
Selama hari-hari berikutnya, aku benar-benar tak menginjakkan kaki ku lagi ke lantai tujuh. Dan syukurlah Mas Idham begitu berbaik hati dan tak membagikan piket membersihkan lantai tujuh kepada ku lagi. Aku paling hanya ditugaskan untuk membersihkan area lantai satu sampai lantai enam saja.
Meski begitu, beberapa kali aku sempat bertemu dengan Bos Songong ku itu. Dan aku langsung memberinya senyuman lebar. Merasa senang atas hadiah nya yang tak ingin melihat wajah ku lagi.
Kulalui hari-hari kerja ku dengan senang hati. Dan aku tak lagi mengalami kesusahan yang cukup berarti.
Sejak Erlan mengantarkan ku pulang ke rumah, pemuda itu juga terus menawarkan tumpangan untuk hari-hari berikutnya. Ku terima tawarin baik dari rekan kerja ku itu. Meski sebenarnya aku mulai menaruh curiga adanya udang di balik bakwan, atas sikap baik pemuda itu.
Tapi aku berusaha tetap berprasangka baik. Tak ingin memusingkan hal-hal yang belum tentu benar adanya. Prinsip ku memang cukup sederhana.
Nikmati saja hari ini. Sementara hari besok, biarlah datang membawa rencana nya sendiri.
Seperti biasa, Erlan kembali mengantarkan ku sepulang kerja.
Namun, belum juga sempat berangkat pulang, motor Erlan mati tak kunjung hidup.
"Kenapa nih motor? Tadi pagi kayaknya baik-baik aja deh," Erlan bergumam sendiri.
Aku yang berdiri di dekat Erlan, menatap khawatir pada moge pemuda itu.
"Kira-kira bisa hidup gak, Lan?" Tanya ku kemudian.
"Bentar ya, La. Kulihat dulu."
Beberapa saat kemudian Erlan tampak sibuk mengotak atik motor nya.
"Kayaknya busi nya deh. Heran. Rasa-rasanya baru ganti busi deh dua hari lalu. Kok udah berkarat lagi ya?"
Aku memilih diam karena tak mengerti dengan penjelasan Erlan itu.
"Kayaknya kita mesti jalan kaki deh La ke depan. Dan aku gak bisa anterin kamu pulang ke rumah hari ini. Aku harus beli busi baru," terang Erlan.
"Oh.. yaudah gak apa-apa. Terus motor kamu gimana?" Tanyaku pada Erlan.
"Ku titipin aja deh ke satpam di pergudangan. Kamu mau pulang duluan gak apa-apa," tawar Erlan.
Aku memikirkan tawaran Erlan itu, namun entah kenapa aku merasa tak tega membiarkannya sendirian mendorong motor sampai ke area pergudangan yang jaraknya lumayan dari gedung kantor. Ada lah sekitar tiga ratus meter jauh nya.
"Ku antar kamu deh, Lan. Kita nanti jalan ke depan nya sama-sama," ujar ku pada akhirnya.
Terlihat wajah Erlan yang nampak lebih cerah usai mendengar keputusan ku itu. Dan akhirnya, kami pun mengantarkan motor Erlan ke area pergudangan.
Setelah menitipkan motor Erlan ke Pak Satpam yang memang berjaga malam, kami pun akhirnya pulang dengan berjalan kaki.
Namun, baru juga kami keluar dari gerbang, ketika sebuah mobil civic yang tak asing bagi ku tiba-tiba saja berhenti. Tak lama kemudian kaca mobil civic itu terbuka, dan tampak lah sebuah wajah yang rasa-rasanya telah sangat lama tak kulihat wujud nya.
"Malam Pak!" Sapa Erlan pada kepala manajer kami.
Aku terdiam. Merasa bingung pada alasan bos kami itu berhenti melajukan mobil nya kini. Kuingat-ingat lagi, sudah beberapa hari ini aku tak melewati lantai tujuh tempat kantor sang bos berada. Jadi tentunya aku tak melakukan human eror yang bisa menyebabkan ku mendapatkan hukuman naik-turun tangga, bukan?
Erlan kemudian menyikut pelan lengan ku. Maksudnya mungkin ia ingin menyikut perut ku, tapi karena tinggi badan nya lebih belasan senti dari ku, jadinya sikutan nya itu malah mengenai lengan ku.
"Aw! Napa sih, Lan?" Aku mengaduh sambil menyilangkan tangan. Sementara lengan ku usap dengan tangan yang lainnya.
__ADS_1
Erlan lalu memberi isyarat mata ke arah si Keong. Dan setelah beberapa detik berlalu, barulah aku sadar kalau aku belum menyapa bos kami itu. Apalagi saat ku dapati sang bos yang menatap ku dengan pandangan yang... Err.. membuat bulu kuduk ku jadi meremang.
'Dia si Keong beneran bukan sih? Apa kesurupan ya? Kok ngelihatinnya serem banget sih. Duh, ngeri..' batin ku berkecamuk.
Tanpa ku sadari aku sedikit menyembunyikan diri ke belakang tubuh Erlan sambil menyapa bos kami itu. Tak lupa pula ku pegang lengan baju Erlan dengan cukup erat.
"Ma..malam, Pak.." sapa ku dengan nada takut.
Selama beberapa waktu, udara terasa sangat dingin. Padahal se pengamatan ku tak ada hembusan angin yang lewat. Makin ngeri lah aku dengan situasi aneh ini. Terlebih saat ku dapati si Keong masih menatap ke arah aku dan Erlan dengan pandangan dingin.
'Duh Maa! Doa ngusir setan gimana ya? Kayaknya si Keong beneran kesurupan deh itu. Iih.. mana pingin pipis lagi. Gimana ya?' batin ku kembali terusik.
Erlan melihat ku dengan pandangan aneh. Terlebih saat dilihatnya aku yang bergerak-gerak gelisah di tempat.
"Kalian belum pulang?" Tanya si Keong tiba-tiba.
"Ee.. belum, Pak. Tadi motor saya mogok. Jadi kami habis nitipin motor ke satpam gudang, tadi.." Erlan memberikan penjelasan.
Aku memilih untuk diam. Semakin menyembunyikan tubuh ku di belakang Erlan, dari pandangan dingin si keong.
Tak lama kemudian, adzan maghrib berkumandang. Sementara langit kian gelap dan mengalami perubahan dari kemerahan menjadi gelap kelam. Pertanda tibanya waktu malam.
"Naik lah! Saya antar kalian pulang!" Ucap si Keong tiba-tiba.
"..."
"..."
"Kenapa kalian bengong! Ayo, cepat. Hari mulai malam!"
Bagaimana tidak menjadi? Bukankah aneh benar jika tiba-tiba bos nya itu jadi baik hati begini. Padahal aku ingat benar, kalau hari Senin lalu, si Keong jelas-jelas mengatakan tak ingin lagi melihat wajah ku. Tapi kini..
Si Keong beracun itu adalah bos ku yang asli. Sementara si Keong baik di depan ku ini rasa-rasanya sudah kerasukan oleh makhluk lain deh.
'Hii.. ngeri!' batin ku bergelut dengan pikiran ku sendiri.
"Terima kasih, Pak! Gak usah, Pak! Arah rumah kami berbeda.. Dan kami gak mau merepotkan Bapak!" Tolak Erlan secara halus.
'Bagus, Lan! Kau juga sepertinya bisa menangkap getar-getar makhluk halus di tubuh si Keong ya!' puji ku pada Erlan, di dalam hati.
Tak kulihat ekspresi si Keong kala mendengar penolakan dari Erlan. Karena aku masih bersembunyi di balik tubuh rekan kerja ku itu. Pandangan ku benar-benar terhalang dari melihat si Keong.
Ku bayangkan, pastilah wajah si Keong mulai tambah mengerikan akibat penolakan Erlan tadi. Karena tiba-tiba saja udara terasa semakin dingin menurut ku.
"Cepat naik! Atau gaji kalian akan ku.."
"Siap, Pak! Saya ikut Bapak, Pak!" Ucap Erlan begitu cepat sambil membuka pintu belakang mobil civic hitam itu.
Aku yang sedari tadi bersembunyi sambil memegang baju lengan nya Erlan pun sempat terhuyung ke depan. Tapi syukur lah aku tak sampai terjatuh.
'Sialan, si Erlan! Diancam dikit doang sih takut! Payah!' umpat ku sambil menatap tajam Erlan yang sudah duduk manis di bangku belakang.
"Saya gak usah ikut deh, Pak. Mau jalan kaki aja. Biar sehat," aku mencoba menolak tawaran dari si Keong.
__ADS_1
Si Keong menatap ku dalam, selama beberapa detik. Dan entah kenapa aku mulai merasakan tak enak di bagian perut dan jantung ku. Tengoklah kini jantung ku yang berdegup tak karuan.
'Tangguh, La! Kamu tangguh! Jangan ikutan payah macam si Cabe ijo Erlan, yang diancam dikit, nyalinya langsung menciut..'
"Sepertinya kamu suka jalan kaki. Kalau begitu, mulai besok kamu lagi yang buatkan kopi untuk saya," ucap si Keong tiba-tiba.
Aku membulatkan mata. Dan benakku semakin dilanda ngeri kala ku dengar kalimat menyeramkan yang keluar dari mulut si Keong, berikut nya.
"Dan karena kamu suka jalan kaki, kamu bisa naik turun.."
"Saya ikut Bapak! Saya ikut Bapak deh, Pak! Saya gak suka jalan kaki, Pak! Pegal banget kaki saya nanti, Pak!" Sergah ku terburu-buru.
Aku lalu mendekati pintu belakang mobil untuk membuka nya. Namun deheman suara dari kursi depan membuat gerakan ku terhenti.
"Ehem! Kalau kalian berdua duduk di belakang semua, tidak kah itu menjadikan saya seperti sopir kalian?" Ucap Si Keong kemudian.
"Huh?" Aku memandang bingung ke arah Bos ku itu. Benar-benar tak mengerti dengan maksud ucapannya tadi.
Bukan kah dia yang sedari awal menawarkan tumpangan, lalu apa masalah nya dengan menjadi sopir. Bukankah memang dia yang menyetir kemudi?
'Dasar Bos Linglung!' umpat ku dalam hati.
"Saya gak bisa nyetir mobil, Pak. Bapak aja ya yang jadi sopir nya? Kalau maksain saya yang bawa mobil, bisa-bisa bukannya jalan maju, mobil nya nanti malah saya bawa mundur. Bingung saya sama gigi-gigian mobil, Pak! Motor aja saya belum bisa bawa. Kalau naik sih saya bisa!" Celoteh ku panjang lebar dari luar mobil.
Aku kembali berusaha membuka pintu belakang mobil. Namun kulihat pandangan Erlan yang menatap ku dengan pandangan aneh. Seperti mengasihani ku.
'Apaan sih? Geser sana! Aku juga mau duduk!' bisik ku pada Erlan.
"Maksud Pak Kiyano, kamu di depan aja La.." ucap Erlan dengan nada sangat perlahan.
"Siapa Kiyano?" Tanya ku spontan.
"..."
"..."
Dan kembali, kurasakan keheningan yang mencengkeram batin dan rasa. Entah kenapa aku tak berani melirik ke kursi kemudi.
"Pak Kiyano itu bos kita, La! Kepala manajer kita ini! Duh! Kamu tuh kebangetan deh dung dung nya!" Bisik Erlan cukup kencang.
Dan aku pun melongo. Menyadari telah melakukan kesalahan teramat besar.
Aku memang baru mengetahui nama si Keong sesaat tadi. Jadi wajar juga kan bila aku bertanya siapa itu Kiyano. Kan kan? iya kan?
Glek.
Ku telan ludah ku sendiri dengan susah payah. Dan ku beranikan mata ku melayang ke depan.
Dan aku mendapati tatapan dingin nan menusuk jiwa raga dari si Keong, eh, bos Kiyano ku itu.
"Cepat duduk di depan! Atau besok kamu seharian jalan-jalan (naik-turun tangga)!" Ancam Bos Kiyano to the point.
Aku pun akhirnya menyeret tubuh ku ke kursi depan mobil. Ku putuskan untuk diam sepanjang jalan. Tak ingin membuat kesalahan lagi di hadapan Bos ku yang rasa-rasanya masih kesurupan ini.
__ADS_1
'Maa.. Lail takut..' ku jerit kan ketakutan yang kurasakan, di dalam hati.
***