Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Memori Lama (POV Azki)


__ADS_3

Flash back 28 tahun yang lalu..


"Kulit mu mulus sekali, Sayang.. Papa suka sekali.." ucap Papa Heri, ayah tiri ku.


"Eeee.. ge.. geli, Pa.." aku berusaha menolak sentuhan tangan Papa ku pada tubuh bagian bawah ku. Aku merasa tak nyaman. Dan ku rasa ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh Papa tiri ku itu terhadap ku.


Nama ku Azki Hariyadi. Usia ku baru tujuh tahun lewat beberapa bulan.


Papa kandung ku telah lama menghilang sejak aku masih dalam kandungan. Dan aku hanya hidup berdua saja dengan Mama. Sampai satu tahun yang lalu, saat Mama akhirnya menikah lagi dengan Papa Heri.


Diusia ku yang ke tujuh tahun itu, aku tak mengerti dengan problematik dan aturan dalam suatu hubungan. Yang ku tahu adalah aku akhirnya memiliki seorang Papa seperti kawan-kawan ku yang lain nya.


Namun, aku mulai merasa tak nyaman setiap kali Mama harus berangkat kerja menjadi barber. Karena sering kali Papa Heri pulang siang hari nya dan menyentuh seluruh bagian tubuh ku.


Aku merasa..geli.


"Tenang, Sayang.. Papa akan membawa mu pada kenikmatan dunia. Jadi jangan takut ya. Hari ini, kita akan mencoba sesuatu yang berbeda.." ujar Papa sambil melepaskan sisa kain terakhir yang masih menutupi bagian bawah tubuh ku.


"Ber..beda, Pa?" Tanya ku dengan gugup.


"Ya.. sekarang, kamu bersujud," Papa memberikan titah.


Detik berikut nya aku mengikuti apa kata Papa. Aku memang selalu menuruti apa kata Papa. Karena setiap kali Papa menyentuh ku, aku akan dibelikannya mainan dan jajanan yang kuinginkan.


Ketika aku sudah bersujud, Papa tiba-tiba saja bertanya.


"Kali ini, kamu mau apa, Nak? Bilang sama Papa. Papa akan belikan semua yang kamu mau," ujar Papa.


Seketika itu pula hati ku sumringah. Aku langsung saja terbayang pada mainan robot yang bisa bergerak sendiri. Seperti milik Indra, teman di sekolah ku.


Namun, belum sempat aku mengatakan keinginan ku, aku merasakan nyeri yang sangat hebat di bagian a nal ku. Sesuatu milik Papa terus mendesak masuk memenuhi bagian organ vital ku.


Aku menjerit kesakitan. Namun Papa Heri segera menekan wajah ku ke atas kasur, sehingga teriakan ku teredam oleh kain sprei.


Siang itu, adalah awal tragedi buruk yang terjadi dalam hidup ku. Dan kejadian itu terus berulang-ulang dilakukan oleh Papa kepada ku. Hingga aku memasuki Sekolah Menengah Pertama.

__ADS_1


Pada saat usia itu lah aku mulai bisa mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh Papa Heri adalah kejahatan besar terhadap ku. Sayang nya aku tak bisa melawan Papa Heri. Bahkan aku seperti kecanduan dengan setiap sentuhan yang ia lakukan.


Aku merasa jijik pada diri ku sendiri. Aku merasa diri ku sangatlah kotor. Namun mulut ku seolah terkunci rapat. Bahkan Mama ku sendiri tak mengetahui apa yang ku alami ini hingga bertahun-tahun lama nya.


Aku tak memiliki teman. Aku tak mengundang kawan. Aku hidup dalam kesoliteran. Satu-satu nya kawan bermain ku hanyalah gadget yang diberikan oleh Papa Heri kepada ku. Hadiah yang sebenarnya sangat ku benci, sekaligus juga ku butuhkan agar aku tak merasa kesepian.


Aku mulai belajar ilmu pemrograman komputer di usia ku yang masih sangat muda. Dan aku sangat mudah memahami nya, mungkin dikarenakan kemahiran ku juga dalam pelajaran matematika.


Sejak menyadari bahwa Papa Heri adalah orang yang brengs*k, aku selalu mengusahakan untuk pulang bertepatan dengan jam pulang kerja Mama ku. Ini ku lakukan agar Papa tak lagi bisa 'bermain' dengan tubuh ku.


Sayang nya, Papa mulai berani mengerjai ku di waktu malam nya..


Ya. Di saat Mama sedang tertidur lelap tengah malam, Papa selalu masuk ke dalam kamar ku dan..errgghh..!


Aku membenci Papa! Aku juga membenci Mama yang tak pernah menyadari mimpi buruk yang ku alami! Dan aku juga membenci diri ku sendiri!


Aku tak bisa melawan Papa Heri yang kini mulai mengancam akan membun*h Mama jika aku menolak keinginan bi nal nya. Dan aku juga membenci diri ku sendiri yang tak memiliki keberanian untuk melawan Papa!


Hingga akhirnya terjadi juga tragedi di suatu malam terakhir masa-masa SMP ku.


Tapi lalu ku dengar suara Mama yang meneriaki kami dari pintu kamar.


"Bajing*an kau! Apa yang kau lakukan pada Azki ku, brengs*k! Dia itu anak mu juga!" Ucap Mama dengan geram.


Bagh. Bugh. Bagh. Bugh.


Aku tak menyadari apa yang Mama lakukan kepada Papa. Sampai kurasakan Papa yang tiba-tiba saja mendesak ku dan malah tersungkur di lantai samping kasur ku.


Yang membuat ku ketakutan adalah ada begitu banyak darah yang menggenang di bawah dan sekujur tubuh Papa Heri.


Aku yang tak mengenakan sehelai kain pun di badan langsung beringsut mundur ke ujung kasur ku. Menjauhi tubuh Papa yang tak lagi bergerak.


Pandangan ku langsung melayang kepada Mama. Dan kulihat sebuah golok yang bersimbah darah berada di tangan kanan Mama saat itu.


Bugh.

__ADS_1


Golok itu terjatuh dari tangan Mama. Dan Mama berusaha mendekati ku sambil terisak-isak.


"Azki Sayang.. kamu gak apa-apa, Nak? Maafkan Mama.. Mama terlambat menolong kamu.. kita.. kita akan hidup aman sekarang, ya, Sayang. Kita berdua.." ucap Mama berupa lirihan di sela isak dan air mata yang terus berlinang.


"Enggak! Jangan mendekat! Mama.. Mama sudah membunuh Papa!" Aku menolak Mama.


Mama tercengang.


"Tapi Mama berusaha menolong kamu dari si brengs*k itu, Nak!" Teriak Mama dengan histeris.


"Terlambat! Mama terlambat bertahun-tahun menolong Azki! Azki gak butuh Mama! Pergi! Pergi! Mat* aja sekalian sana!" Aku mengecam Mama kembali.


Saat itu pikiran ku masih terguncang menghadapi apa yang baru saja terjadi. Sehingga aku tak benar-benar bermaksud dengan apa yang ku ucapkan itu.


Tapi Mama sepertinya terguncang mendengar ucapan ku tadi. Dan aku pun kemudian mendengar kalimat terakhir Mama yang diucapkan nya dengan terbata-bata kepada ku.


"Te.. telat bertahun-tahun?! Si bej*d itu sudah melakukannya pada mu selama bertahun-tahun, Ki?!"


Mama terjatuh di atas kedua lutut nya. Dan ia kembali mengambil golok yang tergeletak di lantai, lalu menghantam-hantamkannya ke tubuh dan kaki nya Papa yang seperti nya telah mati.


Aku merasa ngeri. Dan semakin ngeri manakala sedetik kemudian kulihat Mama menusukkan golok di tangan nya itu ke tubuh nya sendiri.


Sekali. Dua kali. Hingga mulut Mama terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Hingga bagian tubuh yang ditusuk nya juga ikut mengalirkan darah.


Sebelum Mama terjatuh dan menghembuskan napas terakhirnya, Mama mengucapkan satu kalimat terakhirnya untuk ku.


"Maaf..in... Mama.. Ki."


Bugh.


Dan tubuh Mama pun ikut terkulai di dekat tubuh Papa Heri yang telah termutila si di beberapa bagian nya...


Flashback selesai.


***

__ADS_1


__ADS_2