Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Terpergok Arline (POV Laila)


__ADS_3

Begitu turun dari panggung, aku mengunci rapat mulut ku dari meneriakkan gelar Cabe Ijo untuk kawan ku, Erlan.


'Tapi tunggu dulu! Mulai saat ini ku putuskan kalau dia bukan lagi kawan ku! Pembohong besar sepertinya jelas bukan lah teman ku! Dia itu sampah! Licik! Dodol! Panci penyok! Dan dia juga.. juga.. majikan ku...?!!'


Benak ku terlalu penuh oleh rasa kesal terhadap Erlan, sehingga aku tak menyadari saat Arline mengambil alih kemudi kursi roda nya Oma dari tangan ku.


"Maaf ya La.. jangan ikutan salahin aku ya. Otak kebohongan ini tuh Erlan ya, La. Aku sih gak mau nipu kamu. Tapi dia nya maksa-maksa gitu La. Jadi..aww!"


"Udah sana pergi! Bikin makin runyam aja deh!" Erlan menegur saudari kembarnya itu.


Ku amati interaksi keduanya lekat-lekat. Dan kenyataan tentang wajah mereka yang memiliki cukup banyak kemiripan, lagi-lagi menohok rasa percaya diri ku atas intelejensia yang kubangga-banggakan selama ini.


'Kenapa aku tak pernah menyadarinya?! Jelas-jelas mereka itu mirip sekali! Pantas saja di awal pertemuan ku dengan Arline, aku merasa seperti tak asing dengan wajah nya. Ternyata itu karena dia adalah kembarannya Erlan yang sudah terlalu bosan kutemui selama kami kerja sebagai OB! Bukan semata kemiripan Arline saja dengan Mama Ilmaya! Laila.. Laila!' geram ku pada diri sendiri.


"La.. ngomong dong ! Jangan diam gini.. kamu diam tuh bikin aku takut.. takut nya kamu kesambet gitu.."


Ucapan Erlan itu membuyarkan lamunan ku. Dan aku tersadar dengan keberadaan kami yang kini menepi di sisi rumah yang lebih sepi orang.


Kutengokkan kepala ke kanan dan kiri sebelum akhirnya kupandangi wajah Erlan yang berdiri cukup dekat dengan ku.


Entah sejak kapan, saat aku sibuk dengan pikiran ku sendiri, Erlan sudah mengajak ku ke tempat sepi ini.


Ku amati keramaian panggung pesta dalam jarak yang tak terlalu jauh di hadapan. Lalu mata ku kembali balik ke wajah Erlan. Lalu..


Bagh. Bugh. Bagh.bugh..


Dengan sekuat tenaga, aku melayangkan pukulan ke tubuh Erlan dengan menggunakan tangan dan kaki.


"Sialan kamu, Lan! Bikin malu aja! Kenapa kamu bohongin aku soal identitas kamu sih! Aku kan jadi malu sama semua! Berasa kayak kambing conge kan jadinya aku! Dasar dodol! Kunyuk bau! Cabe Ijo pahit! Nyebelin!" Omel ku terus-menerus di sela-sela aksi kekerasan yang kulakukan terhadap Erlan.


"Iya. Iya. Aku salah. Aku ngaku salah, La.. aw! Aduh! Maaf La! Tadinya aku udah mau ngomong sama kamu dari dulu-dulu. Tapi waktunya aw! Aja belum ketemu..duh! Ampun La! Arrghh!"


Sedari tadi, Erlan hampir selalu menghindar ataupun menangkis serangan-serangan ku dengan cukup pelan. Terkadang ia juga membiarkan pukulan ku mengenai tubuh nya. Aku tak bersimpati dengan sikap nya itu. Toh dia sudah menipu ku besar-besaran.


Tapi lalu satu tendangan terakhir ku tak sengaja malah mengenai alat vital nya Erlan saat ia berusaha menghindar ke samping dari pukulan tangan ku. Pemuda itu pun langsung terjatuh di atas kedua lututnya sambil memegangi titik vital nya itu.


Melihat Erlan yang kesakitan, aku langsung disergap oleh rasa sesal.

__ADS_1


"Duh! Ma.. maaf Lan! Aku gak sengaja mukul anu nya kamu! Tadi tuh aku mau mukul kaki kamu doang. Lagian kamunya juga sih! Kenapa gak menghindar coba!" Ucap ku meminta maaf sambil tetap mengomeli Erlan.


Selang beberapa lama kemudian, Erlan masih memegangi bagian anu nya. Tapi ia tak lagi meringis kesakitan. Aku yang sedari tadi ikut jongkok menemani Erlan pun masih memberinya pandangan khawatir.


"Anu nya kamu gak apa-apa kan, Lan?" Tanya ku dengan nada bersalah.


Erlan memberiku pandangan kesal.


"Tega banget sih kamu, La. Ini aset ku yang paling berharga tahu! Gimana coba kalau kenapa-kenapa?!" Omel Erlan masih memegangi bagian anu nya itu.


"Iya. Iya. Kan aku udah minta maaf tadi! Aku tuh gak sengaja Lan. Mana sini coba kulihat, berdarah enggak?"


"?!! Ngaco kamu La!" Hardik Erlan.


Dan aku yang baru menyadari makna dari apa yang kuucapkan tadi pun langsung ingin menepuk mulut ku sendiri jadi nya.


'Duh Laila! Itu mulut gak bisa diajak mikir dulu apa?!' omel ku dalam hati.


Aku masih menunduk memandangi jemari-jemari ku. Rasanya jadi malu untuk kembali menatap wajah Erlan.


Tak lama kemudian, tangan Erlan meraih dagu ku, hingga wajah ku pun terangkat menatap wajah nya.


"Hh.. it's okay. Aku udah gak apa-apa kok. Justru seharusnya aku yang berhutang permintaan maaf sama kamu, La. Soalnya aku udah bohongin kamu," tutur Erlan meminta maaf.


Diingatkan soal kebohongannya itu, aku kembali kesal. Kubuang pandangan ku ke samping, hingga dagu ku terlepas dari pegangan tangannya Erlan.


Tapi lalu Erlan kembali memegang wajah ku, kali ini dengan kedua tangan nya di kedua sisi wajah ku. Hingga pandangan kami pun kembali bertemu.


"Aku gak ada maksud untuk nge joke kamu sampai sejauh ini, La. Tadinya aku berbohong karena aku merasa malu sama kamu. Kamu mestilah mikir aku orang kaya yang aneh. Sibuk-sibuk pingin jadi OB, padahal kedua ortu ku kaya raya. Aku takut kamu mikir kalau aku jadi OB tuh untuk main-main aja. Padahal aku jadi OB tuh ya karena kebutuhan saat itu. Saat aku masih bertengkar sama kekuarga ku dan mutusin juga semua akses finansial ku dari mereka."


Aku mendengarkan penjelasan Erlan dengan seksama. Masih dengan kedua tangan Erlan di kedua sisi wajah ku.


"Saat itu aku mau buktiin ke Papa kalau aku juga bisa bertahan hidup tanpa uang nya. Jadi aku kerja apa aja, termasuk jadi OB juga."


"..."


"Jadi, kamu mau maafin aku kan, La?" Tanya Erlan dengan nada memohon.

__ADS_1


Ku amati lekat-lekat wajah Erlan. Kuselami pandangan matanya yang menyimpan sejuta penyesalan yang begitu nyata kulihat. Pada akhirnya aku pun menyahut dengan suara lirih, "..ya. aku maafin kamu."


Detik berikutnya, Erlan tersenyum cemerlang.


"Makasih ya, La.. maaf nya kamu sungguh berharga banget buat ku.." ucap Erlan dengan suara lirih pula.


Deg. Deg.


Deg. Deg.


Untuk sesaat, aku merasa jantung ku berdetak lebih cepat.


Kupandangi wajah Erlan lekat-lekat. Dan Erlan pun balas memandangi ku dengan pandangan yang.. entah lah. Pikiran ku seperti nya sudah konslet karena aku tak mampu memikirkan apa-apa lagi selain menyaksikan wajah Erlan yang kian mendekati wajah ku.


Deg. Deg.


Ba dump. Ba ra dump.


Wajah kami sudah sangat dekat kini. Mungkin hanya tersisa sepuluh senti saja jarak di antara kami. Dari jarak ini, aku bisa melihat mata Erlan yang biasanya tampak tajam kini memandang ku dengan pandangan yang teduh.


Hidung Erlan yang mancung, bentuk pipi yang tak terlalu tirus, serta bibir nya yang lebih tipis dari bibir ku sendiri. Aku terpesona melihat setiap lekukan dan kelokan di wajah tampan pemuda di depan ku ini.


Ba dump. Ba dump.


Dan jarak kami hanya bersisa dua senti saja. Mata ku terkunci pada mata Erlan, saat ia memanggil nama ku dengan suara berat nya yang menggetarkan seisi batin dan rasa.


"La.. aku.."


"Aduh!"


Aku dan Erlan seketika terlonjak kaget dan jatuh menjauhi masing-masing. Aku terjatuh ke belakang. Dan Erlan pun sama. Pandangan kami langsung menoleh ke arah pintu samping rumah yang ada tak jauh di belakang ku.


Di sana, kudapati Arline yang terlihat mengusap kepala nya berkali-kali sambil menyengir ke arah kami.


"Maaf! Maaf! Tadi kepentok pintu. Silahkan dilanjutkan! Cuekin aja kehadiran ku ini!" Ucapnya terburu-buru sebelum menghilang ke dalam ruangan dengan langkah terbirit-birit.


Di depan ku, Erlan langsung berteriak kesal, "Arliiiine!!"

__ADS_1


***


__ADS_2