Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Janji (POV Laila)


__ADS_3

"Lo sekarang sadar kan sama perasaan Lo sendiri, La?" Si Keong tiba-tiba saja bertanya.


Aku yang masih bersandar ke dada nya tiba-tiba digempur oleh perasaan malu.


'Beneran ini, aku suka si Keong? Tapi kalau aku memang gak suka, seharusnya aku menolak ciuman-ciuman nya kan? Sementara aku malah..'


Blush.. wajah ku memanas oleh rasa jengah.


"La? Hey! Jangan bilang Lo tidur ya!" Tiba-tiba si Keong mendorong bahu ku menjauh. Sehingga ia bisa melihat rupa wajah ku yang mesti lah sudah kemerahan.


Eh, tapi, beruntung kulit ku berwarna sawo matang. Jadi pasti nya wajah malu ku tak terlalu jelas ketahuan.


Aku mencoba menghindari mata si Keong dengan memandang kancing kemeja nya yang berwarna hitam.


"Hey? Lo kenapa sih? Jangan diam gini dong. Lo marah sama gue ya?" Tanya si Keong kembali.


Aku menghela napas cukup dalam. Baru lah setelah nya aku mencoba mengurai kalimat untuk menjawab kekhawatiran yang dirasakan si Keong.


"Aku.. bisa gak, kamu kasih aku waktu dulu, K..Kiy?" Aku kembali menelan ludah. Hampir saja aku akan kembali memanggil bos ku dengan gelar si Keong. Beruntung aku eling di detik-detik terakhir.


"Hh.. sebenarnya, gue juga kaget sih, La sama perasaan suka ini. Siapa juga yang bisa ngira, kalau gue yang selalu mengagumi kesempurnaan, tiba-tiba aja jadi down grade (turun tingkat) dan malah kagum sama cewek se kaliber Lo.." ucap si Keong setengah menghina ku.


Spontan saja aku langsung mengangkat pandangan ku dan menatap garang tepat ke dalam mata si Keong. Aneh nya, mendapati ku yang terlihat marah, si Keong malah tersenyum senang.


"Nih. Ekspresi garang kayak gini nih yang sering banget muncul dalam mimpi dan benak gue. Lo pake pelet apa sih?" Tanya si Keong menuduh.


Kali ini, aku langsung menghadiahi si Keong cubitan ganas ala Laila ke pinggang kiri pemuda itu. Membuat si Keong seketika mengaduh minta ampun namun tetap tertawa kemudian.


Merasa sebal, ku putuskan untuk berjalan menuju pintu keluar. Namun tangan ku kembali ditarik oleh si Keong.


"Sebentar, La! Gue belum selesai ngomong," panggil si Keong lagi.


"Apa an lagi sih? Kamu mau ngurung aku semalaman di sini apa?!" Bentak ku menghardik.


"Hmm.. ide yang bagus!"


"?!!"


"Tapi kita belum muhrim kan, La. Lo yang sabar ya. Lagian, kita kan masih dalam tahap pengenalan. Siapa tahu seiring berjalan nya waktu, semakin gue tahu kebobrokan Lo, gue akan jadi insaf dan tersadar.. "


"Keyoong!! Bilang nya cinta, tapi kok nge hina terus sih!" Aku berteriak sambil menepis lepas tangan Si Keong yang menahan lengan ku.


"Keong? Sudah gue duga!"

__ADS_1


Aku terhenyak. Aku baru sadar kalau tadi aku keceplosan memanggil gelar si Keong pada bos ku ini.


'Gawat! Dia bakal ngamuk gak ya??' batin ku gelisah oleh rasa khawatir.


"Kayak nya sering banget Lo keceplosan manggil gue Key, Key, Key. Walau pun sering juga Lo ralat jadi Kiy. Gue udah duga, mesti lah Lo juga ngasih nama panggilan yang aneh juga kan ke gue. Sama kayak si Cabe Ijo Erlan teman Lo itu?!" Tuding si Keong dengan teramat tepat.


"I..itu.." aku diliputi gugup.


'Alamak! Mulut mercon ku bikin ulah lagi! Mesti jawab apa ini??' batin ku panik sendiri.


"Keong? Lo ngasih nama panggilan Keong ke gue kan?" Terka si Keong kembali tepat.


"Mm.. itu.. itu.." aku tergagap bicara.


'Laa..ilaaa ha illallaaahh..'


Samar-samar aku tersadar dengan lantunan bait terakhir dari suara adzan. Dan aku pun menemukan titik keluar permasalahan ku saat ini. Dengan terburu-buru aku pun berkata.


"Udah lewat maghrib! Aku pulang dulu ya, Kiy, eh, Pak, emm.." Aku kebingungan harus memanggil si Keong dengan nama apa sekarang. Mengingat situasi kami yang terasa cukup dekat kini.


"Kiy. Gue suka tiap kali Lo manggil gue Kiy. Tapi kalau lagi ada orang lain di jam kerja, gak apa-apa Lo panggil gue Pak!" Terang si Keong.


Aku mengangguk kikuk. Masih merasa canggung dengan hubungan yang terjalin di antara kami berdua.


"Hh.. La," panggil si Keong sambil kembali menarik ku ke dalam sebuah pelukan.


"Gue akan kasih Lo waktu untuk mikirin baik-baik hubungan di antara kita ini. Yang penting gue udah nyatain perasaan gue ke Lo dan juga nyadarin perasaan Lo sendiri ke gue. Kita masih sama-sama saling mengenal, La. Jadi Lo gak perlu ngerasa takut dan sungkan ke gue," tutur si Keong.


Setelah agak lama, akhirnya aku menyahut juga.


"Oke.."


"Good. Kita akan jalani semuanya pelan-pelan aja ya, La," ucap si Keong terjeda. "Dan ke depan nya Lo jangan lari menghindari gue lagi ya, La! Gue mau, Lo yang bikinin kopi gue tiap pagi."


"Oke," jawab ku lagi.


"Lagian kopi buatan Lo udah lumayan layak dikonsumsi kok! Aduduh!!"


Dan cubitan ganas pun, bersarang di pinggang si Keong lagi.


"Udah, ah. Waktu maghrib kan sebentar. Aku pulang duluan ya?" Perlahan, Aku mendorong dada si Keong menjauh.


"Biar gue antar ya, La. Rumah kita kan deketan," tawar si Keong.

__ADS_1


Meski sebenarnya aku masih merasakan ada sesuatu yang salah dengan kedekatan ku dan si Keong, tapi mendengar tawaran tumpangan gratis darinya, seketika menghempaskan kecemasan dalam benak ku itu, entah ke mana.


Pada akhirnya, aku pun diantar pulang oleh si Keong dengan mobil civic hitam milik nya.


***


Begitu sampai di depan gang, aku lagi-lagi kesulitan untuk membuka pintu di samping tempat ku duduk. Dan, si Keong pun kembali membantu ku membuka pintu nya.


Aku sempat merasa gugup saat tubuh si Keong berada dalam posisi yang sangat dekat dengan tubuh ku, kala ia membantu membuka pintu. Aku bahkan sempat mengira kejadian ciuman pertama di mobil ini akan kembali terulang.


Namun aku dibuat terkejut oleh sikap ganjil si Keong yang bergegas menghindari ku usai membuka pintu. Dan begitu aku sudah keluar dari mobil, si Keong pun ikut keluar dari mobil untuk mengantarkan ku sampai ke depan gang.


Sesampainya di depan gang, kami sempat kembali merasa canggung. Tapi kecanggungan itu akhirnya pecah juga oleh kalimat yang keluar dari mulut si Keong kemudian.


"Gue.. gue minta maaf ya, La.."


"Maaf untuk?" Tanya ku terlalu cepat.


"Gue udah nyuri ciu man Lo sewaktu gue antar Lo pulang dulu. Itu.. itu gue gak sengaja, La. Tahu-tahu gue kayak ke hipnotis gitu. Dan tanpa sadar hasrat gue nguasain gue."


Aku mendengus kesal. Bila mengingat ciu man itu, aku pun sebenarnya ada sedikit rasa kesal pada pemuda di depan ku ini. Karena bagaimana pun juga, meski itu dilakukannya secara khilaf, itu adalah ciuman pertama ku.


Dan aku semakin sebal kala teringat dengan ciu man ke dua dan ke tiga yang juga ia rampas paksa dari ku.


"Yang ke dua sama yang tadi, juga kamu maksain ci um aku kan? Itu arti nya kamu play boy!" Aku kembali mengumpat.


'ups. Keceplosan lagi!'


"Yah.. iya deh. Gue ngaku salah juga soal yang ke dua dan yang tadi. Gue janji, ke depan mya gue gak bakal nyuri ciu man lagi dari Lo. Jadi, Lo maafin gue kan, La?" Tanya si Keong dengan tatapan mengiba.


"Hu uh.. oke lah. Udah ya, Kiy. Udah malam ini. Tuh kan orang-orang udah pada pulang dari mushola! Sana, cepetan pulang!" Usir ku pada si Keong.


"Iya.. gue pulang dulu ya, La.. jumpa besok!"


"Iya!"


Dan aku langsung saja berbalik pergi dan melangkah masuk ke gang. Tapi kemudian si Keong kembali memanggil ku.


"La! Laila!"


"Apa lagi Kiy?!"


"Besok, traktir gue makan bakso ya! kan Lo gajian!" Ucap si Keong sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam mobil nya.

__ADS_1


"Idih! Dia kan, yang justru harus nraktir aku?! Soal nya gaji dia jelas lebih gede dari ku! Dasar cowok pelit!" Umpat ku sebelum akhirnya kembali berbalik dan meneruskan langkah ku menuju rumah.


***


__ADS_2