Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Second Confession (POV Laila)


__ADS_3

Beberapa saat pun berlalu...


"Jadi, bisa kita lanjutkan pembicaraan ini? Mohon diperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulut kita ya. Jangan sampai kita menyesali apa yang telah kita ucapkan di kemudian waktu," Aryo kembali memandu perbincangan.


"Tuh! Dengerin tuh! Hati-hati kalau ngomong, Lan!" Aku kembali membeo ke wajah Erlan.


Sayang nya yang ku beo i malah memberi ku cengiran tak jelas. Dih.


"Jadi Mas Erlan--"


Ucapan Aryo terpotong oleh kemunculan seorang anak lelaki kecil yang tiba-tiba saja datang menghampiri meja kami.


Anak itu lalu memberi ku sebuah permen lolipop rasa strawberry yang padanya juga terdapat secarik kertas.


"Siapa kamu Dek? Apa ini?"


"Ini buat Kakak Cantik. Dari kakak ganteng yang sayang sama Kakak!" Ucap anak lelaki itu, sebelum berlari pergi menjauh.


"Apa an itu il?" Tanya Nunik penasaran.


"Gak tahu, Nun. Ada tulisan nya sih."


"Coba aja baca!"


Untuk sesaat, semua orang di sekitar ku fokus memperhatikan kertas yang sedang ku pegang. Akhirnya aku pun membuka gulungan kertas itu dan membaca tulisan yang tertera di dalam nya.


"Lolipop ini rasa strawberry. Kesukaan kamu yang suka asam-asam. Tapi permen ini ada manis nya. Sama seperti harapan ku yang bisa memberikan rasa manis dalam hidup kamu, Laila," aku selesai membacakan tulisan di kertas itu.


Belum sempat aku berkomentar, detik berikutnya sudah ada anak perempuan kecil yang lagi-lagi memberikan hadiah kepada ku. Kali ini anak perempuan itu memberikan ku sebuah jeruk.


Aku kembali bertanya pada anak kecil itu namun anak itu pun hanya mengatakan pernyataan yang serupa seperti yang diucapkan oleh anak kecil yang pertama tadi.


"Ini buat Kakak Cantik. Dari kakak ganteng yang sayang sama Kakak!" Ucap anak perempuan itu juga, sebelum akhirnya berlari pergi menjauh.


Kembali ku baca tulisan yang tertera di selembar kertas kecil yang kedua. Kali ini tulisan nya berisi kalimat berikut.


'Buah jeruk ini rasanya pun manis dan asam. Sama seperti hadapan ku yang selalu bisa menyeimbangkan hubungan kita hingga senantiasa harmonis dan menyegarkan seperti buah jeruk ini.'


Dan kembali, muncul anak kecil yang ketiga dengan perkataan, hadiah dan juga secarik kertas bersama nya. Dilanjut dengan kemunculan beberapa anak kecil lainnya yang juga mencapai hingga belasan jadinya.


Anak-anak itu mengucapkan kalimat yang sama sebelum akhirnya berlalu pergi. Setelah lolipop dan buah jeruk, aku juga mendapatkan permen karet, sebungkus kecil tisu, dan beberapa hadiah kecil yang pada akhirnya mulai memenuhi meja di bagian depan ku.


Tulisannya pun beragam-ragam namun dengan inti yang hampir sama. Berasal dari seorang pria yang sepertinya menyukai ku.


'Siapa dia?'


aku sibuk merenung hingga tak sadar malah melayangkan pandangan ku ke arah Erlan. Ku lihat pemuda itu malah tersenyum-senyum menatap ku. Dan aku pun mulai mencurigai sesuatu.

__ADS_1


Belum sempat aku mengatakan kecurigaan ku pada Erlan saat tiba-tiba saja anak-anak kecil yang tadi memberikan ku hadiah muncul kembali dan mengelilingi meja kami.


Dengan kompak anak-anak itu lalu mengangkat papan kecil seukuran kertas HVS di depan mereka. Di mana pada papan itu masing masing bertuliskan satu kata yang bila dirangkai akan menjadi,


'Laila, would you marry me, please..? from yours.. Erlan.'


Dan pandangan ku pun langsung melayang ke wajah Erlan yang entah sejak kapan sudah duduk bertumpu pada lututnya dengan satu kaki yang tertekuk ke lantai. Pemuda itu juga menyodorkan sebuah kotak berisi gelang dengan mata rantai berukuran sedang dan bandul berbentuk dua bunga matahari yang berkaitan.


"Apa ini, Lan?" Tanya ku dengan terbata-bata.


Semua kejutan yang disiapkan oleh Erlan ini sungguh membuat ku kesulitan untuk berkata-kata. Aku tak menyangka kalau momen dimana aku seharusnya ditolak oleh Erlan malah akan berubah jadi momen lamaran.


'Apa aku sedang bermimpi?' gumam ku dalam hati.


Ku pandangi Nunik dan Aryo. Kupikir mereka mungkin telah mengetahui rencana Erlan ini. Namun saat aku melihat raut kebingungan pula yang tersemat di wajah mereka, aku pun tersadar kalau mereka pun tak mengetahui apa-apa.


Pandangan ku lalu kembali kepada Erlan. Yang selanjut nya mulai berkata-kata.


"Laila Matoa ku yang cantik, manis, dan pemarah.." ucap Erlan mengawali, namun langsung ku pelototi saat kudengar kata sapaan nya yang terakhir untuk ku.


'Siapa juga yang pemarah?! Aku kan jarang marah-marah!' dumel ku dalam hati.


Lalu kudengar Erlan kembali lanjut bicara.


"Aku cinta kamu. Semudah dan sesederhana buah apel yang jatuh dari pohonnya ketika sudah matang."


'Idih! Pernyataan cinta macam apa itu?!' komentar ku dalam hati.


'Ya ampun! Ini Erlan bikin puisi apa mau ngelawak sih?! Kok aku malah pingin ketawa ya?!' aku mulai menahan tawa sekuat mungkin.


"Aku cinta kamu. Semudah balon yang terbang ke angkasa usai diisi dengan gas halogen."


"Semudah es yang mencair usai disentuh oleh sang panas,"


"Semudah udara yang bisa bebas kita hirup setiap kali kita bernapas,"


"Yang tanpa kehadiran udara itu, maka tak adalah kehidupan yang bisa kita miliki."


"Meski tanpa kamu mungkin aku akan bisa tetap hidup, La. Tapi bila aku bersama dengan mu, aku merasa dunia ku jadi jauh melebihi hidup. I love you really really so much, La. Jadi tolong, buka hatimu untuk ku. Dan terima lah cinta ku ini, La."


"Aku berjanji untuk menerima semua lebih dan kurang nya kamu. Aku berikrar untuk menua dalam bahagia bersama mu. Cukup katakan ya, dan aku jadi milik mu, La."


Mendengar pernyataan Erlan hingga akhir, aku yang mulanya hendak tertawa saat mendengar kalimat-kalimat awal nya, pada akhirnya harus menahan diri untuk tidak mencubit sayang lelaki di depan ku ini.


Tega benar dirinya yang sudah membuat ku terharu hingga aku harus menahan diri untuk tak tersedu-sedu.


"Terima! Terima! Terima! Terima! Terima!"

__ADS_1


Indera ku menangkap seruan orang-orang di sekeliling kami yang menyatakan dukungannya kepada Erlan.


Ku tatap Nunik yang sudah menangis haru dalam pelukan suami nya. Ku lirik sekilas wajah Aryo yang menatap Erlan dengan pandangan datar, meski seulas senyum tipis pun terukir di wajah nya. Dan pandangan ku akhirnya kembali kepada Erlan yang masih menantikan jawaban ku atas pernyataan cinta nya.


Beberapa waktu kemudian, aku berdehem terlebih dulu untuk melegakan tenggorokan ku yang serasa tercekat. Barulah akhirnya aku menyampaikan isi benak ku kepada Erlan dengan suara yang teramat pelan.


Mungkin hanya Erlan, Nunik dan Aryo saja yang bisa mendengar ucapan ku saja.


"Tapi kamu masih ingat kan dengan alasan ku minta putus dari kamu, Lan? Karena aku masih menyukai dia.." lirih ku pelan dengan pandangan yang tertunduk menatap Erlan.


"Ya, La. I know.--"


"Ehhem! Tangannya coba, Mas. Maaf, kalian kan belum mahrom," tegur Aryo tiba-tiba, saat mendapati Erlan yang meraih tangan ku dalam genggaman nya.


Seketika itu pula Erlan langsung melepaskan tangan ku dengan ekspresi salah tingkah di wajah nya. Dan aku hampir ingin terkikik geli jika saja tak kudengar ucapan Erlan berikutnya dengan segera.


"Mm.. Aku tahu alasan mu itu, La. Dan aku bisa menerima nya. Kamu butuh waktu untuk healing dari perasaan terluka itu. Dan aku mau menyertai kamu dalam proses healing nya kamu. Please, terima aku, La. Aku udah bingung mau ngomong apalagi ini. Lutut ku juga udah mulai kesemutan ini, La.." ucap Erlan sambil meringis nyeri.


"Dasar bo doh!" Umpat ku pada Erlan sambil menyengir lebar.


"Laila! Jangan mengumpat!" Dan gantian lah aku yang mendapat teguran. Kali ini Nunik yang menegur ku.


"Maaf, Nun. Lupa dan khilaf.." aku cengengesan ke arah Nunik.


Pandangan ku lalu kembali ke Erlan. Ku pandangi wajah nya lekat-lekat. Hingga kami pun saling bertatapan cukup intens dalam beberapa detik yang kurasa singkat.


Tapi tingkah ku dan Erlan ini lagi-lagi mendapatkan teguran dari dua hakim yang ikut menyaksikan prosesi lamaran ini.


"Gadhul bashar! Tundukkan pandsngan!" Tegur Aryo dan Nunik secara bersamaan.


"Kalian kan belum mahrom. Jadi jangan ngelihatin lama-lama gitu dong. Itu zina juga jatuh nya, zina mata!" Ucap Nunik menambahkan.


Dan seketika itu pula aku dan Erlan pun langsung menundukkan kepala. Walau detik berikutnya kami berdua sama-sama terkikik geli menahan tawa.


Tak lama kemudian aku dan Erlan akhirnya tertawa lepas, hingga membuat orang-orang di sekitar kami menatap kami keheranan. Bahkan mungkin mereka juga mengira kalau kami telah mendadak gila. Hahaha.


"Udah ah, Lan. Disudahin aja ya pertemuan kita ini. Kalau diterusin, bisa-bisa kita kena kartu penalti lagi dari dua wasit di sebelah," seru ku di iringi kekehan tawa.


"Hahaha.. iya ya. Jadi, kamu nerima aku kan, La?" Tanya Erlan yang juga masih tertawa kecil sambil bangkit berdiri dari duduk nya.


"Ya. Sudah tentu lah. Aku mau mundur ke mana lagi coba? Kamu nodong aku sampai kepentok tembok gini?" Sahut ku sambil berpura-pura kesal.


"Yes! Makasih, Sayang!" Seru Erlan seraya langsung memeluk ku.


Namun pelukan nya langsung dilepasnya ketika dua hakim di dekat kami lagi-lagi menegur nya.


"Astaghfirullah..!" Ucap Aryo dan Nunik yang terlihat sama-sama panik.

__ADS_1


'hihihi..'


***


__ADS_2