Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Hari Terakhir Laila Bekerja (POV Erlan)


__ADS_3

Aku mere mas lembut jemari Laila yang ku genggam sedari kami bertemu lagi di dalam kamar nya Nunik. Sebuah kebiasaan yang mulai menjadi candu bagi ku.


Ya. Aku kecanduan untuk bersentuhan dengan Laila ku selalu. Seolah-olah kami tak memiliki waktu yang cukup untuk bersama saja.


Laila menghela napas sejenak. Baru kemudian menjawab pertanyaan ku.


"Keingetan sama cerita Nunik tadi, Yang. Katanya dia sempat bermimpi gitu. Mimpi yang kerasa kayak nyata banget."


"Terus?"


"Terus katanya, dalam mimpi nya itu Nunik lihat aku pakai kerudung."


"Jadi, kamu mau pakai kerudung gitu, Yang?" Aku menebak maksud Laila.


"Menurut mu? Apa aku pantas pakai kerudung, Yang?" Tanya Laila dengan raut khawatir.


"Kenapa bilang begitu? Memang nya ada kriteria penilaian pantas dan gak pantas ya dalam berkerudung? Bukan nya itu memang sudah jadi kewajiban setiap muslimah ya untuk berkerudung? Jadi tentu lah Allah akan pantaskan semua wanita untuk memakai nya," ucap ku blak-blakan.


"Kok, rasa-rasanya kamu nyindir aku sih, Yang?" Dumel Laila.


"Ehh? Aku gak nyindir kamu, Yang. Cuma menyampaikan apa yang ku tahu aja. Iya gitu kan ya?" Tanya ku ragu-ragu dan takut-takut. Takut bila ada ucapan ku yang akan kembali menyinggung istri ku yang sensitif itu.


"Tetap saja. Rasanya kayak kamu memang nyindir aku deh!" Ucap Laila merajuk sambil meninggalkan ku di luar pintu mushola.


'Duh. Salah omong lagi! Heran deh. Akhir-akhir ini kayak nya Laila jadi sering banget ngomel. Apa dia lagi M ya? Hmm.. kenapa ya?' tanya ku bermonolog sendiri dalam hati.


Syukurlah, selesai shalat wajah Laila tak lagi cemberut kepada ku. Ia bahkan dengan malu-malu meminta maaf kepada ku.


"Maaf!" Ucap nya singkat, padat dan dengan suara yang cukup pelan.


"Hah? Kamu bilang apa tadi, Yang?" Tanya ku ingin memastikan apa yang baru saja ku dengar keluar dari mulut nya Laila.


"Iya, Maaf. Karena tadi aku sempat senewen ke kamu, Yang. Hh.. cuma bingung aja sih. Menurut kamu, aku baiknya pakai kerudung enggak, Yang?" Tanya Laila tiba-tiba.


"Itu sih terserah kamu aja, Yang. Aku mah dukung aja deh keputusan kamu."

__ADS_1


"Dih. Pasrah banget sih! Kalau aku mau pakai baju badut dan joget-joget ala tik tok di tengah jalan gimana coba? Kamu mau dukung aku juga?" Tanya Laila menantang ku.


Ku pandangi wajah Laila lekat-lekat. Dan degup jantung ku pun kembali bertalu begitu cepat.


'Ah.. aku memang sungguh mencintai Laila..' bisik hati ku.


"Yee! Ditanya malah bengong! Jadi gimana? Kamu mau dukung aku juga bertingkah gila-gilaan gitu?" tanya ulang Laila.


Aku mengingat kembali pernyataan Laila tadi. Baru kemudian menjawab pertanyaan nyeleneh nya itu.


"Ya asal jangan terlalu gila ya, Sayang. Soal nya aku gak kuat.." ungkap ku jujur.


Saat ini kami sudah berada di parkiran mobil. Tiba-tiba saja aku teringat dengan perkataan Kak Aryo terkait menjaga hubungan dengan pasangan. Salah satunya adalah dengan sering-sering memberikan perhatian kecil.


Dengan refleks dan bergegas, aku langsung saja membukakan pintu mobil untuk Laila masuk. Meski ia sempat memberiku pandangan bingung, namun aku berhasil menangkap sebuah senyuman di bibir istri ku itu.


"Gak kuat gimana sih, maksud mu, Yang? Gak ngerti aku!" Ucap Laila, setelah aku ikut menyusul nya masuk ke dalam mobil.


"Gak kuat kalau dapat tatapan kasihan dari orang-orang, Yang. 'ih lihat tuh! Kasihan banget istri nya gila!' gitu kan kata orang nanti nya, Yang!" Seloroh ku asal.


Memang benar ya istri ku ini. Begitu mahir nya ia mencubit sesuka hati. Aku sempat berprasangka, jangan-jangan ia sempat kursus mencubit entah dimana? Hahaha.


"Kamu tuh yang gila!" Dumel Laila di samping ku.


Aku hanya membalas nya dengan cengiran kuda. Dan perjalanan pulang kami pun berlanjut dengan suasana yang hangat dengan obrolan kecil di antara aku dan juga Laila.


Aku menyukai perbincangan ini. Dan aku berharap kami bisa selalu berbincang sejujur dan seterbuka ini hingga kami menua nanti. Aamiin..


***


Tak terasa waktu terus berlalu. Hingga akhirnya tiba juga hari Kamis nya. Hari terakhir Laila ku bekerja. Rencana nya hari ini Laila akan mengambil gaji nya. Jadi ia mengotot untuk menaiki Merry nya terakhir kali.


"Ku antar aja deh, Yang. Aku masih was-was kalau kamu naik motor," ungkap ku jujur terkait kekhawatiran ku pada Laila dan Merry si motor bebek nya itu.


"Gak mau! Kamu kasih ijin lah ke aku, Yang! Lagi pula besok-besok kan aku udah gak kerja. Ini terakhir kali nya deh aku naik si Merry. Aku janji!" Ikrar Laila berapi-api.

__ADS_1


"Hh.. terserah kamu aja deh, Yang. Tapi nanti aku tetap jemput kamu juga deh. Kita pulang bareng ya. Aku mantau kamu naik moge ku sendiri," ucap ku berkompromi.


"Hah?! Yang benar aja, Yang. Mana bisa begitu? Kamu kira aku anak kecil yang gak tahu harus pulang ke mana dan harus dituntun pulang, apa?!" Ucap Laila mulai sedikit emosi.


Ku tarik Laila ke dalam pelukan ku. Ku usap rambut nya yang kuamati sedikit lebih panjang hingga hampir sering menutupi payu dara nya setiap kali ia berada di atas ku setiap malam nya. Baru kemudian aku berkata dengan suara yang lembut.


"Sayang ku yang tersayang.. kita udah sepakat kan untuk mau saling berkompromi? Jadi please, Yang. Ini hasil kompromi nya aku. Kan kalau aku khawatir juga tanda nya aku sayang kamu kan, Yang?" Ucap ku diakhiri kalimat tanya.


"Hh.. oke deh. Iya. Iya. Kompromi-kompromi. Makan deh tuh kompor sama mi!" Ucap Laila masih mendumel.


Mendengar dumelannya itu, aku ingin mencubit mulut nya Laila jadinya. Memang dasar ya Laila dengan segala celotehan absurd nya. Aku masih sering dibuat nya tergelak oleh setiap ucapan nya yang asal itu.


Tak tahan dengan keinginan terdalam ku itu. Ku tarik saja wajah Laila hingga kembali menghadap pada ku. Kemudian kucubit mulut nya Laila dengan mulut ku sendiri. Hahaha. Lumayan..


Tak lama kemudian, wajah Laila ku langsung sedikit bersemu merah. Akhir-akhir ini selain sensitif, Laila juga bersikap begitu manis setiap kali aku memberikan perhatian kecil kepadanya.


"Apaan sih?! Main ci um-ci um aja! Kalau dilihat orang gimana coba? Memang nya gak malu apa?!" Dumel Laila sambil mengenakan helm ke kepala nya.


Laila lalu menaruh tas ransel nya ke sangkutan depan yang ada di motor bebek nya itu.


"Sebentar dulu! Moge ku kan ada di apartemen ya. Jadi untuk berangkat hari ini, aku nebeng deh ya ke kamu, Yang? Pas banget kan searah!" Ucap ku terburu-buru.


"Memang nya kamu gak naik mobil aja? Gak langsung ke kantor?" Tanya Laila dengan wajah bingung.


"Enggak. Aku mau nyobain nebeng ke kamu lagi aja deh, Yang. Sekalian mastiin aja biar kamu bisa tetap santai naik motor nya," ungkap ku jujur.


Laila mencebik kesal. Dengan wajah bertekuk ia pun berucap asal.


"Yaudah! Cepetan naik! Udah mau kesiangan nih aku!" Ucap Laila sedikit galak.


"Iya. Neng Ojek ku Sayang.."


Dan kembali, kutangkap sebuah senyuman berhias di bibir nya istri ku itu.


Aku pun langsung membonceng ke belakang Laila. Dan brum.. brum.. kami pun berangkat kerja bersama-sama.

__ADS_1


***


__ADS_2