
"Dasar breng sek kamu, Az! Mereka itu cuma anak-anak! Tega benar kamu memakaikan rompi bom ke Mark dan juga Nila!" Aku menggeram marah pada Azki yang masih terduduk di atas lantai.
Mendapati ku yang marah, aneh nya pemuda itu malah terkekeh-kekeh.
"Qiqiqiqiqi... Mereka itu milikku, kalian tahu! Mark dan Nila itu milik ku. Jadi jelas, aku bisa melakukan apapun kepada mereka!" Ucap Azki dengan suara lantang nya.
"Jangan sembarangan bicara kamu, Az! Mark dan Nila itu anak ku! Dan mereka bukan lah milik ku atau pun milik mu! Mereka itu milik mereka sendiri, dan kamu gak punya hak untuk menentukan hidup mati nya mereka seperti apa!" Suara Laila tiba-tiba saja terdengar dekat di belakang ku.
Aku menoleh dan benar saja. Laila sedang berjalan mendekati ku saat ini. Di samping nya, seorang lelaki tua menyertai langkah nya. Juga beberapa polisi lain yang ikut masuk untuk mengamankan Azki.
Kemudian kulihat Laila hendak menghampiri Azki dan memberi nya pukulan. Namun aku langsung menahan lengan nya dari mendekati pria berbahaya itu.
"Jangan dekat-dekat dia, La! Dia itu berbahaya!" Aku menahan lengan Laila.
Laila terkejut dengan sentuhan ku. Sama terkejut nya juga dengan diri ku sendiri. Karena untuk sesaat, aku seperti merasakan aliran listrik mengalir di antara sentuhan yang sempat terjadi.
Dengan terburu-buru, ku lepas kembali sentuhan ku pada tangan Laila. Merasa malu karena aku telah bersikap tak sopan pada istri mya Erlan.
Pandangan ku sekilas mencari ke sekitar. Mengira kalau aku akan kembali menjumpai sosok Erlan setelah lama nya perpisahan yang terjadi di antara kami ini. Namun usaha ku itu sia-sia. Karena aku tak mendapati Erlan di mana pun.
Aku mengernyitkan dahi. Merasa bingung karena Erlan tak ikut pergi ke sini bersama Laila untuk menyelamatkan kedua anak mereka.
"Di mana Erlan?" Tanya ku spontan entah pada siapa.
Selama sesaat, keheningan menyapu suasana di ruangan itu. Semua pandangan mata terfokus kepada ku. Sampai kemudian ku dengar suara Azki yang tertawa bahak dengan cukup kencang.
Jelas sekali aku merasa, kalau pemuda itu sedang menertawakan ku saat ini.
"Ahahahahaha!! Lihat lah, Mbak La.. lelaki ini ternyata tak hanya suka ikut campur urusan orang! Tapi juga begitu bodoh!" Umpat Azki sambil terus menertawakan ku.
"Kau yang bodoh, dasar bede bah!" Aku balas mengumpat Azki.
Tawa Azki langsung mereda. Meski seringaian menyebalkan itu masih tetap terpasang di wajah nya saat ia kembali berkata.
"Tak tahu kah kamu, kalau Erlan sudah lama berpindah dunia? Qiqiqiqiqi.." ucap Azki dengan sorot mata sedih.
"Apa?!" Aku sangat terkejut dengan berita itu. Sehingga aku langsung melihat ke arah Laila untuk melihat konfirmasi wanita berparas manis itu terhadap ucapan Azki.
Aku syok. Bahkan juga sempat ternganga selama beberapa saat.
Aku sama sekali tak menyangka dengan apa yang telah terjadi kepada Erlan.
__ADS_1
Bahwasanya telah bertahun-tahun yang lalu ia meninggal.
Di sela keterkejutan ku, aku kembali mendengar suara Azki bicara.
"Jasad Erlan ku tersayang sudah membusuk di dalam tanah sejak bertahun-tahun yang, kau tahu, Bodoh! Mungkin saat ini jasad nya tinggal tulang belulang saja yang terkubur dalam kain kafan nya yang sudah lusuh," ucap Azki bermonolog.
"Diam kau Az! Jangan panggil nama suami ku, seolah-olah ia adalah barang yang jadi milik mu! Berapa kali harus ku bilang, kalau kamu gak punya hak atas hidup mati nya seseorang!" Tegur Laila.
Aku menatap Laila dengan pandangan berbeda. Tak menyangka atas ketegaran yang ku saksikan dalam diri wanita itu atas kepergian Erlan.
"Erlan itu milikku! Milik ku! Milik ku! Kau yang merebut nya dari ku bertahun-tahun yang laku, Mbak! Padahal tadi nya Erlan hanya mempunyai aku saja setelah ia diusir oleh keluarga nya," monolog Azki kembali berlanjut.
"Dasar kamu gila! Psiko! Homo! Erlan itu hanya menganggap mu sebagai sahabat nya, Az! Kamu menghayal terlalu tinggi dengan semua sikap baik Erlan kepada mu! Yang Erlan cintai itu adalah aku!" Cecar balik Laila.
Ku lihat Azki menatap benci pada Laila. Perlahan, lelaki yang masih juga duduk di atas lantai itu lalu mengangkat pandangan nya ke atas. Kemudian ia berkata ke udara kosong di atas nya.
"Kau dengar itu, Erlan sayang? Kau sudah pasti juga mencintai ku kan? Kau mencintai kami berdua. Sayang nya hubungan kita berdua kau tahu tak akan pernah mendapat restu dari keluarga mu. Jadi kau lebih memilih bersama Laila.." ucap Azki pada langit-langit ruangan.
"Gila kamu, Az! Erlan itu lelaki normal! Jangan tuduh dia dengan ucapan mu yang sembarangan itu!" Laila mengecam ucapan Azki barusan.
"Sabar, Laila! Ucap lelaki tua yang datang bersama Laila.
Aku pun kembali menahan lengan Laila agar ia tak menghampiri Azki.
"Di mana anak-anak?" Tanya Laila kepada ku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Laila, lagi-lagi Azki ikut menyerobot percakapan kami berdua.
"Mbak La mau tahu di mana Mark dan Nila? Tenang saja Mbak. Sebentar lagi juga Mbak akan pergi bersama dengan anak-anak ke alam baka. Bersama-sama juga dengan ku dan kita semua yang ada di sini! Ahahahahaha!" Ucap Azki kembali.
"Apa maksud nya itu tentang bom?!" Tanya Laila terlihat cemas.
Dengan cepat, aku mengangguk.
Kemudian Laila kembali mengajak Azki bicara.
"Azki! Bukan kah kamu bilang kalau kamu mencintai Erlan? Dan kamu juga menyayangi Mark dan juga Nila sebagai anak-anak nya Erlan? Jadi kenapa kamu begitu tega menyiksa kedua anak ku seperti ini? Apa salah mereka, Az?!" Cecar Laila.
Azki kembali terkekeh pelan.
"Karena saya gak mau kalian memisahkan lagi saya dengan titisan nya Erlan, Mbak La. Mark dan Nila itu milik ku! Sama seperti Erlan yang juga sebenarnya adalah milik ku! Mbak La saja yang berani merebut Erlan dulu dari ku!"
__ADS_1
Laila menatap tak percaya pada ucapan Azki barusan.
"Mereka itu hanya anak-anak Az! Jangan bawa-bawa Mark dan juga Nila ke dalam lingkaran sesat keobsesifan mu itu! Mereka punya hak untuk hidup bahagia dan bebas!" Kecam balik Laila.
"Cih. Hidup bebas, kata mu, Mbak? Mereka sudah ditakdirkan hidup untuk saya, Mbak. Jadi jangan coba-coba menghasut pikiran saya. Karena saya gak akan merubah keputusan saya.!" Ucap Azki bernada tegas.
Sesaat kemudian, Azki menunjukkan remot kecil yang akan mengatur kapan bom di rompi yang dikenakan oleh anak-anak akan meledak. Aku langsung menjadi geram saat melihat remot itu kembali.
"Kamu lihat ini, Mbak La? Dengan satu remot ini lah saya akan membuat Mark dan Nila tetap bersama saya selama nya," ucap Azki dengan tatapan bengis.
"Cukup dnegan menekan nya sekali saja. Dan.. DUAR!! Kita semua akan langsung mato menyusul Erlan di atas sana. Bukan kah itu terdengar.sangat.menarik, Mbak? Tidak kah Mbak La ingin menjumpai Erlan lagi?" Ucap Azki terdengar gila.
"Jangan!" Teriak Laila dengan memohon.
"Jangan lakukan itu Az! Kamu akan membuat kita semua langsung mati. Tidak kah kamu takut dengan dosa karena membunuh semua orang yang tak bersalah di sini?" Bujuk lelaki yang datang bersama Laila.
"Om Ulum.. selalu saja ucapan Om membuat saya jadi tersentuh. Sayang nya Om, ucapan Om itu gak ada guna nya. Karena saya akan tetap membawa anak-anak bersama saya untuk menemui Erlan," ucap Azki.
"Lagi pula, kalian juga yang sudah memaksa saya untuk melakukan ini. Jadi jangan salahkan saya ya bila kalian semua ikut mati. Jika saja kalian membiarkan anak-anak hidup bersama saya, tentu saya gak akan melakukan semua ini. Jadi, semua kesalahan ada di Mbak La. Ok!" Imbuh Azki kembali.
"Kita bisa membicarakan nya lagi dengan baik-baik, Nak Azki.." imbuh lelaki yang dipanggil Om Ulum itu.
Lalu ku lihat Azki menggeleng-geleng kan kepala nya berkali-kali.
"Sudah terlambat Om. Ayo ucapkan kalimat perpisahan kalian sebelum aku menekan tombol di remot ini. Tapi jangan lama-lama ya. Ku hitung sampai sepuluh detik saja.
Lalu kulihat Azki mengangkat tangan nya yang memegang remot. Agar kami semua bisa melihat saat pemuda itu akan menekan tombol penentu meledak nya bom di tubuh anak-anak.
"Sepuluh.. sembilan.. delapan.." Azki mulai berhitung.
Aku langsung merasa tegang. Hendak melarikan diri pun rasanya tak mungkin. Karena menurut Azki tadi daya ledak bom yang ia rakit sendiri itu cukup untuk meruntuhkan bangunan ini juga nanti nya.
Lagipula aku jelas tak akan bisa meninggalkan Laila. Sama juga dengan Laila yang tak bisa meninggalkan kedua anak nya mati begitu saja.
"Tujuh.. enam.. lima.. empat.." Azki lanjut berhitung mundur.
Aku semakin merasa tegang. Sementara itu Laila masih juga berusaha membujuk Azki untuk tidak menekan tombol pemicu ledak nya bom.
Beberapa orang polisi langsung hendak meringkus Azki. Namun Azki langsung mengancam.
"Jangan mendekat, atau akan langsung ku ledakkan remot nya saat ini juga! Nikmati saja 3 detik terakhir yang kalian punya.. hahahahah..tiga.. dua.. satu.."
__ADS_1
Klik. Dan Azki pun menekan tombol pemicu ledakan bom di tangan nya itu.
***