Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Pertemuan (POV Laila)


__ADS_3

"Gimana, La, tempat kerja mu yang sekarang?" Mama bertanya kepada ku, saat kami sedang menonton tayangan di televisi malam hari nya.


"Bagus, Ma. Laila senang banget sama kerjaan Laila yang sekarang. Bos nya baik, pekerjaannya juga gampang banget. Laila cuma perlu nemenin Oma yang sakit. Ngajak jalan-jalan, ngajak ngobrol, nemenin makan. Sementara untuk urusan mandiin udah ada perawat nya sendiri. wihh.. enak deh Ma. Berasa kayak gak lagi kerja, deh, Laila!"


Aku asik menceritakan pengalaman ku bekerja hari ini kepada Mama.


"Eh, tahu gak Ma? Tadi tuh Laila ketemu sama ibu Ruby loh!" Ucap ku lagi masih dengan nada bersemangat.


"Ruby? Yang mana ya?" Mama mengerutkan alis, mencoba mengingat-ingat siapa itu Ruby.


"Itu loh, majikan lama nya Laila waktu dulu ngerawat nenek Gaya. Senang banget deh Laila bisa ketemu lagi sama ibu Ruby. Kalau aja nenek Gaya masih ada, mestilah Laila masih kerja jadi nanny di rumah ibu Ruby ya, Ma.."


Aku melamun sedih. Teringat dengan nenek yang pernah kurawat saat usia ku dua puluh tahun dulu.


"Sudah lah, Nak. Jangan mengingat hal sedih, jika itu malah membuat mu tak fokus menatap masa depan. Setiap orang pastilah akan menemui ajal nya masing-masing. Yang terpenting adalah kamu sudah melakukan yang terbaik saat merawat nenek Gaya dulu, kan?"


"Hh.. iya sih, Ma. Yah, pokoknya, Laila senang banget dengan kerjaan Laila yang sekarang. Apalagi gajinya dua kali lipat dari gaji OB yang kemarin. Laila yakin banget bisa beliin Mama rumah yang besar deh beberapa tahun lagi!" Aku berseru riang.


"Hush.. jangan takabur, Nak. Kita boleh lah berencana. Tapi jangan lupakan juga Allah yang adalah sebaik-baiknya Perencana,"


"Jangan juga menghitung kucing yang masih ada di dalam karung. Maksudnya, jangan sibuk menerka sesuatu yang belum pasti terjadi. Fokus saja untuk selalu melakukan yang terbaik. Semoga yang terbaik itu juga yang akan jadi balasan atas semua usaha kita."


Aku mendesah letih dalam hati. Tak menyangka akan mendapatkan ceramah Mama di momen senang seperti malam ini.


"Oh ya, La. Tadi Kiyano datang ke rumah," ucap Mama tiba-tiba.


Aku tertegun mendengar penuturan Mama itu.


"Kamu sudah berpisah baik-baik kan dengan nya?" Mama bertanya menyelidik.


"Udah lah, Ma."


Setelah agak lama, aku pun balas melontar tanya.


"Mau apa dia ke sini?" Tanya ku acuh. Padahal sih dalam hati ku misah misuh.


"Dia ingin bertemu dengan mu, La. Kamu benar kan, sudah mengakhiri hubungan kalian?" Mama kembali bertanya curiga.


"Iya, Ma. Demi langit, Lail sumpah udah selesai sama Kiyano. Gak tahu juga deh kenapa dia masih aja datang ke sini. Apa mau nagih ginjal nya ya?" Aku menerka.


"Hushh! Jangan ngomong gitu ah. Mama pikir dia cuma mau ngobrol aja sama kamu. Hh.. sebenarnya, jika saja situasi di antara kalian tidak seburuk ini, Mama sangat merestui hubungan mu dengan Kiyano, La. Dia itu lelaki yang baik."


"Iih.. Mama! Mama dikasih apa sih sama Kiyano, sampai-sampai ngebelain dia melulu. Jadi heran deh. Kiyano atau Laila sih, yang sebenarnya anak Mama?!," aku mengkesal.

__ADS_1


"Laila!"


Aku tersentak saat menerima bentakan Mama barusan. Langsung saja ku tundukkan kepala. Menatap nanar pada lantai keramik yang berwarna putih gading polos.


"Jaga ucapan mu, La! Mama sayang kamu, karena sudah jelas kamu itu anak Mama. Urusan Mama yang membela Kiyano itu tak ada sangkut pautnya dengan status kalian bagi Mama. Mama hanya mencoba menilai Kiyano seadil mungkin. Dan akan Mama katakan lagi ke kamu, La. Kiyano memang lelaki yang baik. Sayang sekali nasib nya tak sebaik pribadi nya."


"..maafin Laila ya, Ma. Habisnya tadi itu.."


"Sudah. Jangan diteruskan lagi. Lebih baik kamu tidur saja, Nak. Besok kan kamu harus sudah siap saat dijemput sopirnya Ibu Ilmaya," Mama mengingatkan.


"Iya, Ma. Laila tidur dulu deh ya."


Dan setelahnya, aku pun masuk ke dalam kamar ku. Sementara hati ku masih terasa kusut usai perbincangan dengan Mama perihal Kiyano, tadi.


***


Keesokan pagi nya, Erlan lah yang ternyata datang menjemput ku.


"Kok kamu sih yang ngejemput? Kemarin Pak Yadi yang nganterin aku pulang," protes ku kepada Erlan.


"Kayaknya keberatan banget sih kalau aku yang ngejemput kamu, La?"


"Iya lah. Kamu memang berat, Lan. Berat di timbangan dosa nya! Hahaha!" Aku puas tertawa meledeki Erlan.


"Haissh.. Laila.. Laila.. masih aja gak berubah. Dari dulu tuh jahil mu gak ketulungan!" Balas Erlan meledek sambil mengacak-acak rambut ku yang sudah rapih ku kuncir kuda.


Tapi Erlan malah kembali iseng mendekati ku lalu mengamati wajah ku lekat-lekat. Untuk sesaat, kurasa jantung ku berdegup lebih cepat.


"Ah! Muka mu masih gini-gini aja. Gak ada beda nya walau rambut mu mau digayain gimana juga!" Komentar Erlan cukup pedas.


Kudorong dada Erlan agar menjauh. Lalu aku langsung meninggalkannya untuk masuk ke dalam mobil yang kemarin ia kendarai. Namun, sebuah panggilan milik orang lain spontan membuat langkah ku terhenti seketika.


"Laila.."


Deg. Deg.


Deg. Deg.


Sebelum menolehkan kepala, aku tahu betul pemilik suara yang memanggil ku barusan.


Suara ini lah yang hampir kurindukan setiap malam sejak aku menyadari perasaan cinta yang kutujukan kepadanya beberapa bulan yang lalu.


"...Kiyano?!"

__ADS_1


***


"Mau apa kamu ke sini, Kiy? Hubungan kita sudah berakhir. Tamat!" Ucap ku pedas tepat ke wajah Kiyano.


Tak jauh dari kami, ku lihat Erlan menunggu ku di depan pintu mobil nya.


"Gue kangen banget sama Lo, La.. Udah lama banget kita gak ketemu.. Memang nya Lo gak kangen apa sama gue?" Tanya Kiyano dengan ekspresi memelas.


Deg. Deg.


Deg. Deg.


'Perih.. Rasanya hati ku sakit banget ya lihat Kiyano begini..' jerit sedih batin ku.


Baru beberapa hari tak bertemu, ku amati tubuh Kiyano kian mengurus saja. Rasanya hati tak tega melihat lelaki yang masih ku cintai itu jadi seperti ini.


Aku mengalihkan pandangan ku ke arah lain. Tak ingin menatap langsung ke dalam mata Kiyano yang sarat akan kesedihan.


"Enggak. Aku gak kangen!" Dusta ku terdengar meyakinkan.


'Hebat, La! Kamu sudah pandai sekali berdusta ya sekarang! Nunik mestilah akan marah padamu kalau dia tahu, kamu mulai suka berbohong!' tegur ku pada diri sendiri.


Meski begitu, aku tetap bergeming. Mencoba menampilkan citra diri yang tangguh dan tak merasa terlukai oleh sebab perpisahan kami, kemarin.


Padahal sebenarnya, hati ku pun masih begitu rapuh. Serapuh kertas yang terkena percikan tetesan embun.


Setelah beberapa lama, Kiyano kembali bicara.


"Ada yang mau gue omongin ke Lo, La. Please, dengerin gue.." Kiyano kembali memohon.


Dan hati ku terasa kembali terkoyak, mendengar lirihan Kiyano yang terdengar begitu menyedihkan. Sama menyedihkannya dengan hati ku sendiri.


"Kesempatan mu untuk bicara udah habis, saat kamu berbohong soal Bella, Kiy!"


"Gue ga pernah bohong soal Bella, La. Gue cuma belum sempat ceritain masalah di antara Gue dan Bella ke Lo. Itu aja!"


"Bulshit! Sekalinya terlambat ya sudah, terlambat. Sekalinya pembohong ya sudah, selamanya pasti akan jadi pembohong!" Aku menghardik Kiyano.


"No, La! Please dengerin gue ngomong dulu!"


Tiba-tiba saja Kiyano menarik lengan ku cukup kencang. Aku berusaha melepaskan tangan ku, namun daya ku semata tak cukup kuat untuk melepaskan diri ku sendiri. Dan kemudian..


"Butuh bantuan, La?"

__ADS_1


Aku dan Kiyano serentak menoleh ke asal suara. Ternyata Erlan sudah berdiri cukup dekat dengan ku. Dan ia bahkan sudah memegang tangan Kiyano yang menahan lengan ku cukup erat.


***


__ADS_2