saat tim polisi bergegas merangsek masuk ke dalam rumah.
"Angkat tangan ke atas! Anda telah dikepung!" Teriak salah seorang polisi yang tampaknya adalah pemimpin dadi rombongan polisi itu.
"Terimakasih saudara Kiyano, atas bantuan Anda yang sangat berharga! Sisanya, serahkan kepada kami untuk mengamankan tersangka ini," imbuh sang pemimpin polisi itu kepada ku.
Aku menyerahkan pistol yang ku pegang pada Pak polisi itu sambil berkata.
"Ini adalah pistol milik nya, Pak. Tadi saya berhasil merebut nya," ucap ku menjelaskan.
"Baik. Akan kami simpan barang bukti senjata ini. Sebaik nya Tuan menunggu di luar terlebih dulu."
"Tapi anak-anak ada di atas.." ucap Kiyano mengingatkan.
"Ya. Kami tahu itu. Ada pasukan lain yang sedang menuju tempat para sandera. Tunggu sebentar!"
Untuk sesaat, pemimpin polisi itu mendengarkan sesuatu melalui earphone yang ia kenakan. Dan aku menangkap gelagat menghawatirkan pada raut polisi itu.
Sang polisi lalu menatap tajam kepada Azki, yang sedari tadi masih saja duduk di lantai. Ku lihat sebuah seringai menghiasi wajah Azki.
"Kamu memakaikan bom rompi kepada anak-anak?!" Kecam sang polisi kepada Azki.
Aku terkejut saat mendengar ucapan polisi itu.
Lebih terkejut lagi manakala ku lihat Azki mengeluarkan sesuatu dari kantong nya. Sebuah remote kecil.
"Hebat bukan? Dengan begini, kalian tak akan bisa membawa anak-anak pergi jauh dari ku. Karena jika kalian berani membawanya pergi menjauh, aku tak akan segan-segan untuk menekan tombol ini. Dan..DUarr! Pastilah kita semua nya akan mati bersama. Hahahahaha!!"
Aku bergidik ngeri saat melihat kekejaman melintas di wajah Azki. Sungguh tak menyangka kalau lelaki di depan ku itu ternyata bisa sekejam ini.
__ADS_1
***