Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Cerita Pak Kiman (POV Laila)


__ADS_3

Sore harinya, Erlan pulang ke rumah untuk menjemput dan mengantarkan ku berangkat bekerja. Di perjalanan, kami sempat mampir ke gerai fried chicken langganan kami dulu, semasa kami masih menjadi staf OB.


Sebelum masuk ke gerai, Erlan menyerahkan lima lembar uang ratusan ke tangan ku.


"Huh? Ini buat apa, Lan..eh. Yang?" Tanya ku bingung.


"Beli chicken sebanyak yang kamu mau, dan bagi kan buat teman teman kamu, Yang. Anggap aja sedekah atas pernikahan kita kemarin," tutur Erlan menjelaskan.


"Gope? Gak kebanyakan?"


"Oh! Segitu kebanyakan ya? Tadi nya kupikir itu kurang."


"Segini mah banyak, Yang. Teman-teman yang akrab sama aku kan paling gak sampai sepuluh orang. Dengan uang segini, aku bisa dapat 50 potong chicken."


"Yah.. terserah kamu deh, Yang. Pokoknya itu uang buat kamu deh. Terserah mau dipake buat apa juga. Mau beli ayam semua ya boleh.. mau beli secukup nya juga boleh. Dan.."


Erlan terlihat mengambil sesuatu dari dalam dompet nya. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebuah kartu ATM, lalu menaruh nya di atas tangan ku yang masih memegang lembaran uang darinya tadi.


"Yang ini, semua uang gajian ku ada di ATM ini. Kamu yang pegang aja deh. Tiap bulannya aku nerima 70 juta. Biasanya langsung kepotong sama uang listrik dan yang lainnya. Gak tahu juga sih bersihnya berapa. Nanti kamu cek sendiri aja ya. Semisal kurang, kamu bilang aja," papar Erlan panjang lebar.


Dan aku hanya mampu ternganga, saat menerima selembar kartu ATM dari Erlan itu.


'70 juta? 70 juta kata nya? Bisa beli emas digital berapa gram ya itu?' dan angan ku pun langsung melanglang buana.


"Ini beneran ada uang 70 juta di ATM ini, Yang?" Aku bertanya untuk memastikan.


"Iya."


"Ini kartu buat ku?" Tanya ku mengulang.


"Iya, Yang. Udah sana beli chicken!"


"Hmm.. sayang banget, Yang. Uang nya aku investasiin aja ya?" Aku meminta ijin.


"Kamu suka investasi memang nya?" Tanya Erlan dengan pandangan terkejut.


Aku mengangguk bersemangat.


"Aku beliin emas digital. Boleh ya??" Mohon ku penuh harap.


"Beli emas digital? Dari pada beli emas, kenapa gak invest beli saham aja? Kan jadi lebih berkembang," Erlan memberikan saran.


"Tapi aku gak ngerti beli saham-sahaman. Yang paling aman kan beli emas," aku mengotot.


"Memang beli emas itu investasi yang cukup aman. Tapi profit yang didapat gak terlalu besar. Atau coba invest beli tanah di beberapa lahan yang masih berkembang. Prospek nya lumayan bagus itu, Yang," usul Erlan kembali.


"Tauk ah. Pusing. Aku ngerti nya beli emas aja dulu. Jadi, boleh gak nih?" Tanya ku mulai bernada kesal.


Erlan yang menangkap kekesalan dalam suara ku pun akhirnya melunak. Ia menyerah dari memberikan ku usulan.


"Boleh.. tentu aja boleh dong, Yang.. pokok nya semua uang ku itu uang mu. Jadi kamu bebas deh mau buat beli apa aja!" Bujuk Erlan dengan terburu-buru.


"Nah! Gitu dong dari tadi. Yaudah. Aku beli chicken dulu ya!"

__ADS_1


Kuputuskan untuk membeli 25 potong chicken saja. Plus tambahan 2 potong chicken dibungkus terpisah yang sengaja kubeli untuk suamiku, Erlan.


"Nih, buat kamu, Yang!" Aku menjulurkan bungkusan kecil fried chicken kepada Erlan.


"Buatku?"


"Iya. Kamu mau pulang ke apartemen mu dulu kan, baru nanti malam jemput aku dan pulang ke rumah Mama?" Tanya ku dengan senyuman cerah.


"Iya. Gak enak juga kan kalau aku pulang ke rumah, tapi kamu nya gak ada.."


Ucapan Erlan itu sedikit membuat ku merasa bersalah. Karenanya, dengan spontan aku memberikan ciu man singkat ke pipi nya Erlan.


"Maaf ya, Yang. Aku cuma mau nikmatin hari-hari terakhir ku bekerja. Kan nanti aku bakal siap nyambut kamu di rumah kita setiap hari.. jadi.."


Erlan menutup mulut ku dengan dua jari tangan nya.


"Syuut.. iya. Iya. Aku ngerti kok, Yang. Udah. Kita berangkat sekarang ya. Nanti kamu terlambat masuk kerja lagi, kalau kita kelamaan ngobrol di sini?"


Ku tatap haru wajah suami ku itu. Ah.. aku kembali diingatkan, betapa sungguh beruntungnya aku menjadi istri nya Erlan.


"Makasih ya, Yang.." ucap ku penuh ketulusan.


***


Hari demi hari terus berlalu. Hingga tak terasa seminggu sudah berlalu.


Minggu pagi ini aku dan Erlan berencana untuk berkunjung ke rumah Mama Ilmaya. Dan sekitar jam sebelas siang akhirnya kami sampai di sana.


Menurut Erlan, Papa tetap ingin bekerja sebagai penjaga pekarangan di rumah keluarga besar nya. Dan ia tak ingin mendapatkan perlakuan istimewa apapun, meski status nya sebagai Papa kandung ku telah diketahui oleh keluarga majikan nya itu.


Aku memandang sosok Papa yang terlihat fokus dengan pekerjaannya saat ini.


"Kamu mau kita ke sana?" Tanya Erlan di samping ku.


"Huh?" Aku menoleh ke Erlan dengan pandangan bingung.


"Ke Papa mu.. kamu mau kita ke sana dulu?" Tanya Erlan mengulang.


Aku kembali menatap Papa. Dan ia sepertinya masih belum menyadari kedatangan ku.


Aku pun kemudian menggeleng.


"Enggak.. aku.. aku belum siap untuk menyapa nya lagi. Kamu bisa ngerti kan maksud ku, Yang? Aku.."


"Ya. Aku mengerti. Tapi aku berharap, Yang. Kelak kamu akan bisa melupakan perasaan negatif di masa lalu terhadap Papa mu. Karena itu demi kebaikan mu sendiri. Ok?" Sahut Erlan dengan bijak nya.


Ku tundukkan kepala. Dan baru menyahuti pernyataan Erlan beberapa saat kemudian.


"Iya.. aku juga berharap hari itu akan segera tiba, Yang.." ucap ku dengan senyuman yang masih menyimpan peras.


Erlan menarik bahu ku ke dalam rengkuhan nya. Kemudian di kecup nya puncak kening ku dengan perlahan.


"I love you, La.. (aku mencintaimu, La..) you were loved (kamu itu dicintai).. so don't you have a though as if you were alone all along, okay (jadi jangan punya pikiran kalau kamu itu sendirian sepanjang waktu, ok)?"

__ADS_1


"...okay. makasih ya, Yang.."


***


Begitu sampai di muka pintu masuk, kami berdua disambut oleh Kepala Pelayan, Pak Kiman.


"Mama ada kan, Pak?" Tanya Erlan berbasa-basi.


"Nyonya besar ada di ruang nge teh, Tuan Muda. Ada non Arline juga bersama nya," sahut Pak Kiman dengan sopan.


"Baik. Terima kasih Pak Kiman!" ucap Erlan kemudian, dengan aku yang mengikuti langkah nya dalam diam.


Tapi, belum sempat aku memasuki rumah, Pak Kiman menahan ku dengan panggilan nya.


"Maaf, Non Laila.. bisakah kita berbicara sebentar? Saya berjanji, ini tak akan lama," ujar Pak Kiman dengan tatapan teduh nya.


Erlan melihat ku, dan aku pun memberinya anggukan pelan.


"Kamu duluan ke atas deh, Yang. Nanti aku menyusul," ucap ku kepada Erlan.


Erlan mengangguk, mengiyakan permintaan ku. Kemudian ia pun berjalan terlebih dulu untuk menjumpai Mama nya di lantai atas.


Setelah sosok Erlan menghilang dari pandangan ku, baru lah aku berpaling menghadap Pak Kiman.


"Ada apa ya, Pak?" Tanya ku dengan sopan.


"Begini.. saya baru tahu tentang status Mang Ulum sebagai Papa nya Non Laila.." tutur Pak Kiman secara perlahan.


Aku menahan napas. Tak menyangka kalau perbincangan yang dimaksud oleh Pak Kiman ternyata terkait dengan Papa.


Dengan berat, ku hembuskan napas ku lagi. Sambil menyahut, "ya. Lalu?"


Pak Kiman terlihat mengamati ekspresi ku terlebih dulu, sebelum akhirnya lanjut berkata.


"Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya ketahui terkait Mang Ulum. Maksud saya, Papa Non Laila."


Aku terdiam. Menunggu Pak Kiman melanjutkan ucapan nya lagi.


Pak Kiman menghela napas dalam, lalu memandang ke suatu titik jauh di samping ku. Dengan ekspresi merenung, Pak Kiman pun lanjut bicara.


"Saya mengenal Papa Nona sejak sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, dia terlihat begitu kurus dan membawa Darman yang juga masih kecil dan kurus pula.


Pak Kiman adalah seorang yang pendiam. Ia jarang berinteraksi dengan pegawai yang lain. Meski begitu, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik. Dan ia juga seorang Ayah yang baik terhadap Darman," tutur Pak Kiman bercerita tentang Papa.


"Tapi, pernah suatu ketika saya tak sengaja mendapatinya tertidur di teras belakang rumah. Sepertinya ia kelelahan usai menanam varietas bunga baru di halaman belakang rumah. Kemudian, saya tak sengaja mendengar ia mengigau. Ia menangis dalam igauannya itu, Non.."


"Dia.. menangis?" Tanya ku tak percaya.


"Iya, Non. Dan dalam posisi mengigau itu, saya jelas-jelas mendengar ia menyebutkan dua nama. Mutia dan Laila.."


"..?!!"


***

__ADS_1


__ADS_2