Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Talak (POV Kiyano)


__ADS_3

"Mas..?" Bella menatap ku dengan pandangan cemas.


Ku hela napas cukup dalam. Mencoba menguatkan diri untuk melanjutkan perbincangan serius yang sesaat lagi akan terjadi.


Setelah nya aku menuntun bahu Bella menuju sofa di ruang TV. Lalu ku dudukkan Bella pada salah satu sofa itu. Kemudian aku pun duduk pada kursi sofa yang lain.


Sengaja ku beri jarak di antara kami. Agar aku lebih bisa bernapas lega saat melakukan pembicaraan serius dengan Bella nanti nya.


"Ada apa, Mas? Jangan bikin adek takut. Kamu terlalu diam.. dan dingin kepada ku, Mas? Apa Adek ada salah?" Tanya Bella beruntun tanpa jeda.


"Sabtu lalu, Mas menyempatkan diri untuk pulang ke kota A," ucap ku tiba-tiba.


"Sabtu lalu? Kenapa Mas gak bilang ke aku? Itu tuh waktu.." mata sipit Bella mendadak sedikit melebar. Kurasa ia mulai menyadari arah pembicaraan ku ini.


"Tadi nya Mas mau buat kejutan untuk kamu," ucap ku terjeda.


"Mas langsung datang ke rumah sakit. Karena kamu bilang ada tugas jaga dadakan. Tapi.."


Kembali aku menelan ludah dengan susah payah.


"Tapi kamu ternyata gak ada di sana. Kata teman mu, kamu mengambil cuti tiga hari."


"Mas.. " terlihat wajah Bella menegang.


Sedari awal pembicaraan ini, tak pernah sekali pun aku memalingkan pandangan ku dari mata Bella. Aku tak ingin melewatkan walau secuil emosi yang tersirat di wajah istri ku itu.


Dan, ekspresi Bella barusan yang menegang, membuat ku cukup terpukul. Ku rasa Bella semakin mengetahui arah pembicaraan ku ini.


Aku kemudian melanjutkan kembali ucapan ku.


"Mas lalu pulang. Berpikir kalau kamu mungkin ada di rumah."


"J..jam berapa Mas pulang ke rumah?" Tanya Bella tiba-tiba dengan suara bergetar.


Selama beberapa detik, aku tak segera menjawab pertanyaan Bella itu. Ku tatap Bella dengan pandangan yang menyimpan luka. Sementara ku lihat tangan Bella meremas kuat, kain baju yang dikenakan nya.


"Jam setengah sebelas, kira-kira."


Tiba-tiba Bella tersungkur duduk pada lantai di dekat kaki ku. Ia meraih kedua tangan ku, lalu menciumi nya berkali-kali.

__ADS_1


"Ma..maaf kan Bella, Mas!" Ucap Bella dengan suara bernada tinggi.


Aku memutuskan untuk tak menghiraukan jerit tangis Bella dan tetap melanjutkan kembali pembicaraan kami.


"Dan memang, kamu ternyata berada di rumah. Tapi Mas lihat.."


Kembali, kalimat ku terjeda karena aku yang kesulitan untuk mengurai kata-kata.


"Mas lihat, kamu berada di dapur,"


"Mas Kiyan! Maaf kan adek, Mas! Itu.. itu gak disengaja! Malam itu adek sedang bersedih," ucap Bella memotong ucapan ku.


"Kamu bersedih karena apa, Bell? Apa lantas kesedihan mu itu melegalkan perbuatan yang kamu lakukan bersama Kak Bayu?" Aku balas memotong ucapan Bella tadi.


"Mas melihat dengan kedua mata Mas sendiri, Bella. Kamu dan Kak Bayu berciuman di dapur. Cukup lama Mas berdiri menyaksikan kalian berpelukan mesra, dan Mas gak lihat kamu menolak nya!" Cecar ku tak henti.


Bella sesenggukan menangis di pangkuan ku. Dan aku membiarkan nya.


"Ceritakan pada Mas yang sebenarnya, Bell. Mas mau dengar dari mulut mu sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi di antara hubungan mu dengan Kak Bayu?!"


Bella mengangkat wajah nya. Ku lihat wajah nya kini telah bersimbah air mata. Kulit Bella yang memang putih bening pun mulai memerah akibat tangisannya itu.


Sebenarnya aku mulai didera kembali oleh perasaan gamang. Tak tega rasanya melihat Bella ku menangis sedih seperti ini. Karena selama ini aku tak pernah sekali pun jua melihat Bella hingga begini.


"Katakan, Bell.. apa pembelaan mu terhadap kejadian di dapur Sabtu malam itu?" Tanya ku dengan nada yang ku usahakan tetap lembut.


Aku meraih bahu Bella dan mengajak nya untuk duduk kembali di atas sofa tepat di samping ku. Jarak kami kini sangat lah dekat. Namun entah kenapa, hati ku merasa terlampau jauh dari menjangkau hati istri ku itu.


Bella masih sesenggukan menangis dalam diam selama beberapa waktu. Agak nya ia sedang berpikir tentang apa yang akan dikatakannya kepada ku.


Aku pun memberikan Bella waktu. Sementara Bella mengumpulkan kata-kata pembelaannya, aku sibuk menatap kedua tangan ku yang digenggam erat oleh Bella.


'Peras.. peras benar rasanya cinta ini. Andai Bella bisa memahami perasaanku kini..' gumam ku dalam hati.


"Adek.." Bella mulai berkata-kata.


"Malam itu adek sedang bersedih, Mas. Dan Kak Bayu mencoba menghibur adek. Tapi dia khilaf. Dan Bella pun khilaf. Ciuman yang terjadi di dapur malam itu adalah perbuatan khilaf kami, semata, Mas," tutur Bella menerangkan.


Aku mendesah kecewa. Masih tak paham dengan alasan yang dikemukakan oleh Bella itu.

__ADS_1


"Apa yang buat kamu bersedih, Dek? Hal buruk apa yang bisa bikin kamu dan Kak Bayu jadi khilaf seperti itu?! Mas gak bisa paham dengan penjelasan mu itu!" Tanya ku mulai sedikit emosi.


Bella tersentak. Ditatap nya aku dengan ekspresi takut. Selama ini aku memang tak pernah membentaknya, walau sekali pun.


Merasa takut jika aku tak bisa menjaga emosi, aku pun memilih untuk bangkit berdiri dan menjaga jarak dari Bella.


"Hal apa yang bisa bikin kamu melakukan perbuatan terlarang dengan Kak Bayu, Bell?! Padahal kamu masih punya Mas! Jika memang kamu punya masalah, kamu kan bisa cerita ke Mas! Bukan nya malah cari penghiburan ke lelaki lain!" Ucap ku setengah berteriak.


Bella terdiam dan hanya menatap ku dengan pandangan berkaca-kaca. Ia tak lagi mengucapkan apapun dalam waktu yang cukup lama.


"Katakan, Bell.. katakan kepada Mas.. tolong buat Mas paham dengan sumber masalah di antara kita ini.. jangan buat Mas menjadi si buta dalam pernikahan yang telah kita bangun cukup lama ini, Bell. Jika memang ada masalah, katakan. Atau jika memang kamu tak lagi mencintai Mas," kalimat ku lagi-lagi terjeda. Sementara ku lihat Bella menggeleng-gelengkan kepala nya. Entah maksudnya apa.


"Katakan juga, Bell.." ucap ku dengan suara lirih.


Kembali suasana menjadi hening. Aku menunggu Bella menyampaikan pembelaan nya. Aku benar-benar berharap Bella akan memberi ku jawaban yang bisa membuat ku paham atas perbuatannya di malam itu.


Namun, Bella hanya menunduk dan meremas kain baju nya dalam diam. Kediaman nya itu sungguh bagai belati yang menusuk hati. Karena bukan kah diam nya seorang wanita menandakan pengakuannya atas sesuatu?


Apa itu berarti Bella memang mengakui perselingkuhannya dengan Kak Bayu?


Apa itu juga berarti ia tak lagi mencintai ku?


Kembali aku menatap wajah Bella yang menunduk lesu. Buliran kristal bening terlihat menuruni kedua pipinya yang putih. Istri ku yang cantik kini terlihat payah dengan wajah nya yang memerah oleh bekas tangis.


Bella ku tersayang, yang mungkin tak lagi menyimpan sayang untuk ku..


"Apa kamu mengakui perselingkuhan mu dengan Kak Bayu, Bell?" Tanya ku akhirnya, dengan nada bergetar.


Aku mengepalkan kedua tangan ku erat-erat di kedua sisi tubuh ku.


Menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Bella, membuat ku merasakan jerih yang begitu menyiksa.


Setelah cukup lama waktu berlalu, Bella akhirnya menjawab pertanyaan ku.


"...ya."


Dan hati ku remuk redam lah sudah. Jawaban singkat Bella tadi telah merobohkan dinding kepercayaan yang masih ku pertahan kan hingga detik tadi. Namun dengan jawaban dari Bella tadi, hancur sudah semua harapan ku untuk mempertahankan pernikahan ku dengan Bella.


Aku merasa dunia ku mulai goyah. Rasa sakit yang menyiksa hati ku kini, membuat ku hampir-hampir tak lagi bisa melanjutkan pembicaraan. Namun aku mencoba meneguhkan diri. Ku coba untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatan ku di antara puing-puing rasa yang tercerai berai.

__ADS_1


"Kalau begitu, Bellinda Hikma, sejak hari ini, aku jatuhkan talak kepada mu! Dan ku bebaskan kamu dari semua tanggung jawab mu sebagai istri ku," Ucap ku pada akhirnya.


***


__ADS_2