Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Obrolan di Pinggir Jalan (POV Laila)


__ADS_3

"Minggir!" Aku menggertak Erlan.


Kini Erlan sudah turun dari atas moge nya untuk kemudian berjalan menghampiri ku.


Dengan kesal, aku berusaha memundurkan motor ku untuk sedikit membelokkan jalur si Merry. Namun usaha ku lagi-lagi dihadang oleh Erlan.


Pemuda itu malah berdiri tepat di depan Merry ku. Tangan nya sengaja menahan setang motor ku sehingga aku tak bisa berbelok.


"Apaan sih?!" Aku mengomel kasar.


"Oke. Nanti Minggu aku akan datang menemui kamu dan Nunik," ucap Erlan to the point.


Selama dua detik aku sempat tertegun. Namun kemudian aku berusaha mengabaikan pemuda di depan ku itu lagi.


"Awas! Aku mau pulang!" Usir ku kasar.


"Aku bakal datang ke Mozartino nanti, La," ucap Erlan kembali.


"Terserah lah. Mau datang atau enggak juga terserah kamu lah, Lan," seloroh ku asal dengan rasa kesal yang terlihat jelas.


"Kamu masih marah."


"Ya jelas marah lah! Siapa juga yang gak marah kalau dituduh jadi pelakor!" Omel ku spontan.


"..aku gak nuduh kamu jadi pelakor, La.." ucap Erlan dengan nada yang masih tenang.


"Enggak dari mana! Itu tadi siang lewat telepon, jelas-jelas kamu nuduh aku balikan sama Kiyano! Apa itu gak nuduh aku juga sebagai pelakor, hah?!" Omel ku terlepas.


Untuk sesaat, Erlan terdiam.


"Maaf.."


"Huh!" Aku memalingkan wajah ku dari Erlan.


"Maaf, La. Kupikir alasan kita putus itu karena kamu mau balikan lagi sama Pak Bos."


"Ngarang aja! Udah jelas-jelas aku bilang alasan ku putus tuh buat kebaikan kamu juga, Lan! Aku merasa beraalah karena belum juga bisa membalas perasaan kamu. Kan aku udah bilang begitu!" Omel ku kembali.


"Oo.. jadi itu bukan bull sh*it doang?"


"Bullshi*t! Bullsh*it! Kamu tuh yang bullshi*t! Asal nuduh orang yang enggak-enggak!"


"Oke. Kalau gitu aku minta maaf deh ya. Terus nanti hari Minggu jadi kan?" Tanya Erlan memastikan.


"Tauk ah!"


Aku masih mencoba untuk membelokkan stang motor ku yang ditahan oleh tangan nya Erlan. Namun sayang, usaha ku gagal.


"Ayolah, La. Iya aku ngaku salah. Please.. aku minta maaf deh ya.."


Terlebih dulu ku hela napas dengan cukup kasar. Baru setelah nya aku membalas ucapan Erlan tadi.


"Iya udah. Gak apa-apa. Lagipula aku juga salah. Sering ngerepotin kamu. Minta tolong yang gak jelas tanpa mikirin perasaan kamu. Maaf deh!" Ucap ku dengan pandangan yang tertunduk.

__ADS_1


"Gak apa-apa, La. Aku udah biasa kok direpotin kamu."


Seketika itu juga aku langsung memelototi Erlan.


"Kok gitu sih? Dasar sombong!"


"Hehehe.. bercanda, La.. bercanda. Jadi nanti jam berapa aku harus ke Mozart?" Erlan bertanya.


"Jam sepuluh aja. Sekalian nge-brunch.."


(Brunch, singkatan dari breakfast and lunch. Artinya sarapan yang mendekati waktu makan siang.)


"Oke.."


"Udah kan? Bisa minggir gak, aku mau pulang nih, Lan. Capek banget tahu."


"Mau ngopi dulu kah?" Tawar Erlan.


"Iih.. enggak deh. Bisa-bisa aku malah bergadang nanti."


"Oke. Sebebtar, La."


Erlan lalu kembali ke tempat motor nya terparkir asal di depan ku. Kulihat ia lalu mengambil sebuah bungkusan plastik putih yang selanjutnya diberikannya kepadaku.


"Apa ini, Lan?"


"Chicken kesukaan kamu. Tadinya aku mau ngajak kamu minum sebentar. Aku juga baru pulang kerja. Tadi ngelewatin gerai fried chicken langganan kita dulu, jadi aku beli deh buat kamu," terang Erlan menjelaskan.


".. makasih ya, Lan.." ucap ku dengan suara pelan.


"Makasih, Erlan!" Ucap ku lagi dengan suara yang lebih kencang.


"Apaan sih, ngomong kayak lagi kumur-kumur gitu. Dilepas dulu dong helm nya," goda Erlan kembali.


"Tauk ah!" Aku menguidupkan kembali si Merry. Namun Erlan kembali menahan setang motor ku.


"Apa lagi sih, Lan?" Tanya ku tak sabar.


"Beneran gak mau nemenin aku ngopi dulu nih, La? Atau nawarin aku ngopi di rumah kamu juga boleh deh.."


"Brrpp!" aku berusaha menahan tawa. Lucu sekali Erlan ku ini. Apa dia tak sadar ya kalau dia terlihat menggemaskan dengan sikap memohonnya itu?


'eh, tunggu dulu! Tadi kubilang Erlan-ku? Haish.. Laila.. Laila.. ingat dong. Kalian itu udah putus!' tegur ku pada diri sendiri.


Baru juga aku hendak menawarkan Erlan untuk mampir ke rumah ku, ketika tiba-tiba saja muncul sebuah mobil mazda yang berhenti di dekat kami.


Kaca mobil itu lalu terbuka dan menampakkan wajah seseorang yang membuat mood ku seketika ambyar.


"Erlan! Ngapain di sini?" Tanya sosok itu menyapa Erlan.


Erlan yang mendengar namanya dipanggil pun seketika menoleh. Sebuah keterkejutan langsung melesat melintasi wajah nya yang oriental itu.


"Kamu juga ngapain lewat sini, Jess?" Tanya Erlan pada Jessika.

__ADS_1


Jessika lalu keluar dari mobil yang ia tumpangi. Lalu mendatangi tempat Erlan dan aku berada kini.


Kemudian, kulihat mobil yang ditumpangi oleh Jessika tadi, malah melesat pergi menjauh, meninggalkan Jessika.


"Habis main ke rumah Chika. Mm.. pulangnya, anterin aku ya, Lan?"


Seketika aku pun langsung ternganga.


"Lho? Kenapa gak pulang naik mobil yang tadi aja?" Tanya ku spontan tanpa sempat kucegah.


"Huh? Dia siapa, Lan?" Tanya Jessika kepada Erlan.


Jessika mungkin tak mengenali ku yang masih mengenakan helm.


"Dia itu Laila. Masih ingat kan?"


"Laila? Kamu Laila? maaf, gak kelihatan sih muka nya..," ucap Jessika langsung kepada ku.


Aku mengangguk kaku. Baru kemudian menyapa Jessika.


"Hay Jess."


"Waah.. iya. Maaf ya Laila, aku sempat gak sadar kalau itu tuh kamu."


"Iya gak apa-apa. Jadi, kenapa gak pulang sekalian sama mobil yang tadi?" Lagi-lagi aku bértanya pada Jessika.


"Mm.. tadi itu dia lagi buru-buru pulang. Pas banget juga kan lewat sini, ada Erlan," ucap Jessika dengan wajah berbinar.


Selanjutnya Jessika langsung menoleh ke arah Erlan.


" Berarti kita jodoh ya, Lan. Bisa ketemu di sini. Boleh kan Lan aku nebeng pulang? Dompet dan ponsel ku soalnya ketinggalan juga di mobil teman ku tadi," Tutur Jessika panjang lebar.


'Dih. Bisa-bisa nya dompet ditinggal. Gak masuk akal!' ucap ku sinis dalam hati.


"Mmm.." Erlan melirik ke arah ku. Dan aku langsung berpaling dan tak melihat wajahnya lagi.


Entah kenapa, lagi-lagi aku merasa kesal tanpa sebab yang jelas.


"Udah sana pulang anterin Jessika. Gak usah mikirin aku. Sebentar lagi juga aku sampai rumah. Aku juga capek mau langsung tidur," ucap ku beralasan.


"Tapi.."


Aku memicingkan mata saat kulihat Jessika yang melingkari lengan Erlan dengan lengan nya.


Dalam hati aku mendumel. 'Itu Jessika gak ngerasa malu apa ya? Main peluk-peluk tangan cowok aja. Dih. Kalau aku sih jelas bakalan malu lah!'


"Udah, anterin aja Jessika pulang. Kasihan juga kan kalau dia kelamaan nunggu."


"Makasih ya, La. Aku pulang dulu ya sama Erlan," pamit Jessika dengan tersenyum ramah.


Sementara itu dalam hati, tiba-tiba saja aku merasakan amarah. Terlebih saat Erlan tak bersegera melepaskan tangannya dari pelukan Jessika.


Aku pun langsung menghidupkan mesin si Merry kembali. Lalu menakut-takuti Erlan dengan memainkan gas motor ku. Hingga akhirnya Erlan menepi dan membiarkan ku melewati ia dan juga Jessika.

__ADS_1


Aku pun akhirnya kembali melanjutkan perjalanan pulang. Dengan hati yang serasa ingin mengajak perang. Entah pada siapa dan juga karena apa, aku tak mengetahui penyebab nya..


***


__ADS_2