Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Sidang Perceraian (POV Kiyano)


__ADS_3

Flash back dua hari lalu..


"Kapan sidang nya?" Tanya lelaki paruh baya di hadapan ku itu.


"Hari Senin, Yah," ucap ku membalas pertanyaan ayah mertua ku.


Ya. Jumat sore ini aku dikejutkan oleh kunjungan ayah mertua ke ruang kerja ku. Aku yang sedang bersiap-siap untuk pulang cepat bersama Laila, pada akhirnya tertahan selama setengah jam lamanya dalam perbincangan serius bersama ayah mertua ku.


"Apa kalian benar-benar sudah memikirkan untuk berpisah, Nak? Ayah melihat hubungan kalian masih baik-baik saja sebelum Ayah ke Australia," Ayah membujuk ku untuk mengurungkan niat perceraian ku dengan Bella.


"Apa Bella tidak memberitahukan alasan kami berpisah kepada Ayah?" Aku bertanya bingung.


Ku pikir Bella telah mengatakan yang sebenarnya kepada Ayah. Sehingga aku tak perlu membuka aib nya itu kepada Ayah mertua ku.


"Ayah masih tak bisa mengerti, Nak. Bella hanya mengatakan kalau kalian sudah tidak saling mencintai. Tapi feeling Ayah mengatakan kalau Bella masih mencintai mu, Nak. Atau mungkin kamu yang sudah memiliki wanita lain di sini?" Tanya Ayah dengan tatapan tajam.


Deg.


Tiba-tiba saja wajah Laila terbayang sekilas di benakku.


Jika aku harus menjawab jujur pertanyaan Ayah mertua ku itu, pastilah aku akan mengakui kalau aku memang mulai menyukai seorang wanita di kota ini. Tapi jika kukatakan seperti itu, maka itu akan menjadikan Laila seperti wanita perebut suami orang. Dan aku tak ingin Laila mendapat cap sebagai pelakor.


"Bukan seperti itu, Yah. Sejujurnya, hingga kini Kiyano masih mencintai.." ucapan ku tersendat di tenggorokan. Rasanya masih sulit benar bahkan hanya untuk mengucapkan nama wanita yang pernah kupuja begitu agung nya dulu lalu.


"Kiyano sebenarnya masih mencintai Bella, Yah. Justru Bella lah yang sudah memiliki lelaki idaman lain. Dan Kiyan bahkan memergoki mereka bermesraan dua pekan yang lalu," ungkap ku jujur pada akhirnya.


Aku sebenarnya merasa tak enak dengan Bella. Tapi jika aku tak mengungkap kebenaran ini, aku yakin kalau Ayah akan tetap membujukku untuk mempertahankan pernikahan ku dengan Bella.


Padahal hati ku mulai ikhlas melepas cinta ku pada mantan istri ku itu, kini.


"Kamu tidak berdusta, kan, Kiy?!" Ayah menggertak.


Ku balas tatapan Ayah dengan pandangan berani. Bagaimana pun juga aku tak memiliki kesalahan. Jadi aku tak perlu takut pada ancaman atau gertakan Ayah tadi.


"Ayah bisa tanya sama Pak Gimin, satpam di rumah Ayah. Atau lebih baik tanyakan lagi kepada Bella."


"Apa maksudmu Pak Gimin juga melihat Bella.."

__ADS_1


Ayah terlihat kesulitan untuk mengucapkan kata 'selingkuh' yang harus disematkannya kepada Bella, Putri sambung nya itu.


"Secara langsung? Tidak. Pak Gimin hanya melihat Bella dan Bayu lewat rekaman CCtV saja, Yah," papar ku menerangkan.


Ayah tiba-tiba bangkit dari kursi kebesarannya. Lalu bertanya dengan suara menggelegar.


"BAYU?! Kamu bilang, Bayu, Nak? Kakak ipar mu sendiri?!" Tanya Ayah begitu shock.


Aku menghela napas letih. Rasanya tak sanggup untuk kembali mengurai fakta menyesakkan tentang perselingkuhan ini.


Aku sendiri yang menjalaninya, merasa masih sakit hati jika teringat dengan adegan Bella dan Bayu yang saling berciuman.


Dengan kepala menunduk oleh sebab rasa letih, aku pun menyahut pelan, "Ya, Ayah."


"Lelaki yang Bella sukai kini adalah Bayu, ternyata. Jadi, Kiyano pikir lebih baik Kiyano mundur saja dari pernikahan ini."


Ayah kembali terduduk di atas sofa. Kali ini Ayah terlihat begitu letih. Agaknya kenyataan terkait putra kandung serta putri sambungnya yang membuat affair ini telah menggoncang pikirannya.


Aku pun jadi merasa bersalah karena telah jadi seseorang yang harus membuka aib sebesar ini.


Ayah lalu mengusap wajah nya sekali sambil bersandar ke punggung sofa. Pandangannya lalu melayang jauh menembus langit-langit yang ada di atas ruangan kerja ku.


Kalimat Ayah barusan menguatkan dugaan ku. Bahwasanya Ayah masih berharap kalau hubungan ku dan Bella masih bisa diperbaiki.


Aku pun lalu menggeleng pelan. Selanjutnya ku telan ludah ku dengan susah payah, dan baru lah aku melanjutkan kembali cerita ku kepada Ayah.


"Suatu malam, Kiyano mendadak pulang ke rumah tanpa memberitahu Bella, Yah. Saat itu Ayah dan Mama masih liburan ke Australia. Jadi rumah terlihat begitu sepi ketika Kiyano baru datang malam hari nya."


"Tapi, Kiyano lalu melihat dengan kedua mata Kiyano sendiri, Yah. Saat Bella dan Bayu.. berciuman di pantry malam-malam. Rekaman CCTV nya ada di Pak Gimin, Yah, jika memang ayah ingin melihatnya sendiri."


Ayah kembali mengusap wajah nya sekali. Kali ini matanya terpejam diam cukup lama. Setelah beberapa waktu lamanya telah berlalu, Ayah kembali bicara.


"Kalau begitu, atas nama mereka, Ayah meminta maaf sama kamu, Nak," ucap Ayah sambil menundukkan kepalanya.


Buru-buru aku berkata, "Ayah tak perlu meminta maaf. Lagipula ayah belum tahu sendiri kebenarannya dari mulut Bella. Jadi menurut Kiyan, Ayah sebaiknya menanyakan segalanya terlebih dulu pada Bella dan Bayu. Dan, jika memang benar ada hubungan spesial di antara mereka, Kiyan insya Allah akan siap merelakan mereka berdua bahagia, Yah!" Ucap ku dengan ketenangan yang mengejutkan bahkan diri ku sendiri.


"Hh.. Ayah percaya padamu, Nak. Tapi ayah juga akan tetap menanyakan nya kepada Bayu. Jika memang mereka berdua saling menyukai, kamu benar tak apa-apa jika mereka menikah? Karena bagaimana pun juga sebenarnya Bella dan Bayu tak memiliki hubungan sedarah. Karenanya mereka masih bisa dinikahkan," Tutur Ayah panjang lebar.

__ADS_1


"Ya, Yah. Insya Allah Kiyan rela," Sahut ku tegas dan mantap.


"Jadi, sidang perceraian kalian itu hari Senin depan, tiga hari lagi?" Tanya Ayah memastikan.


"Iya, Yah.."


"Oh.."


Kembali, suasana hening mengisi ruang pembicaraan di antara aku dan Ayah.


Dan, keheningan itu terus berlanjut bahkan hingga Ayah berpamitan pulang setengah jam berikutnya.


Flashback selesai.


Kembali ke masa sekarang.


Saat ini aku di perjalanan pulang dari pesta pernikahan Nunik dan suaminya. Nunik adalah sahabat dekatnya Laila.


Tanpa undangan, aku memberanikan diri untuk pergi ke acara pesta itu, karena tiba-tiba saja aku didera oleh perasaan rindu pada Laila sedari pagi aku terbangun dan membuka kedua mata.


Aku mengemudikan Civic ku dengan santai. Sesantai perasaan ku saat ini, usai mendapatkan jawaban penerimaan yang tertunda dari Laila.


Ya. Laila telah menerima lamaran ku tadi. Meski ia juga memberikan tantangan pada hubungan kami berdua untuk melalui masa ujian selama tiga bulan ke depan nya.


Ucapan lamaran yang begitu mendadak keluar dari mulut ku itu kemungkinan besar disebabkan oleh perasaan haru dan nostalgia saat prosesi ijab kabul berlangsung tadi.


Tadi itu, tiba-tiba saja aku teringat dengan prosesi ijab kabul yang dulu pernah ku lalui dengan Bella. Namun kemudian bayangan Laila berpakaian pengantin, menikah dan melakukan ijab kabul bersama Erlan, sontak membuat ku diserang oleh ketakutan yang tak berdasar.


Ya. Aku memang tiba-tiba dilanda cemburu.


Dan ya. Aku memang tiba-tiba saja jadi ingin mengikat Laila agar segera menjadi milikku dan milikku seorang saja.


Aku tak ingin membiarkan Erlan atau pun pemuda lainnya mendahului ku memiliki Laila. Entah ini obsesif atau cinta. Tapi aku jelas sudah menasbihkan hidup ku untuk hidup bahagia bersama Laila nanti, ke depannya.


Dan, setelah persidangan yang akan berlangsung besok nanti, aku akan sudah melepas status suami Bella secara hukum negara nantinya. Dan itu juga berarti aku benar-benar akan resmi menyandang status sebagai si duda keren, mapan, dan lajang.


Duren panjang, menurut Laila-ku Sayang.

__ADS_1


***


__ADS_2