
"Apa Lo beneran mau berhenti kerja di sini, hey?"
Pertanyaan dari Gina itu membuat ku tertegun dan menunda gigitan terakhir ku pada roti sobek yang akan ku makan.
Saat ini, aku duduk berdua dengan Gina di taman samping area pergudangan. Sudah satu minggu berlalu sejak aku putus dari Kiyano.
Rumor aku sebagai pelakor masih terus beredar di area kantor. Padahal aku tak pernah lagi menginjakkan kaki ku ke lantai tujuh, tempat ruang kerja Kiyano berada.
Hubungan ku dengan hampir semua rekan OB kian hari juga kian memburuk saja. Aku dan Nindi bahkan tak lagi bertegur sapa.
Justru dari Gina lah aku masih merasakan kehadiran sosok teman di tempat bekerja ku kini. Padahal ku pikir dulu aku tak akan pernah bisa akrab dengan cewek judes dan cuek itu.
"Yah.. mau gimana lagi ya, Gin. Aku udah gak merasa nyaman bekerja di sini. Walaupun aku gak salah, tetap aja tuduhan orang-orang itu menyakiti hati ku juga kan?" Jawab ku dengan kakimat tanya.
"Iya juga sih. Makanya gue paling males berteman. Soalnya kebanyakan orang tuh bermuka dua. Macam si Nindi itu tuh. Dari dulu gue udah bisa ngelihat kalau itu cewek emang munafik!"
Mendengar nama Nindi yang kembali disebut, aku jadi merasa sedih lagi.
Rasanya sulit untuk mempercayai kalau wanita santun dan ramah itu ternyata adalah seorang yang bermuka dua. Sekaligus juga seorang penghianat.
Tega benar Nindi membuka aib milik ku yang hanya kupercaya kan pada nya seorang. Padahal aku benar-benar tulus menganggap nya sebagai teman.
"Hey, udah lah. Ngapain juga Lo sedihin penghianat macam dia. Salah Lo sendiri kan yang salah pilih teman. Mending kayak gue, gak punya teman juga gak apa-apa. Gak pusing dan jelas gak bakal sakit karena ada yang nikung dari belakang!" Ledek Gina padaku.
"Lha memangnya aku ini bukan teman kamu, apa, Gin?" Aku bertanya bingung.
Kupikir, selama seminggu kebersamaaan kami makan roti berdua di tempat sepi telah menumbuhkan bibit pertemanan di hati ku dan juga hati Gina. Namun dari jawabannya tadi, sepertinya hanya aku saja yang mengganggap Gina sebagai teman. Sementara Gina..
"Bukan lah! Gue bilang, gue tuh gak punya teman. Lo cuma numpang ikut makan doang kan di sini, karena kalau di kantin, pasti nanti ada aja yang numpahin es teh atau kuah bakso ke Lo dengan sengaja. Iya kan?" Terka Gina dengan begitu tepat.
Memang benar ucapan Gina itu. Sampai saat ini aku masih juga mendapat perlakuan bully oleh beberapa fans nya Kiyano. Semua ini disebabkan oleh rumor pelakor yang tertuju pada ku itu.
Terlebih lagi saat ini hubungan ku yang putus dari Kiyano pun mulai tersebar. Maka semakin menjadi-jadi saja sikap bully para wanita gila itu terhadap ku. Mungkin mereka pikir, Kiyano tak lagi memfavoritkan ku sehingga mereka pun bisa bebas mem bully ku sesuka hati mereka.
"Hahh.. tega banget sih kamu, Gin. Padahal kamu udah ku anggap teman lho," ucap ku sambil menyandarkan kepala ku di bahu Gina.
Tiba-tiba saja Gina langsung bergeser dari tempat duduk nya yang semula, sehingga aku pun hampir saja terjatuh dari senderan di bahu nya Gina itu.
"Iihh.. sana jauh-jauh! Lo bukan teman gue ya, hey! Gue gak mau ikut jadi korban rumor yang lebih parah lagi bareng Lo!"
"Memang nya rumor apa yang lebih parah dibanding jadi pelakor sih, Gin?" Aku bertanya bingung.
"Habis jadi pelakor, Lo mau dibilang beralih haluan jadi lesbong sehabis putus cinta dari si Bos, hah?"
__ADS_1
Ucapan Gina itu seketika membuat bulu kuduk ku berdiri. Aku pun buru-buru ikut bergeser menjauh dari Gina.
Membayangkan ucapan Gina menjadi nyata, sungguh membuatku ngeri sangat. Hebat benar imajinasi cewek di depan ku ini. Aku saja tak terpikirkan sampai sejauh itu.
Setelah jarak kami sekitar dua meter jauh nya, Gina kembali bertanya.
"Jadi, kapan Lo berhenti kerja, hey?"
"Hay! Hey! Hay! Hey! Nama ku tuh Laila, Gin. Apa susah nya sih nyebut nama ku. Memang nya nama ku punya kutukan apa, sampai-sampai kamu kayaknya gak mau banget manggil nama ku!" Aku mengomel pada Gina.
"Males gue nyebut nama Lo. Ribet!"
"Apa ribet nya coba. Nama ku kan simpel dan cantik! La. I.la. gampang banget ah!"
"Gue bilang ribet ya ribet, hey!" Gina balas sewot.
Pada akhirnya aku merelakan saja teman baru ku itu memanggil ku hay hey hay hey.
'hhh...' desah ku tanpa suara.
"Jadi kapan Lo mau berhenti, hey?"
"Ya habis gajian lah! Besok lusa kan gajian. Habis itu udah aku langsung behenti," balas ku juga dengan nada sewot.
Aku tak menggubris ucapan Gina. Ku putuskan untuk menghabiskan sisa cuilan roti ku yang terakhir. Rasa-rasanya berbincang dengan Gina jauh lebih meletihkan dibanding berbincang dengan diri ku sendiri.
Pantas saja jika wanita di depan ku ini tak memiliki teman. Mulut nya memang jauh lebih pedas dibandingkan mulut ku. Yah, minimal, mulut ku pedas manis lah macam keripik balado yang gurih manis pedas nan sedap itu. Hihihi.
***
Esok lusa mya, aku benar-benar langsung mengundurkan diri usai menerima uang gajian.
Terserah lah dengan omongan orang di kantor. Malas rasanya meladeni semua orang itu. Sementara aku masih memiliki hal lain yang harus kupikirkan dan ku urusi.
Saat pergi aku tak berpamitan pada Kiyano atau rekan OB ku lainnya. Hanya Gina saja yang kusapa sebelum aku pulang menuju rumah.
Sesampainya di rumah, ku dapati beberapa panggilan dan pesan dari Kiyano. Langsung saja kulihat isi pesan dari lekaki itu.
"Lo berhenti? Kenapa?! Soal rumor itu? Gak usah Lo hiraukan, La. Gue lagi cari tahu asal kemunculan rumor itu. Jadi gue harap Lo bisa bersabar sedikit lebih lama lagi," tulis Kiyano dalam pesan nya.
Aku tak membalas telepon atau pun pesan dari Kiyano. Ku abaikan saja semua beep beep dan deringan telepon yang sengaja sudah ku buat mode silent.
Keesokan harinya, aku langsung bangun, shalat, mandi dan bersiap diri.
__ADS_1
"Hari yang baru, awal yang baru. Semoga di tempat kerja ku sekarang, masalah tak lagi mengikuti ku." Aku merapal mantra di depan cermin tempat ku berhias.
Hari ini aku hendak berkunjung ke rumah Mama Ilma. Satu minggu yang lalu beliau tak sengaja mendengar obrolan ku dan Mama tentang pengunduran diri ku dari tempat kerja.
Mama Ilma langsung saja menawarkan sebuah pekerjaan untuk ku. Tugas nya mudah. Hanya merawat dan menemani ibu mertua nya Mama Ilma yang sudah jompo dan hanya bisa duduk di atas kursi roda.
Seolah mendapatkan durian runtuh, aku langsung saja menyanggupi untuk menerima pekerjaan baru itu. Tapi aku memohon pada Mama Ilma untuk menangguhkan jadwal ku masuk kerja jadi satu minggu kemudian, demi bisa mengambil uang gajian ku.
Dan hari ini, satu minggu pun telah berlalu. Aku sudah berhias dan tampil sesopan mungkin.
Aku sengaja memakai celana kulot panjang berwarna hitam, yang dipadukan dengan dress atas dengan lengan panjang berwarna putih motif polkadot. Rambut ku yang sepanjang bahu sengaja kukuncir kuda di belakang kepala. Dan aku juga hanya memoleskan bedak dan lipstik saja di wajah ku yang manis ini.
Aku sengaja berangkat dari rumah jam setengah tujuh pagi, untuk menghindar dari bertemu dengan Kiyano. Padahal Mama Ilma sudah menawarkan diri untuk menjemput ku, namun aku menolaknya.
'Bisa gawat jika Kiyano dan Mama Ilma datang bersamaaan. Bisa-bisa malah ada drama nantinya!' terka ku dalam hati..
Jadi, jam setengah tujuh itu aku berangkat dengan menaiki mobil grab. Biarlah sekali ini aku memanjakan diri dengan naik grab. Toh aku juga baru gajian kemarin. Besok-besok kan Mama Ilma menjanjikan untuk mengantarkan aku pulang. Jadi uang ongkos ku bisa dihemat untuk membeli emas digital. Yeay!
Mengikuti alamat yang telah di share oleh Mama Ilma, aku akhirnya sampai di sebuah rumah yang sangat amat luas seeeeekali.
Rumah ini berdiri megah di atas lahan yang kuperkirakan sekitar dua atau tiga hektar luas nya. Bentuknya juga lebih seperti mansion. Dengan keberadaan halaman yang sangat luas di depan dan belakang rumah.
Saat tiba di depan gerbang stainless steel, aku sempat melongo menatap rumah megah bergaya mediterania itu. Aku tak menyangka kalau Mama Ilma ternyata seorang yang benar-benar kaya.
"Maaf Mbak, area ini terlarang untuk pengunjung."
Seorang satpam yang tiba-tiba muncul dari balik pintu gerbang stainless steel itu mengagetkan ku dengan sapaan nya.
"Emm.. saya diminta datang ke sini sama Mama, eh, ibu Ilmaya," aku buru-buru mengoreksi panggilan ku pada Mama Ilma. Bagaimana pun juga aku nanti akan menjadi pegawai di sini. Jadi aku harus sadar diri dan memanggil bos ku dengan panggilan yang sepantasnya.
Tin.tin.
Bunyi klakson sebuah mobil yang baru datang, cukup mengagetkan ku. Seketika itu juga aku langsung menoleh dan menepi ke pinggir gerbang.
Tapi, sebuah suara dari dalam mobil yang baru datang itu, jauh lebih mengejutkan ku.
"Laila?! Ngapain kamu di sini?!" Suara pengemudi mobil itu menyapa.
Dan aku jauh lebih terkejut saat menyadari identitas si pengemudi yang ternyata telah cukup ku kenal baik.
"Kamu juga ngapain ke sini?!" tanya ku terheran-heran.
***
__ADS_1