
Seminggu berlalu sudah sejak hari Oma Ruth ditemukan wafat dalam kamar nya.
Hampir seminggu pula aku berada di rumah, kini. Pekerjaan ku menjadi care taker nya Oma pun berakhir sejak Oma wafat.
Mama Ilmaya sebenarnya menawari ku pekerjaan menjadi sekretaris Erlan di perusahaan nya. Namun aku merasa tak memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjadi seorang sekretaris. Karena status pendidikan ku hanya lah tamatan SMA saja.
Erlan kini menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) di perusahaan Tuan Gilberth. Ia menggantikan posisi Papa nya sejak ia kembali pulang ke rumah, sekitar enam bulan yang lalu.
Selama satu minggu ini, Erlan selalu berkunjung ke rumah ku sepulangnya ia dari bekerja. Katanya sih ia rindu karena sudah terbiasa melihat ku setiap hari. Namun aku tak mempercayai alasannya itu sepenuh nya.
"Gak usah ngegombal deh, Lan! Kamu tuh tiap hari ke sini cuma mau ngabisin gorengan buatan ku kan?" Ku tuduh Erlan yang sedang menghabiskan gorengan tahu isi buatan ku.
"Mmm.. enggak La. Aku tuh beneran kok kangen sama kamu!" Erlan berkilah.
"Iya. Tapi sambil ngabisin gorengan ku juga kan?"
Erlan menyengir, dan akhirnya mengakui tuduhan ku juga.
"Kamu pinter banget sih bikin gorengan, Sayang. Rasanya lebih enak daripada yang biasa dijual di kaki lima," Erlan memuji.
"Ya iya lah! Laila gitu loh. Gorengan tahu nya kan isiannya super. Pake cacahan daging ayam yang dibumbui cabe dengan campuran kentang. Ini tuh tahu isi premium loh, Lan.." aku berbangga diri.
"Iya, Sayang.. ini kalau dijual mestilah laku. Makan lima juga udah kenyang ini sih!" Ucap Erlan kembali memuji.
Aku hanya tersenyum dan tak menanggapi ucapan Erlan lagi.
Setelah tahu isi di piring telah habis, Erlan kembali melanjutkan pembicaraan.
"Jadi, kamu beneran nih gak mau nerima tawaran pekerjaan jadi sekretaris ku, La?" Tanya Erlan tiba-tiba.
"Enggak, Lan. Aku gak mau pake jalur nepotisme ah tuk bisa masuk kerja ke perusahaan mu. Tapi mungkin ada baiknya juga kalau aku gak kerja di tempat yang sama dengan mu deh, Lan!"
"Lho kok gitu sih?!" Protes Erlan tak setuju.
"Soalnya, punya hubungan sama rekan kerja tuh ribet! Apalagi kalau semisal kita putus nanti, mestilah ujung-ujungnya nanti aku harus pindah kerja lagi kan?"
"Haish.. Laila.. jangan bilang putus putusan lah! Kita baru juga pacaran dua mingguan.." protes Erlan kembali.
"Lha, kan kita bicara kemungkinan, kan, Lan? Kita harus selalu siap sedia payung sebelum hujan. Selalu lihat kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Jadi ke depannya kita bisa lebih hati-hati. Iya, Kan?"
"Iya.. iya. Apapun katamu deh, Ratu ku.." seloroh Erlan sambil menaik turunkan kedua alis nya.
Setelah beberapa lama...
"La.. hari Sabtu nanti, kita nge date yuk!" Ajak Erlan tiba-tiba.
"Nge date? Ke mana?"
"Ke mana aja mau nya kamu deh, Sayang.. aku siap jadi ojeg nya.."
"Kok ojeg sih? Memangnya gak naik mobil?"
"Enggak, ah. Kayaknya kalau naik motor lebih seru. Kasihan juga itu si Cai-Cai lama udah gak dipake jalan," seru Erlan.
Cai-cai adalah nama baru nya moge kesayangan Erlan. Tadi nya nama nya adalah Bob. Tapi aku memaksanya berganti nama menjadi Cai-Cai. Singkatan dari Cabe Ijo.
"Oke. Kamu aja deh yang tentuin pergi ke mana nya!" Aku memutuskan.
"Serius?"
__ADS_1
"Iya. Lagi malas mikir nih. Kelamaan di rumah udah buat otak ku agak berjamur. Kayaknya aku memang perlu banget refreshing deh."
"Oke.. hmm.." Erlan terlihat berpikir sejenak.
"Kita ke pantai aja gimana?" Usul Erlan beberapa saat kemudian.
"Pantai? Pantai pelangi?" Tanya ku memastikan.
"Iya. Itu kan tempat momen nya kita berdua juga La.. di sana itu pertama kali nya aku bisa cium kening kamu.. ingat kan sama acara pesta anak-anak OB waktu itu?"
Aku mengingat-ingat malam itu. Dan ya. Aku jelas mengingat saat Erlan menjalankan aksi dare nya yang diminta Theo mencium salah satu wanita di sana. Dan wanita yang (tidak) beruntung itu adalah aku.
"Err.. Jangan ah! Sekarang lagi musim hujan. Nanti yang ada, kita malah terjebak lumpur pasir di pantai nya, lagi!" Tolak ku kemudian.
"Oh.. iya ya. Kalau gitu, kita ke taman bermain nya aja gimana La?" Usul Erlan kembali.
"Ke Taman bermain? Kamu mau ngajakin aku naik bianglala ya? Enggak ah. Aku takut ketinggian!" Tolak ku lagi.
"Ya gak usah naik bianglala juga, La.. walau aku sih pingin juga naikin Laila.. eh, adaw!"
Ku cubit Erlan dan mulut ngeres nya itu.
"Pokoknya enggak! Ganti tempat lain!" Aku memberikan titah.
"Ke Mall?"
"Gak mau. Aku lagi gak kerja begini malah kamu ajakin ke mall? Yang benar aja lah, Lan!" Dumel ku kepada Erlan.
"Lha, biar kata kamu lagi pengangguran, bukannya uang pesangon mu lumayan besar, La? Memang nya gaji dari Mama kemarin gak cukup besar menurut mu?"
Ditanya soal uang pesangon ku dari menjaga Omah Ruth, aku langsung menyengir lebar dan malu.
"Besar kok.. besar. Tapi uang itu kan sudah ku investasi kan jadi emas digital. Jadi gak bisa lah kupakai tuk foya-foya!" Kilah ku beralasan.
"Haishh.. kita ke mall juga gak harus belanja kan La. Kita bisa pergi ke bioskop nya," Erlan memberikan alasan yang lain.
"Bioskop? Hii.. enggak ah! Aku jadi ingat kata Nunik. Katanya salah satu media penyebaran virus HIV tuh lewat bioskop loh, Lan!"
"Hah?! Masa iya?!" Erlan terlihat terkejut.
"Iya! Kata Nunik sih. Dia pernah baca-baca di forum medsos kayak kaskas, link in, dan apa lagi gitu. Jadi ada beberapa pengidap HIV yang tidak bertanggung jawab dan merasa dendam sama orang-orang karena sudah menjauhi dia yang sakit HIV. Terus mereka menaruh jarum yang sudah terpapar cairan darah mereka yang terinfeksi HIV di kursi-kursi bioskop."
"Yang benar, La?"
"Gak tahu juga sih benar enggak nya. Aku kan kata Nunik. Dan Nunik juga baca dari obrolan medsos aja. Tapi gak ada salahnya juga kan kalau kita lebih berhati-hati, Lan?"
"Itu berarti cuma rumor doang kan La.. hati-hati loh sama rumor. Kan itu bisa berarti benar atau enggak. Jangan sampai salah menganggap hoaks jadi berita benar loh La. bahaya banget itu!" Erlan menegur.
Aku kembali menyengir malu.
"Iya. iya. aku salah. tapi aku sih memang malas banget ke bioskop, Lan. sayang duit nya. gocap cuma buat nonton 2 jam? masih mending buat beli kuota. Bisa bebas nonton film apa aja di hp. Iya kan?" tutur ku tak mau kalah.
"Iya juga sih.. Duh. Sayang banget! Padahal aku udah ngebayangin kita lihat film horor terus kamu yang ketakutan malah peluk-pelukin tangan ku gitu, La! Hah.. gagal deh romantis-romantisan sama kamu.." Ungkap Erlan dengan jujur.
Aku langsung memandangi Erlan dan imajinasi nya yang kembali ngeres itu.
"Ganti tempat, ah!" Titah ku kembali keluar.
"Ke mana lagi ya.. oh! Ke kebun binatang?"
__ADS_1
"Mau nemuin siapa? Sahabat sejati mu tinggal di sana kah?" Balas ku menggoda Erlan.
"Sialan, kamu La! Oke. Ke.. taman bunga?"
"Dih.. malas banget kalau jalan-jalan cuma lihatin bunga-bunga doang! Kayak gak ada kerjaan lain aja!" lagi-lagi aku menolak usulan Erlan.
"Terus kamu maunya ke mana, La? Dari tadi usulan ku kamu tolak terus. Aku kan kehabisan ide jadi nya! Apa kamu mau ke rumah sakit?" Tanya Erlan dengan mendumel.
"Ngapain nge date ke rumah sakit?! Memang nya kamu mau jengukin orang sakit?" Lagi-lagi aku menolak usulan Erlan.
"Aku mau ngajak berobat kamu, La! Pingin ngecek kewarasan kamu gituh. Adaw!"
Aku kembali mencubit lengan Erlan cukup keras. Kurang ajar benar memang mulut kekasih ku ini.
"Kamu bilang aku gak waras hah? Kalau gitu, kamu jauh lebih gak waras karena udah suka sama cewek yang gak waras!" Aku mengomel sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Haduh.. maaf, Laila Sayang.. bercanda.. aku cuma bercanda aja kok, Sayang. Soal nya aku udah kehabisan ide nih mau ngajak kamu ke mana lagi!"
Selama beberapa saat, aku berpikir dalam diam.
"Ya udah. Nge date di rumah aja deh! Daripada pusing-pusing mikirin mau ke mana!" Usul ku kemudian.
"Yah.. mana ada orang nge date di rumah, La? Ada juga namanya aku ngapel nih ke rumah kamu. Kayak sekarang ini nih! Ganti tempat lah!" Erlan gantian menolak usulan ku.
"Mm.. terus ke mana ya, oh! Kita hiking ke puncak gimana?!" Usul ku dengan bersemangat.
"Hiking? Maksud kamu mendaki gunung dengan jalan kaki?" Tanya Erlan memastikan.
"Iya. Aku senang banget mendaki gunung. Dan udah lama juga aku gak nge-hike!" Aku menghayal.
"Duh.. jangan deh ya, Sayang. Jantung ku gak kuat kalau diajak mendaki gunung.. kuat nya cuma buat mendaki kamu aj--aduduh! Laila.. cubitan mu kelewatan sakit banget, deh, La!" Erlan mengusap-usap lengan nya yang barusan kucubit.
"Lagian dari tadi mulut kamu ngeres melulu! Udah gini aja deh. Kita pergi mancing ke danau Mutiara! Pokoknya gak boleh nolak-nolak usulan lagi! Mumet kepala ku mikirin tempat nge date doang!" Omel ku panjang lebar.
Erlan menunduk sambil menatap ku takut-takut.
"Nggih.. Nggih.. Baginda ratu.. kulo manut (saya menurut).." seloroh nya bak abdi dalem.
Satu detik. Dua detik.
Dan pada detik yang ketiga, amarah ku pun lenyap seketika. Berganti oleh rasa geli di hati karena menertawakan sikap nya Erlan yang tampak seperti suami yang takut pada istrinya.
'Gimana kalau kami nanti menikah? Dia pastilah nanti jadi suami yang takut istri betulan! Hihihi.. eh! Barusan mikir apaan sih aku?!'
Hati ku jengah oleh pikiran liar ku yamg sempat membayangkan aku dan Erlan menikah kelak.
Erlan menatap ku bingung. Mungkin dilihatnya aku tersenyum-senyum dan panik sendiri.
"Kamu mikirin apa, sih, La?" Tanya Erlan penasaran.
Selama beberapa saat aku sempat kalang kabut memikirkan balasan untuk pertanyaan Erlan. Namun seperti biasa, lagi-lagi mulut ku mencetuskan balasan asal yang membuat ku tampak bodoh di hadapan Erlan.
"Mikirin ikan lele di danau!" Jawab ku asal.
"..."
"Di danau, mana ada ikan lele, La?" Tanya Erlan kemudian, sambil memandang ku aneh.
***
__ADS_1