Aku Bukan Rumput Liar

Aku Bukan Rumput Liar
Bincang Berempat (POv Laila)


__ADS_3

"Papa..?" Tanpa sadar, aku memanggil gelar pria yang berdiri tak jauh dari ku dan Erlan itu.


Ya. Papa yang ku maksud adalah Papa Ulum. Papa kandung ku.


Papa Ulum saat ini berdiri sekitar enam meter jauh nya dari tempat ku dan Erlan berpijak saat ini.


Pada mulanya kupikir Papa hanya sendirian, namun aku dibuat terkejut saat netra ku menangkap sosok lain yang sempat tertutupi oleh keramaian orang di sekitar mereka.


"Mama..?"


Ya. Mama lah wanita yang saat ini berdiri tak jauh dari Papa. Mereka berdua kini menatap ku dengan pandangan terkejut sekaligus juga bercampur dengan rasa.. bersalah? ah.. entahlah. aku tak sempat menerjemahkan makna tatapan mereka terhadap ku.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa..?"


'Kenapa kalian berdua-dua an di tempat ini?!' lanjut ku bertanya di dalam hati.


Lalu ku lihat Mama melangkah mendekati ku.


"Laila, Sayang.. dengarkan Mama dulu ya. Kami tadi tak sengaja bertemu, lalu kami memutuskan untuk mengobrol..yah.. Kamu tahu kan, Nak?"


"Gak tahu, Ma. Laila gak tahu apa yang lagi Mama obrolin sama.. Papa," ucap ku singkat dan padat.


"Maksud Mama itu, mengobrol tentang ke depannya, La.. tentang apa yang akan kami putuskan terkait hubungan di antara kami kini," ucap Mama terburu-buru.


"Mengobrol atau pacaran ke pasar malam, nih? Mana yang sebenarnya sedang kalian lakukan?!" Tanya ku dengan nada sedikit lebih tinggi.


Kemudian kurasakan Erlan mere mas tangan ku. Sepertinya ia ingin mengingatkan ku untuk tetap tenang. Tapi jelas sekali aku tak akan bisa tetap tenang saat melihat Mama dan Papa yang diam-diam pacaran di belakang ku!


Aku merasa.. merasa..ditipu! Aku merasa dibohongi!


Jika memang mereka ingin kembali bersama, aku toh akan menerima keputusan mereka itu. Tapi tidak dengan cara bermain diam-diam di belakang ku. Tidak dengan cara seperti ini!


"Tidak, Nak! Bukan begitu ceritanya!" Mama mengelak.


"Lalu--!"


"Sayang! Pelan kan suara mu," tegur Erlan kepada ku.


Di sekeliling kami, orang-orang mulai melirik dan memperhatikan.


"Bagaimana kalau kita bicara dulu di tempat yang lebih privat?" Erlan memberikan usulan.


Dan akhirnya aku, Mama, Papa dan juga Erlan pun pergi ke sebuah kedai mie seduh yang tampak sepi.

__ADS_1


Begitu duduk, Erlan langsung memesan mie seduh untuk ku.


"Aku masih kenyang, Yang!" Aku menolak pesanan Erlan untuk ku.


"Nanti kubantu habisin. Udah pesan aja gak apa-apa sih. Masa iya kita cuma numpang duduk aja di sini?" Bisik Erlan di telinga ku.


Aku pun akhirnya tak lagi menyanggah perkataan Erlan.


"Mama dan Papa mau mie juga? Ada kwetiau juga kayak nya," tawar Erlan.


"Mama gak mau, Nak Erlan," tolak Mama dengan halus.


"Makan lah Mut. Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu juga belum makan?" Bujuk Papa di samping nya.


Aku memalingkan wajah ku ke arah lain. Rasa nya sedikit kesal bila melihat interaksi Mama dan Papa saat ini. Macam suami istri yang rukun saja! Padahal kan..!


"Tapi.."


"Kwetiau saja, Tuan Muda," ucap Papa.


"Panggil Erlan saja, Pa. Jangan Tuan Muda lagi.. " koreksi Erlan.


"Tapi rasanya itu tidak patut.." elak Papa.


"Hh.. baiklah, Nak. Jika memang Nak Erlan tak berkeberatan," ucap Papa mengalah pada akhirnya.


"Bagus. Jadi, buat Mama kwetiau 1. Kalau Papa?" Tanya Erlan lagi.


"Samakan saja seperti Mama mu."


"Oke. Pak, kwetiau 2, mie telor 1," ucap Erlan pada pelayan kedai.


"Minumannya, Mas?" Tanya sang pelayan.


"Air putih aja!" Ucap aku, Papa, dan Mama berbarengan.


Selama beberapa detik, keadaan menjadi hening. Aku merasakan kecanggungan di udara sekitar kami saat ini.


"Ehem! 3 air mineral botol, sama 1 teh hangat ya, Pak!" Ucap Erlan menyimpulkan.


Sang pelayan langsung mencatat pesanan kami. Kemudian berlalu pergi untuk menyiapkan semua pesanan nya.


"..."

__ADS_1


"..."


"..."


"...Jadi, kita setuju untuk bicara bukan? Mungkin kita dengarkan dulu cerita Mama?" Ucap Erlan selaku moderator pertemuan.


Kupandangi Erlan dengan tatapan aneh. Memang dasar ada-ada saja tingkah suami ku ini. Terkadang ia bisa menjadi si bijak, si tengil, si konyol, si romantis, dan sekarang dia bersikap seolah sedang memimpin pertemuan penting saja!


Kemudian ku dengar suara Mama bicara.


"Mama tadi baru pulang dari pasar membeli bahan-bahan gorengan. Lalu tak sengaja bertemu dengan Papa di jalan masuk pasar malam. Kami pun memutuskan untuk berbicara di kedai bakso yang ada tak jauh di tempat tadi kita bertemu, Nak. Tapi lalu kami bertemu dengan mu.."


"Jadi begitu.. Lalu, Papa..?" Erlan kini bertanya ke Papa.


"Papa.."


Netra ku sekilas bertemu dengan kedua netra milik Papa. Tapi hanya sekejap saja. Aku langsung membuang pandangan ku ke arah yang lain.


"...saya tadi memang ingin pergi ke pasar malam. Saya mau membeli sepatu untuk Darman. Sepatu nya sudah kekecilan.. lalu saya tak sengaja bertemu dengan Mutia.. maksud saya, Mama kalian.."


'Saya.. saya.. apa dia lupa kalau aku ini anak nya?!' dumel ku dalam hati.


Aku merasa kesal sendiri saat Papa memanggil dirinya dengan panggilan 'saya'. Rasanya begitu berjarak sekali.


'ehh?? Tunggu dulu! Kenapa juga aku peduli soal itu? Dih,' gumam ku lagi bermonolog.


"Oo.. Lalu, apa sepatu nya sudah berhasil Papa beli? Memang ukuran sepatu nya nomor berapa? Mau Erlan bantu carikan kah, Pa?" Tawar Erlan tiba-tiba.


Aku mencubit pinggang suami ku dengan spontan. Merasa kesal karena ia mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang tak nyambung sama sekali dari topik awal.


"Aww! Apaan sih, Yang?" Erlan protes.


"Kita di sini sebenarnya mau ngomongin apa hah? Kalau kamu mau bahas sepatu, ya udah deh aku pulang aja!" Aku hampir mau beranjak berdiri. Namun Erlan menahan bahu ku dari beranjak pergi.


"Ehh.. jangan ngambek dong, Yang.. tadi tuh intermezo aja. Biar obrolan gak terlalu tegang. Ya kan, Pa? Ma?" Erlan meminta dukungan pada Papa dan juga Mama.


Tapi aku tak menggubris ucapannya itu. Aku hanya kembali duduk di tempat ku dan gantian bicara.


"Aku setuju untuk ngobrol sama Mama dan Papa. Karena aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian. Kalau memang Mama mau balikan lagi sama Papa sih Lail gak akan marah. Tapi ya jangan di belakang gini dong, Ma. Lail ngerasa kayak gak dianggap gitu kan.. hiks.."


Ketiga orang di sekitar ku itu langsung terkejut saat aku tiba-tiba saja menangis.


'ah! Biarlah! Cengeng, cengeng deh jadinya anggapan mereka!' gusar ku dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2