
Keesokan paginya..
Aku ikut sarapan bersama dengan keluarga Mama Ilmaya.
Pada awal nya aku menolak untuk makan bersama di meja dengan keluarga elit itu. Tapi karena Mama Ilmaya dan semuanya agak mendesak, aku pun akhirnya ikut makan juga.
Saat itu, Erlan masih belum muncul.
Blush..
Wajah ku terasa panas saat aku tak sengaja mengingat kembali kejadian semalam tadi. Ciuman seusai pesta antara aku dan Erlan itu pada akhirnya terjadi juga.
Aku tak bisa menjelaskan bagaimana rupa rasa ku saat ini. Aku juga tak tahu sebab nya, kenapa aku tak menolak ciuman Erlan seperti saat acara pesta di pantai bersama rekan-rekan OB dulu.
Padahal aku tak mabuk. Atau.. 'jangan-jangan saat itu Erlan lah yang sedang mabuk?' benak ku menduga-duga.
Aku begitu sibuk dengan pikiran ku sendiri sampai-sampai tak sadar dengan kemunculan Erlan. Tahu-tahu dia sudah berdiri di depan kursi yang ada di samping ku.
Aku baru menyadari keberadaan Erlan, manakala ia tiba-tiba saja mengecup singkat pucuk kepala ku di hadapan semua anggota keluarga nya.
Aku tersentak kaget. Begitu pun dengan semua orang di sekitar meja. Selama beberapa saat, suasana menjadi hening dengan fokus perhatian yang terarah kepada Erlan.
Sementara itu, yang diperhatikan malah cuek bebek duduk di kursi pilihannya, lalu mengambil nasi dan lauk ke sebuah piring kosong di hadapan nya. Sebuah nada asing disiulkan dengan cukup merdu oleh pemuda itu.
"Ecie..cie.. kayaknya, ada yang baru jadian nih!" Goda Arline yang mengedip-kedipkan mata nya ke arah ku.
Aku yang merasa sangat malu, buru-buru menunduk dan meraih piring kosong yang ada di hadapan ku. Namun, tangan ku kalah cepat. Karena Erlan tiba-tiba saja mengambil piring ku dan menukarnya dengan piring yang tadi sudah diisi makanan oleh nya.
"Yang ini aja. Sudah ku ambilkan buat mu," sahut Erlan dengan santai nya.
Tambah malu rasanya aku kini. Entah di mana urat malu lelaki di hadapan ku ini?
'Apa dia gak sadar kalau ada Mama Ilmaya, Om Gilberth dan juga Arline di meja saat ini?! Maluu banget!!!' jerit ku dalam hati.
Aku hanya bisa menerima piring sodoran Erlan dalam diam. Apalagi ketika Arline kembali menggoda ku dengan ucapan ceplas ceplos nya itu.
"Ya ampun! Para single mental deh jauh! Di sini lagi ada yang pamer kemesraan. Mama Papa juga kalah ini mah!" Seloroh Arline sambil terkikik-kikik.
"Hush! Arline! Jaga sikap mu. Kita masih ada di meja makan!" Tegur Mama Ilmaya kemudian.
Aku memberi Mama Ilmaya pandangan terima kasih. Mulut ku rasanya terkunci sejak aksi tak terduga Erlan yang mencium pucuk kepala ku tadi. Namun..
"Berarti kalau udah selesai makan, Arline boleh dong, Ma.. godain calon kakak ipar nya Arline lagi?.." tanya Arline sambil menaik turunkan kedua alis nya.
Aku jelas semakin geram saja dengan ucapan Arline tadi. Aku pun berusaha menendang kaki Arline yang memang duduk di seberang ku. Namun kaki ku hanya bisa menemukan udara kosong. Sepertinya Arline sedang menekuk kaki nya ke belakang kursi yang ia duduki. Atau entah lah.
"Yah.. boleh lah.. boleh lah.." ucap Mama Ilmaya menyahuti ucapan Arline tadi.
Langsung saja, pandangan ku terangkat ke arah Mama Ilmaya.
__ADS_1
'Bagaimana bisa Mama Ilmaya malah ikut menggoda ku seperti Arline?!' aku pun hanya bisa protes dalam diam.
Dengan wajah tak bersalah, Mama Ilmaya malah kembali berseloroh.
"Ayo dimakan makanannya ya, Sayang."
"Iya, Bu.." sahut ku singkat, masih merasa canggung.
"Lho, kok ibu sih? Panggil Mama aja ya sekarang. Kan kamu udah kayak anak Mama sendiri," bujuk Mama Ilmaya kepada ku.
Aku tak menyahut dan hanya ber humm pelan.
Lebih lanjut, Mama Ilmaya kembali bicara.
"Mama senang lihat postur badan mu yang sintal itu lho, La. Itu bagus buat masa depan kalian nanti. Mama pernah baca, kalau wanita dengan panggul yang besar lebih mudah mendapatkan anak daripada yang panggul nya lebih kecil," ucap Mama Ilmaya tanpa tedeng aling-aling.
Seketika itu juga tawa Arline kembali pecah. Sementara aku hanya bisa menatap tak percaya pada Mama Ilmaya.
Om Gilberth akhirnya menetralkan kembali suasana di sekitar meja.
"Sayang.. ini waktu nya makan. Ngobrol nya dilanjut nanti saja ya. Dan Arline, berhenti tertawa. Jaga etiket mu!" tegur Om Gilberth.
Aku memandang terima kasih pada Om Gilberth.
'Syukurlah masih ada yang cukup waras di keluarga ini..' syukur ku dalam hati.
"Lan! Udah! Ini kebanyakan tahu!" Aku protes langsung kepada Erlan.
"Tambah lagi lah La.. biar ukuran panggul mu tambah besar. Jadi kan nanti, kita gampang bikin anak nya," cerocosnya asal.
Seketika, tawa Arline kembali pecah lebih kencang. Sementara Mama Ilmaya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Nampaknya ia menyetujui pemikiran putra sulung nya itu. Sementara Om Gilberth memilih untuk mengabaikan kegilaan kedua anak beserta istri nya itu.
'Ya ampun! Bisa gak aku batalin ucapan ku semalam tadi ke Erlan?!' jerit ku dalam hati.
Flash back semalam..
Usai berciuman cukup lama, Erlan dan aku saling menatap dalam diam. Erlan kemudian membawa ku ke dalam pelukan nya dan lagi-lagi aku tak menolak pendekatan Erlan itu.
Aku malah merasa tenang menikmati debur jantung Erlan yang tak kalah cepat dengan debur jantung ku sendiri.
"Jadi, kita jadian kan, La?" Erlan bertanya.
Selama beberapa saat aku tak menyahut ucapan Erlan. Sehingga Erlan melepas pelukannya untuk bisa menatap lurus ke dalam mata ku.
"Laila, kamu mau kan nerima perasaan ku? Kamu udah tahu kalau aku tuh suka kamu sejak dulu. Dan perasaan ku masih gak berubah. I'm falling in love with you, La.. aku jatuh cinta pada mu.." lirih Erlan dengan serius nya di depan ku.
Merasa ditatap dengan begitu intens, aku akhirnya menunduk. Namun dagu ku kembali terangkat hingga pandangan kami pun kembali bertemu.
"Beri aku jawaban, La. Apapun itu akan ku terima. Kamu bisa pegang janji ku. Kalau kita akan selalu tetap berteman, walau apapun yang terjadi," Erlan mengulang janji nya.
__ADS_1
Aku balas menatap Erlan dalam-dalam. Dan bisa kurasakan kesungguhan di mata pemuda itu, atas ucapannya barusan.
Detik berikutnya, aku pun menghela napas cukup dalam, sebelum akhirnya berkata.
"Hhh.. aku gak tahu, Lan. Aku bingung sama perasaan ku sendiri. Jujur aja, aku masih merasa kangen dan perhatian sama berita tentang Kiyano. Itu berarti aku masih ada rasa kan sama dia?"
Erlan tak menyahut. Ia masih menanti ucapan ku selanjutnya.
"Tapi aku juga gak bisa jelasin. Kenapa aku gak bisa menolak.. kamu dan semua perhatian kamu. Apa itu berarti aku wanita murahan, ya, Lan?" Tanya ku merendahkan diri.
"Enggak! Jangan berpikiran begitu, La. Kamu itu wanita istimewa yang paling baik yang pernah aku temuin," puji Erlan terburu-buru.
"Sungguh? Kamu gak bohongin aku kan?"
"Yah.. paling baik sekaligus juga paling jahil sedunia, sih.. aw!"
Erlan mengaduh atas cubitan asal ku.
"Pokoknya, kamu itu wanita yang baik, La! Jadi jangan merendahkan diri mu seperti itu dong. Kayak nya itu tuh enggak kamu banget gitu loh."
"Terus aku kenapa dong? Aku malu sama kamu lho Lan. Aku tuh paling anti ngasih harapan palsu ke cowok yang suka aku. Karena nya biasanya aku selalu tegas bilang 'enggak' ke cowok yang mau pedekate in aku. Tapi kenapa ke kamu kali ini aku gak bisa nolak?" Ungkap ku jujur.
Erlan tersenyum hangat ke arah ku. Ia lalu menangkup wajah ku dengan kedua tangannya. Kemudian memberikan jawaban yang membuat ku berpikir dalam-dalam.
"Itu mungkin karena kamu mulai membuka hati kamu untuk aku, La. Itu hal yang wajar kok. Terlebih kamu juga habis ada masalah kan sama Kiyano?"
"Apa itu namanya bukan pelarian, Lan? Aku gak mau jadiin kamu pelarian ku!" Aku masih bersikeras.
"Laila Sayang. Sebut apapun perasaan yang sedang kamu rasakan saat ini terhadap ku. Pelarian atau apapun itu. Yang jelas aku akan menerimanya dengan senang hati. I love you sincerely, La. Aku tulus mencintai kamu.. Jadi, please. Bisa kan kamu kasih kesempatan untuk ku sekarang?"
Aku tak bersegera menyahut ucapan Erlan. Sehingga Erlan kembali lanjut bicara.
"Ijinkan aku mencintai mu dari dekat, La.. ijinkan aku menunjukkan pada mu kalau kita bisa menciptakan bahagia bersama-sama. Aku janji, aku akan menjaga kamu melebihi aku menjaga diri ku sendiri. Kamu akan jadi wanita nomor dua dalam hidup ku yang singkat ini, La ." Janji Erlan dengan serius.
Aku mengernyitkan dahi kala mendengar kalimat terakhir Erlan tadi.
"Yang ke dua? Terus, siapa yang pertama, Lan?" Tanya ku mulai bernada cemburu.
Erlan tersenyum dan mengecup singkat kening ku.
"Mama ku La. Walau bagaimana pun juga, Mama akan selalu jadi wanita nomor satu dalam hidup ku. Jadi, ku harap kamu mau menerima proposal cinta ku ini.. gimana La?"
Aku menghening memandangi Erlan dalam diam. Dan, untuk waktu yang tak terlalu lama juga tak tak terlalu sebentar, aku pun akhirnya memberikan jawaban ku kepada Erlan.
"Ya.. aku akan mencobanya, Lan.."
Flash back selesai.
***
__ADS_1