
"La? Laila?"
Aku terkejut saat tangan dingin nya Jessika menyentuh kulit ku. Seketika itu pula koneksi mata ku dan Erlan terputus.
Pandangan ku langsung menoleh ke arah Jessika.
"Hmm?" Tanya ku bingung.
"Kamu lihatin apa sih?" Tanya Jessika yang ikut melirik ke arah posisi Erlan berada. Dan, entah kenapa aku tak ingin membuat Jessika tahu dengan kemunculan Erlan di muka pintu. Sehingga aku pun terburu-buru menggamit lengan nya dan menarik nya ke tempat yang agak lebih banyak orang.
Pikir ku, mungkin keberadaan kami berdua akan lebih tersembunyi dari pandangan mata nya Erlan.
Setelah sampai di tempat yang lebih ramai orang, baru lah aku bisa bernapas lega. Namun detik berikut nya aku tersadar dengan apa yang kulakukan.
Kulihat Jessika yang memandangi ku dengan tatapan bingung. Pikirnya aku mestilah sangat aneh. Karena setelah sikap berjarak yang ku tunjukkan hampir sedari awal kami bertemu, tiba-tiba saja ku pupuskan dengan sikap akrab ku sesaat tadi.
Aku bahkan tak ingat dengan Arline. Dan saat kulihat, Arline ternyata ikut mengekori kami berdua ke tempat kami berada saat ini. Sementara tiga wanita rekan nya Jessika yang tadi diajak nya, tak nampak batang hidung nya.
Kutangkap pandangan jahil di wajah Arline. Dan tahulah aku, kalau Arline mestilah menyadari sikap aneh ku barusan.
Entah kenapa, aku malah jadi kesal dibuat nya.
Dengan terburu-buru, aku melepaskan genggaman ku di lengannya Jessika. Lalu dengan sikap kaku, kuambil sepotong cake strawberry dan ku berikan pada Jessika.
"Err.. ini. Makan lah!" Ucap ku dengan canggung.
Kemudian, aku mengambil cake untuk ku sendiri. Namun, baru juga aku hendak menyuap kan cake di tangan ku ituke dalam mulut, saat kudengar Jessika berucap pelan.
"Tapi Jess gak suka cake. It's just too sweet (itu terlalu manis).." ucap Jessika sambil menatap bingung pada cake pemberian ku tadi.
"Gak terlalu manis, kok. Ini kan rasa strawberry. Jadi ada rasa masam nya gitu," ucap ku menenangkan.
Jessika memandang ku dengan pandangan sedih. Dan aku dibuat heran oleh ekspresi nya itu.
Aku baru mengetahui sebab sedihnya Jessika beberapa saat kemudian. Saat Arline yang sedari tadi hanya menyengir dalam diam tiba-tiba saja berkata.
"Jessika dilarang makan kue sama Mami nya, La. Katanya itu bisa bikin body nya gemuk," tutur Arline menjelaskan.
"Kan cuma sepotong. Gak mungkin kan bisa langsung bikin perut melar?" Sahut ku kembali.
__ADS_1
Detik kemudian, Jessika lah yang menjawab pertanyaan ku.
"Tapi Mami takut kalau Jess jadi boboho lagi. Maka nya sudah lama banget Jess gak makan cake," tutur Jessika dengan pandangan sedih menatap potongan cake di tangan nya.
"Huh?" Lagi-lagi aku dibuat bingung oleh ucapan nya Jessika. Dan Arline pun kembali muncul sebagai penjelas semua nya.
"Sewaktu kami masih kecil dulu, Jessika memang punya tubuh yang agak gemuk, La. Jadi Mami Anna pun mulai nyuruh Jess untuk diet," papar Arline menjelaskan.
"Ohh.."
Selama beberapa saat, suasana kembali hening di antara percakapan ku, Arline dan juga Jessika.
Baru beberapa detik berikut nyalah Jessika kembali bicara.
"Oh ya, jadi ingat. Tadi kamu sempat bilang kalau kamu putus. Maksudnya kamu itu sekarang udah putus dari Erlan kah, La?" Tanya Jessika tiba-tiba.
Kali ini, Arline tak sempat menutupi mulut ku dari berucap. Karena jarak nya yang agak lebih jauh di depan ku.
"Iya. Aku dan Erlan memang sudah putus," ucap ku dengan santai.
Aku menangkap pandangan kesal di mata Arline. Sepertinya ia tak suka jika aku menyebarkan perihal hubungan putus ku dengan Erlan. Terutama kepada Jessika. Entah oleh sebab apa.
Pandangan ku kembali pada Jessika yang kini menatap ku dengan tatapan penuh binar.
"Err.. iya?.."
Dan, kalimat Jessika berikut nya langsung membuat ku merasa tak nyaman.
"Kalau begitu, aku bisa mengejar Erlan lagi ya, La? Kamu gak akan marah kan?" Tanya Jessika dengan senyuman cemerlang nya.
Deg. Deg.
'Mengejar Erlan? Apa maksudnya..'
"Kamu masih suka sama Erlan, Jess?" Tanya ku to the point.
Dan hatiku harap-harap cemas kala menunggu jawaban Jessika selanjut nya.
Pandangan ku juga tak sengaja menangkap ekspresi sesal di wajah Arline.
__ADS_1
"Well.. ya. Aku memang sudah menyukai Erlan sedari kecil sampai sekarang. Walau dulu dia pernah menolak bertunangan dengan ku, tapi aku tak berkecil hati. Kupikir Erlan memang masih ingin hidup bebas dan tak ingin menikah waktu itu," tutur Jessika dengan senyuman ramah.
Deg. Deg.
"..."
Aku tak menyahut apa-apa. Pandangan ku lurus menembus ke kejauhan. Entah kenapa aku juga didera oleh rasa penyelasan yang sulit tuk kujelaskan alasannya kenapa.
"Kalau begitu, aku akan memberi kabar pada semuanya ya kalau kalian berdua sudah putus. Tadi mereka mengira kalau kamu masih jadian sama Erlan. Kalau aku gak ceritakan yang sebenarnya, nanti aku bisa dianggap pelakor lagi, saat aku dan Erlan resmi jadian nanti," ucap Jessika sebelum kemudian berbalik pergi.
Di tempat ku berdiri, aku bak berubah menjadi patung yang tak mampu lagi tuk bergerak. Pikiran ku masih sibuk mencerna kalimat Jessika terakhir tadi.
Setelah beberapa lama waktu berlalu, dan aku gagal memahami ucapan Jessika. Aku pun melempar pandangan tanya kepada Arline.
"Apa maksud Jessika, dengan menceritakan pada yang lain, Line?" Tanya ku bingung.
"Ya itu dia, La. Dia bakal ceritain status hubungan mu yang udah putus dari Erlan ke setiap orang yang dikenal nya, sa-tu per-sa-tu."
"Apa?! Gak mungkin kan dia sekonyol itu!" Ucap ku tak percaya.
"Oh, Laila ku Sayang.. Jessika memang bisa sekonyol itu, La. Dulu saja dia pernah menembak Erlan di depan teman-teman SMA kami saat upacara sedang berlangsung. Kebetulan waktu itu dia jadi salah satu dari pimpinan barisan. Sementara Erlan jadi pemimpin upacara."
"Bayangin, La! Biasanya kan pimpinan pasukan kan paling teriak, 'lapor, barisan satu siap!' ya. Nah, si Jessika malah teriak gini nih. 'Lapor! Aku suka kamu, Lan! Jadi cowok ku ya?!'"
Dan aku sukses dibuat menganga oleh ceritanya Arline itu.
"Gak mungkin dia gak punya malu sampai sebegitu nya, Lin!" Ucap ku mengulang tak percaya.
"Hahh.. maka nya sedari awal aku sudah ingatkan kamu kan, La. Mending kamu menghindari Jessika aja. Soalnya dia itu punya kepribadian yang terlalu unik sampai-sampai mendekati aneh."
Kupandangi sosok Jessika yang berjalan dengan cepat menuju salah satu kerumunan wanita muda. Ia lalu terlihat mengatakan sesuatu dengan sikap yang berapi-api.
Aku langsung bisa menebak apa yang telah diucapkan oleh Jessika kepada para wanita muda itu. Karena detik berikutnya, pandangan para wanita itu langsung beralih ke arah ku. Dan aku mendapati pandangan menilai dari mata para wanita muda itu.
"Ya ampun.. dia benar-benar mau kabarin status hubungan ku dan Erlan ke orang lain ya, Lin? sekarang juga?" Tanya ku masih tak percaya.
"Iya. Kan sudah kubilang tadi. Jessika memang bisa sekonyol itu, La. Selamat ya. Kamu sudah bikin dirimu sendiri jadi bahan gosipan yang gurih buat para anak muda di acara pesta ini," ucap Arline setengah menyindir ku.
Dan aku menatap Arline dengan pandangan pasrah.
__ADS_1
'Mimpi apa aku semalam tadi. Sampai bisa ketemu makhluk seajaib Jessika ini? Ini semua gara-gara Erlan nih!' dumel ku tanpa sebab yang jelas.
***