
Kembali ke acara pertunangan Arline. Acara ini hanya dihadiri oleh dua keluarga inti dari kedua pasangan. Dengan tambahan aku sebagai plus-plus saksi pertunangan.
Aku ikut bahagia untuk Arline. Ia sudah ku anggap seperti bestie ku sendiri kini. Terlepas dari status mya sebagai majikan ku, atau pun dia sebagai adik nya Erlan, kekasih ku.
Bisa dibilang malah aku dan Arline ini seperti saudara kembar beda ayah dan ibu. Karena kami memiliki kemiripan pada banyak hal. Salah satunya adalah kami senang sekali meledek Erlan. Hahaha.
Usai acara pertunangan berakhir pada jam sembilan malam, aku pun kembali menginap di sana. Erlan juga tak pulang ke apartemen nya. Kami berdua asik mengobrol hingga larut malam, seusai aku mengantarkan Oma Ruth tidur di kamar nya.
Keesokan paginya, aku tak menyangka kalau aku akan dibangunkan oleh sebuah berita yang menggemparkan seluruh penghuni rumah itu.
Seperti biasanya, setiap pagi selalu ada pelayan yang membangunkan dan memandikan Oma Ruth. Namun, pagi ini tiba-tiba saja aku terbangun oleh gedoran pintu yang ternyata dilakukan oleh pelayan yang biasa memandikan Oma.
Dengan wajah panik, pelayan itu berkata, "Nyonya Oma tak bernapas! Nyonya Oma tak bernapas, non Laila!" Seru pelayan itu dengan sangat panik.
Kamar ku memang berada di samping kamar nya Oma. Ini kusengaja agar aku bisa lebih cepat dan dekat untuk melayani Oma Ruth.
Tapi pagi ini, aku langsung membeku bak patung saat mendengar penuturan pelayan itu. Seketika itu juga aku langsung berlari ke dalam kamar Oma. Dan di sanalah kulihat Oma terbaring diam tak bergerak. Tubuhnya begitu dingin.
Begitu ku cek, ternyata benar, Oma memang tak lagi bernspas.
Kemudian aku meraba nadi nya Oma, dan kenyataan berikutnya kian menguatkan dugaan terburukku. Karena nadi Oma pun sudah tak lagi berdetak. Pertanda bahwa Oma Ruth telah tiada kini..
Hari itu, mendung meliputi suasana rumah besar tempat ku bekerja selama setengah tahun ini. Kepergian Oma yang begitu tiba-tiba, sungguh mengejutkan kami semuanya. Terlebih kami baru saja melangsungkan acara pertungan nya Arline semalam tadi.
Tiba-tiba saja aku teringat pada percakapan ku dengan Oma Ruth di suatu sore.
Flash back.
"Oma merindukan Opung, Laila.. semalam Oma memimpikan Opung lagi. Oma takut, Oma tak bisa melihat Arline menikah. Apalagi Oma juga takut tak bisa melihat kamu dan Erlan menikah.." ucap Oma dengan wajah berkerut.
Saat itu kami sedang berada di taman. Cuaca cukup teduh sore itu, dengan semburat kemerahan sang mentari yang mulai menyebar di langit sana.
__ADS_1
Oma memandang ke kejauhan pada matahari yang hendak melarutkan dirinya dalam bayang malam. Sementara aku sibuk mengamati pantulan bunga daffodil yang berada di pinggiran kolam kecil di taman ini.
Mendengar kekhawatiran Oma itu, aku pun mencoba menghibur nya.
"Oma jangan pesimis gitu dong! Laila yakin, Oma masih bisa jadi saksi pernikahannya Arline. Kalau tentang Erlan dan Laila sih.. tergantung Erlan nya juga sih, Oma," ucap ku menggantung.
"Hh.. Oma bisa minta tolong padamu, Laila?" Mohon Oma tiba-tiba.
Aku pun langsung menyahut, "tolong apa, Oma?"
"Tolong katakan pada Arline nanti, kalau-kalau waktu Oma sudah habis.."
"Iih.. oma.. jangan bilang gitu ah!" Aku mulai merasa tak suka dengan pembicaraan kami.
"Tolong Oma, Laila. Tolong bilang ke Arline. Kalau Oma sayang Arline. Oma selalu ingin Arline tersenyum dan bahagia menatap hari-hari di depan nya. Itu adalah janji nya yang harus selalu ia tunaikan sepanjang hidup nya. Sesuai dengan arti nama nya, Arline, yang berarti ikrar/janji."
Aku mendengar penuturan Oma secara seksama. Ku anggap Oma mestilah sedang ingin banyak bicara sehingga mulai melantur pembicaraan nya ke mana-mana.
"Dan untuk Erlan.. Oma ingin sekali menitipkannya padamu, Laila.. tapi Oma melihat, hati mu saat ini masih dipenuhi oleh bayang-bayang sosok yang lain. Karena nya Oma hanya akan mengatakan kepada kamu dan juga Erlan.."
"Pergilah ke mana hati mu mengajak pergi. Bertahanlah di tempat selagi kamu tak mampu melangkah maju. Bersabarlah untuk kesempatan yang pasti akan datang kembali. Dan, terimalah apapun yang telah disiapkan takdir untuk mu. Karena semua itu adalah kesempatan menuju jalan bahagia yang telah dipersiapkan oleh Tuhan untuk mu. Jangan mengeluh. Senantiasa lah bersyukur."
Flashback off..
Penguburan jasad Oma selesai dilakukan jam 3 sore hari nya.
Aku ikut mengantarkan Oma menuju tempat peristirahatannya yang terakhir. Letaknya tak jauh. makam Oma terletak bersebelahan dengan makam Opung di halaman belakang rumah besarnya Erlan itu.
Saat prosesi penguburan dilakukan, Arline menangis kencang. Pun jua dengan Mama Ilmaya. Aku sendiri tak bisa ikut menangis. Bukan oleh sebab aku tak merasa sedih. Namun lebih karena benakku masih terlalu terkejut dengan kepergian Oma yang begitu mendadak ini.
Rumah besar pun akhirnya kembali ramai oleh sebab kedatangan para tamu yang bermaksud untuk melayat. Aku ikut menemani Arline yang melanjutkan tangis nya di dalam kamar.
__ADS_1
Aku pun mencoba menghibur Arline sebaik mungkin. Ku paksa ingatan ku mengulang kalimat penghiburan yang pernah Nunik ucapkan dulu kepada salah satu tetangga kami yang menangisi kepergian ibu nya.
"Lin, kata teman ku, namanya Nunik. Dia itu agamis deh orang nya. Aku pernah dengar dari dia. Kalau menangisi orang yang meninggal itu bisa membuat almarhum/almarhumah mendapatkan adzab loh di dalam kubur.."
Seketika, Arline berhenti menangis dan menatap ku dengan pandangan terkejut.
"Beneran, La?!"
"Iya.. tapi kalau menangis nya sambil bicara tentang mayat sih. Kalau gak salah, itu namanya niyahah. Itu haram lho hukum nya."
"Niyahah?"
"Iya Niyahah. Yaitu menangisi mayat sambil mengucapkan kalimat-kalimat yang ada dalam hati dengan suara yang keras," papar ku menerangkan.
"Jadi, nangis yang meraung-raung itu gak boleh?" Tanya Arline dengan mata yang masih sembab.
"Gak boleh. Haram. Dosa. Kasihan nanti mayatnya bisa kena azab dalam kubur."
"Kalau aku nangisnya kan gak kencang, La.. jadi boleh kan? Soalnya aku kan.. sayang banget sama Oma.. huaaa..!" Arline kembali menangis.
"Tuh.. barusan kamu ngomong kan nangis nya. Itu gak boleh lho, Lin. Kasihan Oma nanti. Walau nangis nya kamu gak terlalu kencang, tapi kamu masih ngucapin kalimat tentang rasa sedih mu kan.. menangis boleh, tapi dalam diam.."
Arline menatap ku sedih. Ia masih sesenggukan sesekali.
"Jadi aku masih boleh nangis kan, La?" Tanya Arline padaku.
"Boleh.. tapi dalam diam aja ya, Lin.. jangan ngomong apapun tentang rasa sedih mu itu.. habisin dulu aja nangis nya, baru nanti kita curhat panjang lebar tentang Oma. Oke, Lin?"
Arline mengangguk. Dan melanjutkan tangisnya kembali dalam diam. Baju ku pun sampai basah semua di bagian bahu nya, karena sebab air mata yang tumpah dari kedua matanya Arline.
Tak apa-apa. Biarlah saat ini kami masih menangisi kepergian Oma. Namun seperti yang telah Oma minta sebelum kepergiannya kepada Arline. Kalau kami akan kembali menatap hari-hari ke depannya nanti dengan senyuman dan semangat yang baru lagi.
__ADS_1
***