Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Teman, Sahabat dan Kekasih (POV Laila)


__ADS_3

"Kemarin, aku ketemu Erlan, La."


Aku berhenti mengunyah mie ayam di mulut ku, saat mendengar penuturan Nindi barusan.


Hari ini aku makan siang di kantin bersama Nindi. Karena Kiyano harus melakukan cross check ke luar kantor. Sebenarnya aku agak merasa tak enak hati juga sih karena sudah lama sekali aku tak menghabiskan quality time bersama Nindi.


Dan, setelah ku amati baik-baik, sepertinya Nindi tampak lebih kurus akhir-akhir ini.


"Iya? Terus?" Aku kembali lanjut mengunyah mie ayam.


Pernyataan Nindi tentang Erlan tak menimbulkan perasaan apapun lagi di hati ku. Entahlah. Mungkin karena sudah lama waktu berlalu jauh tanpa aku melihat pemuda itu lagi.


Nindi tampak mengamati ku lekat-lekat. Dan aku sempat menangkap pandangan yang tak biasa di mata teman ku itu. Namun sebelum aku bisa mengartikan pandangannya, Nindi sudah terburu-buru menunduk dan memakan bakso nya lagi.


"Dia kelihatan makin kurus," ucap Nindi kembali menjelaskan.


"Kamu juga sama, Nin. Kamu kayaknya juga agak kurusan. Kamu lagi punya masalah kah?" Tanya ku perhatian.


Nindi sempat terdiam saat mendengar pertanyaan ku itu. Namun ia tak mengangkat pandangannya dari mangkok bakso saat ia menyahuti ku.


"Iya kah? Cuma perasaan kamu aja kali, La. Kan udah lama juga kita bisa ngobrol gini. Sejak kamu pacaran sama Bos, kamu gak pernah gabung ke acara anak-anak OB lagi. Jadi kamu mungkin pangling melihat ku sekarang."


Deg.


Kembali, rasa bersalah itu muncul di hati ku.


Pernyataan dari Nindi itu memang ada benarnya. Sejak menseriuskan hubungan ku dengan Kiyano, ku jadi jarang berinteraksi dengan teman-teman OB ku yang lain.


Saat pagi nya, aku lebih sering bercanda dulu dengan Kiyano di dalam mobil. Jadi ketika waktu kerja hampir dimulai, aku terbirit-birit lari menuju base camp nya para OB untuk berganti baju dan menyelesaikan semua pekerjaan ku di hari itu.


Aku juga lebih sering makan siang dan menghabiskan waktu istirahat ku di kantor nya Kiyano.


Saat pulang pun aku terburu-buru karena tak ingin membuat Kiyano ku lama menunggu. Aku paling hanya sempat bertukar sapa dengan rekan OB ku yang lain setiap kami bertemu di jalan. Sudah. Hanya itu saja interaksi ku dengan para rekan kerja ku itu.

__ADS_1


Terburu-buru aku meraih tangan Nindi yang terlihat memainkan bakso di mangkok nya.


"Aku minta maaf ya, Nin. Please jangan anggap aku jadi sombong ya? Aku cuma lagi dalam fase pendekatan dan pengenalan lebih dekat sama Kiyano saat ini. Jadi aku mungkin agak mengabaikan kamu dan teman-teman lainnya di base camp. Aku mengaku salah, Nin.." ungkap ku jujur.


Mulanya Nindi tak bergegas menyahuti ku. Sikapnya itu membuat ku merasa was was jika benar dia menganggap ku jadi orang sombong, kini. Namun sesaat kemudian, ia akhirnya mengangkat pandangannya dari mangkok bakso dan beralih menatap ku.


"Iya. Gak apa-apa, La. Aku bisa mengerti kok sama situasi kamu sekarang ini."


Mendengar kalimat Nindi tadi, aku pun langsung menghela napas lega. Dan ku lanjutkan kembali kegiatan makan ku tadi.


"Jadi, kemarin kamu ketemu Erlan di mana, Nin?"


Dan percakapan pun terus berlanjut.


Kami membahas tentang Erlan dan pekerjaannya saat ini. Kami iuga membahas hal-hal lain yang sedang hits jadi berita di kantor saat ini. Dan beberapa hal lain nya pun kami bahas juga.


Meski begitu, aku bisa menangkap sesuatu yang berbeda dari sikap Nindi kepada ku. Karena kini ia cenderung lebih pendiam dan tak bicara terlebih dulu jika aku tak melontar tanya padanya.


Akhirnya, dalam hati pun aku bertekad untuk merubah sikap ku lagi. Bagaimana pun juga dunia ku tak hanya tentang Kiyano, Kiyano, dan Kiyano saja.


Aku juga membutuhkan orang lain untuk menjadi teman ku. Karena nya aku harus bisa bersikap sebagai teman yang baik pula bagi teman-temanku itu.


Karena seorang teman menurutku adalah kebutuhan yang sifatnya hakiki harus dimiliki oleh setiap orang.


Teman adalah orang yang siap untuk menemani di saat kita sedang bersuka cita ataupun berduka. Teman juga adalah seseorang yang selalu bisa menjadi hakim yang adil saat kita menghadapi suatu permasalahan.


Tak seperti seorang kekasih. Karena kekasih terkadang tak selalu bisa bersikap objektif. Lantaran pendapat dan saran dari seorang kekasih umumnya akan dipengaruhi oleh perasaan cinta terhadap kekasih nya. Yang penting kekasih nya senang, semua anggapan pun bisa dibenarkan.


Tak banyak ada seorang kekasih yang sekaligus juga bisa menjadi seorang teman bagi seseorang. Yang ku amati dari orang-orang di sekitar ku justru seorang kekasih lebih sering hanya jadi tempat memadu kasih.


Seorang kekasih tak bisa menjadi tempat curhat tentang segala hal, apalagi jika itu berkenaan dengan lawan jenis nya. Bisa-bisa hubungan malah jadi merenggang atau pun muncul cekcok di antara keduanya yang disulut oleh api cemburu.


Hubungan ku dengan Kiyano sendiri termasuk ke dalam hubungan yang seperti kondisi terakhir yang telah ku sebutkan tadi.

__ADS_1


Aku masih belum bisa menceritakan banyak hal tentang ku kepada Kiyano. Apalagi menyangkut soal teman lelaki ku yang lain.


Lebih sering saat aku mengawali cerita tentang lelaki lain, Kiyano justru langsung memasang muka waspada dan memberiku tatapan curiga.


Aku benar-benar dibuat tak nyaman dengan sikap obsesif nya itu.


Pernah suatu kali aku menegur Kiyano atas sikap obsesif nya. Namun jawabannya sungguh tak memuaskan hati ku.


Kiyano hanya mengedikkan kedua bahu nya dan berkata.


"Cemburu itu tanda gue sayang Lo, La. Jadi please, Lo jangan melarang gue untuk cemburu sama teman-teman cowok Lo yang lain. Kalau gue gak cemburu, itu tandanya gue udah gak ada rasa dong ya sama Lo. Mau Lo pergi dua-duaan sama teman cowok Lo juga, gue gak bakal perduli. Semisalnya! Itu semisalnya loh ya, La!" Ucap Kiyano terburu-buru saat melihat ekspresi ku yang mulai cemberut.


Jadi intinya, aku harus mulai mengatur kembali cara ku menggunakan waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitar ku. Entah itu dengan Kiyano, atau pun dengan teman-teman ku yang lainnya. Agar aku masih tetap memiliki hubungan yang sehat bersama kekasih dan juga teman-teman ku yang lain.


***


Hari terus berlalu.


Akhirnya aku kembali bisa akrab dengan beberapa rekan OB ku yang lainnya. Kini, aku bisa memiliki quality time tak hanya dengan Kiyano saja, melainkan juga dengan orang-orang lain di sekitar ku.


Aku bahkan kini memiliki teman baru. Dan dia adalah Inda, wanita cantik berparas oriental yang pernah ku temui beberapa hari sebelumnya.


Inda adalah wanita yang baik dan ramah. Agak mirip seperti Nindi, kecuali sikap diam dan misteriusnya yang terkadang membuat ku merasa sedikit tak nyaman.


Tapi aneh nya, meski aku terkadang merasa tak nyaman saat bersama dengan Inda, aku justru juga sekaligus merasa nyaman saat berbincang dengannya. Aneh benar bukan?


Hmm.. sulit untuk dijelaskan secara mendetail. Intinya, aku merasa Inda adalah orang yang baik. Dan aku tak pernah membatasi pergaulan ku dengan siapapun berdasarkan status atau kepopuleran nya ya. Karena aku senang berteman dengan siapa saja.


Bukan kah pernah ada pepatah yang mengatakan, "berteman lah dengan siapapun. Tapi jadikan hanya orang terbaik saja untuk menjadi sahabat mu."


Dan aku memegang prinsip seperti itu dalam berinteraksi dengan semua teman-teman ku. Bisa dikatakan, sahabat yang ku miliki saat ini hanyalah Nunik saja. Karena dengan nya, aku merasa bebas membincangkan perihal apapun. Dan aku juga bebas berekspresi atau mengoreksi Nunik tanpa perlu merasa takut kalau ia akan marah atau tidak. Dan begitu juga dengan Nunik terhadap ku.


***

__ADS_1


__ADS_2