Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Malam Pertama yang Kedua (POV Erlan)


__ADS_3

Dan acara pesta berlangsung dengan sangat meriah. Kami sengaja melangsungkan nya di ballroom sebuah hotel bintang lima. Karena lokasi kontrakan nya Laila yang tidak memungkinkan untuk menjamu para tamu kami semuanya.


Sepanjang waktu, aku selalu fokus memperhatikan Laila ku. Hingga seringkali Arline menegur ku yang bersikap abai terhadap para tamu kami. Dih. Aku tak menggubris tegurannya itu. Memang hari ini, Laila ku tampil sangat memukau hati.


Justru bila aku membagi perhatian ku dengan tamu kami, aku malah akan jadi kesal hati nanti nya.


Bagaimana tidak? Karena aku selalu saja mendengar para tamu ku yang lelaki itu memuji-muji kecantikan Laila. Apalagi saat kulihat pandangan lapar nya mereka terhadap istri ku yang cantik itu. Ingin rasanya ku layangkan bogem mentah ku ke wajah mesum nya mereka.


Berani benar mereka melihat Laila ku berlama-lama!


Karena nya, pada akhirnya aku memilih untuk memperhatikan Laila ku sepanjang waktu saja. Demi berlangsung nya kedamaian dalam acara kami hari ini.


"Kenapa sih, kamu ngelihatin nya begitu banget, Yang? Gerah tahu dilihatin terus!" Dumel Laila ku suatu ketika.


"Kamu cantik banget sih, Yang! Aku padamu lah!" Rayu ku dengan jujur.


Aku tak berhasil melihat wajah kemerahannya Laila saat ini. Namun aku masih bisa melihat gelagat malu nya istri ku itu usai ku puji.


"Gombal! Memang biasanya aku gak cantik apa?" Elak Laila sambil sedikit melotot.


"Enggak. Gak cantik," jawab ku dengan spontan.


Ahh.. melihat mata besar nya Laila yang melotot, aku bukannya takut malah jadi ingin tersenyum saja.


Dengan gemas, ku ci um mulut nya Laila dengan secepat kilat. Lupa kalau kami masih berada di atas panggung di tengah keramaian pesta saat ini.


Mata Laila pun kian melotot jadinya.


"Erlan! Malu ah! Dan katamu aku biasanya gak cantik gitu hah?!" Omel Laila dengan suara tertahan.


Duuhh.. ingin nya sih ku cubit lagi mulut nya istri ku itu. Tapi benar kata Laila. Kami masih harus menjaga sikap sampai acara pesta ini selesai sore nanti.


Hhh.. waktu yang masih terlalu lama..

__ADS_1


"Kamu memang gak cantik, Yang. Tapi kamu tuh manis, tahu. Maniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis banget," lanjut ku menggombal.


Dan rayuan ku berhasil. Seketika itu pula kekesalan Laila ku raib entah ke mana. Ekspresi kesal di wajah nya itu pun berganti dengan sebuah senyuman puas dan lagi bahagia.


Dan aku pun ikut bahagia melihat Laila ku bahagia.


"Apa an sih! Nge gombal melulu!" Gumam Laila ku.


"Ya gak apa-apa dong ngegombal. Kan nge gombalin istri sendiri. Daripada ngegombalin istri orang. Memang nya kamu ngebolehin, Yang?"


"HEYY!!" Laila ku langsung berteriak.


Membuat perhatian orang-orang tertuju pada kami dengan seketika.


Aku terkekeh pelan. Terlebih saat mendapati sikap Laila ku yang seperti ingin menyembunyikan diri nya dari para tamu kami. Hahaha.


"Aww!" Aku mengaduh kesakitan, manakala dua cubitan Laila berhasil disarangkannya di pinggang ku.


Sementara ia tampak tersenyum-senyum meminta maaf kepada para tamu yang masih memperhatikan ke arah kami berdua duduk saat ini.


"Dan jangan coba-coba ngegombalin istri orang atau perempuan mana pun ya, Lan! Kecuali kamu mau junior mu itu ku kasih bubuk cabe yang paling pedas yang nanti bakal ku beli di warung sembako depan kontrakan! Awas aja!" Ancam Laila ku terdengar sangat merdu di telinga.


"Iya, Sayang. Gak bakal berani kok aku mah. Cuma bercanda aja tadi tuh.." ungkap ku jujur sambil balas berbisik ke telinga nya.


Iseng-iseng, ku tambahkan pula kecupan di pipi istri ku itu. Sehingga membuat Laila ku jadi terpana lagi untuk ke sekian kali nya.


Mungkin dipikirnya aku sungguh tak memiliki rasa malu karena begitu buka-bukaan melakukan PDA (public display of affection \= bermesra-mesraan) di hadapan orang banyak. Padahal sih, memang aku tak pernah malu melakukannya.


Justru aku selalu senang bila berhasil membuat istri ku itu terdiam seketika oleh ulah jahil ku yang selalu ingin bermesraan dengan nya di mana pun kami berada.


Bukan kah itu adalah bukti bahwa aku sangat sangat mencintai nya? Ku harap Laila menyadarinya juga dan tak sering menolak perhatian ku lagi nanti nya.


...

__ADS_1


Tak terasa acara pesta lun akhirnya berhasil.. eh, berakhir juga.


Usai acara selesai, aku langsung memboyong Laila ku untuk menginap di sebuah kamar inap di hotel yang sama dari tempat berlangsung nya acara. Aku sengaja ingin bermalam dulu di sini bersama Laila.


Menganggap kalau ini adalah malam pertama kami untuk yang kedua kalinya. Hahaha.


Semua keluarga dan kerabat kami pun pulang ke rumah nya masing-masing. Dan aku akhirnya bisa memiliki Laila ku untuk diri ku sendiri kini.


Kami disiapkan oleh pihak hotel, sebuah kamar yang begitu indah dengan hiasan taburan bunga mawar merah di mana-mana.


Begitu aku memasuki kamar, aku mencium wewangian yang menggugah pikiran ku. Pada awal nya aku tak merasa terusik. Namun sekitar lima belas menit usai berganti baju dengan piyama, aku mulai merasakan keanehan pada tubuh ku.


Aku pun mencurigai sesuatu. Teringat oleh ku bisikan Arline saat ia berpamitan pulang tadi sore.


"Kusiapin hadiah spesial buat kalian berdua menikmati malam yang panjaaang ini. Semoga kalian bisa menikmati nya ya, Kak!" Bisik Arline di telinga ku saat itu.


Dengan bergegas, ku cari keberadaan Laila. Dan aku dibuat terpana dengan apa yang kulihat. Aku mendapati Laila ku berdiri di bawah guyuran air shower di kamar mandi sambil mengusap-usap keseluruhan tubuh nya dengan gelagat yang terlihat..sensu al di mata ku.


Ku lirik ke sudut kamar mandi. Di mana terdapat sebuah lilin beraroma terapi yang juga terbakar menyala saat ini. Dari nya keluar aroma yang sama seperti yang juga bisa ku ci um dari lilin yang terbakar di ruang tidur kami tadi.


Aku menelan ludah. Sialan benar memang si Arline itu. Berani benar dia memberikan obat perang sang sebagai hadiah untuk ku dan juga Laila. Padahal tanpa obat perang sang itu pun malam ku sudah cukup berga irah.


Dih!


Ku tengok kondisi Laila ku saat ini. Dan, junior ku pun langsung menegak kencang berdiri. Penampilan Laila yang hanya memakai bra dan under wear saja saat ini terlihat seperti tayangan film biru yang pernah ku saksikan dulu sekali sewaktu aku masih baru menjejak ke usia dewasa.


Dan kabut gai rah itu pun perlahan mulai menguasai ku juga. Tanpa bisa berpikir panjang, akhirnya ku terkam saja hidangan Laila yang sudah begitu menggugah seluruh benak dan pikiran ku saat ini.


Dengan suara serak, ku panggil nama Laila ku semesra mungkin.


"Laila, Sayang.."


***

__ADS_1


__ADS_2