
Tinininiit.. tinininiiit...
Derai tawa ku bersama Papa, Mama dan juga Erlan pun mereda, kala ku dengar suara dering ponsel ku berbunyi. Begitu kulihat nama penelpon, pikiran ku langsung saja tertuju pada sambungan telepon yang akan ku lakukan ini.
"Assalamu'alaikum, Bunda.. ada apa ya?" Tanya ku pada Bu Hajah Mariyah, Ibu nya Nunik.
"'wa'alaikum salam warohmatullah.. Laila.. Nak, alhamdulillah Nunik sudah sadar!" Ucap Bu Hajah dari seberang telepon.
"Hah?!! Beneran Bun?! Nunik benar sudah sadar?!" Ucap ku mengulangi pernyataan ibu nya Nunik.
Seketika itu juga tawa canda orang-orang di sekitar ku langsung padam. Ku sadari semuanya terfokus pada ku kini.
"Iya, Nak. Alhamdulillah.. kuasa Allah ya. Ini.. baru san Nunik nanyain Nak Laila. Jadi, bisa tolong ke sini, Nak?" Tanya Bu Hajah sependengaran ku.
"Alhamdulillah.. tapi Nunik sehat kan, Bun? Dia gak sakit apa-apa?" Tanya ku, ingin memastikan kesehatan Nunik.
"Alhamdulillah.. tadi pas dia sadar juga langsung di check up lagi sama dokter. Hasil nya bagus."
"Alhamdulillah!!" Ku tahan tangis yang hendak kembali tumpah. Sementara aku memberikan janji untuk menjenguk Nunik segera kepada Bu Hajah.
"Laila langsung ke sana sekarang ya, Bund!" Ucap ku genting.
"Nanti kalau Nak Laila sudah sampai di lobi, bel Bunda aja ya, Nak. Biar gantian Bunda yang ke bawah. Soalnya jam besuk nya sebenarnya udah tutup," saran Bu Hajah Mariyah.
"Iya, Bunda. Kalau gitu, Laila tutup telepon nya ya, Bunda. Makasih.."
"Sama-sama, Nak. Bunda yang makasih banyak ke kamu. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam warohmatullah.."
Begitu sambungan telepon terputus, aku langsung menoleh ke Erlan. Namun belum sempat aku bicara, Erlan telah terlebih dulu berkata.
"Nunik sadar. Kamu mau jenguk dia sekarang, kan?" Ucap Erlan.
"Iya. Gak apa-apa kan?" Tanya ku meminta ijin.
"Gak apa-apa. Tapi memang nya jam besuk nya masih buka?"
"Nanti gantian jaga sama Bunda. Mama dan Papa?" Aku beralih melihat ke Mama dan juga Papa.
"Kamu pergi lah lebih dulu, Nak. Mama mungkin baru akan menjenguk Nunik besok," ucap Mama Mutia.
"Hati-hati, Nsk Erlan, Laila," imbuh Papa.
"Iya. Kalau gitu Lail pergi dulu ya semua. Asalaamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam warohmatullah.."
__ADS_1
Laila dan Erlan pun berjalan pulang ke tempat mobil mereka terparkir. Saat itu waktu menunjukkan pukul setengah enam sore lewat. Hanya beberapa menit lagi ssja adzan maghrib akan berkumandang.
Erlan pun melajukan mobil nya sesegera yang ia bisa. Terlebih ketika Laila terus-menerus menyuruhnya untuk menhgebut.
"Mana bisa ngebut, Yang. Ini kan jalur nya memang lagi padat. Kamu bersabar ya. Yang penting kita pas sampai sana selamat kan," imbuh Erlan mengingatkan.
"Hh.. aku udah gak sabar untuk ketemu Nunik, Yang. Kalau boleh malah aku pingin ngomelin dia sehabis-habisa nya nanti pas ketemu!" Curhat ku jujur.
"Eh! Jangan lah, Yang! Kasihan lah Nunik nya. Kebiasaan deh suka ngomel terus.."
Kalimat terakhir Erlan tadi, diucapkannya dengan gumaman yang kelewat pelan.
"Apa kamu bilang?" Tanya ku dengan nada mengancam.
"Err.. aku barusan ngelindur. Kamu tadi bilang apa, Yang?" Tanya Erlan pura-pura tak bersalah.
'Dih. Payah. Dipikir nya aku tak mendengar ucapannya tadi!' gerutu ku dalam hati.
"Iya. Mau ku omelin aja itu Nunik. Tega-tega nya dia bikin aku khawatir kalang kabut!" Dumel ku berulang.
"Hh.. terserah kamu aja, Yang. Aku mah idem lah.."
"Idem? Maksud nya ikut kata aku?"
"Iya. Ngomong-ngomong, kita gak bawa apa-apa nih nengokin Nunik?"
"Gak usah. Ribet ah. Nanti aja besok-besok kalau kita mau jenguk lagi tuh baru bawa-bawa an deh."
Dan perjalanan kami pun lanjut dengan lancar hingga tiba di pelataran rumah sakit.
Saat kami tiba, pas sekali terdengar senandung adzan maghrib yang berkumandnag di seantero kota B.
"Kalau gitu, aku shalat dulu ya, Yang, di mushola. Nanti kalau udah selesai, bel aja. Ok?," ucap Erlan kemudian.
"Iya, Yang."
Aku lalu mengebel nomor ponsel Bu Hajah Mariyah. Baru kemudian bergantian jaga dengan ibu nya Nunik itu.
"Makasih ya, Nak, kamu udah buru-buru datang ke sini," ucap Bu Hajah.
"Iya, Bunda. Nunik nya masih melek?" Tanya ku.
"Masih. Bunda juga mau shalat dulu ya, Nak. Kamu lagi M?" Tanya Bu Hajah.
"Lail gak lagi M kok, Bun. Tapi udah. Bunda aja dulu yang shalat. Nanti gantian aja shalat nya."
"Ya sudah. Titip Nunik ya, Nak. Aryo juga tadi lagi pamit ke mushola. Jadi Nunik sendirian di atas. Mungkin setengah jam an lagi jam besuk nya baru dibuka," papar Bu Hajah.
__ADS_1
"Iya, Bunda."
Aku pun langsung menuju ke lantai 2, tempat di mana Nunik dirawat saat ini.
Sesampainya di sana..
Ku dapati Nunik sedang makan di dalam kamar inap nya.
Begitu melangkah kan kaki ke dalam ruangan, aku langsung saja meneriaki nama sahabat baik ku itu seraya setengah berlari.
"Nuniikk!!"
Ku peluk Nunik yang terburu-buru meletakkan mangkok bubur yang sedang ia makan ke atas nakas. Dan ia pun membalas pelukan ku.
"Lail.."
"Jahat! Tega kamu, Nun! Pakai acara koma-koma an segala! Bikin orang khawatir aja!" Omel ku blak-blakan kepada Nunik.
Ku rasakan tangan Nunik menepuk-nepuk ku pelan berkali-kali. Dan ketika aku tak juga mendengar suara Nunik bicara, aku pun langsung melepas pelukan ku.
Ku tatap wajah Nunik yang balas memandangi ku lekat-lekat.
"Kamu bisu atau kenapa sih, Nun? Kok diam aja sih?" Tanya ku kemudian.
Nunik terlihat menghela napas nya sejenak. Baru kemudian berkata, "hh.. cuma lagi ingat sesuatu aja. Rasa-rasa nya udah lama banget kita gak ketemu ya, il?"
"Nun? Kamu kok.. agak aneh ya. Kamu masih sakit kah?" Tanya ku jujur.
Memang, ku amati ada yang berbeda dari Nunik. Ia tampak lebih pendiam daripada sebelum nya. Lagipula, aku menangkap pandangan yang berbeda di mata Nunik terhadap ku. Seperti.. berharap?
"Gak apa-apa il. Nun udah lebih baik kok."
"Jangan bohong deh! Tapi kok kamu jadi agak pendiam gini sih?" Tanya ku masih ngotot.
Setelah beberapa waktu, baru lah akhirnya Nunik menjawab pertanyaan ku tadi.
"Setelah melahirkan, Nun gak sadar kalau Nun ternyata tidur dalam waktu yang cukup lama. Seminggu ya, il?"
"Iya! dan bukan tidur ya, Nun! Melainkan koma!" aku mengoreksi ucapan Nunik.
"Iya, koma. Padahal Nun sih ngerasa nya kayak lagi tidur aja lho, il. Cuma mungkin agak kelamaan aja ya?" ucap Nunik sambil tersenyum tipis.
"Terus?" tanya ku tak sabar.
"Terus.. dalam tidur Nun itu, Nun bermimpi. Mimpi nya terasa nyata banget, il. Tahu-tahu Nun berada di sebuah taman yang luas dan indaahhh banget. Semuanya hijau dan bening dan berkilau. Nun hampir-hampir berpikir kalau Nun lagi ada di syurga saat itu juga."
deg. deg.
__ADS_1
Entah kenapa, mendengar cerita Nunik itu bulu kuduk ku langsung saja meremang. Dalam diam, ku simak pembicaraan Nunik terkait mimpi panjang yang dialami nya itu.
***