
Sebelum ke butik, aku terlebih dulu mengajak anak-anak ke gerai pizza.
Sebuah perayaan kecil untuk kemajuan yang berhasil diraih oleh butik ku ini.
Sesampai nya di gerai fast food, Mark dan Nila memaksa untuk ikut turun dari mobil. Aku pun akhirnya masuk ke dalam dengan menggandeng kedua buah hati ku itu.
Sambil menunggu pesanan, aku dan Anak-anak pun duduk mengelilingi salah satu meja bundar yang ada di sana. Aku juga memesan air mineral dan cake ukuran kecil untuk Mark dan Nila.
"Permisi, Mbak.. boleh saya ikut duduk di kursi ini? Yang lain bangku nya pada penuh," Sapa seorang wanita muda yang tiba-tiba saja muncul.
Sekilas, aku melirik ke sekitar. Memang benar ucapan wanita itu. Saat ini pengunjung gerai fast food ini memang sedang ramai-ramai nya.
"Silahkan!" Ucap ku mempersilahkan wanita itu duduk bersama kami.
"Ma, kik nya lejat!" Seru Nila dengan wajah berbinar. Saat ku lihat, sama sekali tak terlihat bekas kantuk dan letih yang masih dirasakan nya hingga sebelum turun dari mobil tadi.
"Cake nya enak? Kalau gitu habis kan ya, Sayang.." aku menitahkan Nila menghabiskan cake di piring nya.
Kemudian pandangan ku beralih ke Mark, yang kini masih menghabiskan potongan cake nya dengan gerakan pelan.
"Dua-dua nya anak Mbak nya?" Tanya wanita asing yang duduk bersama kami.
Ku angkat pandangan ku ke wajah wanita itu. Dan ku dapati senyuman ramah terpasang di wajah nya.
"Iya. Alhamdulillah," jawab ku sekedar nya.
"Lucu-lucu ya. Kayak nya beda umur nya dekat banget. Beda setahun ya, Mbak?" Tanya nya lagi.
Aku terdiam. Tak menyangka akan menghadapi pertanyaan yang telah cukup sering ku terima dari kebanyakan orang. Umumnya mereka yang bertanya, baru pertama kali melihat Mark dan juga Nila.
Mengingat dari postur tubuh memang Mark tampak lebih tinggi hampir sepuluh senti dari Nila. Jadi ia sering disangka kakak Nila dengan beda usia setahun.
Aku pun langsung mengoreksi ucapan wanita di hadapan ku itu.
"Mereka terlahir kembar, Mbak. Beda lima menit aja pas lahir," ucap ku mengoreksi.
"Wah! Kembar? Bisa beda ya cewek sama cowok. Pasti Mbak dan suami senang banget ya langsung dapat paket komplit!" Seru sang wanita.
Mendengar kata 'suami', aku lagi-lagi harus menahan diri untuk tidak mengingat masa-masa sedih ku dulu.
Bagaimana aku melahir kan si kembar tanpa kehadiran suami di sisi. Bagaimana aku menemani Nila bolak/balik ke rumah sakit.
Untung lah aku masih memiliki keluarga yang menyayangi ku dan juga kedua anak ku. Jika tidak, aku tak tahu bagaimana aku bisa bertahan sebagai ibu muda dari dua anak kembar ku ini.
"Alhamdulillah.." sahut ku kembali dengan singkat dan padat.
"Oh ya! Maaf lupa. Saya Aira. Dari tadi asik ngobrol, tapi malah lupa ngenalin diri," tutur Aira memperkenalkan diri.
"Laila," aku pun ikut memperkenalkan diri.
Di samping ku, tahu-tahu Nila pun ikutan nimbrung.
__ADS_1
"Nama ku Nila, Tante.. Nila dali Lanila. Nila suka nama Nila. Kalena ini nama hadiah dali Papa Elan. Tapi Nila gak suka walna nila, Tante. Telalu gelap. Nila suka walna kuning. Celah sepelti matahali," ucap Nila panjang lebar.
Aira langsung menanggapi ucapan Nila dengan senyuman cemerlang.
"Waahh.. dede cantik pintar sekali ngomong nya!"
"Nila, Tante.. bukan dede cantik!" Koreksi Nila.
Aku dan Aira seketika terkekeh pelan.
"Oh iya. Iya. Maaf ya Tante Aira lupa. Nila sudah sekolah ya? Kamu pintar banget sih, Sayang.." puji Aira.
"Nila udah sekolah, Tante. Balu hali ini sekolah. Tadi diantal Mama pagi-pagi. Nila pakai baju sendili lho, Tante Aila.."
"Iih.. pintar nya.. Nila sama Kakak--" Aira melirik singkat ke arah Mark yang sedari tadi masih asik dengan potongan cake nya.
Mark tak menganggap keberadaan Aira. Melihat gelagat tak sopan itu, aku pun langsung menegur Mark untuk memperkenalkan diri nya.
"Mark.. Tante Aira mau ngajak kenalan itu.." tegur ku kepada Mark.
Mark memanyunkan mulut nya. Namun ia mengikuti anjuran ku juga pada akhirnya.
"Mark Ishtar," ucap Mark menyebut nama nya sendiri.
Aku memasang wajah tak enak hati kepada Aira.
"Maaf ya, Aira. Mark memang agak pendiam. Terlebih sama orang yang baru dikenal nya," ucap ku menjelaskan.
Aku tak menyahut. Hanya tersenyum simpul saja.
Kami pun terlibat perbincangan seputar hal-hal umum tentang masing-masing kami. Dan aku merasa ada banyak kecocokan saat mengobrol dengan Aira.
Kami baru berpisah setelah pesanan pizza ku sudah siap. Sebelum berpisah, aku sempat bertukar nomor dengan Aira, dan berjanji untuk saling mengunjungi di kala senggang.
"Dada Tante Aila! Kapan-kapan main ya ke lumah Nila! Nanti Nila kenalin ke Lupi dan Pinon!" Seru Nila dengan wajah riang.
Lupi dan Pinon adalah kucing liar yang sering main ke rumah ku.
Aku sebenarnya tak suka bila harus memelihara kucing. Namun karena Nila seperti nya sangat menyukai nya, jadi aku membiarkan saja bila kedua kucing itu main ke rumah kami. Syukurlah Nila dan Mark tak memiliki penyakit alergi bulu seperti ku.
"Oya, Nila Sayang. Kapan-kapan Tante main deh ya!"
Setelah mendapatkan pizza, aku langsung menggiring kedua anak ku untuk masuk ke dalam mobil. Namun, saat aku hendak menyalakan mesin mobil, aku melihat ada seorang anak perempuan seumuran Nila yang menangis sendirian di depan gerai fast food yang baru saja ku kunjungi.
Selama beberapa saat, aku mengamati anak perempuan itu. Namun setelah beberapa lama tak ada orang yang tergerak untuk menolongnya, aku pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan melihat situasi anak perempuan itu.
"Mark, Nila, tunggu dulu di sini ya. Jangan ke mana-mana, dan jangan tekan tombol apa-apa. Ok?!" Aku mengingatkan kedua anak ku.
"Iya Ma.." koor Kedua anak ku secara bersamaan.
Aku pun turun dari mobil dan menghampiri anak kecil yang masih menangis sesenggukan itu.
__ADS_1
Begitu tiba di hadapan anak itu, aku langsung menyapa sang anak dengan wajah dibuat seramah mungkin.
"Halo, Sayang.. kamu kenapa nangis? Mana Mama Papa kamu?" Tanya ku pada sang anak.
Anak itu masih juga terdiam dan menangis sesenggukan.
Aku kembali mencoba menyapa sang anak, namun usaha ku lagi-lagi tak berhasil.
Beberapa waktu kemudian aku dikejutkan oleh suara Nila yang muncul di belakang ku.
"Dede cantik kenapa, Ma?" Tanya Nila kepada ku.
"Kok Nila turun dari mobil? Kan Mama udah bilang Di dalam mobil aja," aku menegur nya.
Nila menyengir bersalah dan meminta maaf.
"Nila penasalan, Ma. Kenapa Mama jongkok di sini. Nila kila Mama mau empup," ucap Nila dengan asal.
"Hmmph!" Aku hampir saja tertawa lepas. Sungguh ajaib benar kalimat yang keluar dari mulut putri ku itu. Dia mengira aku sedang BAB. Padahal kan sebenarnya aku sedang mengajak bicara anak perempuan yang tadi menangis sendirian.
"Ihihi.. Tante empup sembalangan!" Sebuah suara asing tertangkap oleh telinga ku. Dan ternyata itu adalah suara anak perempuan yang tadi menangis.
Saat kulihat, anak perempuan itu kini sudah berhenti menangis. Ia malah tampak tersenyum menertawakan ku.
'Duuhh.. gara-gara Nila nih aku dikira empup!' batin ku meringis.
Dengan sabar, aku berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.
"Ehem! Nama kamu siapa sayang?" Tanya ku pada anak perempuan itu.
"Lala, Tante.."
Aku tertegun. Tak menyangka kalau kami memiliki nama yang hampir sama.
"Waah! Nama nya mirip kayak Mama. Kamu lahil nya malam-malam juga ya?" Tanya Nila dengan ceriwis.
"Gak tahu. Kan aku masih kecil banget waktu balu lahil.." ucap Lala dengan suara yang cadel pula.
Mau tak mau aku jadi ingin tertawa. Karena detik berikut nya, Nila dan Lala langsung berbincang akrab layaknya sudah bersahabat lama.
'Dasar anak-anak.. begitu cepat nya mereka lupa pada tangis nya. Begitu cepat juga mereka menjalin pertemanan..' komentar ku tanpa suara.
Setelah mengorek informasi yang tak seberapa dari Lala. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengajak Lala pergi bersama ku.
Tampak nya Lala tertinggal di tempat ini secara tak sengaja. Bisa jadi orang tuanya tak menyadari kalau Lala telah turun dari mobil saat ia membeli sesuatu. Karena Lala bercerita kalau ia tadi nya tertidur di dalam mobil.
Lala baru bangun ketika ia menyadari kalau Papa nya tak ada di mobil. Karena nya ia pun turun dan mencari ke sekitar. Namun saat ia kembali ke tempat parkiran, ternyata mobil Papa nya sudah tak ada lagi.
Sebelum membawa Lala pergi, aku sengaja meninggalkan sebuah kartu nama beserta alamat ku pada salah satu pelayan gerai fast food. Jika sewaktu-waktu ada orang yang mencari keberadaan Lala ke sini.
Dan akhirnya aku pun mengajak Lala pergi bersama ku dan juga Mark dan Nila menuju butik ku, La Luna.
__ADS_1
***